Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Drrrttt.
Ponsel ditangan Feryal kembali bergetar dengan layarnya yang menyala, menampilkan nama yang sama seperti sebelumnya.
ya siapa.lagi kalau bukan di penebak jitu, Kaizan Altaz. Feryal memiringkan kepalanya sedikit dengan alisnya yang terangkat.
"Apalagi sih,.." gumamnya. Ia tidak langsung membuka pesan itu. dengan jempolnya yang hanya diam di atas layar ponselnya. Seperti sedang mempertimbangkan akan suatu hal yang kayaknya dia sendiri juga tidak mengerti sama sekali.
Angin sore menyapu pelan, membuat ujung jaketnya bergerak tipis, mesin motornya saja masih menyala. Akan tetapi pikirannya belum tentu juga berjalan. Entah lah.
Beberapa detik akhirnya ia membuka pesan itu. "Lo lagi di rumah Fey?." tanya Kaizan, dan Feryal tidak langsung menjawabnya ia menghela napasnya lebih dulu lalu mengetik balasan.
"Kenapa emangnya?" tidak menunggu jawaban lagi Altaz langsung on the way ke tempat dimana Feryal berada saat ini, padahal.feryal belum.juga memberi tahukannya sama sekali.
Deg.
"Aneh banget nih orang.." gumamnya lagi, akan tetapi seperti ada suatu hal penting yang terlihat dari nada bicaranya. Hal itulah yang membuat Feryal menjadi tanda tanya akan kedatangannya nanti.
Di kampus.
Waktu yang terus berjalan tanpa menunggu siapapun untuk menyelesaikan masalahnya.
Di dalam kelas, suasananya kembali berjalan seperti biasa. Tapi untuk tiga orang itu,..tidak ada yang benar benar biasa.
Bilal berdiri di depan, menyelesaikan penjelasannya. "Cukup untuk hari ini, besok kita lanjutkan."
Mahasiswa mulai merapikan barang masing masing. Suara kursi bergeser, tas yang diangkat dan juga obrolan kecil pun mulai hidup kembali.
Saat semua pada sibuk dengan persiapan pulangnya, Bilal kembali bersuara. "Syahira, nanti temui saya di ruang dosen."
Deg.
Dah Dig dug derr sekarang Syahira rasakan, dan itu cukup membuat seantero kelas langsung hening dalam sekejap. Syahira langsung membeku selama beberapa detik lamanya.
Syahira tidak berani menoleh sedikit pun, sementara bangku belakang. Kaizan yang sedang memasukkan helm ke dalam tasnya langsung berhenti seketika.
Matanya terangkat lalu menatap ke depan. "Wah.." gumamnya. Instingnya langsung bekerja dengan cepatnya.
Koridor kembali ramai, karena satu persatu mahasiswa keluar meninggalkan kelasnya masing masing. Koridor kembali ramai. Satu per satu mahasiswa keluar, meninggalkan kelas.
Syahira masih duduk beberapa detik lebih lama. Tangannya menggenggam kitab, napasnya tidak stabil. "Kenapa harus sekarang sih ya Allah." batinnya. Ia pun menutup matanya sebentar.
Disisi lain Kaizan tidak langsung keluar, ia bersandar di kursinya menatap ke arah pintu yang sudah mulai sepi.
"Ini dia.." gumamnya padahal dia paling menghindari hal seperti ini. Ia hanya menghembuskan napasnya panjang, seraya berdiri.
"Kalau gue biarin,..apa mereka bakal makin,.." tanpa banyak pikir panjang ia pun berjalan keluar kelas dengan rahang yang mengeras.
Sedangkan Syahira dengan rasa campur aduk diiringi debaran yang sudahlah intinya bikin dia enggak tenangnya bukan main.
Ruang dosen.
Bilal sudah lebih dulu berada disana. Berdiri didekat meja dengan tangan yang bertumpu dipermukaan kayu, namun kepalanya sedikit menunduk seperti sedang ada yang dia pikirkan entah apa itu.
Pintu pun diketuk,
Tok..tok..tok..
"Masuk." suara itu tetap terdengar tenang dan Syahira pun membuka pintu itu perlahan dan masuk dengan langkah yang berat ia rasakan.
Deg.
Syahira berdiri di ambang pintu beberapa detik sebelum akhirnya masuk sepenuhnya. lalu menutup pintunya kembali meskipun sedikit terbuka.
Diruangan itu tidak ada siapapun hanya mereka berdua, dan itu justru membuat udara terasa semakin sempit untuk mereka berdua.
"Duduk Ra."
Syahira menurut, duduk dikursi yang tidak terlalu jauh. Tangannya pun masih memeluk kitab yang dibawanya sedari tadi seperti biasanya.
Bilal tidak langsung bicara, ia menarik napasnya dulu sejenak, lalu menatapnya meski tidaklah lama. "Ra."
"Kamu tau kenapa kamu saya panggil kesini?."
"Enggak ustadz." sahut Syahira menunduk, Bilal memejamkan matanya sejenak lalu menarik napasnya dalam.
Ia terdiam beberapa detik, seolah sedang menahan sesuatu kalimat yang seharusnya tidak boleh ia ucapkan.
Ruangan kembali hening, hanya suara detak jam dinding yang terdengar seakan ikut menekan suasana yang sudah cukup berat untuk hari ini.
Bilal membuka matanya perlahan, rahangnya kembali mengeras meski tak ia tampakkan.
"Beberapa hari in, kamu kelihatan enggak fokus." nada suaranya tetap tenang, Syahira hanya menunduk dengan jemarinya yang mencengkram ujung kitab tanpa ia sadari.
"Maaf, ustadz,.." lirihnya. Bilal menggeleng pelan. "ini bukan soal minta maaf."
Kalimat berikutnya seperti tertahan di ujung lidahnya yang begitu kelu untuk ia ucapkan begitu saja.
"Kalau ada sesuatu yang mengganggu harusnya kamu tau gimana kamu bisa nyikapinnya Syara." ia menghela napasnya seraya menghembuskannya perlahan.
Deg.
Syahira langsung menegang seketika seolah kalimat itu seperti ada makna lain yang tersembunyi dibaliknya.
Syahira membeku tidak menjawab, Bilal menoleh sedikit dan berusaha mengalihkan pandangannya dari adik iparnya itu. Seolah itulah cara satu satunya agar ia tetap bisa mengendalikan dirinya.
"Nggak semua hal.." ia berhenti sejenak, suara merendah tanpa ia sadari. "..perlu diucapkan untuk bisa dimengerti kan."
Syahira terdiam membeku dengan nafasnya yang tertahan. Tapi cukup membuat dirinya begitu sesaknya luar biasa.
"Fokus kamu itu penting, Ra." lanjut Bilal lagi, kalo ini kembali dengan nada lebih tegas.
"Jangan sampai..hal lain mengganggu tujuan kamu disini."
Syahira mengangguk pelan, "Iya, ustadz.." ia tidak berani sampai mengangkat wajahnya. Dan tidak berani juga untuk memastikan apakah yang ia tangkap itu benar ataukah hanya perasaannya saja.
Sementara itu, Bilal justru semakin menegakkan dirinya. Seolah berusaha kembali ke peran yang seharusnya ia pegang.
"Mulai besok," ucapnya menjeda singkat. "Kamu pindah ke barisan depan." Syahira langsung mendongak reflek, dan untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan itu mata mereka hampir bertemu.
Hanya beberapa detik, dan keduanya memalingkan pandangannya "supaya lebih fokus." tambah Bilal dengan singkatnya.
"Iya Ustadz."
Hening sejenak diantara keduanya, dan tak lama Bilal menarik nafasnya panjang seraya menghembuskannya perlahan, "Kalau tidak ada yang dibahas lagi, kamu boleh kembali."
Syahira pun mengangguk pelan, ia berdiri dengan langkah yang ringan meski separuh hatinya masih berada diruangan itu.
Syahira pun keluar dari ruangan itu ia membuka pintunya lalu menutupnya kembali. tanpa ia sadari Kaizan menatap kejauhan.
Seolah yang ia lihat seperti ada rasa kecewa didalamnya. Mungkin bis jadi rasa rapuh yang ia lihat menurut instingnya saat melihat Syahira yang barusan saja keluar dari ruang dosen tersebut.
"Fix,..ini udah kelewat jauh."
"Ya Tuhan Allohu Robbi Altaz harus ngapain?,"
Diruang dosen Bilal berdiri masih menatap Syahira di balik jendela, ia mengepalkan tangannya saat dirinya kembali duduk ke kursinya diruangan itu lalu mengusap wajahnya kasar.
"Semoga keputusan ku benar ya Allah."