NovelToon NovelToon
Bayangan Pewaris Kadipaten

Bayangan Pewaris Kadipaten

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas / Era Kolonial / Pengganti / Komedi
Popularitas:108.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?

Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.

Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.

Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.

Risikonya? Hampir mati setiap hari.

Akankah Arjo bertahan?

Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Kecurigaan Agnes

"Tentu tidak, Tuan Residen. Silakan."

Langkah kaki van der Linden dan pengawalnya menjauh, menghilang di balik koridor.

Dan ruang jamuan mendadak terasa ... berbeda.

Hening.

Aroma kopi Jawa yang pekat bercampur dengan wangi teh melati memenuhi udara. Lilin-lilin di atas meja bergoyang pelan. Di luar jendela, langit sudah sepenuhnya gelap.

Arjo menyesap kopinya dengan tenang, berpura-pura tidak menyadari tatapan dari seberang meja.

‘Kata ayahnya, baru kali ini Agnes tenang.’

Sudut bibirnya terangkat sedikit.

‘Lihat, Kang Guru. Aku bisa menjinakkan betina liar. Guru pasti bangga denganku, tidak rugi sabar mengajarku selama ini.’

Dia menarik rantai emas yang menggantung indah di beskap-nya, mengeluarkan jam saku emas pemberian Soedarsono. Jari-jarinya membuka tutup jam dengan gerakan yang santai, tapi tidak benar-benar memeriksa waktu, yang dilihatnya … pantulan gadis di permukaannya yang berkilau.

"Jam yang indah."

Suara Agnes memecah keheningan.

Arjo mengangkat wajah.

Agnes sedang memandang jam di tangannya, mata kucing itu menyipit sedikit, seperti sedang menilai sesuatu.

"Terima kasih." Arjo menutup jam, menyelipkannya kembali ke saku. "Hadiah dari ayah saya."

Agnes memiringkan kepala, jari-jari lentik mengetuk-ngetuk tepi cangkir tehnya.

"Tuan Adipati."

"Ya, Nona?" Arjo memasang senyum menawan.

"Tidak bertemu dua hari," mata amber itu menatap lurus ke wajah Arjo, "Anda terlihat sangat tua."

Arjo mengangkat alis.

"Maksud Nona?"

"Garis-garis di dahi Anda." Agnes menunjuk dengan dagunya. "Di sudut mata. Lebih dalam dari yang saya ingat. Anda juga terlihat lebih … gelap."

‘Dia mengingat wajahku dengan detail seperti itu?’

Arjo meletakkan cangkir kopinya dengan tenang, atau setidaknya, berusaha terlihat tenang.

"Suasana hati bisa membuat orang terlihat lebih muda atau lebih tua, Nona." Suaranya datar. "Orang yang sedang jatuh cinta akan terlihat berseri-seri dan terlihat lebih muda. Sebaliknya, orang yang patah hati, akan terlihat … lebih tua. Anda pasti sudah dengar tentang kabar salah satu istri saya yang hilang entah ke mana.”

Agnes mengangguk, tapi kerutan di dahinya semakin dalam, mengamati wajah Arjo lebih saksama.

“Ditambah lagi,” Arjo melanjutkan dengan nada yang dibuat-buat lelah. “Beban hidup sebagai pemimpin tidak ringan. Apalagi Bupati seperti saya. Berkuasa, tapi tetap di bawah Belanda. Mengatur, tapi tetap diatur. Itu cukup untuk menambah kerutan di wajah siapapun."

Agnes mengerutkan dahi. Ia condong ke depan sedikit, gerakan yang membuat kerah rendah gaunnya sedikit terbuka, memperlihatkan lekuk dada yang didorong korset.

Arjo sekuat tenaga menjaga matanya tetap di wajah Agnes.

‘Jangan lihat ke bawah. Di sana, puncak mematikan. Kata Kang Guru, entah sudah berapa pria kuat yang mati di sana.”

"Suara Anda juga berbeda." Agnes melanjutkan, suaranya lebih pelan sekarang. "Waktu di kereta, suara Anda lebih ... ringan. Lebih muda. Tidak seperti pria awal 40."

‘Sial. Perempuan ini terlalu tajam.’

Arjo tidak menjawab langsung. Ia mengangkat cangkir kopinya, menyesap perlahan, memberi waktu untuk menyusun kata-kata.

"Nona van der Linden." Suaranya tenang, mencoba membalik serangan. "Apakah Nona sedang mencoba mengakui sesuatu yang sangat berbahaya?"

Agnes tersenyum, bukan senyum yang tulus, apalagi ramah. Tapi senyum yang seperti … predator.

"Anda jelas berbeda jauh dengan waktu di kereta, Tuan Adipati."

Hening.

Arjo menatap mata amber itu, mata yang berkilat berbahaya di bawah cahaya lilin.

‘Dia pasti tahu ada yang tidak beres. Tapi apakah dia tahu bahwa aku bukan Soedarsono? Atau dia hanya curiga ada sesuatu yang berbeda?’

"Di kereta," Agnes melanjutkan, suaranya nyaris berbisik sekarang, "Anda tidak setenang ini."

Jantung Arjo berdegup lebih kencang. Tapi wajahnya tetap terkontrol dengan senyum menawan yang tak pernah luntur.

"Nona—"

"Di kereta—" Agnes memotong, mata mengunci matanya, "Anda terkejut, jelas marah, menyerang balik, tidak sepasrah ini."

‘Dia benar-benar memperhatikan dengan detail. Perempuan berbahaya.’

"Dan sekarang," Agnes memiringkan kepala lagi, rambut yang membingkai wajahnya bergoyang pelan, "Anda sangat tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja diserang dan hampir mati. Rasanya ada yang aneh."

Arjo tidak menjawab.

Keheningan mengisi ruangan.

Hanya suara suara jangkrik dari luar jendela yang mengisi.

Lalu Agnes tertawa pelan.

"Tuan Adipati … Anda sulit dibaca. Tidak seperti bupati-bupati yang pernah kutemui. Sejak di pendhopo, Anda sudah tahu aku yang menyerangmu di kereta dua hari lalu dan Anda tetap ramah?”

Ia menyandarkan punggung ke kursi, mengangkat cangkir tehnya dengan gerakan santai. "Anda bahkan hanya memberi kisi-kisi tentang penyerangan kereta pada ayahku secara halus, tidak mengkonfrontasi untuk membuatku mengaku. Aku menjatuhkan garpu ke piring karena kesal, Anda membicarakan penyerangan itu di meja makan, dengan santai, seakan hanya sedang membahas cuaca. Anda seharusnya ke kantor polisi!”

‘Dia mengakuinya?’ batin Arjo dengan heran. ‘Terang-terangan? Di ruang makan kadipaten? Perempuan gila? Penuh kejutan.’

"Apakah Nona sadar," suaranya rendah, "implikasi dari pengakuan ini?"

Agnes mengedikkan bahu dengan santai. "Tentu saja."

Arjo meletakkan cangkir kopinya dengan gerakan yang sangat … santai dan berlambat-lambat, membuat Agnes mulai tak sabar.

"Aku bisa memanggil pengawal sekarang juga.” Arjo menatap tajam, mencoba menakuti. “Menyerahkanmu ke polisi kolonial. Tuduhan percobaan pembunuhan terhadap pejabat tinggi pribumi, itu akan jadi kasus yang mendapat perhatian khusus dari pemerintah, mengingat mereka selama ini sangat menjaga hubungan baik dengan penguasa lokal. Apalagi kalau serangan itu dikepalai seorang putri pejabat tinggi Belanda. Ini akan menjadi kabar yang sangat … menggemparkan."

"Silakan." Dagu Agnes terangkat, menantang.

Arjo terdiam.

‘Silakan? Gadis ini benar-benar gila.’

Agnes meletakkan cangkir tehnya, condong ke depan lagi.

Dan kali ini—Arjo tidak bisa menahan matanya untuk tidak turun sekilas. Ke lekuk dada yang membusung di balik sutra krem. Ke kulit putih yang tampak halus di bawah cahaya lilin.

Ia memaksa matanya kembali ke wajah Agnes. ‘Fokus, Arjo. Fokus.’

"Kau pikir aku bodoh," Agnes berbicara dengan nada yang lebih rendah, lebih intim, "keluar di siang hari … menyerang dengan mata seperti ini?"

Ia mengerlingkan mata, membuat Arjo menahan napas.

"Warna mataku … sangat jarang. Bahkan tidak banyak di kalangan Eropa. Mata yang akan sangat mudah dikenali."

Arjo mengerutkan dahi. "Jadi kau sengaja?"

"Tentu saja aku sengaja." Agnes tertawa rendah, kontras dengan mata yang masih menatap sinis. "Aku biasanya membegal malam hari, warna mataku tidak akan terlalu mencolok. Aku ingin tertangkap. Aku ingin ayahku tahu apa yang kulakukan. Aku ingin dia kelelahan, frustasi, dan akhirnya menyerah."

‘Menyerah menikahkannya dengan perwira itu? Melepaskannya?’

Potongan-potongan puzzle mulai tersusun di kepala Arjo.

"Jadi," ia berbicara perlahan, "kau tidak benar-benar ingin membunuhku?"

1
🅶ɪꜱ_❀∂я ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝© §͜¢•🦢🍒
lanjutannya ndoro
Surati
kapan upnya thor
Linceu thea
lanjut thor
rama Rasyidin
alur cerita yang selalu membuat penasaran, memberikan sudut pandang y luas hingga semuanya terangkum dalam hikmah kebajikan....
Teh Qurrotha
kenes memanfaatkan Aryo yang tergila2 padanya
susi susilowati
kapan up lagi kaka
Nuryani
bagusss pollll 👍👍👍
Elsker
arjo mmg lebih sat set Dari soedarsono...ga ada takut takutnya
Y. Haryadi
lanjut
Ulfa Riady
wuiiih keren kangmas arjo argumennya,😍😍😍
Andina Jahanara
next kak 👍
Lannifa Dariyah
di sini udh mendem ndoro crita nya
Hayisa Aaroon: nanti ngepasin sama Keti dulu, yang sana ketinggalan jauh waktunya.
total 1 replies
lilyrose
terkesima to kmu agnes 😂 rugi kowe yen arjo mbo tolakk😂
Ario Umbaran
Ini kl arjo jd Bupati jaman skrng sdh tak dukung nyapress, cerdas, tas tes, sat set, kendel, dan bela rakyat..
Ricis
Nah lho, emng keren Bupati satu ini. lain dari yg lain, dia bkn bupati yg dpat jabatan dgn mudah, tapi dgn bentukan+gemblengan yg luar biasa. siap2 kagum kau Agnes 😃
lely niurlaely
cerita ka author ga pernah gagal..alur ga bosenin dan tdk bertele tele, kerreen pokoknya
yue yah
Ojo seuzon jo.kw lo Yo luweh cerdik
Kustri
☕sik Jo!
ora salah masmu ngangkat kowe💪💪💪
jodoh takkan kemana... sama" berjuang😍
Fetri Diani
Jos gandos ndoro bupati Aryo... 👍
𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
arjo di didik keras mkne lebih oandai arjondr soedarsono yg memelih patuh sm kanjng ndoro gusti kusumawati

yaaaa dan skrg gmn ya arjo bisa mengatasi itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!