Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Hari Pertama
Matahari pagi belum sepenuhnya membias di ufuk timur, namun udara di pinggiran jalan raya Madiun sudah diserbu oleh aroma yang teramat memikat.
Harum gurih kuah rawon yang pekat, perpaduan ketumbar, kluwek tua, dan kayu manis menguar tebal dari kuali raksasa di dapur belakang Warung Nasi Broto.
Udara dingin Madiun seolah melarutkan uap masakan itu, menyebarkannya hingga berkilometer-kilometer jauhnya menyusuri jalanan utama.
Pukul setengah enam pagi, saat papan petunjuk kayu baru saja dipasang oleh Danu di depan teras, fenomena aneh mulai terjadi.
Jalan raya yang biasanya sepi di jam-jam tersebut mendadak dipadati oleh kendaraan. Mobil-mobil pribadi, truk antarkota, hingga puluhan sepeda motor mendadak melambat tepat di depan teras warung.
Suara derit rem beradu riuh. Seolah-olah ada magnet raksasa tak kasat mata yang memaksa setiap pengendara yang melintas untuk menginjak rem dan membelokkan kemudi mereka ke halaman parkir warung.
"Mas Bayu! Lihat itu, Mas!" seru Pertiwi dari ambang pintu depan, matanya membelalak tak percaya. "Orang-orang ... mereka langsung mengantre!"
Bayu yang sedang merapikan taplak meja kayu melompat berdiri. Wajahnya dipenuhi rasa takjub dan haru yang membuncah.
"Beneran, Tiwi?! Padahal kita baru buka pintu lho ini!"
Dalam hitungan belasan menit, lima belas meja kayu baru yang ditata di dalam warung terisi penuh tanpa sisa. Bahkan, kerumunan orang-orang yang kelaparan mulai mengular hingga melimpah ke bahu jalan raya.
Wajah para pembeli itu tampak ganjil—mata mereka berbinar liar, air liur mereka seakan menumpuk di rongga mulut, dan raut wajah mereka dipenuhi oleh ketidaksabaran yang hampir menyerupai kesurupan massal.
"Mbak! Rawon daging lima porsi! Cepat ya!" teriak seorang pengemudi truk dengan wajah gusar.
"Saya rawon paru tujuh porsi, bungkus semua!" sahut pembeli lain dari tengah antrean.
Bayu tertawa gembira, menyapu keringat di jidatnya. "Iya, iya, Sabar ya, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu! Semua pasti kebagian! Pertiwi, bantu ambilkan mangkuk! Mia, Rian, bantu tuang es teh!"
Di balik meja racik utama, Bu Retno berdiri anggun. Kebaya batik cokelat keemasannya tampak mengilap terkena pendar cahaya pagi. Wajahnya yang pucat dipoles bedak tipis, namun senyum kaku yang terukir di bibirnya tak pernah goyah sepundak pun.
Tangan kurusnya bergerak amat cepat dan sigap—meracik potongan daging sapi, menyiramkan kuah rawon hitam pekat dari kuali besar, lalu menyajikannya ke atas nampan-nampan seng.
Di sudut dapur belakang, Galang berdiri mematung sambil memegang panci stainless besar. Dadanya terasa sesak oleh pemandangan di depan matanya.
Ada yang teramat salah dari kerumunan pembeli ini. Galang memperhatikan bagaimana orang-orang itu menyantap rawon buatan ibunya dengan cara yang sangat tidak wajar. Mereka makan dengan terburu-buru, melahap potongan daging tebal tanpa mengunyahnya dengan benar, seolah-olah mereka telah berpuasa selama berbulan-bulan.
Beberapa pembeli bahkan menyesap kuah hitam pekat itu hingga bersih licin dari dasar mangkuk, lalu memesan porsi kedua dan ketiga tanpa memedulikan perut mereka yang sudah membuncit keras.
"Lang! Jangan malah melamun di situ!" tegur Bayu seraya menepuk pundak Galang keras. Wajah Bayu penuh peluh, namun matanya memancarkan kepuasan yang luar biasa. "Bantu angkat kuah cadangan dari kuali belakang! Pembeli di depan makin gila jumlahnya!"
"Mas ..." Galang menahan lengan Bayu saat kakaknya hendak berbalik. "Mas Bayu nggak merasa aneh sama orang-orang itu? Mereka makan kayak ... kayak yang kesetanan, Mas."
Bayu mendengus kasar, mengibaskan tangan Galang.
"Nggak usah aneh-aneh pikiranmu, Lang! Masakan warung kita ini memang enak! Dari zaman Bapak dulu juga kan memang rasanya tiada tanding! Lagian, semakin banyak yang beli, semakin cepat uang kita terkumpul! Kamu lihat tempat uang di kasir itu? Baru dua jam buka sudah mau penuh!"
Bayu menunjuk kotak kasir kayu jati di meja depan. Tumpukan uang kertas lima puluh ribuan dan seratus ribuan menggelembung tinggi di sana, dipadatkan secara paksa oleh tangan Bayu.
Galang melepaskan pegangannya, membiarkan Bayu berlari kembali ke meja depan sambil memanggil adik-adiknya untuk mempercepat pelayanan.
Galang melangkah pelan menuju kuali besar di area dapur belakang. Kuali besi raksasa peninggalan almarhum ayahnya itu terus berasap tebal, memuntahkan uap panas bercampur aroma rawon yang memenuhi ruangan.
Saat Galang mendekati kuali tersebut untuk memindahkan kuah, ia memiringkan kepalanya sedikit. Angin dingin mendadak bertiup tipis dari celah ventilasi dapur yang sempit.
Di tengah kehebohan suara riuh pembeli dan berdentingnya sendok mangkuk di ruang depan, hidung Galang menangkap sesuatu.
Ketika uap kuah rawon itu mengena tepat di wajahnya, aroma gurih bumbu kluwek mendadak memudar sekelibat—berganti dengan aroma minyak mayat yang kental dan bau amis darah segar yang terbakar di atas besi panas.
Galang tersentak mundur, terbatuk-batuk kecil. tangannya bergetar hebat. Ia memandang ke dalam kuali hitam pekat itu. Kuah rawon yang bergejolak mendidih itu tampak begitu pekat, kehitaman bagaikan oli bekas, dan di dasar kuali, Galang seperti melihat bayangan gumpalan daging berambut halus yang membusuk perlahan di antara potongan daging sapi segar.
"Bumbunya pas, kan, Galang?"
Sebuah suara berwibawa bergema halus dari balik punggungnya.
Galang berbalik cepat. Pak Sapta berdiri di ambang pintu belakang dapur. Pria paruh baya itu mengenakan kemeja batik sutra berwarna gelap, tangannya menggenggam tongkat kayu berukir kepala naga. Kacamata berbingkai emasnya memantulkan pendar uap panas dari kuali besi.
Di belakang Pak Sapta, berdiri dua orang pria berbadan tegap mengenakan kemeja hitam polos—pengawal yang dibawa Pak Sapta untuk 'membantu' keamanan warung.
"Pak Sapta ...," desis Galang, suara rendahnya dipenuhi kebencian yang mendalam.
Pak Sapta melangkah masuk ke dapur dengan tenang. Sepatu kulitnya berdecit pelan di atas lantai semen yang agak licin oleh uap bumbu.
Pria tua itu mendekati kuali raksasa, menghirup uap panas yang membumbung tinggi dengan mata terpejam penuh kenikmatan.
"Aroma kejayaan ...," bisik Pak Sapta seraya membuka matanya kembali. "Sesuai perkiraan saya. Bumbu ramuan dari Blitar yang saya campurkan semalam bekerja dengan sangat sempurna. Masyarakat desa ini ... selalu haus akan rasa yang pekat."
"Apa yang Bapak campurkan ke dalam kuali ini?!" cecar Galang dengan gigi terkatuk rapat. "Bau bumbu ini amis, Pak! Ini bukan bumbu masakan biasa!"
Pak Sapta terkekeh pelan—sebuah tawa berat yang tertahan di tenggorokan. Ia melirik Galang dengan mata sempitnya yang tajam.
"Kamu punya penciuman yang terlalu peka untuk seorang anak angkat, Galang. Bau amis itu ... adalah pengikat rasa. Tanpa bahan itu, orang-orang di depan sana tidak akan pernah merasa kenyang. Mereka akan terus kembali, membawa uang mereka, membesarkan nama Warung Nasi Broto."
"Bapak memberi mereka racun ghaib!" seru Galang, suaranya tertahan.
"Bukan racun, Anak Muda. Ini adalah pertukaran," pangkas Pak Hendra dingin. Ia melangkah lebih dekat, menatap Galang dari balik kacamatanya. "Mereka memberikan kepuasan perut dan uang mereka ... dan sebagai gantinya, energi kehidupan mereka memberi makan 'Sesuatu' yang bersemayam di bawah lantai warung ini. Dengan begitu ... saydara-saudaramu yang polos di depan sana bisa tetap tersenyum dan bersekolah."
Galang mengepalkan tangannya kencang, dadanya kembang kempis oleh amarah yang membakar.
"Bapak memanfaatkan saudara-saudaraku! Bapak bikin Mas Bayu buta sama uang!"
"Bayu tidak buta, Galang. Bayu hanya realistis," bisik Pak Sapta seraya menyunggingkan senyum tipisnya yang mengerikan. "Lihatlah kakakmu itu. Wajahnya penuh kebahagiaan. Dia merasa menjadi lelaki sejati yang bisa menghidupi keluarganya. Jangan rusak kebahagiaan kakakmu hanya karena ketakutan gila dari pikiranmu sendiri."
Pak Sapta menepuk pundak Galang dua kali dengan ketukan yang mantap—sebuah sentuhan yang terasa mendinginkan seluruh aliran darah di tubuh Galang.
"Sekarang, bawakan panci kuah ini ke depan," perintah Pak Sapta, suaranya tak lagi hangat, melainkan perintah mutlak dari seorang penguasa baru. "Jangan biarkan pembeli di depan menunggu. Hari pertama kejayaan keluarga Broto ... baru saja dimulai."
Pak Sapta berbalik dan melangkah pergi menuju area kasir, menyambut Bayu yang menyapa calon ayah tirinya itu dengan tawa penuh rasa hormat.
Galang berdiri sendirian di dapur belakang yang menguapkan bau amis dan gurih berselingan. Ia memandang panci stainless besar di depannya dengan penderitaan jiwa yang teramat sangat.
Di ruang depan, gemerincing uang masuk dan tawa bahagia Bayu beradu nyaring dengan kunyahan liar para pembeli yang terhipnotis.
Hari pertama pembukaan kembali warung itu sukses besar secara kasat mata, namun di mata batin Galang, itu adalah hari di mana gerbang neraka resmi dibuka lebar-lebar.
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.
Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .
Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
dan
Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya