Cerita Mengenai Para Siswa SMA Jepang yang terpanggil ke dunia lain sebagai pahlawan, namun Zetsuya dikeluarkan karena dia dianggap memiliki role yang tidak berguna. Cerita ini mengikuti dua POV, yaitu Zetsuya dan Anggota Party Pahlawan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.K. Amrullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Six Shadows of Doomsday
Keheningan yang tercipta setelah pernyataan Sena terasa menyesakkan, seolah udara di dalam ruangan mendadak menebal. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang langsung bereaksi. Semua orang merasakan insting yang sama, bahwa batas antara “misi berbahaya” dan “kepunahan” baru saja dilewati.
Akira Gojo akhirnya memecah diam. Ia menyilangkan tangan di depan dada, sorot matanya tajam dan penuh kewaspadaan.
“Six Shadows of Doomsday?” ulangnya perlahan. “Siapa mereka sebenarnya?”
Sena mengangkat wajahnya. Tatapannya tidak bergetar, namun jelas ada beban berat di balik keteguhan itu. Ia menatap satu per satu wajah di hadapannya, seakan memastikan mereka siap menerima kebenaran.
“Mereka bukan sekadar petinggi,” katanya. “Mereka adalah enam pilar utama Kultus Kehancuran. Enam entitas yang keberadaannya sendiri sudah cukup untuk mengubah sejarah suatu wilayah… atau menghapusnya sama sekali.”
Nada suaranya rendah, terkendali, namun setiap kata jatuh seperti palu ke dada para pendengar.
“Kalian tahu betapa mengerikannya Jenderal Lisa dan Jenderal Rey,” lanjutnya. “Kekuatan mereka cukup untuk membuat kerajaan gemetar. Tapi dibandingkan Six Shadows… mereka tidak lebih dari pion di papan catur.”
Beberapa orang menahan napas. Yang lain tanpa sadar menggenggam senjata mereka lebih erat.
“Jika kita nekat pergi ke Hexagonia sekarang,” Sena menegaskan, “dan satu saja dari Six Shadows benar-benar berada di sana, maka hasilnya sudah pasti. Kita tidak akan kalah. Kita akan musnah. Dan bukan hanya kita, Hexagonia akan menjadi korban pertama.”
Wajah Akame Yui memucat. Suaranya hampir tak terdengar ketika ia bertanya,
“Se… sekuat itu…?”
“Lebih,” jawab Sena singkat. “Mereka bukan sekadar kuat. Mereka adalah bencana berjalan. Di mana mereka melangkah, dunia harus menyesuaikan diri… atau hancur.”
Satoru Yuji mengepalkan rahangnya, emosi jelas berkecamuk.
“Kalau begitu kita biarkan saja mereka bergerak bebas? Menunggu sampai mereka menghancurkan sesuatu?”
Sena menoleh tajam ke arahnya.
“Dan kamu mau menyerang mereka tanpa persiapan?” suaranya meninggi untuk pertama kalinya. “Hexagonia bukan desa terpencil. Itu kota besar, pusat perdagangan dan politik. Kota itu dipimpin oleh Duke Hexagonia, Perdana Menteri Kerajaan Sedressil. Dan yang lebih penting, putrinya, Reina Hexagonia… adalah sahabatku.”
Nama itu menggantung di udara. Beberapa orang terkejut, yang lain langsung menyadari implikasinya.
Yamada Shin menelan ludah.
“Jadi kalau kita salah langkah… kita bukan cuma mati. Kita menyeret satu kota, dan ribuan nyawa, ke dalam kehancuran.”
“Benar,” jawab Sena tanpa ragu. “Dan aku tidak akan mempertaruhkan nyawa Reina, atau siapa pun di Hexagonia, hanya karena kita terburu-buru.”
Kouji, yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara. Tangannya mengepal, kukunya hampir menembus kulit.
“Kalau begitu… apa rencananya?”
Sena menarik napas dalam-dalam.
“Kita kumpulkan informasi. Kita bergerak di bayangan, bukan di garis depan. Jika Six Shadows benar-benar ada di Hexagonia, maka mereka punya tujuan besar. Dan sebelum kita menghunus pedang… kita harus tahu apa yang ingin mereka capai.”
Akari mengangguk pelan.
“Kalau ancamannya sebesar itu… aku ingin tahu semuanya. Jangan ada yang disembunyikan. Siapa sebenarnya Six Shadows of Doomsday?”
Sena terdiam sejenak. Ada keraguan singkat di matanya, bukan karena takut, tapi karena ia tahu apa yang akan ia katakan akan mengubah cara mereka memandang dunia.
“Mereka adalah legenda hidup,” katanya akhirnya. “Atau lebih tepatnya… mimpi buruk yang belum sepenuhnya terbangun.”
Ia mengangkat satu jari.
“Shadow pertama, Shadow of Destruction. Ia adalah manifestasi kehancuran murni. Sihirnya bukan sekadar menghancurkan bangunan, tapi menghapus struktur realitas. Benteng yang dibangun selama ratusan tahun runtuh dalam satu hembusan mananya. Tanah retak hanya karena ia berdiri di atasnya. Setiap kehancuran yang ia ciptakan… memperkuat keberadaannya.”
Jari kedua terangkat.
“Shadow of Apocalypse. Ia tidak membawa kiamat, ia adalah kiamat. Ia membuka celah antar-dimensi dan memanggil makhluk yang tidak seharusnya ada di dunia ini. Monster yang tidak tunduk pada logika, tidak mengenal rasa sakit, dan tidak tercatat dalam sejarah mana pun. Saat ia muncul, langit menggelap, dan dunia seolah bersiap mati.”
Beberapa orang mulai berkeringat dingin.
“Shadow of Disaster,” lanjut Sena. “Gempa. Badai. Tsunami. Letusan gunung berapi. Semua itu bukan kebetulan. Ia mengatur bencana seperti bidak permainan, dengan presisi yang menakutkan. Ia bisa menghancurkan kota tanpa pernah menyentuhnya.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, suaranya makin rendah.
“Shadow of Sabotage adalah alasan mengapa kerajaan runtuh dari dalam. Ia tidak menghancurkan tembok, ia merusak kepercayaan. Perang saudara, kudeta, pengkhianatan… semuanya sering kali bermula dari bisikannya. Banyak raja mati tanpa pernah tahu siapa yang sebenarnya membunuh mereka.”
Jari kelima terangkat, dan suasana makin berat.
“Shadow of Obliteration. Hampir tidak ada catatan tentangnya. Bukan karena ia rahasia… tapi karena tidak ada yang tersisa untuk mencatat. Ia tidak menghancurkan, ia menghapus. Tubuh, jiwa, bahkan ingatan tentang keberadaan seseorang bisa lenyap. Seolah mereka tidak pernah ada.”
Beberapa orang menahan napas, takut hanya dengan mendengar namanya saja sudah berbahaya.
“Dan yang terakhir…” Sena menurunkan suaranya hampir menjadi bisikan. “Shadow of Manipulation. Yang paling berbahaya. Ia tidak butuh pasukan. Tidak butuh perang. Ia mengendalikan pikiran. Raja bisa menjadi boneka. Sahabat bisa menjadi algojo. Tidak ada yang tahu wajah aslinya, karena ia bisa menjadi siapa saja.”
Ruangan terasa dingin.
“Tapi semua itu,” Sena melanjutkan perlahan, “masih berada di bawah satu entitas.”
Semua mata tertuju padanya.
“The Void.”
Nama itu saja terasa salah. Seperti lubang hitam dalam percakapan.
“Dia adalah Pemimpin Mutlak Kultus Kehancuran,” ujar Sena. “Bukan sekadar pemimpin, ia adalah kehendak. Saat The Void muncul, Kultus Kehancuran berhenti bersembunyi. Tidak ada lagi manipulasi halus. Tidak ada lagi permainan bayangan. Mereka akan bergerak frontal, brutal, dan tanpa ampun.”
Kouji merasakan darahnya mendingin.
“The Void ditunjuk langsung oleh Dewi Anarkia,” lanjut Sena. “Dan jika ia benar-benar bangkit… Dewi Elysia pasti akan memberikan wahyu itu kepada High Priest atau Saintess di Kerajaan Suci Celestial. Saat itu terjadi, dunia akan tahu, karena perang besar tidak bisa lagi dihindari.”
Ia menatap mereka semua, satu per satu.
“Jika Six Shadows adalah pertanda bencana… maka The Void adalah akhir dari penyangkalan.”
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Namun kali ini, bukan sekadar takut.
Ini adalah kesadaran.
Bahwa mereka berdiri di ambang sesuatu yang jauh lebih besar dari dendam, misi, atau pengkhianatan.
Ini adalah awal dari kehancuran yang sesungguhnya.