Setelah mengalami kecelakaan, mata batin Nino terbuka. Pemuda berusia 20 tahun itu jadi bisa melihat makhluk astral di sekitarnya.
Sejak tersadar dari komanya, pemuda itu selalu diikuti oleh arwah seorang wanita muda yang dilihatnya ketika kecelakaan terjadi.
Karena tak kuat terus menerus harus melihat makhluk astral, Nino meminta bantuan Pamannya untuk menutup mata batinnya. Sang Paman pun memberikan doa agar bisa menutupi mata batin.
Alih-alih menutup mata batin, kemampuan Nino yang awalnya hanya bisa melihat, justru berkembang jadi bisa berkomunikasi dengan para arwah.
Tak mau menderita sendirian, Nino pun meminta sahabatnya yang penakut, Asep untuk ikut membaca doa dengan dalih supaya menjadi berani. Dan ketika Asep mengamalkannya, sama seperti Nino, pemuda itu juga bisa melihat makhluk halus.
Kejadian demi kejadian aneh terus menimpa kedua sahabat tersebut. Lewat petunjuk dari makhluk astral, mereka bisa mengungkap kejahatan kasus kriminal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aksi Kancing Cetet
“Abah.. Amih.. tulungan Asep. Gusti.. tulungan abi (Abah.. Amih.. tolongin Asep. Tuhan, tolong aku).”
“Oh Tuhan tolonglah aku. Jangan biarkan diri ku, ditangkap preman, diganggu setaaaaan.”
“Maneh mah, kaayaan keur kieu kalakah nyanyi (Lo mah, keadaanlagi kaya gini malah nyanyi),” kesal Asep sambil menoyor kepala Nino.
“Biar ngga terlalu tegang.”
Keempat preman yang mengejar mereka semakin mendekat. Nino melihat dulu pada ketiga setan yang berdiri di dekat lift.
“Eh setan.. lo jangan ganggu gue dulu ya!” teriak Nino sambil mengepalkan tangannya.
Melihat musuh semakin mendekat, Nino dan Asep langsung memasang kuda-kuda. Begitu keempat preman itu sampai ke dekat mereka, perkelahian pun langsung terjadi.
***
Miko melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Matanya sesekali tertuju ke ponselnya, melihat titik di mana Asep dan Nino berada. Pria itu yakin kalau Anton yang sudah mengirimkan keempat preman itu untuk menyakiti kedua pemuda itu.
“Nino sama Asep itu siapa?” tanya Iqbal sambil berpegangan karena cara Miko melajukan mobilnya sudah seperti pembalab F1 saja.
“Yang nemuin mayat Maya.”
“Mungkin Anton yang mengirim preman-preman itu.”
“Aku juga mikirnya ke sana. Bagaimana pun juga karena mereka berdua, mayat Maya berhasil ditemukan.”
Mobil yang dikendarai Miko semakin mendekati titik di mana Asep dan Nino berada. Miko menghentikan kendaraan roda empatnya di depan bangunan hotel yang baru selesai dibangun. Pria itu segera turun dari mobil disusul oleh Iqbal.
“Kamu yakin mereka ada di sini?”
“Kalau dari titiknya emang di sini. Ayo kita masuk ke dalam.”
Bergegas Miko dan Iqbal memasuki pelataran gedung hotel yang tidak terjaga. Keduanya berlari menuju basement. Nampak parkiran bawah itu begitu sepi dan gelap. Kemudian mata Miko menangkap sebuah pintu yang sedikit terbuka.
Ketika Miko membuka pintu, ternyata itu adalah jalan masuk dengan menggunakan tangga darurat. Miko dan Iqbal pun mulai menaiki anak tangga untuk mencari keberadaan Nino dan Asep.
Di lantai lima, perkelahian antara Nino dan Asep melawan empat preman berlangsung seru. Kedua pemuda itu mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk menghadapi empat pria yang postur tubuhnya lebih tinggi dan besar dari mereka.
Di dekat lift, tiga makhluk astral yang tadi mengganggu Nino dan Asep bergantian, nampak menikmati perkelahian yang terjadi.
Hantu wanita berdiri dalam posisi melayang, melihat adegan action sambil berkacak pinggang. Sang pocong nonton sambil berjongkok karena pegal terus menerus berdiri. Sementara si hantu pria duduk sambil menekuk sebelah kakinya, sudah seperti gaya makan kebanyakan orang Indonesia.
“Menurut kalian, siapa yang bakalan menang?” tanya neng kunti.
“Kalau menurut ku jelas para preman itu. Dari bodynya aja kalah jauh,” jawab si pocong.
“Idem, paling tuh dua bocah tepar bentar lagi.”
Nino yang tanpa sengaja mendengar omongan ketiga makhluk astral itu kesal juga. Dengan kata lain, mereka meremehkan kemampuan dirinya dan Asep.
“Heh! Ngemeng aja lo pada. Bantuin gue napa!” sewot Nino.
“Wani piro?” tanya si pocong santai.
Sang preman yang tengah berhadapan dengan Nino kebingungan sendiri. Dia melihat ke kanan dan kiri, ingin tahu siapa yang diajak bicara oleh Nino. Hal tersebut dimanfaatkan Nino untuk memberikan tendangan pada pria di depannya hingga terjatuh.
Di lain pihak, Asep juga tengah berusaha melawan walau dengan jurus seadanya. Kadang dia memanfatkan barang-barang yang ada di dekatnya. Kebetulan sekali ada tumpukan ember bekas cat. Digelundungkannya ember tersebut hingga membuat salah satu penyerangnya tersandung kakinya dan jatuh.
“Hiaaaaaaattttttt!!”
Asep berteriak kencang sambil berlari ke arah salah satu preman. Saking kencangnya teriakan Asep, suaranya sampai tertangkap oleh Miko dan Iqbal yang ada di lantai tiga.
“Suara apa tuh?” tanya Iqbal.
“Sepertinya mereka ada di lantai atas.”
Miko segera menuju tangga darurat disusul oleh Iqbal. Pria itu menaiki anak tangga sambil berlari, takut sesuatu terjadi pada kedua pemuda itu.
Saat hampir berada di dekat preman yang dilawannya, Asep meloncat kemudian mengarahkan kedua kakinya ke tubuh lawannya. Namun sang lawan segera berkelit hingga tendangan Asep hanya mengenai angin. Tubuh pemuda itu tanpa dapat ditahan terjatuh ke lantai.
“Aduh!” seru Asep kesakitan. Pemuda itu beringsut menjauh seraya bokongnya yang habis mencium lantai.
Tak jauh dari sana, Nino juga masih melawan dua orang preman. Setelah pria itu berhasil melayangkan pukulan ke wajah preman berambut gondrong, sekarang dia tengah melawan preman berkepala botak. Dan si botak ini lebih sulit dilawan dibanding si gondrong.
Semua pukulan Nino berhasil dihindari dan ditangkis. Ketika Nino melayangkan lagi pukulan, tangannya di tangkap kemudian ditarik hingga tubuhnya maju ke depan. Kemudian dengan mudahnya si botak mengangkat tubuh Nino lalu melemparkannya ke depan.
BRAK!
Tubuh Nino terjatuh menimpa ember bekas cat. Terdengar suara pemuda itu melenguh kesakitan. Asep juga masih berada di lantai, mendekati Nino. Pemuda itu berusaha membantu sahabatnya bangun. Keadaannya keduanya sudah semakin terdesak, selain itu mereka juga sudah kehabisan tenaga.
Melihat lawannya sudah tidak berdaya, si botak dan si gondrong mendekat. Masing-masing menarik kaki Nino dan Asep hingga tubuh kedua pemuda itu terseret.
“Ikat mereka!” titah si botak pada dua rekannya yang lain.
***
Setannya malah nonton🤣
pesan kasaha eta teh No....emangnya kamu lg di perebutkan iya 😊