NovelToon NovelToon
Bukan Yang Pertama Untuk Cinta Pertama

Bukan Yang Pertama Untuk Cinta Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Pertiwi1208

"Jadi kamu melangsungkan pernikahan di belakangku? Saat aku masih berada di kota lain karena urusan pekerjaan?"

"Teganya kamu mengambil keputusan sepihak!" ucap seorang wanita yang saat ini berada di depan aula, sembari melihat kekasih hatinya yang telah melangsungkan pernikahan dengan wanita lain. Bahkan dia berbicara sembari menggertakkan gigi, karena menahan amarah yang menyelimuti pikirannya saat ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi1208, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Malam itu Mery tiba di rumah mertuanya paling akhir. Mobilnya melambat saat memasuki halaman rumah yang terang oleh lampu-lampu taman. Ia sempat menarik nafas panjang sebelum mematikan mesin. Sejujurnya, tubuhnya lelah setelah seharian bekerja dan masih harus menyempatkan diri berkeliling membeli oleh-oleh. Namun baginya, datang ke rumah orang tua Arya dengan tangan kosong adalah hal yang tidak mungkin ia lakukan.

Begitu suara mobil berhenti terdengar, Arya yang sejak tadi duduk di ruang tamu bersama seluruh anggota keluarganya langsung bangkit berdiri. Ia melangkah cepat keluar rumah, meninggalkan obrolan yang semula ramai. Pemandangan itu tidak luput dari perhatian ayah dan ibunya, juga Gavin dan adik perempuan Arya. Mereka saling berpandangan, lalu tersenyum tipis, seolah ada kepuasan kecil melihat reaksi spontan Arya terhadap kedatangan istrinya.

Arya berhenti di samping mobil, sedikit membungkuk ketika Mery menurunkan kaca jendela. “Kenapa kamu lama sekali?” tanyanya, nadanya terdengar lebih khawatir daripada kesal.

Mery menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis. Namun ia tidak menjawab. “Arya, tolong bawakan yang ada di belakang,” ucapnya ringan, seolah memberi perintah paling biasa.

Arya mengernyit, tapi tetap melangkah ke arah kursi penumpang dan membuka pintunya. Matanya sedikit melebar saat melihat isinya. Beberapa kantong besar tersusun rapi di sana.

“Apa semua ini?” tanyanya.

“Banyak sekali,” lanjut Arya sambil menghela nafas kecil.

“Udah bawa aja, jangan kebanyakan protes. Aku capek banget hari ini,” jawab Mery seraya memegang tengkuknya dan memutar kepala perlahan untuk meredakan pegal.

Arya hanya mencebik, lalu mengangkat semua kantong itu tanpa banyak bicara.

Mereka berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah. Begitu Mery melangkah melewati ambang pintu, suasana langsung berubah lebih hangat. Ibu Arya bangkit dari sofa dan menghampiri lebih dulu.

“Mery, sayang… akhirnya datang juga,” ucapnya lembut sambil menggenggam tangan Mery. Tatapannya penuh perhatian, seolah ingin memastikan menantunya baik-baik saja.

“Astaga… kelihatannya capek sekali,” lanjutnya, tak lupa menepuk punggung Mery dengan penuh kasih.

“Iya, Bu,” jawab Mery tersenyum. 

“Maaf datang paling akhir.”

“Tidak apa-apa,” sahut ayah Arya yang ikut berdiri. 

“Yang penting kamu sudah sampai dengan selamat.”

Adik perempuan Arya ikut mendekat. “Kak Mery!” sapanya ceria. 

“Aku pikir Kakak gak jadi datang.”

“Mana mungkin aku gak datang,” jawab Mery sambil tersenyum, lalu menyerahkan salah satu kantong. 

“Ini ada sedikit oleh-oleh.”

“Loh, repot-repot sekali,” kata ibu Arya, meski wajahnya terlihat senang. 

“Kamu ini sudah seperti anak sendiri, gak usah sungkan.”

Arya meletakkan semua barang di sudut ruang makan. Ia melirik Mery sekilas, melihat bagaimana istrinya disambut dengan penuh kehangatan. Ada sesuatu di dadanya yang terasa aneh, campuran lega dan kagum, melihat Mery begitu mudah diterima oleh keluarganya.

“Andai saja Hany juga diperlakukan seperti itu oleh orang tuaku,” batin Arya.

“Sudah, sudah,” ujar ayah Arya sambil tersenyum. 

“Kalau begitu, kita langsung makan saja. Dari tadi semua menunggu Mery.”

Semua orang pun sepakat. Mereka bergerak menuju meja makan bersama-sama. Ibu Arya sibuk mengatur posisi duduk, memastikan Mery duduk di tempat yang nyaman.

“Kamu duduk di sini saja, dekat Ibu,” katanya tanpa ragu.

Mery menurut. Ia menoleh sebentar ke arah Arya yang duduk di seberangnya. Tatapan mereka bertemu singkat. Arya mengangguk kecil, seolah berkata bahwa semuanya baik-baik saja.

Meja makan itu dipenuhi hidangan rumahan yang hangat. Aroma masakan menguar, menambah rasa akrab di antara mereka. Percakapan mengalir ringan, tentang pekerjaan, tentang kabar sehari-hari, juga hal-hal kecil yang membuat tawa sesekali pecah.

Ibu Arya beberapa kali menambahkan lauk ke piring Mery. “Makan yang banyak, kamu kelihatan kurus,” katanya penuh perhatian.

“Iya, Bu,” jawab Mery sambil tersenyum, merasa terharu dengan perlakuan itu.

Di tengah suasana hangat tersebut, Mery merasa diterima sepenuhnya, tanpa syarat. Bukan sebagai istri kontrak, bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai bagian dari keluarga.

Di sudut meja, Arya memperhatikan semuanya dalam diam. Melihat caranya keluarga menyayangi Mery, ia tiba-tiba sadar, kehangatan ini bukan sandiwara.

Sesekali suasana di meja makan menjadi hening. Bukan karena canggung, melainkan karena masing-masing tengah fokus pada hidangan di piring mereka. Suara sendok dan garpu beradu dengan piring terdengar pelan, berpadu dengan tawa kecil yang sesekali muncul dari obrolan ringan sebelumnya.

Hingga akhirnya Pak Handoko meletakkan sendoknya dan berdehem pelan. “Sebenarnya ada tujuan lain kami semua mengundang kalian makan malam,” ucapnya tenang, tapi cukup untuk mengubah atmosfer di meja makan.

“Mampus,” batin Mery.

Mery seketika kesulitan menelan suapan terakhirnya. Tangannya refleks meraih gelas dan meneguk air putih dengan cepat. Jantungnya berdetak sedikit lebih kencang. Tanpa diminta, bayangan tentang pertemuan-pertemuan dengan keluarga mertua yang sering ia dengar dari orang lain langsung menyeruak di benaknya. Tentang menantu yang selalu dinilai, tentang kesalahan kecil yang diperbesar, tentang ekspektasi yang kadang terasa mencekik. Selalu ada cela bagi keluarga suami, untuk mencibir kesalahan yang bahkan tidak terlihat.

Ia berusaha menenangkan diri, mengingat kembali senyum-senyum hangat yang ia terima sejak tadi. Namun tetap saja, rasa waspada itu muncul begitu alami. 

Arya menyadari perubahan ekspresi Mery, tapi dia malah ingin tertawa saat melihatnya.

Pak Handoko melirik ke arah Gavin. Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, Gavin sudah memahami isyarat tersebut. Ia membungkuk sedikit, mengambil tas yang sejak tadi diletakkannya di bawah kursi di sebelahnya. Dengan gerakan tenang, ia mengeluarkan sebuah map berwarna coklat, lalu meletakkannya tepat di tengah meja, di antara Arya dan Mery.

Arya dan Mery sama-sama terdiam. Tatapan mereka saling bertemu sepersekian detik, penuh tanda tanya.

“Bukalah,” ucap Bu Lia, ibu Arya, dengan senyum lembut yang tak mengandung tekanan sedikit pun.

Arya meletakkan sendok dan garpunya, lalu meraih map itu. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat dua tiket perjalanan, kartu akses penginapan, serta beberapa lembar informasi lain yang tertata rapi.

“Apa ini?” tanya Arya, suaranya terdengar jujur kebingungan.

“Setelah menikah kan, kalian belum bulan madu,” jawab Bu Lia santai, seolah membicarakan hal paling biasa di dunia.

Arya langsung terbatuk. Wajahnya sedikit memerah, membuat Gavin spontan menepuk punggungnya dan menyodorkan segelas air. Mery menahan senyum, sementara adik perempuan Arya terlihat terkekeh kecil.

“Kenapa begitu terkejut?” Bu Lia melanjutkan, nada suaranya hangat. 

“Bukankah itu hal lumrah yang dilakukan suami istri setelah menikah?”

Arya mengangguk kecil sambil berdehem, masih mencoba menguasai diri.

“Tenang saja,” sahut Gavin, akhirnya ikut bicara. Seketika semua mata tertuju padanya.

“Aku sudah mengatur semuanya. Mulai dari cuti kerja, tempat, penginapan, sampai transportasi. Kalian berdua tinggal berangkat saja.”

Mata Arya sedikit melotot, jelas tidak menyangka akan sejauh itu. Sementara Mery justru tersenyum tipis, senyum yang terlihat tenang dan terkontrol.

“Kenapa kamu repot, Gavin?” ucap Mery lembut, mencoba mengambil alih suasana, karena dia tahu Arya tidak bisa lagi mengendalikan suasana.

“Kami sebenarnya bisa mengurusnya sendiri.”

Gavin tersenyum kecil. “Bukan repot. Anggap saja ini hadiah keluarga.”

Mery mengangguk pelan, lalu melirik Arya sekilas sebelum melanjutkan, “Sebenarnya… Arya juga sudah membicarakan tentang bulan madu itu. Hanya saja sampai sekarang kami belum sepakat soal tempatnya, karena kami terus memilih lokasi yang berbeda.”

Ia menoleh penuh arti ke arah Arya. “Iya kan, Sayang?”

Arya terdiam sepersekian detik. Tidak ada banyak pilihan. Demi menjaga keharmonisan di depan orang tuanya, ia akhirnya mengangguk. “Iya,” jawabnya singkat.

“Wah, bagus itu,” seru Bu Lia dengan wajah berbinar. 

“Aku tidak menyangka Arya bisa berinisiatif seperti ini.”

Ia menoleh ke arah Mery, lalu tersenyum menggoda. “Aku kira kamu akan tertekan karena menikahi orang yang jarang bicara dan jarang tersenyum itu.”

Meja makan langsung dipenuhi tawa ringan. Adik Arya bahkan tertawa paling keras, sementara Pak Handoko hanya menggeleng pelan sambil tersenyum.

Mery ikut tertawa kecil. “Awalnya memang begitu, Bu,” katanya jujur tapi santai. 

“Tapi ternyata Arya tidak seburuk itu.”

“Tidak seburuk itu?” ulang Arya, pura-pura tersinggung.

“Ya, tidak terlalu buruk,” balas Mery sambil tersenyum tipis, membuat suasana semakin cair.

Bu Lia mengangguk puas. “Ibu senang melihat kalian seperti ini. Rumah tangga itu bukan soal sempurna, tapi soal mau berjalan bersama.”

Pak Handoko menimpali. “Anggap bulan madu itu waktu untuk saling mengenal lebih dalam. Tidak perlu terburu-buru.”

Mery mengangguk pelan. Rasa cemas di dadanya benar-benar mengendur. Tidak ada penghakiman, tidak ada tuntutan berlebihan, yang ada hanyalah perhatian, candaan, dan keinginan tulus agar mereka baik-baik saja. Ketakutannya tentang keluarga mertua perlahan runtuh. Meja makan malam itu bukan hanya tentang hidangan dan rencana bulan madu, melainkan tentang penerimaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!