Bagaimana jika orang yang kamu anggap biasa dan tidak penting dalam hidup mu ternyata adalah belahan jiwamu yang selama ini kamu cari.
Murat terpaksa menikahi Hanna, sahabat dari mendiang istriny zahra. Bagi Hanna ini adalah pernikahan impian karena Murat adalah cinta pertamanya, sedangkan bagi Murat pernikahan ini merupakan amanah yang harus dijalankan demi putranya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya... stay tune yah aku harap kalian suka dengan karyaku ini 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fei yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. RUMAH SAKIT CAHAYA KASIH
Hati Hanna tidak tenang sejak tadi. Hari ini dia memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke Rumah Sakit.
Kemarin dia sudah menghubungi Halil. Pria itu terdengar lega, bahkan menawarkan dirinya untuk menjemput Hanna. Tetapi sudah bisa ditebak wanita itu menolaknya.
Saat ini dirinya sedang menunggu Keanu pulang sekolah, rencananya dia akan menitipkan Keanu pada mertuanya kebetulan Azra dan keluarganya masih ada di Indonesia.
Sarah juga akan menitipkan Adam pada neneknya. Dia tidak mau anaknya membuat drama dan membuat repot semuanya.
" Tante jadi kan ke lumah Oma". Keanu melompat lompat kegirangan karena sejak tadi pagi dia akan dijanjikan bermain di rumah Omanya.
" Iya sayang disana masih ada abang Albert dan Ansel. Jadi Abang Keanu boleh main yang lama disana, tapi janji enggak boleh nakal yah".
Hanna sudah menghubungi ibu mertuanya dan meminta izin untuk menitipkan Keanu, wanita itu beralasan akan menemani temannya menjenguk kerabatnya yang sedang sakit.
Sedangkan untuk Murat, Pria itu sedikit keberatan tetapi karena Keanu merengek ingin bermain dirumah Omanya. Akhirnya pria itu mengizinkan istrinya pergi.
Hanna dan Keanu sedang bersiap, mereka tidak sadar Sarah sudah datang dan menunggu mereka diteras rumah sambil memainkan ponselnya.
" Sarah, kamu sudah datang, kenapa tidak memanggilku?"
" Enggak apa apa mbak santai saja, aku belum lama kok, ehmmm mbak sudah siap..?".
" Aku siap Sarah, tetapi maaf harus merepotkanmu" Meskipun mereka sangat dekat tetap saja wanita itu merasa tidak enak terus menerus merepotkan Sarah.
" Apa sih mbak, santai aja, aku juga senang kok selalu bisa bantu mbak Hanna" senyum Sarah penuh ketulusan membuat Hanna sedikit lebih lega.
Mereka berjalan menuju mobil Sarah yang terparkir didepan pagar, tetapi si tampan Keanu sudah lebih dulu menunggu mereka didepan mobil.
" Tante cepet. "
Kedua wanita itu tertawa melihat tingkah Keanu.
...****************...
Tumpukan dokumen memenuhi meja Murat. Lelaki tampan itu tampak serius memeriksa semua kertas itu. Tetapi yang sebenarnya hatinya gelisah sejak tadi.
Tadi malam istrinya meminta izin untuk mengantarkan temannya ke Rumah Sakit. Sebenarnya bisa saja dia menolak dengan keras tetapi dirinya tidak tega membuat istri dan putranya kecewa.
Mau tidak mau dia mengizinkan mereka pergi meskipun tetap menunjukan sikap dinginnya pada Hanna.
Tuk...tuk.. Suara jari jari Murat mengetuk meja. Pria itu sedang berpikir. " Bagaimana kalau dia bertemu pria itu disana".
" Apa aku susul saja dia.." sungguh hati Murat gelisah, dia takut Hanna bertemu dengan Halil di Rumah Sakit, ditambah lagi tujuan Hanna dan temannya memang Ke Rumah Sakit tempat Halil berada.
" ck...Kenapa harus di Rumah Sakit itu, bukankan di kota ini banyak sekali Rumah Sakit". Saat ini Pria itu seperti orang gila yang berbicara sendiri.
CEKLEK..
Irene menyembulkan kepala dengan senyum yang lebar. " Kakak aku bawakan makan siang". Dia mengangkat kotak bekal yang sudah disiapkan dari rumah.
Pria itu menghembuskan napasnya lelah. Dia sudah melarang Irene membawa bekal untuknya, karena dia sudah membawa bekal sendiri dari rumah.
" Irene aku sudah bilang, kamu tidak usah repot repot aku sudah membawa sendiri bekal dari rumah". Suara Murat tegas tetapi dia tetap menahan suaranya agar tidak meninggi.
" Ck..kakak, ini aku membuatkan bekal spesial untuk kakak, aku membuatnya sendiri, kakak pasti suka". Irene tidak peduli dengan penolakan Murat, dia ingin menunjukan kalau dia adalah wanita modern yang juga pandai memasak.
Ayah dua anak itu juga tidak peduli dia tetap membuka bekal yang dibuatkan oleh istrinya. Wajah Irene sangat kesal, tangannya meremas tas bekal yang dia buat.
Aroma lezat makanan menusuk indra penciuman Murat, wajahnya tersenyum bahagia, kali ini Hanna membuatkannya Nasi ayam Hainan.
Wanita berambut pendek itu sampai bengong, baru kali ini dia melihat Murat tersenyum seperti itu. hatinya mulai ketar ketir, apa dia harus bersaing dengan seorang pembantu, pikirnya.
" Ah tidak mungkin"
Irene tidak mau kalah, dia membuka kotak bekal yang dibawanya, Aromanya tidak kalah sedap.
" Kak Lihat aku membuatkanmu nasi goreng seafood kamu pasti suka".
tetapi pria itu hanya menikmati makanannya dia bahkan tidak memperhatikan bekal yang dibawakan Irene.
" Tidak terima kasih, tetapi sepertinya perutku tidak akan cukup memakan semuanya". Wajah Irene semakin kesal, dia meremas sendok yang dia pegang.
" Baiklah kalau kakak tidak mau aku akan membuangnya". Irene bermaksud mengancam Murat.
" Tunggu sebentar". Murat keluar, tak berapa lama Pria itu datang bersama Dimas.
" Irene, dari pada kau membuang makanan itu, kamu bisa memberikannya pada Dimas". Mulut Irene menganga tidak percaya dengan apa yang Murat lakukan.
" Tidak apa apa kan Dimas, makanan itu masih baru, dan belum ada yang memakannya".
" Tidak apa apa pak, kebetulan saya juga belum membeli makan siang". Pria itu tersenyum senang karena mendapatkan makanan gratis hari ini.
Dengan wajah cemberut, wanita itu memberikan kotak bekalnya dengan terpaksa kepada Dimas.
" Terima kasih pak, terima kasih bu". Dimas melangkah keluar dengan senang, kapan lagi dia mendapatkan makan siang gratis, pikirnya.
Sedang Murat, melanjutkan kembali makan siangnya. Pria itu benar benar tidak peduli dengan ekspresi Irene yang sudah seperti kepiting rebus.
...****************...
Rumah Sakit Cahaya Kasih terlihat megah ditengah hiruk pikuk kota Jakarta, Rumah Sakit ini merupakan salah satu rumah sakit mewah yang berada di kota metropolitan.
Mobil Sarah sudah terparkir rapih dipelataran Rumah Sakit sejak tadi. Tetapi kedua wanita dewasa itu masih duduk manis didalam mobil.
"Mbak.." Sarah menunggu Hanna dengan sabar. Dia tahu sahabatnya masih sangat takut. " Beri aku waktu Sarah".
Hanna coba menenangkan kegugupannya. " Mbak ini cuma medical chek up, aku yakin mbak sehat, tenang saja mbak".
Dia mengangguk dan mencium sayang baby Malika yang sedang tertidur di pangkuannya.
" Doakan mamah yah sayang".
Tring...tring...tring.. Halil calling
" Iya kak aku sudah sampai".