Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.
Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.
Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.
Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang Selalu Salah
Pagi itu dimulai seperti biasa.
Langit di atas Sekte Awan Jernih cerah, angin gunung berhembus lembut, dan suara lonceng latihan terdengar tepat waktu. Namun bagi Lin Feiyan, ada sesuatu yang terasa sedikit miring sejak ia membuka mata.
Bukan firasat buruk. Bukan rasa takut.
Hanya perasaan halus bahwa hari ini… entah kenapa, akan berjalan salah lagi.
Ia tiba di aula latihan beberapa napas setelah lonceng terakhir berbunyi. Terlambat. Tidak sampai satu menit, tapi cukup untuk membuat seorang senior menoleh.
“Lin Feiyan,” ucap senior itu datar. “Kau terlambat.”
Feiyan segera menunduk. “Maaf, Senior.”
Nada suaranya rendah, sikapnya patuh. Ia sudah terbiasa. Senior itu mengangguk singkat, mencatat sesuatu di papan kecil tanpa berkata lebih jauh. Tidak ada hukuman. Tidak ada teriakan.
Namun rasa tidak nyaman itu tetap tinggal.
Latihan dimulai. Feiyan bergerak sesuai pola, mengikuti aliran Qi yang diajarkan. Gerakannya stabil, tidak ceroboh, tidak menonjol. Ia menahan diri, seperti biasa. Tidak ingin terlihat mencolok.
Saat giliran evaluasi singkat, seorang senior lain melangkah mendekat.
“Posturmu sedikit turun di langkah ketiga,” katanya sambil menunjuk. “Kau tidak fokus.”
Feiyan mengangguk lagi. “Aku akan memperbaikinya.”
Senior itu menatapnya beberapa detik lebih lama dari perlu, lalu berkata, “Ini bukan pertama kalinya.”
Kalimat itu ringan.
Namun terasa berat di dada Feiyan.
Ia mencoba mengingat-ingat. Apakah kemarin juga ditegur? Dua hari lalu? Atau tiga? Ia tidak yakin. Yang ia tahu, setiap hari selalu ada sesuatu. Selalu ada catatan kecil, koreksi kecil, nada yang terdengar wajar… tapi terlalu sering.
Saat istirahat singkat, Feiyan duduk di pinggir lapangan. Ia meneguk air, menunduk, mencoba menenangkan napasnya.
Dari kejauhan, ia mendengar namanya lagi.
“Lin Feiyan itu ya?”
“Yang sering ditegur.”
“Katanya sih rajin, tapi entah kenapa selalu ada masalah kecil.”
Suara-suara itu tidak keras. Bahkan terdengar seperti obrolan biasa. Tidak ada kebencian terang-terangan. Tidak ada hinaan kasar.
Namun Feiyan tetap mendengarnya.
Ia mengepalkan jari tanpa sadar. Void Crack di dadanya berdenyut sangat pelan, hampir tak terasa, seperti gema kosong yang muncul setiap kali ia memilih diam.
Latihan berikutnya berjalan lebih berat. Bukan karena Qi-nya melemah, melainkan karena pikirannya terus terpecah. Setiap langkah ia ragu. Setiap gerakan ia periksa dua kali.
Takut salah.
Dan justru karena itu, ia membuat kesalahan kecil lagi.
“Langkahmu terlambat setengah ketukan,” ujar senior ketiga dengan nada datar. “Kau tidak konsisten.”
Feiyan menunduk lebih dalam dari sebelumnya. “Maaf.”
Senior itu tidak menjawab. Hanya berbalik pergi, seolah koreksi itu tidak penting—namun cukup untuk dicatat.
Saat latihan berakhir, murid-murid lain mulai bubar. Beberapa tertawa, beberapa berdiskusi ringan. Feiyan berdiri sejenak di tempatnya, merasa seperti ada jarak tipis yang memisahkannya dari mereka.
Tidak ada yang mendekat.
Tidak ada yang menyapanya.
Ia berjalan perlahan keluar lapangan, langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Di sepanjang jalan batu, ia merasakan tatapan sekilas—bukan tajam, bukan bermusuhan, hanya… menilai.
Seolah ia sudah memiliki label kecil yang tak tertulis.
Sore itu, ketika matahari mulai condong, Feiyan duduk sendirian di bawah pohon tua dekat jalur belakang. Angin menggoyangkan dedaunan, bayangannya jatuh terpecah di tanah.
“Apa aku memang seburuk itu?” gumamnya pelan.
Tidak ada yang menjawab.
Void Crack berdenyut satu kali.
Bukan sakit.
Hanya kosong.
Langkah kaki yang mendekat terdengar pelan di atas kerikil.
Lin Feiyan mengangkat kepala perlahan. Dari balik bayangan pepohonan, Gao Lian muncul dengan jubah rapi dan ekspresi yang selalu sama—tenang, tidak tergesa, seolah dunia jarang sekali menyentuhnya dengan kasar.
“Kau tidak langsung kembali,” ujar Gao Lian lembut. “Aku mencarimu.”
Feiyan segera berdiri, refleks. “Senior Gao.”
Nada suaranya sopan, namun ada kelelahan yang tidak ia sembunyikan sepenuhnya. Bahunya sedikit turun, napasnya tidak sedalam biasanya.
Gao Lian memperhatikannya sejenak tanpa berkata apa-apa. Tatapannya tidak menusuk, tidak menghakimi. Justru karena itu, Feiyan merasa dadanya semakin sempit.
“Latihan hari ini berat?” tanya Gao Lian akhirnya.
Feiyan ragu. Lidahnya terasa kaku. Ada dorongan untuk menjawab jujur, namun juga kebiasaan untuk menahan diri. Ia menunduk, menatap tanah di antara sepatu mereka.
“Tidak berat,” katanya pelan. “Hanya… banyak koreksi.”
Gao Lian mengangguk kecil, seolah sudah menduga. Ia melangkah mendekat satu langkah, menjaga jarak yang aman—tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
“Kau tahu,” ucapnya tenang, “di sekte ini, perhatian sering kali datang dalam bentuk seperti itu.”
Feiyan mengangkat kepala sedikit. “Perhatian…?”
“Koreksi. Teguran kecil. Catatan.” Gao Lian tersenyum samar. “Itu tanda bahwa mereka melihatmu.”
Kalimat itu terdengar masuk akal. Bahkan menenangkan. Feiyan ingin mempercayainya.
“Tapi…” Feiyan berhenti sejenak. Tangannya mengepal di sisi jubah. “Rasanya seperti apa pun yang kulakukan selalu kurang.”
Gao Lian tidak langsung menjawab. Ia menunggu, memberi ruang, membuat Feiyan tanpa sadar melanjutkan.
“Aku sudah berusaha lebih hati-hati,” lanjut Feiyan lirih. “Aku tidak ingin membuat masalah. Tapi tetap saja… selalu ada yang salah.”
Void Crack berdenyut pelan, merespons tekanan yang akhirnya keluar dalam bentuk kata-kata.
Gao Lian menghela napas pelan. “Feiyan,” katanya dengan suara rendah, “kau berada di posisi yang sensitif.”
Feiyan menegang. “Maksud Senior…?”
“Kau tidak berasal dari latar belakang kuat. Tidak punya pendukung besar.” Gao Lian berbicara dengan nada netral, seolah menyampaikan fakta alam. “Dalam situasi seperti itu, menonjol atau membantah hanya akan memperberat keadaan.”
Feiyan terdiam.
Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak pernah berniat membantah. Bahwa ia hanya ingin melakukan yang terbaik. Namun kata-kata itu terasa lemah bahkan sebelum keluar.
“Apa yang harus kulakukan?” tanyanya akhirnya.
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Gao Lian tersenyum tipis. Senyum yang hangat, penuh pengertian, dan sangat meyakinkan.
“Bersabar,” jawabnya. “Menunduk ketika perlu. Terima koreksi tanpa banyak suara. Tunjukkan bahwa kau bisa menahan diri.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan lembut, “Itu bukan menyerah. Itu bertahan.”
Feiyan menelan ludah. Ada rasa lega aneh mendengar itu. Seolah beban yang tak terlihat diberi nama dan arah.
“Jika aku diam…” Feiyan bergumam, “mereka akan berhenti?”
“Mungkin tidak segera,” jawab Gao Lian jujur. “Tapi kau akan aman.”
Kata itu—aman—menancap lebih dalam dari yang seharusnya.
Feiyan mengangguk pelan. Ia tidak menyadari bahwa ia mengangguk terlalu cepat, terlalu patuh. Yang ia rasakan hanya keinginan kuat untuk menghindari kesalahan berikutnya.
Void Crack berdenyut lagi.
Kali ini lebih jelas.
Sore itu berakhir tanpa kejadian lain. Feiyan kembali ke tempat tinggalnya dengan langkah tertahan, pikirannya dipenuhi satu kesimpulan sederhana: diam lebih baik daripada salah bicara.
Di aula administrasi sekte, saat malam mulai turun, seorang penatua menutup gulungan laporan harian. Ujung kuasnya berhenti sejenak di satu nama.
Lin Feiyan.
Dengan gerakan ringan, ia menambahkan satu tanda kecil di sampingnya. Tinta hitam menyerap ke kertas, nyaris tak terlihat jika tidak dicari.
Daftar pengawasan.
Tidak ada lonceng. Tidak ada pemberitahuan.
Hanya satu baris tambahan di antara banyak nama lain.
Di kamarnya, Feiyan duduk di tepi ranjang, menatap tangannya sendiri. Ia merasa bersalah… tanpa tahu dengan pasti kesalahannya apa.
Void Crack di dadanya berdenyut pelan dalam keheningan.
Dan sejak hari itu, setiap langkahnya di Sekte Awan Jernih tidak lagi sepenuhnya miliknya sendiri.