Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang terabaikan oleh anak - anak nya di usia senja hingga dia memutuskan untuk mengakhiri hidup nya.
" Jika anak - anak ku saja tidak menginginkan aku, untuk apa aku hidup ya Allah." Isak Fatma di dalam sujud nya.
Hingga kebahagiaan itu dia dapat kan dari seorang gadis yang menerima nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Sakit
*****
Zeyden segera membawa Kanaya ke rumah sakit keluarga mereka. Dada nya bergemuruh menahan rasa khawatir yang begitu membuat nya gelisah.
Setelah sampai di rumah sakit, Zeyden kembali menggendong Kanaya dan menaikkan nya ke atas brankar.
" Suster... Tolong suster." Teriak Zeyden.
" Kenapa mas?" Tanya seorang suster.
" Dia tiba - tiba pingsan." Jawab Zeyden memberitahu.
" Ini kan Kanaya." Gumam salah seorang suster yang mendorong brankar.
" Kamu kenal?" Tanya Zeyden penasaran.
" Iya, mas. Ini pasien nya dokter Shafa." Jawab suster.
" Permisi mas, kami akan periksa pasien dulu. Mas silahkan tunggu di luar."
Kanaya di dorong masuk ke dalam ruang UGD. Sedangkan Zeyden menunggu dengan taat gelisah dan bingung.
" Pasien nya mama? Kanaya... Kanaya... Naya... Mama." Gumam Zeyden.
" Pasien mama ini beda. Dia pasien yang spesial buat mama. Dia sudah tidak punya orang tua lagi. Dia tinggal sendiri di Jakarta. Itu sebab nya mama sengat peduli dengan kondisi nya. Dan ingin membantu nya agar segera sembuh." Ucap Shafa pada Zeyden.
" Pasien mama. Jangan - jangan." Gumam Zeyden menduga apa yang dia pikirkan benar ada nya.
Kemungkinan besar jika Kanaya adalah pasien sang mama yang sering di ceritakan mama nya pada Zeyden. Pasien kanker payudara yang menolak melakukan terapi.
Tiba - tiba pintu UGD terbuka. Dokter umum keluar dari dalam.
" Keluarga nya pasien." Panggil Dokter.
" Saya dokter. Bagaimana keadaan nya? Dia baik - baik saja kan dokter?" Tanya Zeyden khawatir.
" Saya belum bisa mendiagnosa nya sekarang ini. Pasien tercatat sebagai pasien tetap nya Dokter Shafa. Jadi kami harus menghubungi Dokter Shafa untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut." Jawab Dokter.
" Lakukan yang terbaik untuk nya, dokter. Saya mohon." Pinta Zeyden.
" Baik lah. Permisi." Pamit dokter.
" Apa yang terjadi dengan Naya?" Gumam Zeyden dengan bibir gemetar.
Saat bertemu dengan Kanaya tadi, Zeyden tidak melihat ada yang berbeda dari Kanaya. Bahkan Kanaya tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit. Dia dan Kanaya ngobrol seperti biasa.
" Apa dia tidak suka bicara dengan ku? Apa bicara dengan ku membuat nya stres sampai pingsan? Tapi kenapa bisa sampai mimisan?" Lirih Zeyden lagi, seraya menyugar kepala nya hingga ke tengkuk.
" Apa aku saja yang hubungi mama ya? Mungkin Naya memang pasien mama yang sering mama cerita kan. Tapi tidak mungkin. Naya kelihatan nya sangat sehat. Tidak mungkin dia orang nya." Ucap nya Lirih.
Zeyden dilema, dan semakin pusing kepala nya. Apa lagi mengingat pertemuan nya dengan Kanaya yang selalu beradu dalam perdebatan. Kelihatan jika Kanaya tidak nyaman di dekat nya.
" Ah... Mana sih mama. Kenapa lama sekali."
Zeyden menepuk kening nya sendiri. Lantas menyapu wajah nya dengan kasar. Sebab dilema semakin mengusik jiwa nya. Tindakan apa yang harus dia lakukan sekarang. Menunggu hanya membuat nya semakin khawatir."
Tiba - tiba Shafa dan beberapa dokter umum datang dari arah belakang Zeyden.
" Zey." Panggil Shafa yang kaget dengan kehadiran putra nya di sana.
Sebab suster yang menjemput nya tadi tidak mengatakan jika Zeyden yang membawa Kanaya.
" Mama." Zeyden menghampiri sang mama.
" Kamu ngapain di sini?" Tanya Shafa.
" Tolong teman Zey, ma. Tadi dia masih ngobrol biasa dengan Zey. Terus tiba - tiba dia pingsan dan hidung nya keluar darah, ma." Keluh Zeyden semakin panik.
" Dokter Shafa." Panggil seorang dokter yang mengintip dari ruang UGD.
" Mama akan periksa teman kamu sebentar." Kata Shafa.
Shafa pun masuk ke dalam UGD meninggalkan Zeyden yang masih belum bisa tenang.
Hampir sepuluh menit di dalam ruang UGD, akhir nya Shafa keluar menghampiri Zeyden yang terlihat duduk di kursi tunggu.
Sebelum mendekati Zeyden , Shafa sempat melihat putra nya memasang wajah khawatir yang tidak pernah dia lihat. Bahkan Zeyden belum pernah se khawatir ini saat sang mama sakit. Shafa pun semakin curiga dengan hubungan Zeyden dengan Kanaya.
" Zey." Panggil Shafa.
" Mama, bagaimana keadaan Naya, ma? Dia baik - baik saja kan?" Tanya Zeyden bangkit dari duduk nya.
" Kanaya akan di pindah kan ke ruang perawatan. Setelah itu akan di lakukan pemeriksaan secara keseluruhan oleh tim ahli. Kamu bisa ikut mama ke ruangan mama. Biar nanti suster dan petugas yang
Akan memindahkan Kanaya." Jawab Shafa.
" Tapi Zey ingin di sini saja, ma. Tapi waktu Naya bangun, dia butuh sesuatu."
" Kanaya tidak akan bangun untuk beberapa jam, Zey." Ucap Shafa dengan berat hati.
Terasa berat mengucap kan nya takut membuat putra semata wayang nya kecewa.
Mendengar ucapan sang mama membuat Zeyden terdiam di tempat nya dengan bingung.
*
*
*
" Sebenar nya Naya kenapa, ma? Sampai harus di periksa segala oleh tim ahli." Tanya Zeyden saat ibu dan anak itu berada di ruangan Shafa.
" Sebelum nya mama mau tanya dulu sam kamu. Apa hubungan kamu dengan Kanaya?" Tanya Dokter Shafa dengan serius.
Mengingat kondisi Kanaya yang sangat serius, Shafa perlu tahu apa hubungan putra nya dengan Kanaya sebelum dia memberitahu yang sebenar nya.
" Teman. Kita hanya teman." Jawab Zeyden menghindari kontak mata dengan mama nya.
" Kalau begitu kamu boleh pulang. Nanti mama akan hubungi bunda Kanaya untuk memberitahu keadaan nya." Usir Kanaya tanpa menatap sang putra nya.
" Ayo lah, ma. Kenapa malah nyuruh Zey pulang. Zey khawatir dengan keadaan Naya. Katakan sama Zey kalau memang ada yang serius." Rengek Zeyden.
" Kalau begitu jawab yang jujur pada mama. Ada hubungan apa kamu sama Kanaya?" Tanya Shafa lagi.
Selama ini Zeyden tidak pernah berhubungan serius dengan perempuan. Dekat dengan perempuan saja dia tidak mau. Jadi wajar jika Shafa bertanya. Sebagai seorang ibu dia merasa kan ada yang berada dari sikap anak nya.
" Kita belum jadi teman sebenar nya. Naya itu... Perempuan yang pernah Zey tabrak." Jawab Zeyden jujur.
Shafa sebenar nya sangat kaget mendengar jawaban Zeyden. Tapi sebisa mungkin dia harus terlihat tenang di depan Zeyden agar Zeyden mau menceritakan semua nya.
" Lalu? Kamu dan Naya berhubungan sampai sekarang?" Tanya Shafa lagi.
" Nggak, ma. Gimana mau ada hubungan, di ajak ngobrol aja Naya nya susah, ma. Ini tadi kita baru ngobrol bentar, eh... Dia udah pingsan sampai berdarah gitu." Jawab Zeyden mengeluhkan keadaan.
" Jadi cerita nya cewek gila yang bikin kamu sering melamun belakangan ini, itu Kanaya?" Tebak sang mama.
Zeyden menatap Shafa. Tanpa menunjukkan reaksi apa pun berharap sang mama bisa tahu jawaban nya dengan sendiri nya.
Shafa mendesah panjang lalau bersandar ke belakang kursi.
" Zey... Kanaya itu..."
" Jangan bilang kalau Naya itu pasien berhijab yang mama ceritakan sama Zey dan papa." Tebak Zeyden memajukan kepala nya.
Shafa mengangguk sekali. Mengiyakan tebakan putra nya.
" Astaghfirullahaladzim." Zeyden mengusap wajah nya kasar.
Dia begitu frustasi. Apa yang dia takut kan selama menunggu Kanaya di depan UGD tadi benar terjadi. Dan dia sangat dilema harus bagaimana menerima nya.
" Hasil pemeriksaan terakhir, sel kanker Kanaya sudah sampai ke otak dan pembuluh darah. Itu sebab nya dia mimisan. Dan kamu tahu, itu arti nya penyakit Kanaya menuju stadium akhir. Kanaya menolak terapi lanjutan. Beberapa kali melakukan kemoterapi, nyata nya tidak berpengaruh apa pun pada nya. Bisa di bilang kemoterapi nya gagal. Tidak mempengaruhi laju penyakit menyebar ke organ lain. Bahkan bunda nya saja, tidak bisa membujuk Kanaya untuk melakukan terapi. Sebagai dokter, mama juga tidak bisa memaksa Kanaya melakukan nya. Walau pun mama sangat berharap dia mau melakukan terapi hormon. Yang mama yakin bisa menghentikan dan mematikan sel kanker langsung pada pusat nya." Jelas Shafa menerangkan tentang keadaan Kanaya sekarang.
Zeyden diam terpaku. Mengingat bagaimana wajah Kanaya setiap kali bertemu dengan nya. Tidak ada gambaran yang menunjukkan jika Kanaya itu sakit. Bahkan wajah Kanaya juga merah seperti orang yang sehat.