Sebuah karya yang menceritakan perjuangan ibu muda.
Namanya Maya, istri cantik yang anti mainstream
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.Fahlefi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rada-rada
Di bawah lampu ruang tengah 10 watt, Maya berdiri dengan berkacak pinggang.
Gilang, pria itu tiba di rumah tanpa wajah berdosa sama sekali. Ia hanya menatap istrinya dengan kening berkerut.
"Ada apa May? Kok kayak mau makan orang gitu?"
Maya mendengus, menatap Gilang tak lepas sedikitpun.
"Abang yang ngomong atau aku yang harus jelasin?!" Kata Maya.
Gilang menautkan alis, "Ada apa sih? Ngomong aja May, aku nggak ngerti kode-kodean."
"Ini soal ke Jepang. Abang udah ditelpon sama bang Gilang kan?!"
Seketika, Gilang pun terdiam.
"Gimana? Abang mau jelasin dulu atau tunggu aku yang ngomong?" Ucap Maya lagi menghantam suami tercintanya itu.
Gilang menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan, "Oh itu." Jawabnya dengan nada santai.
Alis Maya mengerut, "Oh itu? Abang bilang cuma oh itu? Astaga naga, bang! Aku tuh udah capek ngadepin Sari yang merajuk. Ditambah lagi dengan si Sumi yang mulutnya kayak halilintar. Dan abang tanpa dosa cuma jawab, oh itu?"
Gilang tersenyum kecil, "Aku tuh bermaksud kasih surprise. Eh tau-taunya udah tahu duluan."
Maya melipat tangan di dada, "Modus!"
"Oke oke, abang minta maaf ya sayang ya, aku tuh cuma niat buat kejutan." Kata Gilang.
Maya masih cemberut kayak bebek dipatuk ular.
Gilang berdiri dari kursinya, lalu mengambil sesuatu dari dalam tas kerja.
Mata Maya melirik benda yang diambil oleh Gilang.
"Nih dibuka, aku belikan spesial untukmu dan Sari." Kata Gilang memberikan bungkusan plastik.
Maya kemudian membukanya, isinya adalah dua buah jaket tebal baru dengan gaya couple, untuknya dan untuk Sari.
Gemuruh di dalam dada Maya pun mulai mereda melihat hadiah yang diberikan oleh Gilang.
"Ini beneran abang yang beli?"
Gilang mengangguk.
Dengan senyum mengembang Maya pun kemudian memeluk Gilang dengan lekat. Ia menautkan kedua tangannya dibelakang leher Gilang.
"Makasih bang, abang memang suami terbaik sepanjang masa."
Gilang mengelus punggung Maya, "Kita akan jalan-jalan ke Jepang."
Maya mengangguk dibalik punggung Gilang, "Iya bang, bentar aku kasih tahu Sari dulu."
Rumah Maya malam itu pun dihiasai oleh wajah bahagia mereka. Sari yang mendapat informasi bahagia dari Maya langsung mengekspresikan kebahagiannya dengan memeluk kedua orang tuanya secara bergantian.
"Makasih Bu, makasih Ayah." Kata Sari. Ia langsung sembuh dari merajuk, wajahnya kini berbinar-binar.
Dan urusan ke Jepang itu pun mulai tersebar ke seantero desa.
"Mbak Maya, jangan lama-lama disana." Ucap seorang bapak ketika Maya lewat dari ladang.
"Nggak kok pak, cuma sebentar, dua minggu juga udah balek."
"Dua minggu rasa dua tahun mbak May, kami pasti merindukanmu." Sambung seorang pemuda diseberang.
Maya tersenyum manis, "Urusan proyek kita nanti akan dikelola sama Mirna ya bapak-bapak. Awas, jangan sampai gagal panen, semua jadwal dan kebutuhan tanaman udah aku list. Tinggal dijalankan saja."
Maya sangat berhati-hati dalam meninggalkan desa. Ia harus benar-benar mempersiapkan segalanya, tidak boleh ada sedikitpun kesalahan ketika ia balik lagi nanti.
Hingga petang, Maya terus mengajari Mirna apa yang harus dilakukannya selama dua minggu. Hingga akhirnya Mirna bosan sendiri mendengar petuah Maya yang berulang-ulang.
"Iya kak May, Iyaaaa!!! Dua hari lagi harus di pupuk, kemudian hentikan penyiraman kalau malam hujan, setelah itu lahan harus tetap dibersihkan."
Maya terkikik, "Hehe, oke deh sipp. Awas saja kalau kau pacaran terus, lupa sama tanggung jawab!"
Mirna cemberut,"Pacaran itu ada waktunya kak May, emang aku nampak kayak bucin gitu?"
Bibir Maya terangkat, "Iya nggak bucin, tapi tiap hari video call mulu! Nggak di ladang, nggak di rumah! Astoge Mir, kalian itu nikah aja sekalian, daripada pacaran mengundang gibah?!"
"Udah deh kak May, mending kakak pergi sana!! Huss husssht."
Mirna pun mengusir Maya dari sana.
Maya hampir jatuh, ia tak menduga akan di usir oleh Mirna seperti ini. Tapi ya sudahlah, batin Maya. Mirna memang otaknya rada-rada gimana...gitu.
Hari Sabtu, hari keberangkatan ke Jepang, semua sudah dipersiapkan dengan matang. Termasuk jaket tebal, karena disana katanya sedang musim dingin.
Maya bahkan sudah memakainya sejak pagi.