Aksa bertemu dengan seorang gadis pemilik toko kue yang perlahan memikat perhatiannya. Namun ketertarikan itu bukanlah karena sosok gadis tersebut sepenuhnya, melainkan karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang sang istri.
Terjebak dalam bayang-bayang masa lalu, Aksa mulai mendekatinya dengan berbagai cara — bahkan tak segan mengambil jalan licik — demi menjadikan gadis itu miliknya. Obsesi yang awalnya lahir dari kerinduan perlahan berubah menjadi hasrat posesif yang menguasai akal sehatnya.
Tanpa disadari, sang gadis pun terseret semakin dalam ke dalam cengkeraman pria dominan itu, masuk ke sebuah lembah gelap yang dipenuhi keinginan, manipulasi, dan ilusi cinta.
akankah Aksa bisa mencintai gadis itu sepenuhnya? apakah gadis itu mampu membuat Aksa jatuh cinta pada dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LebahMaduManis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
“Kenapa, Om?” Erina mengernyit. Tangannya berusaha melepaskan cengkeraman Bara di lengannya.
Bara tak menjawab. Ia menoleh ke jendela, mengintip ke luar, memastikan tak ada siapa pun. Begitu yakin, dan segera mengunci pintu. ia berbalik dan membanting tubuh Erina ke sofa. Erina terjerembap; napasnya memburu tak beraturan.
Ada sesuatu yang sangat salah.
Tatapan Bara gelap, berkobar oleh emosi yang tidak pernah Erina lihat sebelumnya. Ia mendekat perlahan—seperti elang yang mengurung mangsanya. Erina refleks menggeser tubuhnya ke samping, tetapi tangan Bara lebih cepat. Dagu Erina dicengkeram kuat.
“surat kepemilikan tokomu,” bisiknya, datar namun mengancam. “Serahkan semuanya ke Om.”
Erina tersentak “kenapa Om menanyakan surat kepemilikan toko?“
Bara mendorong dagu Erina ke samping, kasar. “Tokomu sudah bangkrut, kan, Erina?”
Erina menelan ludah. Baru enam bulan tinggal serumah dengan keluarga Tantenya dan baru hari ini ia melihat… sisi gelap suami tantenya.
“Toko itu nggak bangkrut, hanya ada sedikit masalah,” ucap Erina, suaranya tegang namun tegas.
Bara terdiam sejenak. Bahunya naik turun, napasnya berat—terlalu berat.
“Serahkan toko itu padaku!” teriaknya tiba-tiba. Suaranya pecah, dipenuhi amarah yang seolah ditahan terlalu lama.
Ia mendekat selangkah, menurunkan suaranya menjadi dingin dan mengancam.
“Atau… aku nikmati tubuh mulusmu, aku sudah lama menghayalkan bisa menikmati tubuhmu.” Nadanya menusuk, penuh ancaman yang tak perlu dijelaskan.
Bara tertawa pendek—tawa kering yang tak pernah Erina dengar sebelumnya.
Tangannya terulur, menepuk pipi Erina perlahan, bukan lembut… tapi merendahkan.
Seperti seseorang yang merasa dirinya berkuasa sepenuhnya.
Refleks, Erina menepis tangan itu.
“Jangan sentuh aku.”
“Kau cantik, sangat cantik, kamu punya nilai jual yang bagus jika kau aku jual pada penikmat gadis yang rela membayar hingga ratusan juta”
Erina menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, seolah setiap kata yang di ucapkan Bara mampu merusak gendang telinganya. perempuan mana yang tak jiji mendengar untaian kata yang keluar dari mulut pria bejad seperti Bara. “diaaaaam ! Mana tante Talia? Dia yang memintaku segera kembali kesini”
“Talia?“ Ucapan Bara terhenti, lalu mengendikan bahu dengan bibir yang meruncing “dia tidak akan pernah kembali, begitu pun dengan Vallea”
Sangat janggal,dimana tante dan sepupunya?bukankah pesan yang dikirim padanya tadi dari no Tantenya?. Untuk saat ini tak penting bagi Erina memikirkan kemana tante dan sepupunya, yang ia pikirkan adalah bagaimana cara agar terlepas dari Bara, mencari cara agar bisa keluar dari rumah yang serupa penjara kelam saat ini.
“Cepat katakan dimana surat kepemilikan toko !“ pekik Bara menggelegar di ruang tamu, tak sadar suaranya bisa saja terdengar orang diluar.
Erina memejamkan matanya tatkala intonasi tingga Bara menusuk indra pendengarannya, jantung Erina memompa lebih kencang, deru nafasnya terengal engal. Erina mengitari sekitar ruangan lagi-lagi—tetap mencari cara keluar dari rumah itu dengan pintu yang terkunci, sejenak ia berpikir untuk keluar paksa dengan memecahkan Kaca jendela, namun itu membutuhkan waktu, ia takut Bara benar-benar melakukan hal bejat pada dirinya, namun tetap berdiam diri pun bukan tidak mungkin Bara dapat melancarkan Aksinya.
ia tahu—mereka berada di komplek perumahan Elit yang dimana sebagian tetangganya tak mau ikut campur urusan tetangga lainnya sekalipun terdengar suara pertengkaran. Namun insting bertahan hidupnya meminta untuk melakukan apapun sebisa mungkin untuk keluar dari jeratan Bara.
“Tolong … siapapun tolong aku, apa yang harus aku lakukan sekarang? Berteriak? Ah itu tidak mungkin tidak akan ada yang mendengar” lirih Erina dalam batinnya, ia meremas kuat-kuat sofa yang terbuat dari beludru itu, menahan ketakutannya “tolooong !!!“ Erina berteriak, namun bara segera menutup mulut Erina dengan tangannya. Tak mengalah, gadis itu menggigit kuat-kuat telapak tangan Bara hingga meninggalkan bekas gigitan “siapapun diluar tolong aku !“ Teriakan Erina bergema, ia berharap ada satpam yang sedang patroli melintas depan rumahnya.
Sayangnya, waktu semakin siang, matahri sudah berdiri tepat di atas kepala, sudah bukan waktu satpam untuk berpatroli, beberapa satpam sudah beristirahat untuk beribadah dan makan siang.
Namun, keberuntungan berpihak pada Erina, dimanapun ia berada Aksa mengirimkan orang untuk memata-matai Gadis yang hendak dijadikannya sebagai istri. Teriakan Erina terdengar oleh orang suruhan Aksa, dengan sigap orang itu mendekati sumber suara, ketika ia sudah yakin bahwa Erina sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, orang suruhan Aksa yang memiliki badan tinggi besar bak seperti Hulk dalam karakter super hero fiksi segera mendobrak pintu rumah kediaman Erina.
Sontak membuat bara terperanjat, orang tak dikenal mendobrak paksa pintu rumahnya, Bara menghampiri orang tersebut, tanpa sapaan dan tanpa memberi waktu pada bara untuk bertanya, orang suruhan Aksa terlebih dahulu menghantam kepala Bara dengan tangan kosongnya, ia meninju nya sangat kuat hingga Bara tersungkur kelantai, dan meninggalkan bercak darah di pelipis kepalanya. Tak sampai disitu, bara kembali menegakan tubuhnya untuk melawan orang yang tiba-tiba masuk ke rumahnya dengan paksa, namun tenaga Bara tak sebanding dengan tenaga orang suruhan Aksa, Bara kembali mendapatkan pukulan keras yang mendarat tepat di wajahnya.
Erina terkesiap, melihat perkelahian didepan matanya, ia segera berlari menuju kamarnya, langkah kakinya terhenti, saat matanya menemukan kamarnya sudah berantakan dengan baju-baju yang sebelumnya tersusun rapi di lemari kini berhamburan dimana-mana.
Tak ambil pusing ia tahu siapa pelakunya dan apa yang dicarinya, Erina segera memasukan barang yang dia anggap berharga miliknya kedalam tas yang berukuran cukup besar. Tentu saja—sertifikat toko miliknya yang paling penting yang harua ia bawa keluar jauh dari kediamannya saat ini.
Sepertinya bara tidak menemukan sertifikat itu saat mengacak-acak kamar Erina, Erina menyimpannya ditempat yang sangat aman, ia menyimpannya di dalam senderan tempat tidurnya yang bagian depan terdapat busa lembut, namun bagian belakangnya memiliki bahan triplek yang dilapisi kain halus. Sebelumnya ia membuka senderan bagian belakangnya untuk dapat memasukan sertifikat itu, lalu menutupnya lai kembali dengan paku kecil.
Entah dari mana Erina mendapatkan ide itu, ide cukup cemerlang, tak di sangka ia menyimpan berkas di senderan ranjang. mungkin instingnya, atau memang ia sudah punya firasat akan ada yang mencari sertifikat itu tanpa sepengetahuannya.
“Nona Erina ayo ikut kami” ucap salah seorang pria suruhan Aksa, ia menarik lembut lengan Erina agar segera keluar dari rumah Tantenya.
“Siapa kalian?“ Tanya Erina heran. Ia membanting tangan yang di cengkeram Pria tadi.
“Kami orang suruhan Pak Aksa, ayo cepat ikut kami, sebelum Ommu sadar”
Tanpa pikir panjang ia terpaksa mengikuti arahan dua pria itu, ia pun tidak tahu harus kemana lagi setelah rumah yang ia jadikan tempat tinggal justru seperti sarang hewan buas yang akan menerkamnya.
Sebelum benar-benar keluar dari pintu rumah untuk meninggalkan bara seorang diri di rumahnya, Erina memutar kepalanya untuk melihat keadaan Omnya,
Bara kala itu terkapar tak berdaya di lantai dengan wajah penuh luka pukulan hasil tinju dari orang-orang suruhan Aksa. Entah bagaimana jadinya jika mereka tidak sedang berada di sekitaran rumah Erina dan mendengar teriakannya. Bisa saja niat jahat Bara pada Erina ia lancarkan.
“Silahkan masuk nona?“ Salah satu oria membukakan pintu mobil untuk Erina.
Ragu, mungkin itu yang ada dalam oikirannya, ia tak isa percaya begitu saja pada mereka yang mengaku sebagai orang suruhan Aksa. Namun salah satu dari mereka terdengar mengobrol di telpon, kemudian memberikan telpon itu pada Erina.
Erina menautkan alisnya ketika pria itu memberinya handphone dengan telpon ya g tersambung, Erina menilik layar handphonenya tertulis disitu panggilan Bos Aksa dan terdengar suara Aksa memanggil nama Erina di telpon.
“Jangan takut Nona, ikutlah bersama mereka, saya pastikan kamu aman bersama mereka, mereka anak buah saya, segeralah ke Apartemen saya nanti akan ku jelaskan” ucap Aksa di sebrang telpon sana.
“Oh, baik Mas”
Erina menarik nafasnya dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, ia pun masuk kedalam mobil.
Degup jantungnya perlahan kembali memompa dengan normal, ia memejamkan matanya dan menye derkan kepala disenderan kursi mobil, kejadian ini sangat menguras mental, menyisakan trauma untuk Erina. Bagaimana tidak, selama ia ikut tinggal bersama keluarga Tantenya, Bara tidak pernah menu jukan sisi gelaonya seperti tadi, bahkan Bara lebih menu jukan sikap manis oada Erina, namun ternyata di balik sikap manisnya terselubung oikiran kotor dan niat jahat.
Erina kembali terpikirkan Tante dan sepupunya, kemana mereka sebenarnya? Apa mereka benar-benar meninggalkan Erina sendirian?
...***...