Semua orang melihat Kenji Kazuma sebagai anak lemah dan penakut, tapi apa jadinya jika anak yang selalu dibully itu ternyata pewaris keluarga mafia paling berbahaya di Jepang.
Ketika masa lalu ayahnya muncul kembali lewat seorang siswa bernama Ren Hirano, Kenji terjebak di antara rahasia berdarah, dendam lama, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh.
Bisakah seseorang yang hidup dalam bayangan, benar-benar memilih menjadi manusia biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hime_Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 – Mata yang Mengintai
Suara ombak memecah kesunyian malam. Kenji membuka matanya perlahan, pandangannya buram, kepalanya terasa berat seperti dihantam batu. Cahaya redup dari lampu neon menyoroti dinding baja berkarat. Ia berusaha bangun, tapi pergelangan tangannya terasa berat diborgol ke kursi.
“Dimana aku?” tanya Kenji dengan suaranya serak.
Ruang itu tampak seperti ruang kontrol tua. Deretan monitor hitam-putih menampilkan berbagai sudut sekolah Emerald koridor, taman, bahkan ruang guru. Ada juga satu layar besar di tengah yang menampilkan wajah seseorang, tapi terlalu gelap untuk dikenali.
“Jadi … ini bukan mimpi,” gumamnya.
Suara langkah terdengar dari balik bayangan. Sosok bertopeng muncul tinggi, berjas hitam, dan mengenakan masker logam berwarna perak.
“Sudah bangun rupanya, Tuan muda Kazuma,” katanya dengan suara dalam dan terdistorsi.
Kenji menatapnya tajam. “Siapa kau? Apa yang kau inginkan?”
Sosok itu tidak menjawab. Ia berjalan pelan mengelilingi ruangan, jemarinya menyusuri layar monitor seolah sedang menilai. Lalu ia berjalan mendekat ke arah Kenji, dia menyeret kursi dan duduk di hadapan Kenji.
“Kau tahu … aku sudah memperhatikanmu sejak lama. Bahkan sebelum kau sadar siapa dirimu sebenarnya,” kata orang tersebut.
“Apa maksudmu? Dan siapa kamu sebenarnya” Kenji mencoba menahan rasa pusing. Borgol di tangannya bergemerincing pelan.
Sosok itu berhenti tepat di depannya. “Namaku tidak penting, tapi … mereka biasa memanggilku Orion.” Nama itu bergema di kepala Kenji, Orion adalah sebuah nama yang beberapa kali disebut dalam catatan lama papanya.
“Orion?” Kenji menatapnya dengan bingung.
“Kau bawahan Ayahku?” tanya Kenji bingung.
Orion tertawa kecil. “Dulu, tapi sekarang aku hanya bayangan. Dan aku datang bukan untuk melayaninya, melainkan untuk menunjukkan padamu kebenaran yang bahkan dia sembunyikan.”
Kenji mengerutkan kening. “Kebenaran apa?”
Orion menatap salah satu layar besar. “Tentang malam itu. Malam dimana Mamamu meninggal.”
Kenji menegang, tubuhnya langsung kaku.“Jangan pernah bawa-bawa Mamaku.”
“Diam dan lihatlah.” Orion menekan sebuah tombol di konsol.
Monitor utama menyala, menampilkan rekaman dengan tanggal 13 tahun lalu. Gambar kabur, tapi perlahan menjadi jelas rumah lama keluarga Kazuma. Api menyala di jendela, dan seseorang berlari di koridor. Seorang wanita Misaki, dimana mamanya berusaha melindungi bayi kecil dalam gendongannya.
Kenji membeku. Napasnya memburu. “Apakah itu aku?”
Orion menatapnya. “Perhatikan baik-baik. Siapa yang menyalakan api itu?”
Kenji memperhatikan layar. Kamera bergoyang, tapi tampak jelas sosok pria berpakaian hitam menyalakan korek di ruang tamu. Bukan pakaian khas keluarga Hirano. Bukan juga simbol naga merah di lengannya. Yang terlihat justru lambang naga emas lambang keluarga Kazuma sendiri.
Kenji terlihat kaget melihat rekaman. “Tidak itu tidak mungkin—”
Orion mendekat, suaranya tajam dan dingin. “Kau pikir keluarga Hirano yang membunuh Mamamu? Tidak, Kenji. Pengkhianat itu berasal dari rumahmu sendiri.”
Kenji menggeleng keras. “Kau bohong! Papaku tak mungkin melakukan itu”
“Benar,” potong Orion cepat. “Bukan Papamu … tapi seseorang yang sangat dekat dengannya.”
Ia menekan tombol lain, memperlihatkan rekaman baru.Kali ini, sosok itu lebih jelas pria bertubuh tegap, membawa radio komunikasi, berbicara dengan seseorang sebelum menyalakan api. Wajahnya tertutup bayangan, tapi ketika ia menoleh sedikit ke arah kamera, Kenji bisa melihat bekas luka di pipinya. Kenji terdiam membeku,ia mengenali luka di wajah itu, dan itu luka yang sama dengan dipunyai Ryo. Tidak ada suara keluar dari bibir Kenji. Ia hanya menatap monitor dengan mata membesar, napas tersengal.
Orion menatapnya tanpa ekspresi. “Aku tidak butuh kau percaya. Tapi aku ingin kau tahu kebenaran itu jarang datang tanpa darah.”
Kenji menunduk, menatap tangannya yang gemetar. “Ryo, jadi selama ini dia yang—”
Ia berhenti bicara, mencoba menelan kenyataan yang tak bisa diterima. Ia sama sekali tidak percaya orang yang selama ini ia percaya adalah pelaku yang membuat mamanya pergi meninggalkannya selamanya.
“Kenji Kazuma,” kata Orion dengan suara bergetar rendah, “Dunia ini penuh kebohongan yang diwariskan turun-temurun. Kau punya dua pilihan, yaitu untuk terus hidup dalam bayangan Papamu, atau mulai mencari cahaya sendiri meski harus terbakar.”
Ia berjalan mendekat, membuka borgol di tangan Kenji, setelah membuka borgol ia mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna perak dari sakunya. Kenji bingung kenapa Orion memberikan flashdisk itu kepadanya.
“Di dalamnya, semua data, semua bukti, semua nama yang terlibat. Termasuk orang yang memerintahkan Ryo malam itu,” kata Orion.
Kenji menatap benda kecil tersebut , lalu menatap Orion. “Lalu kenapa kau menunjukkan ini padaku?”
“Karena aku butuh seseorang yang bisa menyelesaikan apa yang tidak sempat kulakukan,” jawab Orion datar.
Ia berbalik, melangkah ke bayangan. “Tapi ingat, Kenji. Setelah kau membuka itu di depan Papamu, kau tidak akan pernah bisa kembali jadi anaknya.”
Kenji memegang flashdisk itu erat, seolah benda itu adalah kunci hidupnya. Lalu Orion pergi setelah membebas Kenji, ia mencoba untuk menahan Orion untuk sebentar saja.
“Siapa kau sebenarnya, Orion?” tanyanya pelan.
Sosok bertopeng itu berhenti di ambang pintu. Lalu dia membalikkan badannya dan menatap ke arah Kenji dengan tatapan seduh.
“Orang yang dulu gagal menyelamatkan Mamamu,” katanya lirih.
Sebelum Kenji sempat bicara lagi, ruangan itu mendadak gelap semua monitor padam, dan menyisakan hanya satu layar kecil yang masih menyala. Di layar itu, muncul tulisan besar. “KEBENARAN MENATAP BALIK”.
Keesokan paginya, Kenji kembali ke rumah. Wajahnya pucat, tapi ekspresinya tenang. Ia masuk ke ruang makan, di mana Kazuma sudah duduk membaca koran.
“Papa,” katanya datar, “Boleh aku bicara nanti malam?”
Kazuma menatapnya sekilas, lalu mengangguk tanpa banyak bicara, namun di dalam hati pria itu tahu ada sesuatu yang berbeda pada anaknya. Malam tiba. Kenji masuk ke kamar, menatap flashdisk itu di tangannya. Jemarinya gemetar. Suara mamanya tiba-tiba terngiang di benaknya lembut dan jauh.
“Kalau kau takut pada kegelapan, nyalakan cahaya, Kenji—” Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menancapkan flashdisk itu ke laptopnya.
Layar menyala, menampilkan folder dengan nama, “Project Sakura.” Kenji membuka file pertama rekaman suara, dan terdengar suara yang ia kenal. Sudah jelas suara itu jelas milik Ryo.
“Boss, aku sudah di lokasi. Sayaka ada di dalam rumah. Aku akan pastikan api ini terlihat seperti kecelakaan …” Kenji langsung menutup laptop itu. Tangannya mengepal, tubuhnya bergetar antara amarah dan rasa sakit.
“Ryo … kenapa?” tanyanya pada diri sendiri
Ia berdiri, menatap jendela kamar. Dari luar, hujan turun deras. Petir menyambar, menerangi wajahnya yang kini benar-benar berubah bukan lagi bocah ragu, tapi pewaris keluarga Kazuma yang diselimuti amarah.
Ryo duduk di mobilnya sendirian malam itu, menatap kaca hujan. Tiba-tiba ponselnya bergetar dan muncul sebuah pesan tanpa nama muncul di layar “Dia sudah tahu.”
Ryo menatap pesan itu lama. Matanya gelap, rahangnya mengeras. Tapi sebelum sempat ia bereaksi, suara peluru memecah malam. Kaca mobil pecah. Darah mengalir di kursinya. Di kejauhan, seseorang berdiri di bawah payung hitam, menatap mobil itu tanpa emosi.
Dan di bibirnya, terucap satu kalimat pelan.
“Untuk Mama— ”