Naila tak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam sekejap. Dihujani fitnah dan kebencian dari keluarga mantan suaminya, ia menjadi orang asing di rumah yang dulu dianggap tempat pulang. Difitnah suami dan dikhianati adik sendiri. Luka batin bertubi-tubi dan pengkhianatan yang mendalam memaksanya bangkit menjadi sosok baru yang tegas, penuh perhitungan, dan siap membalas setiap luka yang pernah diterimanya.
Lima tahun berlalu, Naila kembali dengan wajah dan tekad yang berubah. Bukan lagi wanita lemah, ia kini hadir sebagai ancaman nyata yang mengguncang rumah tangga mantan suaminya. Dalam perjalanan membalas dendamnya, ia akan menguak rahasia-rahasia kelam dan menetapkan aturan baru, tidak ada yang boleh melecehkannya lagi.
Siapakah yang akan bertahan saat permainan balas dendam dimulai?
Bersiaplah menyelami kisah penuh emosi, intrik, dan kekuatan wanita yang tak tergoyahkan dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wida_Ast Jcy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 PARANOID
Aku bangkit dari tempat tidur kemudian merapikan kasur. Mas Naufal paling tidak suka rumah yang berantakan. Aku menggeleng-geleng kepala saat melihat ponsel Mas Naufal yang tergeletak di bawah bantal.
"Ya ampun, Mas... Kebiasaan, dech. Ponsel itu jangan disimpan di bawah bantal. Bahaya tahu!" ucapku kemudian meraih ponsel suamiku dan hendak menyimpannya di atas nakas.
Namun, sesuatu menarik perhatian, saat aku menyadari jika ponsel Mas Naufal dikunci.
"Eh, aneh sekali, Mas Naufal pakai password? Ehhmm... Biasanya tidak pernah."
TING.
Satu pesan masuk. Dari layar depan, kulihat nama Pak Budi yang mengirim pesan pada suamiku.
"Maaf baru sempat aku balas. Boleh saja". tulisnya.
Hanya itu yang bisa aku baca. Ke bawahnya tidak bisa aku tekan lagi karena terhalang ponsel yang dikunci itu.
"Astaghfirullah, Nadia. Itu kan pesan biasa. Pak Budi itu mungkin rekan bisnis baru Mas Naufal. Kenapa aku jadi parnoan begini sich?"
Aku menggelengkan kepala sambil terkekeh dengan kekonyolanku yang begitu penasaran dengan pesan yang masuk tersebut. Jelas namanya saja Pak Budi. Mengapa juga aku harus curiga atau cemburu? Lagipula tidak ada yang perlu dikhawatirkan, saingan terbesarku sudah mati.
Mas Naufal tidak mungkin terpikat wanita lain karena keluarganya begitu menjunjung tinggi wasiat dari Tuan Wijaya, kakek Naufal.
Aku pun melanjutkan aktivitasku. Setelah merapikan kasur dan menyiapkan pakaian kerja untuk suamiku, aku bergegas ke dapur untuk membuat sarapan.
"Bi, tolong bangunkan Niko ya! Saya buat sarapan sama bekal dulu. Hari ini Niko pakai baju olahraga ya, Bi!" Titahku pada Bi Siti, pelayan yang dulu begitu setia pada Naila.
Namun kali ini, Bi Siti adalah asisten rumah tangga yang patuh kepadaku. Hanya dia pelayan lama yang masih setia bekerja di sini. Yang lama kebanyakan mengundurkan diri setelah Naila diusir dari rumah ini. Beberapa pelayan baru yang direkomendasikan Julian membuatku lebih leluasa jika ada Mas Naufal di rumah. Tentu saja aku tidak harus bersandiwara lagi, aku bisa menjadi diriku sendiri ketika Mas Naufal tidak sedang di rumah.
"Baik, Nyonya," ucap Bi Siti dengan patuh.
Aku bergegas meraih apron kemudian mulai memasak. Lima tahun, cukup bagiku untuk banyak belajar menjadi istri yang baik. Bahkan dalam hal memasak yang dulu tidak terlalu aku kuasai. Sekarang hampir tiap hari aku membuat sarapan sendiri dan bekal untuk suami dan anakku.
Nasi goreng spesial tertata di meja makan. Aku juga sudah selesai membuat bento dengan lauk chicken katsu dan salad serta buah-buahan untuk bekal sekolah Niko yang saat ini sudah masuk playgroup.
Sementara untuk Mas Naufal, aku buatkan chicken teriyaki, capcai, perkedel kentang serta sosis goreng dan salad wortel untuk pelengkap makan siangnya. Aku memang sudah biasa membuatkan mereka bekal agar mereka tidak jajan sembarangan di luar. Kesehatan dan gizi suami serta anakku harus terjaga.
Bagaimana, aku istri dan ibu yang baik bukan?
Aku bahkan sudah terbiasa memakai hijab baik di dalam maupun di luar rumah. Sudah tak lagi kurasakan hawa panas itu. Semuanya sudah terbiasa. Aku juga melakukan shalat lima waktu dan puasa, sama seperti yang Naila lakukan dulu. Mudah bagiku untuk meniru kehidupannya. Karena dengan begitu, Mas Naufal bisa memandangku sebagai istri yang baik.
"Halo, tampan-tampannya Mama. Sini, sarapan dulu!" ucapku berseru menyambut Mas Naufal dan Niko yang berjalan bersamaan menuruni tangga.
Mas Naufal menuntun tangan mungil putra kesayangannya itu. Niko begitu tampan dan menggemaskan, bahkan kata Ibu mertuaku wajah Niko seperti copy wajah Mas Naufal waktu kecil. Mereka memiliki kemiripan yang dominan. Itu membuatku merasa lega. Setidaknya aku tahu jika Niko memang anaknya Mas Naufal, bukan anakku bersama Julian.
"Euhm, halum sekali. Mama masak apa?" tanya anakku dengan cara bicaranya yang masih cadel itu. Niko memang sangat menggemaskan.
Kehadirannya membawa warna untuk kehidupan kami. Aku juga semakin disayang oleh kedua mertuaku.
"Masak nasi goreng spesial untuk Niko dan Papa, donk!" ucapku seraya membuka celemek kemudian menggantungnya kembali.
Kuhampiri Niko yang sudah duduk di samping Mas Naufal. Ku kecup pipi chubby nya yang menggemaskan itu.
"Hanya Niko saja nih yang dicium? Papa tidak?" ledek Mas Naufal.
Aku tersenyum lebar, hal sepele seperti ini saja membuat hatiku berbunga-bunga.
"Ih, si Papa... sama anak sendiri iri. Sini Mama sun juga!"
Mas Naufal terkekeh saat kucium pipinya. Suasana romantis ini menjadikan kami keluarga yang harmonis. Sudah aku bilang, suatu saat Mas Naufal akan luluh padaku.
Kuambilkan Mas Naufal dan Niko nasi goreng beserta lauk-pauknya. Aku menuangkan susu murni untuk Niko, sementara untuk Mas Naufal, air putih hangat. Mas Naufal tidak terbiasa minum kopi. Dia begitu menjaga pola makan dan hidupnya.
"Mas, tadi waktu beresin kasur, aku tidak sengaja nemuin ponsel kamu di bawah bantal. Oh iya, kenapa ponsel kamu dikunci sich, Mas? Biasanya tidak. Aku juga tadi lihat ada pesan masuk dari Pak Budi."
Uuhhuuuuukk!
Mas Naufal tersedak, aku langsung berdiri dan mengulurkannya segelas air. Aneh sekali, aku hanya bertanya tapi Mas Naufal sampai tersedak.
"Duh, pelan-pelan donk, Mas. Kamu tidak apa apa kan?" tanyaku cemas.
"Tidak-tidak apa-apa sayang. Ini tadi gatal tenggorokan ku," ucapnya.
"Oh, aku kira kenapa. Tadi kamu belum jawab pertanyaanku, Mas. Itu kenapa ponselnya dikunci? Biasanya juga tidak."
Mas Naufal terdiam sejenak. Aneh sekali, ekspresinya langsung berubah. Seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
"Ehm, tidak apa-apa. Itu kemarin ponselku dimainin Niko. Tahu sendiri kan sekarang lagi sibuk mengurusin proyek baru. Jadi aku kunci saja, khawatir nanti diotak-atik lagi sama Niko," ucap Mas Naufal seraya mengusap rambut Niko dengan gemas.
Aku membulatkan bibir membentuk huruf o.
"Ohh, iya iya. Terus Pak Budi siapa, Mas? Namanya seperti asing dan aku baru tahu saja?" tanyaku lagi penasaran.
"Oh, Pak Budi itu klien yang akan melihat perkembangan proyek. Katanya kalau bagus, nanti dia akan menanamkan sahamnya. Jadi, mungkin malam ini aku agak pulang telat ya. Ya, lumayanlah bisnis. Kalau nanti berhasil, keuntungannya kan juga buat kamu, Sayang."
Aku langsung tersenyum lebar mendengarnya. Lagi dan lagi, Mas Naufal membuat hatiku senang. Aku selalu diratakan olehnya. Aku jadi merasa bersalah kalau sampai mencurigainya.
"Ah, so sweet, makasih, Mas. I love you so much!" Ucapku seraya memeluk suamiku dari samping dan kembali mendaratkan kecupan di pipinya.
Pemandangan itu membuat Niko yang sudah pintar makan sendiri tanpa disuapi langsung meledek kedua kami berdua.
"Mama sama Papa pacaran terus," ucap anak balita polos itu.
Masih dalam posisi memeluk dari samping, aku dan Mas Naufal saling melirik satu sama lain kemudian terkekeh geli. Niko adalah permata untuk kehidupanku. Dia membawa berkah, membawa keajaiban hingga aku kini disayang oleh suami dan mertuaku.
Tak ada yang bisa merusak kebahagiaan ini. Aku adalah seorang pemenang. Hidupku sempurna dan tak ada yang bisa merebut Mas Naufal dariku.
BERSAMBUNG...
baguslah Najla ga benar benar sendiri karena ada Olivia sebagai moral sistem
semoga dikasih jodoh yg lebih baik sama author, aamiin.