Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Shela kembali ke kelasnya bersama Alvian, seperti ketika di kantin, di sepanjang lorong juga ia menjadi pusat perhatian. Shela yang kesal menatap tajam mereka semua dan yang dilakukannya itu berhasil membuat mereka memalingkan wajah dan tidak berani melihat ke arahnya lagi.
Tak jauh berbeda dengan Shela, Alvian juga paling benci menjadi pusat perhatian. Dia risih, apalagi dengan sifatnya yang memang pendiam dan pemalu, menjadi pusat perhatian sangatlah mengganggu baginya. Mereka memiliki sifat yang hampir sama itulah kenapa mereka sekarang berteman.
Shela menahan perutnya yang kembali terasa perih, ia bingung padahal ia sudah makan di kantin beberapa menit yang lalu, kenapa perutnya masih terasa perih? Apakah mungkin ini adalah efek samping dirinya yang selalu membiarkan perutnya kosong.
"Kenapa Shela?" tanya Alvian begitu melihat Shela memegang perutnya, wajahnya masih terlihat pucat. Dia memandang Shela dengan tatapan khawatir.
Shela menggeleng." Gak tau, dari pagi perut gue perih. Mungkin asam lambung gue naik,"ujarnya.
"Ya ampun, Lo mau ke UKS aja atau gimana?"
Shela menggeleng pelan." Gak usah, gue masih kuat."
Alvin mengangguk, mereka melanjutkan langkahnya menuju kelas. Beberapa kali laki-laki itu menatap khawatir ke arah Shela. Meski sudah tidak memegangi perutnya lagi, tapi tetap saja dia khawatir dengan kondisi gadis itu.
"Masih sakit?" tanya Alvian.
Shela menggeleng." Udah gak terlalu, tenang aja gue gak gampang sakit kok," ujarnya menenangkan.
Tak lama bel masuk berbunyi dan guru mulai menjelaskan materi di depan. Shela fokus mendengarkan guru di depan begitu juga dengan Alvian, namun satu jam kemudian perutnya kembali terasa perih. Shela tak mengerti kenapa kondisinya bisa seperti ini, padahal sebelumnya perutnya sudah baik-baik saja.
Shela meringis begitu merasakan perutnya perih, lebih perih dari tadi. Alvian yang mendengar ringisan dari Shela pun menoleh, wajahnya mendadak panik begitu Shela memegangi perutnya, wajahnya pucat dan mengeluarkan keringat.
"Shela, lo baik-baik aja? Mau ke UKS?" tanya Alvian.
Shela tak menjawab, rasa perih di perutnya menghilangkan fokusnya. Karena khawatir, Alvian beranjak dan meminta izin pada guru yang mengajar untuk membawa Shela ke UKS.
Setelah guru yang mengajar mengizinkan, Alvian membopong Shela menuju ke ruang UKS. Shela hanya pasrah karena tubuhnya tiba-tiba merasa lemas.
Saat dalam perjalanan, mereka berpapasan dengan Dion yang baru saja keluar dari ruang OSIS. Laki-laki itu menghentikan langkahnya begitu melihat Shela yang dibopong oleh Alvian.
"Maaf, itu Shela kan?" Dion memotong keheningan, suaranya mencerminkan kerisauan mendalam. Alvian, yang baru saja hendak melangkah jauh, menoleh ke belakang, menghela napas panjang sebelum mengangguk perlahan. "Iya."
Dion segera mendekati Shela. Tangan Dion perlahan mendarat di bahu gadis tersebut. "Shela, lo kenapa?" Dia bertanya, suaranya penuh kegentingan. Shela mendongak, mata sayu dan wajahnya yang pucat serupa lukisan kesedihan. Dion tersentak mundur, terkejut sekaligus cemas. "Ya ampun, lo sakit?"
Dengan gerak cepat dan hati-hati, Dion dan Alvian bahu-membahu menggotong Shela menuju ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Mereka meletakkan Shela dengan lembut di atas brankar. Dion menengok sekeliling—hening, sepi tanpa satupun jiwa.
Memerhatikan keadaan yang mendesak, Dion berkata tegas, "Lo jagain Shela, gue mau cari dokter Ani dulu," kata-kata itu dipenuhi urgensi. Alvian mengangguk, rasa tanggung jawab menggema di antara mereka. Dion berlari keluar, setiap detak jantungnya seakan menggema keseriusan situasi yang mereka hadapi. Sementara itu, ketakutan dan kekhawatiran terus merajai suasana hening di ruangan UKS tersebut.
Dion berlari keluar dari ruang UKS, napasnya tersengal-sengal saat mencari dokter Ani. Kekhawatiran memancar dari matanya saat ia menemukan wanita itu di kantin, yang baru saja menyelesaikan makan siangnya. "Dokter Ani, tolong, Anda dibutuhkan di UKS sekarang!" ujar Dion dengan suara mendesak.
Dokter Ani, yang terkejut melihat raut wajah Dion yang cemas, buru-buru menanyakan, "Ada apa, Dion? Ada temanmu yang sakit?"
Dion hanya mengangguk, rasa panik nyata di wajahnya, mendorong dokter Ani untuk segera bergerak. "Mari kita cepat ke sana," katanya, seraya meninggalkan piring bekas makan siangnya dan bergegas mengikuti Dion menuju UKS.
Tiba di sana, suasana tegang menyambut mereka. Seorang gadis terbaring lemah, sementara seorang pemuda duduk di sampingnya, wajahnya pucat pasi karena kekhawatiran. Tanpa membuang waktu, Dokter Ani segera mengeluarkan peralatannya dan mulai memeriksa gadis tersebut dengan cermat.
Shela, gadis yang terbaring, memandang lemah kepada tiga orang di hadapannya. Ada kilasan penyerahan diri dalam tatapannya saat dokter mulai memeriksanya, menambah nuansa haru dalam ruangan itu. Setiap sentuhan dokter Ani bukan hanya menguji fisik tetapi juga menenangkan hati yang cemas.
"Gimana kondisi Shela, Dok?" tanya Dion, suaranya bergetar karena kekhawatiran.
Dokter memandang Shela, yang tampak lemah, sebelum menanyakan, "Shela, kamu memiliki masalah dengan maag, benar?"
"Iya, Dok," Shela menjawab dengan suara serak, kepalanya menunduk lesu.
Dokter itu menghela napas panjang, penuh empati. "Shela, penting untuk menjaga pola makanmu. Jangan biarkan perutmu kosong terlalu lama. Perbanyak istirahat dan usahakan untuk mengurangi pikiran negatif yang berlebih. Ingat, stres juga berperan dalam masalah lambungmu."
Sesaat dokter tersebut berhenti, memeriksa ekspresi Shela yang tampak tertekan dan kelelahan. "Kamu ingin istirahat di sini, atau kamu lebih memilih untuk pulang dan beristirahat di rumahmu?"
"Bolehkah saya pulang, Bu?" Shela bertanya, suaranya nyaris tidak terdengar.
"Tentu, Shela. Kamu lebih baik pulang dan beristirahat di rumah," ujar dokter itu lembut, matanya penuh kelembutan. "Akan saya buatkan surat izinmu segera."
Sambil berbicara, wanita itu beranjak menuju meja kerjanya dan mulai menulis dengan teliti. Kemudian, ia bergerak menuju lemari obat, mengambil beberapa botol dan strip obat yang akan dibutuhkan Shela.
"Ini surat izinnya sudah ibu buat, ini obat pereda maag dan pusingnya," ujar wanita itu sambil memberikan secarik kertas dan dua obat padanya.
"Baik Bu, terima kasih," ujar Shela.
"Ee,Shela Lo pulang gimana? Di jemput atau.."
"Gue naik taksi aja," ujar Shela memotong ucapan Alvian.
"Gue anter aja, Lo lagi sakit Shela." Ujar Dion lalu menatap dokter itu." Dok, saya minta izin buat anter Shela,ya?"
" Kalau itu jangan izin sama saya, izin sama guru kamu."
"Tapi gue yang ngajar di kelas saya sedang berhalangan hadir Bu," ujar Dion.
" Kalau begitu, izin sama guru piket."
Dion mengangguk." Tunggu ya gue minta izin dulu," ujar Dion, tanpa menunggu jawaban Shela laki-laki itu langsung pergi keluar uks untuk meminta izin.
"Eum,, gue langsung balik ke kelas aja ya, gak apa-apa kan?"
Shela mengangguk." Gak apa-apa, makasih udah anter gue ke sini."
Alvian mengangguk." Kalau gue gue ke kelas ya, semoga cepat sembuh."
Tak lama setelah Alvian keluar Dion kembali sambil membawa tas-nya, ia tak menyangka laki-laki itu sampai membawakan tasnya.
"Yuk, gue udah dapet izin. Makasih banyak ya Bu dokter, kami permisi dulu."
Kemudian Dion membantu Shela untuk berjalan menuju ke parkiran, hingga Shela menyadari sesuatu.
"Lo mau anterin gue pake sepeda? Terus motor gue gimana?"
Dion menggeleng." Hari ini gue bawa motor, sepeda gue dipake sama kakak gue. Motor lo simpen aja dulu di sekolah, nanti gue minta orang buat anter ke rumah lo. Kira-kira lo kuat gak kalau gue anter pake motor? Kalau engga gue bisa pinjem mobil dinas sekolah."
Shela menatap takjub Dion, dia sepertinya sudah jadi murid kesayangan para guru,bahkan dengan mudahnya dia bisa meminjam mobil dinas sekolah.
"Gak usah, gue masih kuat kok," ujar Shela.
Dion mengangguk lalu kembali memapah Shela.
...
Kedatangan mereka di rumah Shela yang tampak lenggang hanyalah kebetulan—Dika masih terjebak di sekolah, sementara saudara-saudaranya tenggelam dalam kesibukan kampus dan ayahnya tengah mengejar deadline di kantor.
"Makasih banyak ya udah mau antar gue, maaf kalau gue ngerepotin lo," ucap Shela dengan rasa tidak enak yang menggantung di udaranya, suaranya bergetar sedikit. Tanpa disadari, hubungan mereka yang semula tidak baik mulai terjalin —kini mereka lebih sekedar kenalan.
"Sama-sama, santai aja. Gue sama sekali gak ngerasa di repotin, kok," sahut Dion dengan senyuman yang menenangkan.
"Mau mampir dulu?" tanya Shela.
Dion menggeleng lembut. "Lain kali aja, gue musti balik lagi ke sekolah. Ada rapat soalnya nanti, yaudah gue balik ya. Istirahat dan semoga cepet sembuh ya," ucapnya dengan nada yang hangat namun penuh penyesalan.
Shela hanya bisa mengangguk, dada seolah ditekan oleh rasa yang muncul tiba-tiba. Dia menyaksikan Dion memacu motornya kembali ke sekolah, meninggalkan dia dalam kesendirian yang kini terasa lebih pekat.
Sambil tersenyum tipis, Shela berbisik pada angin, "Jadi seperti ini rasanya punya teman, jadi seperti ini rasanya diperhatikan oleh seseorang." Jantungnya seakan berdetak lebih cepat, mencerminkan gema kehangatan yang masih terasa.