NovelToon NovelToon
Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MishiSukki

Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Revolusi di Kuil Mukui dan Fitnah Keji

Keesokan harinya, begitu matahari naik dan Lin Cheng sudah merasa pulih sepenuhnya, ia tak sabar untuk menemui kakeknya di Kuil Mukui. Hatinya dipenuhi kegembiraan atas penemuan luar biasa yang ia alami semalam.

Ia menemukan kakeknya sedang duduk di beranda, menikmati teh herbal pagi. Dengan semangat yang membara, Lin Cheng segera menghampiri dan mulai menceritakan semua yang terjadi: bagaimana ia pingsan setelah mendengar puisi itu, sensasi pencerahan yang ia alami, hingga eksperimennya di tepi telaga semalam.

"Kakek," ujarnya penuh antusias,

"Aku menemukan sesuatu yang luar biasa! Mantra 'Mens sana in corpore sano' yang Xiao An ajarkan itu... itu bukan sekadar pepatah biasa! Itu adalah mantra dewa surgawi!"

Lin Cheng kemudian menjelaskan bagaimana setiap kata yang diucapkan Xiao An melekat dalam ingatannya, bagaimana ia merasakan langit berbicara di kepalanya, dan bagaimana ketika ia melafalkan mantra itu sambil berlatih Body Tempering, efeknya meningkat hingga sepuluh kali lipat.

INI

Mendengar penuturan cucunya, kakeknya terkejut dan terperangah. Cangkir teh di tangannya sedikit bergetar. Wajahnya yang tua dan penuh kerutan kini menunjukkan ekspresi yang tak bisa disembunyikan: campuran takjub, rasa tidak percaya, dan sebuah pemahaman baru yang mendalam.

Ia tahu, cucunya baru saja menyentuh rahasia kultivasi yang melampaui pemahaman mereka selama ini.

Kakek Lin Cheng, dengan rasa penasaran dan sedikit keraguan, segera pergi ke kuil. Di sana, di tengah keheningan, ia mencoba merapalkan mantra "Mens sana in corpore sano" yang dia hafalkan dari penuturan cucunya. Ia mengucapkannya perlahan, mencoba merasakan setiap suku kata.

Begitu mantra itu keluar dari bibirnya, sebuah gelombang energi tak terlihat menghantamnya. Kakek Lin Cheng merasakan Qi di tubuhnya bergejolak, jauh lebih cepat dan lebih kuat dari biasanya. Sensasi pencerahan yang sama seperti yang dialami Lin Cheng juga menjalarinya.

Ia melihat dengan jelas, memahami dengan seketika, bahwa mantra sederhana itu bukan sekadar kata-kata, melainkan kunci untuk membuka potensi sejati dari metode kultivasi mereka.

INI

Dia terkejut bukan main. Mata tuanya melebar, dan ia terperangah.

Batin Kakek menjerit, "Astaga! Ini bukan cuma pepatah bijak biasa dari kitab kuno, ini... ini adalah cheat code! Aku ini sudah berkultivasi puluhan tahun, menganggap metode kami sudah sempurna walau compang-camping, ternyata cuma level mainan anak-anak dibanding 'mantra' anak ini! Xiao An itu, sebenarnya Dewa apa yang menyamar jadi penggembala domba?"

Setelah puluhan tahun berkultivasi, dan menganggap metode mereka sudah sempurna, walau cacat banyak halaman yang hilang, kini sebuah pepatah asing dari dunia lain yang diucapkan oleh seorang anak muda telah menunjukkan kepadanya sebuah dimensi baru dalam kultivasi. Ini adalah sebuah revolusi, sebuah penemuan yang akan mengubah segalanya bagi Kuil Mukui.

Dalam perenungan panjang yang berlangsung hingga dini hari, Kakek Lin Cheng akhirnya mengambil keputusan yang berani, sebuah langkah yang nyaris tak terbayangkan bagi kultivator seusianya.

Setelah merasakan langsung keajaiban mantra "Mens sana in corpore sano" dan menyadari potensi luar biasa dari Metode Kultivasi Surgawi Body Tempering Xiao An, ia bertekad untuk sepenuhnya merombak fondasi kultivasinya.

"Jika ini adalah jalan para dewa," gumamnya, matanya memancarkan tekad membara,

"Maka aku harus membersihkan wadahku."

Kakek duduk bersila di tengah kuil yang sunyi, di bawah patung leluhur mereka. Ia menarik napas dalam, menenangkan pikirannya, lalu perlahan mengedarkan Qi dalam tubuhnya. Ini bukan proses yang mudah.

Membubarkan kultivasi yang telah dibangun selama puluhan tahun adalah tindakan yang menyakitkan dan berisiko, seperti menghancurkan bendungan yang kokoh untuk membangun yang baru dari awal.

Pertama, ia fokus pada meridian dan Dantiannya, tempat Qi berkumpul dan beredar. Dengan hati-hati, ia mulai melonggarkan simpul-simpul Qi yang telah terbentuk, satu per satu. Rasa sakit menusuk, seolah ada jarum tak terlihat yang mencabuti benang-benang vital dari dalam dirinya.

Qi yang tadinya mengalir kuat kini terasa mengendur, melemah, dan bahkan sedikit berbalik arah. Keringat dingin membanjiri tubuhnya, dan wajahnya memucat, namun ia tetap teguh.

Kemudian, ia mencapai tahap Qi Gathering, fondasi kultivasi lamanya. Di sinilah tantangan terberat. Dengan tekad baja, ia melepaskan kontrolnya atas Qi yang terkumpul, membiarkannya menyebar, kembali ke alam. Ini adalah tindakan melepaskan kekuatan, seperti air yang dibiarkan tumpah dari bejana.

Kekuatan yang telah ia kumpulkan dengan susah payah selama hidupnya kini perlahan-lahan menghilang, meninggalkan rasa hampa yang aneh. Otot-ototnya terasa lemas, dan energi spiritual dalam dirinya menipis hingga nyaris tak terasa.

Proses itu memakan waktu berjam-jam, setiap detiknya adalah pergulatan batin dan fisik. Ketika akhirnya selesai, Kakek terengah-engah, tubuhnya lemas tak bertenaga. Ia kini tidak lebih dari manusia biasa, tanpa Qi, tanpa fondasi kultivasi yang telah menjadi bagian dari dirinya. Namun, di matanya ada kilatan kepuasan dan harapan baru. Ia telah membersihkan piringnya, siap untuk mengisi kembali dengan hidangan yang lebih agung.

Jauh di selatan kekaisaran, di Prefektur Selatan yang damai, Hakim Shentu duduk tenang di tengah taman pribadinya. Aroma teh melati yang lembut menyeruak dari cangkir porselen di tangannya.

Taman itu sendiri adalah sebuah karya seni: kolam ikan koi beriak tenang, jembatan kayu melengkung anggun di atasnya, dan pepohonan bonsai yang dipangkas sempurna.

Hakim Shentu, seorang pria paruh baya dengan janggut rapi dan ekspresi bijaksana, sesekali menyeruput tehnya, menikmati ketenangan sore itu. Tidak ada kerutan di dahinya, tidak ada tanda-tanda kekhawatiran yang membebani pikiran.

Dunia seolah damai di sekelilingnya, jauh dari gejolak dan intrik ibu kota yang gempar. Dia duduk manis, menikmati setiap detik ketenangan yang langka ini.

Ketenangan sore itu, aroma teh melati yang lembut, dan kicauan burung di taman Hakim Shentu lenyap dalam sekejap mata, digantikan oleh keriuhan yang memekakkan telinga. Sembilan

BOMMM…

BOMMM…

BOMMM…

Jenderal Utama kekaisaran, yang terkenal kejam dan perkasa, tiba-tiba turun dari langit seperti meteor, menghantam tanah di sekeliling Hakim Shentu dengan dentuman keras. Debu mengepul, dan hembusan angin dari kedatangan mereka nyaris menerbangkan cangkir teh di tangan Hakim.

Bahkan sebelum debu mengendap sempurna, sembilan pedang tajam sudah menghunus ke lehernya. Ujung-ujung bilah pedang berkilauan di bawah sinar matahari, memancarkan niat membunuh yang dingin, hanya berjarak satu inci dari kulitnya.

INI

Belum sempat Hakim Shentu bereaksi, puluhan komandan bersenjata lengkap menyusul, mengepungnya lebih rapat lagi. Mereka menodongkan tombak mereka tepat ke kepalanya, mata mereka memancarkan loyalitas buta dan tekad untuk melaksanakan perintah.

Kemudian, suara gemuruh ribuan langkah kaki dan dentingan zirah baja mengisi udara. Ribuan pasukan kekaisaran, membentuk gelombang manusia yang tak berujung, segera mengepung dirinya dan seluruh mansionnya.

Mereka datang dari segala arah, menutup setiap jalan keluar, setiap celah. Panji-panji kekaisaran berkibar-kibar di atas kepala mereka, dan aura militer yang menindas membuat udara terasa berat.

Mansion yang tadinya tenang dan damai kini berubah menjadi medan pengepungan yang tegang. Hakim Shentu, yang sedetik lalu menikmati tehnya, kini terjebak di tengah lautan pedang dan tombak, menjadi pusat perhatian dari pasukan yang datang dengan kemarahan Kaisar.

Hakim Shentu mematung, seluruh tubuhnya kaku seperti batu, terkejut luar biasa oleh pemandangan di hadapannya. Satu-satunya bagian tubuhnya yang menunjukkan tanda kehidupan adalah tangan yang memegang cangkir teh, yang kini gemetar tak terkendali, teh di dalamnya hampir tumpah. Dia bahkan tak bisa mengedipkan mata, seolah takut akan mempercepat nasibnya.

Sebuah gelombang samar di lehernya—sebuah reflek menelan ludah yang tanpa sadar ia lakukan—secara tak sengaja sedikit mendorong pedang dari sembilan jenderal utama. Kilatan dingin dari bilah-bilah itu seolah memberinya peringatan terakhir. Suasana yang tadinya tenang kini berubah menjadi ketegangan mencekam yang mematikan.

Tiba-tiba, sebuah siluet anggun melayang turun dari langit. Itu adalah Pengajar Kekaisaran, sang pemuda rupawan, yang kini melayang tenang di atas kerumunan pasukan, tepat di hadapan Hakim Shentu. Dengan wajah tanpa ekspresi, ia menggulirkan sebuah perkamen kerajaan yang dihiasi segel naga.

"Dengan wewenang dari Kaisar Tianlong yang agung!" suara Pengajar Kekaisaran menggelegar, penuh otoritas, membelah ketegangan.

"Dekrit kekaisaran ini menyatakan: Menangkap Shentu, Hakim Prefektur Selatan, atas tuduhan pemberontakan dan percobaan pembunuhan Kaisar!"

Suaranya bergema, membuat setiap prajurit dan jenderal mengencangkan cengkeraman pada senjata mereka. Tuduhan yang dilemparkan itu begitu berat, begitu tak terduga, dan menggantung di udara seperti hukuman mati yang tak terhindarkan.

Hakim Shentu, yang masih mematung, kini menatap Pengajar Kekaisaran dengan mata kosong, tak percaya akan kata-kata yang baru saja ia dengar.

SAYA

Hakim Shentu terkesiap. Wajahnya yang semula memucat kini berubah menjadi ekspresi kaget yang luar biasa, campur aduk dengan kebingungan dan kemarahan.

Dalam benaknya, ia mengutuk. "Apa-apaan ini?! Membunuh Kaisar? Aku bahkan tidak tahu Kaisar sedang makan apa hari ini! Aku hanya peduli apakah bunga melatiku mekar sempurna atau tidak!"

"K-kapan?" tanyanya terbata-bata, suaranya parau karena terkejut.

"Kapan aku membunuh Kaisar? Bahkan kapan aku berniat membunuhnya?!"

Matanya melotot tak percaya, menatap Pengajar Kekaisaran, lalu beralih ke sembilan pedang yang masih menempel di lehernya. Pikirannya kalut. Sepanjang hidupnya, ia telah mengabdi dengan setia, memastikan Prefektur Selatan tetap damai dan sejahtera. Tuduhan ini, baginya, adalah fitnah keji yang datang entah dari mana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!