Shafa dan Juna. Dua manusia yang menamai hubungan mereka sebatas kata "teman".
Namun jauh di lubuk hati terdalam mereka, ada rasa lain yang tumbuh seiring berjalannya waktu dan segala macam ujian kehidupan.
cerita pertama aku..semoga kalian suka yah. see yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Arsyila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 31
Dering ponsel di tasnya tak henti berbunyi, membuat Shafa menepikan motornya ketika akan pulang ke rumah. David yang ikut mengantarnya dari belakang ikut berhenti, dan menatap Shafa dengan ekspresi bertanya.
"telpon dari Juna.." ucapnya ketika berhasil menemukan ponselnya.
"iya Jun..." ujarnya kemudian
"udah pulang?" tanya Juna di sebrang telpon
"masih di jalan nih. Tadi abis ngobrol bentar sama David"
"udah malam banget lho ini. kenapa gak besok aja ngobrolnya?"
"gak tau nih si David..kangen berat kayanya sama aku" Shafa menatap David dengan ekspresi mengejek
"dih pede bener cewek Lo Jun..." David mendekatkan wajahnya ke arah ponsel yang berada di telinga Shafa
"sana ah..." Shafa mendorong wajah David dengan telapak tangannya.
"udah dulu ya, nanti aku telpon lagi kalau udah sampe rumah. Bye.." pamit Shafa
"hm..hati hati" balas Juna
sepeda motor mereka kembali berjalan menuju rumah Shafa. David memang sengaja mengantar Shafa sampai rumah, pasalnya karena dia, Shafa telat pulang, sampai larut pula.
"gue pamit." sesampainya di depan rumah Shafa, David berpamitan
"hm.. Salam buat Maya."
Shafa sudah bersiap untuk tidur, ia sudah mandi dan memakai piyama nya. Namun sebelum itu, ia menyempatkan diri untuk menelpon Juna. Pada deringan pertama, sambungan telponnya langsung terangkat.
"belum tidur kan?"
"nungguin telpon kamu"
"di kampus suka ngantuk gak sih? Tidur nya larut mulu perasaan..." ujar Shafa penasaran karena hampir tiap hari Juna tidur larut, entah itu ketika menunggu Shafa pulang kerja atau memang sengaja berbalas chat dan telponan dengan Shafa sampai hampir larut.
"siangnya tidur kok kalau udah beres kelas."
"besok berangkat jam berapa kuliah?"
"jam tujuh paling..siang nya udah balik. Hmm...kamu udah terima undangannya?" ucap Juna sedikit ragu
"udah." terdengar helaan nafas Shafa. Hal itu membuat Juna merasa bersalah.
"mau datang?"
"gak tau" jawab Shafa pelan. selama beberapa detik hanya keheningan yang menyelimuti keduanya karena pikiran masing masing.
"mau aku jemput?" Juna bersuara setelah keterdiaman keduanya sesaat lalu
"kamu kan yang punya acara, masa ngejemput tamu. aneh aneh aja" balas Shafa yang sekarang berbaring di kasur nya dengan ponsel yang disimpan di atas telinga kanan tanpa menyentuhnya.
"kamu bukan tamu. Kamu belahan jiwa aku"
"gombal.." balas Shafa tersenyum geli. Juna yang mendengarnya ikut tersenyum
"jadi?"
"takut patah hati" jujur Shafa
Juna kembali terdiam mendengarnya, salah dia menyeret Shafa dalam hubungan terlarang ini. Namun apa boleh buat, hatinya yang mendorong untuk berbuat egois terhadap Shafa.
"David udah tau sama hubungan kita" lanjut Shafa karena Juna masih diam
"katanya kamu bangke...hehehe"
"brengsek juga pantes kayanya julukan buat aku..belum apa apa aku udah nyakitin kamu. Aku juga gak bisa selalu ada di samping kamu, malah David yang nemenin kamu pulang. padahal bahaya cewek pulang larut malam sendirian. Kayanya aku gak guna jadi pacar kamu. Maaf..."
"hm??"
"maaf belum bisa bahagiain kamu" ujar Juna penuh penyesalan
"nyesel?"
"nggak sama sekali."
"terus tadi kenapa ngomongnya gitu?"
Juna kembali terdiam, kata katanya serasa tersangkut di tenggorokan
"dari awal juga aku udah ngerti posisi kita gimana. Kamu yang ngejar mimpi disana dan aku juga ngejar kehidupan finansial aku disini. Kalaupun ada yang salah, kita berdua sama sama salah."
Menghela nafas sejenak, Shafa kembali melanjutkan ucapannya
"lagian, dari dulu kamu yang selalu temanin aku. Tiap hari kita ketemu. Mau susah atau seneng, kamu yang pertama hadir disisi aku. Jadi....jangan ngerasa gak berguna gitu. Baru sekarang aja kita bener bener jauhan." lanjut Shafa sedikit menghibur perasaan gundah yang Juna rasakan.
"makasih sayang.." ucap Juna dengan tulus
"duh sorry nih Juna, bukan bermaksud merusak suasana, cuma...aku masih belum terbiasa sama sikap kamu yang kayanya berubah banget?"
"berubah gimana?"
"jadi lebih..geli di denger? Hehehe...sorry" Shafa berucap dengan tawa garing. Juna ikut tertawa mendengar kejujuran Shafa. Gadisnya dari dulu tidak berubah.
"tapi jujur, dari dulu aku pengen ngelakuin hal romantis kaya gini ke kamu. Kayak panggilan sayang itu..salah satu hal paling melegakan dalam hidup aku, bisa dengan leluasa mengungkapkan rasa sayang aku ke kamu"
"sesayang itu sama aku?" tanya Shafa
"banget. aku sayang banget sama kamu. Dari dulu sampai sekarang, perasaan aku bertambah berkali kali lipat sama kamu."
"tuh kan...geli ih."
"hahaha...serius Shafa..!! Maaf kalau buat kamu gak nyaman, tapi aku pastiin kamu bakal terbiasa sama semua limpahan rasa sayang aku."
"iya deh iya iya...mudah mudahan aja aku kuat nahan nya ya,!!" canda Shafa dengan tawa nya yang menguar.
"hmm buat nanti, aku usahain datang deh. Gak usah jemput tapi kamunya. Paling aku sama David Maya kesananya. Tapi gak janji ya.." lanjut Shafa
"aku ngerti. hhhh...udah malam banget. Mau tidur sekarang? Kamu pasti cape seharian kerja."
"lumayan rontok nih badan, hari ini cafe nya banyak pengunjung. Yaudah aku tidur ya..kamu juga."
"hmm...good night. love you..."
"mmmm...met malam juga. bye bye Juna.." pamit Shafa seraya mematikan sambungan telponnya.
*********
"kak...kayaknya aku bakalan mengundurkan diri deh" ucap Shafa yang waktu itu sedang istirahat makan bersama Dea.
"hah? kenapa? tiba tiba banget?" pertanyaan beruntun Dea sampaikan karena ucapan mendadak dari Shafa.
"hehehe...mau kerja di tempat teman aku." ujar Shafa sembari sesekali memainkan sedotan di tumblernya
"emang disini kenapa? Gak betah kerja bareng kita?"
"eh eh nggak..bukan gitu. Aku nyaman banget kerja sama kalian, cuma teman aku beneran butuh aku." Shafa berbohong tentang teman yang butuh tenaga dirinya.
"gak ada hubungannya sama si bos kan?" Dea menaruh curiga
"hah? Nggak. Gak ada hubungan sama sekali sama si bos. beneran..!!"
"padahal kerja Lo bagus lho..gak kayak si Oca banyak ngomelnya.." ujar Dea menunjuk Rossa dengan dagunya.
"rencana nya kapan mau ngundurin diri?" lanjut Dea
Rossa yang saat itu hendak mengambil minum di pantry, terkejut mendengar ucapan Dea
"siapa yang mau ngundurin diri? Elo?" tunjuk Rossa pada Shafa.
"hehehe iya kak..." Shafa berucap dengan rasa tidak enak
"kenapa?" tanya Rossa lagi
"mau pindah ke tempat temennya. udah sana ke depan lagi..." usir Dea pada Rossa yang dibalas sungutan dari mulut Rossa.
"kalau beneran mau resign, mending dari sekarang ngomong ke bos Faiz. Supaya si bos bisa cari pengganti elo buat disini. Kalau dadakan, kasian ke kita nya gak ada yang gantiin posisi Lo. Pasti kerepotan banget kita.." Dea memberi saran yang benar benar dibutuhkan Shafa
"gitu ya kak..sekarang aja gitu bilangnya? Mumpung masih ada waktu rehat"
"yaudah sekarang aja..eh tapi ada ceweknya si bos gak sih di atas?"
"bakal ganggu gak ya?"
"di coba aja..sebentar ini ngomongnya."
"oke deh...aku ke atas dulu ya kak." Shafa berpamitan pada Dea untuk pergi ke kantor Faiz.
Sesampainya di lantai atas, Shafa mencoba bersikap tenang. Namun rasa gugup masih sering datang padanya ketika akan berhadapan dengan Faiz. Ia benar benar tidak nyaman dengan perasaan ini, ditambah dengan kehadiran cewek Faiz yang sekarang hampir tiap hari berkunjung ke cafe.
Mengetuk pintu dengan pelan, terdengar suara Faiz yang menyuruhnya masuk ke dalam.
"Shafa? ada apa?" tanya Faiz sesaat setelah Shafa masuk ke ruangannya. Saat itu, Laras sedang bermain ponsel dengan posisi kaki berselonjor di atas sofa. Melihat itu, Shafa tambah merasa tidak nyaman, teringat akan malam "panas" nya dengan Faiz.
"boleh bicara bentar bos?" suara Shafa sedikit bergetar karena menahan rasa gugup
"duduk" titah Faiz yang sedang duduk di kursi kerjanya, bersebrangan dengan sofa yang di tempati Laras. Shafa sedikit melirik ke arah Laras, haruskah wanita itu mendengarkan pembicaraannya dengan Faiz?
Melihat gerak gerik Shafa yang merasa kurang nyaman dengan kehadiran Laras, Faiz berinisiatif menyuruh Laras menunggu di luar ruangannya.
"kenapa aku harus keluar?" protes Laras
"ini urusan kerjaan..please" ucap Faiz
Laras sedikit tidak terima, namun ia hanya bisa menuruti permintaan Faiz.
Selepas Laras keluar, Faiz kembali memusatkan perhatiannya pada Shafa.
"ada apa?"
"hmm gini..aku,,aku..aku ijin mau mengundurkan diri" ucap Shafa terbata bata dengan suara mengecil di akhir.
Faiz menukikkan alisnya tanda kurang setuju dengan keputusan tiba tiba Shafa.
"kenapa?"
"hmm..aku mau bantuin usaha teman aku bos"
"kakak.." ralat Faiz
"hm?" beo Shafa tidak mengerti
"perjanjiannya kalau hanya kita berdua, panggil kakak"
"oh iya..aku eh ijin resign ya kak" ulang Shafa menurut.
"gara gara kejadian kemaren?"
"hmm??? Oh nggak..bukan. beneran bukan karena itu. Gak ada hubungannya kak. Aku cuma, aku mau itu, bantuin teman aku. Gitu" ucapan Shafa yang terbata dan sedikit kacau itu menambah kecurigaan Faiz mengenai alasan pengunduran diri Shafa karena dirinya.
"gue minta maaf kalau bikin kamu gak nyaman." Faiz berujar pelan.
"oh..aku udah lupain itu kok kak. Tenang aja."
"harus banget resign? kamu udah deket banget kan sama Irfan Dea Rossa..gak sayang kalau harus adaptasi sama lingkungan baru?" Faiz mencoba membujuk Shafa agar memikirkan kembali keputusannya tersebut.
Shafa hanya membalasnya dengan senyum tidak enak. Dengan jari yang di tautkan dan bibir yang digigit untuk menghilangkan debar jantungnya yang tiba tiba berdetak kencang karena rasa gugup bercampur sedikit kesedihan karena akan berpisah dengan teman teman kerja nya di cafe ini.
"udah gue bilang jangan di gigit." secara tidak sadar, Faiz dengan cepat berdiri dan menyondongkan tubuhnya ke hadapan Shafa dengan ibu jarinya mengusap pelan bibir Shafa
Shafa membelalakkan matanya karena perlakuan Faiz, dengan sedikit menjauhkan tubuhnya. Faiz tersadar setelah gestur penolakan yang Shafa tunjukkan karena gerak reflek yang tiba tiba itu membuat Shafa semakin tidak nyaman.
"sorry..jangan di gigit lagi." ucapnya lagi dengan nada pelan dan kembali duduk.
gara gara itu, suasana di dalam ruangan menjadi hening beberapa saat.
"kapan mau resign nya?"
"kata kak Dea, aku harus nunggu orang baru dulu buat gantiin posisi aku. Makanya dari sekarang aku bilang ini ke kak Faiz"
"iya..peraturannya emang gitu. Kamu gak bisa sembarang langsung keluar tanpa ada pengganti yang baru. Mungkin seminggu atau dua Minggu."
"bisa jadi dua Minggu?" tanya Shafa yang menurutnya terlalu lama
"bisa juga sebulan. Kita gak tau apa ada orang yang mau kerja disini secepatnya atau nggak ada sama sekali. Setidaknya itu tanggung jawab terakhir kamu sebagai karyawan disini." Faiz mencoba mengulur waktu agar Shafa tidak cepat pergi dari sini. Dia masih belum rela jika harus tiba tiba kehilangan Shafa. Entah itu sebagai karyawannya atau orang "special" yang hanya bisa dia lihat di tempat ini.
"tapi diluar sana banyak pengangguran yang mau cari kerja" balas Shafa.
"who know Shafa..gue cuma berandai andai."
"hmm...yaudah gapapa"
"good..!! ingat, jangan keluar kalau belum ada pengganti kamu." ujar Faiz menegaskan kembali tanggung jawab Shafa disini.
"cuma itu aja...aku ke bawah lagi kak" Shafa undur diri dari hadapan Faiz dan dengan tergesa kembali ke lantai bawah.
Agaknya ia harus menambah stok kesabarannya karena belum tentu ia bisa cepat cepat pergi dari tempat kerja ini.
satu lagi bertarung dengan masa lalu tuh berat karena hampir semua masa lalu pemenang nya