Romeo bukanlah tokoh dalam dongeng klasik yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia hanyalah seorang pemuda biasa, anak tunggal yang hidup tenang dalam rutinitasnya. Namun, hidupnya mendadak berubah ketika sang nenek—satu-satunya keluarga yang ia miliki—mengatur sebuah perjodohan untuknya. Romeo menolak secara halus, tetapi tak mampu membantah keinginan nenek yang sangat ia hormati.
Tanpa ia sadari, gadis yang dijodohkan dengannya ternyata bukan orang asing. Ia adalah Tina—sahabat masa SMP yang dulu selalu ada di sisinya, yang bahkan pernah menyelamatkannya dari tenggelam di kolam renang sekolah. Namun waktu telah memisahkan mereka. Kini, keduanya telah tumbuh dewasa, dan pertemuan kembali ini bukan atas kehendak mereka, melainkan takdir yang disulam oleh tangan tua sang nenek.
Tapi, Romeo merasa ada yang berubah. Tina yang kini berdiri di hadapannya bukan lagi sahabat kecilnya. Dan yang lebih membingungkan, perasaannya pun mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ryuuka20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Masalah baru
Setelah menyantap hidangan dengan penuh kebahagiaan, Tina dan Romeo berbaring bersandar di atas rumput segar yang lembut di taman itu. Badan mereka bersandar satu sama lain, tangan mereka saling terkait erat.
Langit malam yang begitu cerah menyelimuti mereka—bintang-bintang berkilauan seperti permata yang tersebar luas, dan bulan purnama bersinar terang sebagai saksi bisu atas hubungan mereka. Udara malam yang segar membawa aroma harum bunga yang sedang mekar, menciptakan suasana yang begitu damai dan romantis.
Romeo mengangkat tangan dan menunjuk ke arah langit, "Lihat deh na, bintang paling terang itu—persis seperti Lo yang nyinarin hari-hari gue, kadang gue berpikir kalau bukan karena Lo yang dulu "First move." ucapannya terjeda sejenak kemudian menggenggam tangan Tina yang hanya tertawa pelan.
"First move?" Tanya Tina heran, memang dulu yang mulai mendekati Romeo adalah Tina, yang mulai mengganggunya ataupun di hukum pun bersama dan mendekatkan kepalanya ke bahu Romeo,"Mungkin rasa sepi gue bakalan tetap sepi..." lanjut Romeo menikmati kedekatan yang mereka rasakan setelah sekian lama akhir-akhir ini mereka merasakan jarak karena banyak hal yang terjadi di dalam hubungan pernikahan.
"Tuhan pasti merestui kita ya Reo," bisik Tina pelan. Romeo mengangguk perlahan, mencium ujung rambut Tina dengan penuh kasih sayang. Tanpa perlu banyak kata, mereka tahu bahwa ikatan di antara keduanya kini semakin kuat, seperti langit dan bulan yang selalu bersama menyinari malam.
"Ouh ya, soal foto tadi..... itu beneran sama Jovan?" Tanya Romeo pada Tina sambil memperlihatkan foto di handphonenya yang menampilkan gambar Tina dan Jovan sedang duduk bersama di café.
"Iyaa... itu gue tapi siapa yang kirim itu ke Lo?" tanya Tina dengan wajah penuh kebingungan, matanya fokus pada layar ponsel Romeo. Romeo hanya menggeleng pelan. Ia merasa ada yang mengancam hubungannya dengan Tina, dengan cara membuatnya lembur di kantor dan juga tiba-tiba ada yang mengirimkan foto Tina dan Jovan.
"Lo bilang dia kerja di tempat baru ya?" Tanya Romeo lagi, melihat Tina mengangguk untuk membenarkan bahwa Jovan memang bekerja di kota tempat mereka tinggal sekarang.
"Kenapa Reo? Gue juga agak waspada kalau dia beneran disini..." gumam Tina pelan sambil menatap langit malam yang masih terang benderang. Romeo tersenyum hangat lalu menarik tubuh Tina agar lebih dekat dengan dirinya.
"Tenang aja Tina, Kalau ketemu dia jangan sampai Lo ngobrol lama-lama sama dia ya...." ujar Romeo dengan nada lembut namun tegas, tangannya masih erat menyandarkan tubuh Tina yang kini mengangguk mengerti.
Angin malam mulai berhembus kencang, dedaunan pepohonan berdesir lembut seiring hembusan udara dingin. Namun rasa dingin malam itu tak mampu membuat mereka kedinginan—kehangatan dari kedekatan satu sama lain yang menyelimuti tubuh dan hati mereka berdua.
"Ayooo, kita ke dalam aja disini dingin." ucap Romeo sambil membantu Tina berdiri dengan lembut. Ia melihat dress tipis yang dikenakan istri tercinta lalu menambahkan, "Lagian di bilangin Lo jangan pakai baju gini..."
Tanpa berlama-lama, Romeo mulai melepaskan kemejanya untuk menutupi tubuh Tina. Namun tangan Tina dengan cepat menghentikan gerakannya.
"Reo jangan di lepas, ini bagus tau, gue yang desain bunga ini, dan bordirannya juga gue yang ngide..." protesnya dengan suara manis, lalu menarik tangan Romeo untuk menyentuh bagian bordir bunga di lengan kemejanya. "Lihat kan? Sama kayak dress ini? Biar kita selalu tampak pasangan yang serasi."
Romeo terdiam sejenak, mata memandangi detail bordir yang dibuat dengan sangat hati-hati. Ia kemudian tersenyum hangat dan mengangkat tangan untuk menyentuh pipi Tina dengan lembut. "Oke deh sayang, maafin ya. Buatannya cantik banget, jadi lebih cinta lagi." Setelah itu, ia menggenggam erat tangan Tina dan mengajaknya berjalan menuju rumah, sambil sesekali memberikan ciuman lembut di atas kepalanya.
Cw/kiss
"Jadi gue dapet hadiah gak?" Tanya Romeo pada Tina sambil tiba-tiba menahan tangan Tina dan menariknya perlahan untuk duduk di sofa ruang tamu.
Tina sedikit terkejut dengan sikap Romeo yang terlihat lebih agresif dari biasanya, kedua tangannya kini terjepit erat dalam genggaman suaminya. Wajahnya sedikit memerah, namun matanya tetap menatap Romeo dengan tatapan penuh cinta.
"Kamu mau hadiah apa ya sayang?" ucapnya dengan suara lembut, sambil mencoba untuk sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Romeo. "Aku sudah siapkan semua ini kan? Mulai dari makanan sampai dekorasinya..."
Romeo hanya tersenyum tipis dan sedikit mendekatkan wajahnya, matanya tidak pernah lepas dari mata Tina. Ia perlahan melepaskan salah satu tangannya dari genggaman untuk menyentuh pipi istri tercinta. "Hadiah yang lebih spesial dari itu, sayang," ucapnya dengan nada yang lebih dalam, lalu menarik tubuh Tina agar lebih dekat dengan dirinya. "Kamu tahu kan apa yang aku mau..."
Tina mengangguk perlahan, wajahnya semakin memerah karena rasa malu dan juga kebahagiaan yang menyelimutinya. "Aku tahu Reo... aku juga sudah siap," bisiknya pelan, lalu dengan lembut menutup mata.
Romeo menarik Tina hingga tubuhnya menempel erat di dadanya, kedua tangannya melingkar erat di pinggangnya—jari-jari menyentuh lekukan pinggul yang tertutup dress tipis. Tina menyematkan wajahnya di leher Romeo, tangannya naik perlahan mengelus tengkuknya, jari-jari menyentuh rambut pendek yang masih sedikit hangat dari panas malam.
Mereka menyendiri, mata mereka bertemu. Di iris coklat Romeo terpancar kehangatan dan hasrat yang lama terkubur; di mata coklat muda Tina terpampang kerinduan yang sama kuatnya. Bibir Romeo sedikit terbuka, napasnya menyentuh kulit pipi Tina yang sudah mulai memerah. Dia menggerakkan wajahnya perlahan ke depan, sentuhan hidungnya menyentuh dagu Tina sebelum akhirnya—bibir mereka bertemu.
Ciuman pertama itu lembut seperti kain sutra, ujung bibir saling menyentuh perlahan. Lama kelamaan, Romeo mendalamkan ciumannya, tangannya menggenggam pinggang Tina lebih erat, seolah ingin menyatu dengannya.
Tina menanggapi dengan penuh semangat, tangannya mengunci di belakang leher Romeo, menjepit tubuhnya lebih dekat. Jari-jari Romeo perlahan merayap ke atas punggungnya, menyentuh kulit yang terbuka di bagian belakang dressnya, membuat Tina menggigil ringan.
Napas mereka menjadi pendek dan sesak. Ketika Romeo akhirnya melepaskan bibirnya, udara dingin malam menyela jarak yang dulu penuh panas. Tina membuka mata perlahan, matanya masih sedikit mengantuk karena gairah, pipinya kemerahan, bibirnya sedikit membengkak dan basah.
"Wow," bisiknya, napasnya masih terengah-engah, meniup lembut ke wajah Romeo.
Romeo tersenyum tipis, dahinya menyandar dengan dahi Tina. Napasnya juga masih tidak menentu, matanya menatap dalam ke dalam mata Tina. "Iya," jawabnya dengan suara yang lebih dalam dari biasanya, "wow banget."
Ia mendekatkan wajahnya lagi, kali ini bibirnya menyentuh dahi Tina, lalu pipinya, sebelum akhirnya menyambungkan bibirnya lagi dengan bibir Tina. Ciuman ini lebih lambat, lebih lembut—setiap gerakan penuh dengan rasa sayang yang sudah lama tertahan, membuat tubuh mereka berdua terasa ringan seolah terapung di awan.
Saat hasrat mulai membara dan Romeo hendak menggerakkan tubuhnya lebih dekat, tangan Tina dengan lembut menekan dadanya. "Reo, ini ruang tamu.... Kalau ada yang datang tiba-tiba gimana?" ucapnya dengan napas masih sedikit terengah-engah, matanya melihat sekeliling ruangan yang terbuka dan tidak tertutup rapat.
Romeo mengangkat bahu perlahan, wajahnya masih terpampang senyum nakal sambil mengusap-usap punggung Tina yang sedikit terengah. "Ini rumah aku sayang.... Siapa lagi yang bakal datang malam gini." jawabnya dengan suara rendah dan penuh canda, lalu hendak kembali mendekatkan wajahnya ke arah istri tercinta.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang jelas terdengar dari pintu depan membuat mereka berdua langsung terkejut dan bergerak cepat menjauh. "Siapa itu?" bisik Tina dengan wajah yang semakin memerah, segera merapikan dressnya yang sedikit kusut.
Romeo menghela napas pelan sambil juga merapikan kerah kemejanya yang sudah tergeser. "Ganggu aja...." gumamnya dengan nada sedikit kesal, lalu berdiri perlahan dan mengarahkan Tina untuk duduk kembali dengan posisi yang rapi. Ia berjalan menuju pintu depan dengan langkah cepat, membukanya perlahan.
Di luar pintu berdiri seorang pria bertubuh tegap dengan wajah serius dan wanita cantik bersamanya yang mengenakan gaun malam sederhana. "Om Resa? Tante Mika? Ada apa ya?" tanya Romeo dengan wajah terkejut—keluarga ini biasanya tidak pernah datang tanpa kabar terlebih dahulu, apalagi di jam malam seperti ini.
"Masuk dulu om," Romeo segera membuka pintu lebih lebar untuk mempersilahkan mereka masuk, sambil melihat sekeliling jalan untuk memastikan tidak ada orang lain yang mengikutinya.
Sementara itu, Tina yang sudah mendengar suara tamu langsung bergerak ke dapur, tangan cepat mengambil gelas dan menyeduh teh hangat beserta beberapa camilan kecil yang masih tersisa. Ia keluar dari dapur membawa nampan berisi minuman, lalu mendekat dengan senyum lembut.
"Kenapa tiba-tiba mereka kesini?" bisiknya pada Romeo yang sedang mengajak tamu duduk di sofa. Romeo menggeleng pelan, wajahnya juga penuh kebingungan—tidak ada pemberitahuan sebelumnya, padahal nenek mereka juga sedang ada urusan di luar kota dan tidak ada di rumah.
"Romeo, nenek mana?" tanya Resa pada keponakannya sambil menoleh ke sekeliling ruangan seolah mencari sosok orang tua Romeo.
"Nenek ada urusan sama saudaranya di kota lain om, jadi hari ini cuma kita berdua saja di rumah," jawab Romeo sambil mengambil gelas teh dari nampan Tina yang sudah diletakkan di atas meja.
Resa mengangguk pelan, matanya tetap mengamati setiap sudut ruangan dengan tatapan yang sulit ditebak. Sementara itu, Mika mengalihkan pandangannya ke arah Tina, wajahnya sedikit menyipit dengan senyum yang hangat namun membuat Tina merasa sedikit tidak nyaman.
"Kalian serasi banget ya, sudah lama menikah kan? Belum ada momongan nih?" tanya Mika langsung pada pasangan muda itu dengan nada yang lugas.
Tina sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, wajahnya sedikit memerah dan ia menggeleng pelan. "Belum Tante," jawabnya dengan suara yang sedikit kikuk, tangan kanannya secara tidak sengaja menyentuh ujung dressnya.
"Kita gak akan nyusahin Tante walaupun kita punya banyak anak sekalipun." jawab Romeo dengan tegas. Membuat Tina tertegun, jawaban yang tepat untuk orang yang suka mengurusi urusan orang lain.