Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Jebol
Alya merasa jantungnya berdegup
kencang saat melihat Agra mulai melepaskan celana panjangnya.
Pria itu mendekati Alya dengan wajah mesum yang semakin menakutkan.
Alya merasa putus asa dan terus mundur perlahan mencari jalan keluar dari situasi yang mengerikan ini.
"Pak Agra, jangan... jangan lakukan hal
aneh padaku, tolong" pinta Alya dengan suara gemetar mencoba menahan air matanya.
Namun Agra tampak tak peduli,
langkahnya semakin mendekat membuat jarak antara mereka semakin menipis.
Alya terpojok di sudut ruangan, matanya terus mencari-cari benda yang bisa digunakan untuk melindungi diri.
Ketakutan yang melanda dirinya
membuat tangannya gemetar, namun ia berusaha untuk tetap berani menghadapi situasi ini dengan cara menampar wajah pria itu.
Plak!
Agra merasa darahnya mendidih saat
tangan Alya mendarat di pipinya.
Amarah yang tak tertahankan membuat Agra melangkah maju dan mendorong Alya dengan keras hingga jatuh di atas tempat tidur.
Tanpa ragu, Agra langsung menindih
tubuh Alya dan menahan kedua tangannya di atas kepala gadis itu.
Seolah siap untuk Ritual yang biasanya dilakukan para pasutri baru, hanya saja yang ini lebih ke pemerkaosan.
Alya menjerit histeris, menangis dan
memohon untuk dilepaskan.
"Pak Agra, lepaskan aku! Tolong, aku tak bisa bernafas!" teriaknya dengan mata yang merah dan wajah pucat.
Namun, Agra tidak menggubrisnya. Dia
menatap Alya dengan marah, matanya
menyala-nyala, seolah ingin
meluluh lantakkan gadis itu.
"Kamu pikir kau bisa menamparku begitu saja, Alya? Kamu pikir kau bisa terus melukai perasaanku tanpa alasan?" ujarnya dengan nada dingin dan tajam.
Alya terus menangis perasaan takut dan terkekang menyelimuti hatinya. Dia mencoba menarik tangannya dari cengkeraman Agra, namun semakin dia berusaha, semakin erat Agra menahan tangannya.
Agra menindih tubuh Alya dengan kuat, matanya menatap tajam dan penuh nafsu.
"Aku sudah mengintai kamu dari lama,
Alya , Aku bahkan mengikuti kemana
perginya kamu saat setelah bercerai dengan Leon," ucap Agra dengan nada mengancam.
Alya merasa takut dan terpojok,
tangisnya pecah di sela-sela rasa ketakutan yang menghantui hatinya.
Tubuhnya terasa terhimpit di bawah tindihan Agra yang semakin kencang.
"Kenapa kamu melakukannya, Pak Agra?" Isak Alya dalam tangisannya.
"Apa yang kamu inginkan dariku?"
Agra tersenyum mengerikan, seolah
menikmati penderitaan yang dialami Alya.
"Aku ingin kamu, Alya. Aku ingin kamu
merasakan betapa kuatnya perasaanku padamu."
Alyaa menjerit ketakutan mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari tindihan Agra yang makin lama makin membuatnya sesak napas.
Namun, semakin keras dia berusaha, semakin kuat pula Agra menindihnya.
Alyaa terus menangis dan memohon agar Agra melepaskannya.
Namun, Agra seolah tak
peduli dengan jeritan dan tangisan Alya, dia terus menekan tubuh wanita itu hingga suara tangisan Alya semakin lama semakin lemah.
"Lihat aku! Lihatlah betapa aku
mengagumimu!" ucap Agra memaksa.
Mereka bertatapan wajah, Alya
ketakutan setengah mati. Ternyata dari pada Leon lebih menyeramkan Agra.
Air mata Alya terus mengalir dan
nafasnya sesak karena himpitan pria itu.
"Tahukah kamu berapa lama aku
menunggu ini? Setiap hari aku hanya melihat tubuh seksimu dari kamera tersembunyi ku," jelas Agra dengan senyuman mautnya.
"Apa maksudmu?" teriak Alya.
"Hahahaha...".
"Apa maksudmu?" teriak Alya sekali lagi.
Bagian sensitif Alya disentuh secara
paksa oleh tangan Agra yang kasar, Alya menjerit dan memohon ampun.
Agra dengan wajah psiko-nya merasakan kemenangan ini.
"Sudah melahirkan 3 kembar tapi masih
sempit juga, ya?" tanya Agra senang.
"Jangan! Jangan!" teriak Alya frustasi.
Saat bersamaan seseorang menarik tubuh Agra dan memukulnya sampai tersungkur ke lantai.
Siapa lagi jika bukan Leon? Pria yang
seharusnya berbaring di ranjang rumah sakit itu justru berada di sini.
"Bajingan!" umpat Leon.
Pria itu menghampiri Agra lagi dan
memukulnya lagi sampai berkali-kali.
Agra yang kesal lantas membalasnya sampa Leon juga tersungkur, sementara Alya nalah traumanya kambuh, tubuhnya menegang dan kaku.
"Leon, ini bukan urusanmu! Alya
sekarang milikku, perusahaan juga milikku," ucap Agra.
Leon bangun, ia mendekati Agra dan
menendang burung perkutut pria itu sampai kesakitan.
"Arrrrgggghhh!"
Leon melihat di sekelilingnya, banyak
sekali barang-barang pemuas nafsu milik Agra.
"Dasar pria psiko!" ucap Leon kesal.
Agra masih sangat kesakitan, sementara Leon dan beberapa pengawal membawa Leon pergi dari sana.
Leon melihat Alya
yang sudah kejang serta air matanya mengalir.
"Sayang, bertahanlah!" ucap Leon.
Sesampainya di dalam mobil, Leon
duduk di sebelah Alya, ia mengusap air
matanya dan tubuh Alya mulai melemah.
Pria itu mencium keningnya berkali-kali dan khawatir setengah mati.
"Aku... aku mau pulang ke kos," gumam Alya.
"Apa? Kita ke rumah sakit dulu," jawab
Leon.
"Aku tak apa, aku mau pulang ke kos dan aku mau bertemu anak-anakku.
Leon, anak-anak kita bersama Agra, tolong mereka!" Ucap Alya sambil menangis.
"Ssst... tenanglah! Anak-anak kita aman bersama kakeknya, tadi Papaku bertemu mereka di pinggir jalan dan mereka melompat dari mobil saat tahu akan diculik," jelas Leon.
Alya terkejut tapi terlanjur lega.
"Syukurlah, aku sangat bodoh sekali percaya pada Agra, dia lebih gila."
"Sekarang tak apa, kamu sudah aman
bersamaku. Sekarang kita ke rumah orang tuaku saja, di sana anak-anak kita berada dan sangat aman," jelas Leon.
Di sisi lain.
Alya dan Leon tiba di rumah orang
tua Leon, dengan penuh cinta Leon
membopong Alya melewati pintu masuk
rumah.
Kedatangan mereka disambut hangat
oleh anak-anak kembar mereka, Farad, Fared dan Farid yang berlarian mendekat sambil bersorak kegirangan.
"Mama, Papa, selamat datang!" seru ketiga anak kembar itu serentak.
Alya tersenyum bahagia saat anak-
anaknya baik-baik saja. Mereka lantas saling berpelukan, Leon mengusap lembut kepala
anak-anaknya, bangga akan keluarganya yang selalu penuh cinta.
"Mama, kami merindukanmu!" ucap Farad dengan mata berkaca-kaca.
"Mama juga, Sayang," balas Alya menyeka air mata anaknya yang mulai menetes.
"Mama akan selalu ada di sini bersama kalian semua."
Mereka lalu masuk ke dalam rumah
bersama-sama.
Leon kemudian meletakkan Alya
perlahan di sofa dan memandang kepada Rafael.
"Terima kasih, Pah," ucap Leon.
"Hem..."
Rafael menatap ketiga kembar itu, ia
tentu saja lama-lama luluh dengan sikap mereka yang lucu.
"Opa... Opa... lihat kami!" ucap Fared
sambil berjoget-joget.
Walau mereka baru saja mengalami
insiden tidak menyenangkan tapi sekarang mereka sudah merasa lebih baik dan ceria lagi.
Rafael tersenyum melihat mereka, ia
melebarkan tangannya dan mereka berlari ke pelukan sang kakek.
"Opa! Gendong! Gendong!" teriak mereka.
"Haha... nanti Opa bisa encok," jawab
Rafael.
Leon senang melihat sang papa sudah
menerima ketiga cucu kembarnya dan hanya tinggal sang mama saja yang sampai detik ini belum bisa menerima kenyataan itu.
Leon kembali melihat ke arah Alya,
mereka saling bertatapan tapi tatapan Alya sangat lemah.
"Kamu tak apa?" tanya Leon.
"Makasih," ucap Alya.
"Leon, ajak Alya ke kamar! Dia
terlihat masih sangat syok," sahut Rafael.
Leon mengangguk dan membopong
Alya masuk ke dalam kamar.
Sesampainya di kamar, Alya dibaringkan di atas tempat tidur.
"Kamu aman di sini," ucap Leon.
Saat Leon hendak berdiri tiba-tiba
Alya memeluknya dengan erat.
"Makasih," ucap Alya.
"Sama-sama, Alya."
Alya menangis tersedu-sedu. "Kenapa
harus aku yang mengalami semua ini? Aku hanya ingin hidup tenang bersama anak-anakku saja."
Leon mengusap punggung wanita itu.
"Maafkan, aku!" Isakan Alya semakin menjadi-jadi hingga Leon merasa pilu mendengarnya.
"Aku... aku hanya ingin hidup tenang."
ucap Alya.
"Maafkan aku!" hanya itu yang bisa
Leon katakan karena sebagian trauma Alya memang berasal darinya.
Mereka masih berpelukan dengan erat.
"Aku janji mulai sekarang akan
melindungi mu dan anak-anak kita," jelas Leon.
klw nikah di grreja artinya agama kristen.
yg menikahkan penghulu,biasanya klw nikah di gereja pendeta
aga membingungkan