NovelToon NovelToon
Malam Pertama Dengan CEO

Malam Pertama Dengan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikah Kontrak
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

"Berani tidak kamu tunjukkan hasil USG-mu kepada kami?" tantang Rina dengan senyum penuh kemenangan.

"Iya, tunjukkan saja hasil USG itu. Kalau memang tidak hamil, kenapa harus takut?" sambung Mila sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Aku juga melihat wajahmu pucat sekali, Kayla. Semua tanda-tandanya mengarah ke perempuan yang sedang hamil," tambah Mira dengan nada mengejek.

Rina tersenyum semakin lebar. Ia melangkah perlahan mendekati Kayla sambil menatapnya dari ujung kepala hingga kaki. Tatapan itu penuh penghinaan, seolah-olah ia sudah memenangkan pertarungan sebelum dimulai.

"Kayla, dengarkan mereka. Biar tidak ada salah paham di antara kita, lebih baik tunjukkan saja hasil USG itu."

Refleks Kayla memeluk map hasil pemeriksaannya semakin erat. Tatapannya berubah tajam menembus wajah Rina. Meski jantungnya berdegup kencang, ia sama sekali tidak berniat menunjukkan kelemahannya di hadapan perempuan itu.

"Ini urusan pribadiku. Kenapa aku harus menunjukkannya kepadamu? Memangnya kamu siapa?" balas Kayla tanpa gentar.

Rahang Rina langsung mengeras. Giginya bergemeletuk menahan emosi. Sejak dulu Kayla memang bukan perempuan yang mudah ditindas. Semakin ditekan, semakin keras pula perlawanannya.

"Kamu mau tahu siapa aku?" Rina mengangkat dagunya dengan penuh kesombongan. "Aku keluarga dekat Pak Adrian. Kalau benar kamu hamil tapi tidak melaporkannya kepada perusahaan, tunggu saja. Kamu pasti dipecat."

"Keluar... keluarga Pak Adrian?" tanya Mira dengan mata berbinar.

Mendengar pengakuan itu, sikap Mira langsung berubah. Senyum manis menghiasi wajahnya saat ia mendekati Rina dengan penuh rasa ingin tahu.

"Memangnya hubunganmu apa dengan Pak Adrian, Rin?"

Rina tersenyum bangga. Ia sengaja membiarkan semua orang semakin penasaran.

"Pokoknya hubunganku dengan Pak Adrian sangat dekat. Sangat dekat."

"Wah, pantas saja. Jangan-jangan sebentar lagi kamu naik jabatan. Ternyata kamu orang dekat Presiden Direktur."

Pujian itu membuat wajah Rina semakin berseri-seri. Dadanya membusung penuh kebanggaan, seolah dirinya memang memiliki kedudukan istimewa di mata Adrian.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong. Suasana yang semula ramai mendadak berubah sunyi. Semua orang spontan menoleh ke arah sumber suara.

"Pak Adrian..." gumam Mira pelan.

Adrian berjalan memasuki lorong bersama Aldo dan beberapa petinggi perusahaan. Langkahnya tenang, tetapi aura dingin yang dipancarkannya langsung membuat suasana menjadi tegang. Tidak seorang pun berani berbicara sembarangan.

Semakin Adrian mendekat, jantung Kayla semakin tidak beraturan. Tanpa sadar, telapak tangannya mulai berkeringat.

"Kenapa dia selalu muncul di saat seperti ini?" batin Kayla semakin gelisah.

Melihat Adrian semakin dekat, Rina buru-buru maju beberapa langkah. Wajahnya dipenuhi senyum manis yang dibuat-buat.

"Pak Adrian, saya calon tunangan Anda."

Ucapan itu membuat beberapa karyawan saling berpandangan. Mereka ikut menunggu reaksi pria yang dikenal dingin tersebut.

Namun, Adrian bahkan tidak melirik Rina sedikit pun. Seolah perempuan itu tidak ada di hadapannya. Tatapannya justru berhenti pada Kayla yang masih memeluk erat map hasil pemeriksaannya.

Merasa menjadi pusat perhatian Adrian, Kayla buru-buru menyembunyikan map itu di belakang tubuhnya. Napasnya terasa semakin sesak.

"Selamat siang, Pak Adrian," sapa Kayla pelan.

Tatapan Adrian tetap tertuju padanya selama beberapa detik. Sorot mata yang sulit ditebak itu membuat Kayla semakin gugup. Sementara itu, Rina menggigit bibirnya menahan rasa iri yang mulai membakar dadanya.

"Kenapa kalian berkumpul di sini?" tanya Adrian dengan suara datar.

"Pak Adrian, kami curiga Kayla Permana, Wakil Manajer hotel ini, sedang hamil tetapi tidak melaporkannya kepada perusahaan," jawab Rina penuh percaya diri.

Tatapan Adrian langsung beralih kepada Rina. Sorot matanya begitu tajam hingga membuat nyali perempuan itu langsung ciut.

"Kamu dokter?" tanya Adrian dingin.

Rina terdiam.

"Bisa menentukan seseorang hamil atau tidak hanya dengan melihat wajahnya?"

Pertanyaan itu membuat wajah Rina memerah karena malu. Semua kesombongan yang sejak tadi ia banggakan runtuh begitu saja di hadapan seluruh karyawan.

Aldo yang berdiri di samping Adrian segera memahami maksud atasannya. Ia melangkah maju dan berbicara dengan suara tegas.

"Kalian tidak punya pekerjaan? Yang belum menjalani medical check-up segera masuk ke dalam. Yang sudah selesai, kembali ke divisi masing-masing."

Tatapan Aldo menyapu seluruh ruangan sebelum kembali melanjutkan ucapannya.

"Sekarang bubar."

Tidak ada seorang pun yang berani membantah. Para karyawan segera membubarkan diri. Adrian kembali melangkah melewati Kayla. Sekali lagi, tatapan mereka bertemu sesaat. Hanya beberapa detik, tetapi cukup membuat tubuh Kayla menegang karena gugup.

Setelah Adrian dan Aldo pergi, Rina menghentakkan kakinya dengan kesal. Tatapannya penuh kebencian saat mengarah kepada Kayla.

"Kamu beruntung hari ini, Kayla. Tapi ingat, semua ini belum selesai."

,,,

Di ruang Presiden Direktur yang luas dan mewah, Adrian duduk tenang di balik meja kerjanya. Tatapannya tertuju pada layar tablet yang menampilkan hasil pemeriksaan USG milik Kayla. Berkat jaringan rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang berada di bawah perusahaan Grup Wijaya, hasil pemeriksaan itu sudah berada di tangannya hanya beberapa saat setelah proses pemeriksaan selesai.

Sudut bibir Adrian perlahan terangkat membentuk senyum tipis. Pandangannya tidak lepas dari gambar hitam putih pada layar tersebut. Meski bentuknya masih sangat kecil, terlihat jelas ada dua kantung kehamilan yang berkembang di dalam rahim Kayla.

Ingatannya kembali melayang pada malam yang tidak pernah bisa ia lupakan. Malam ketika seorang perempuan datang ke dalam hidupnya secara tidak terduga. Ia masih mengingat jelas bercak darah yang tertinggal di atas seprai hotel. Bukti yang membuatnya yakin bahwa malam itu adalah pengalaman pertama bagi mereka berdua.

Ketukan pelan terdengar dari balik pintu sebelum Aldo masuk sambil membawa sebuah map tebal. Asisten pribadinya itu berdiri tegak di depan meja dengan wajah serius.

"Tuan, hasil investigasi sudah selesai."

"Katakan."

Aldo membuka map tersebut, lalu mulai membacakan laporan yang telah disusun tim investigasi.

"Berdasarkan rekaman CCTV, keterangan saksi, serta hasil penyelidikan kami, Nona Kayla memang berada di bar secara tidak sengaja. Tidak ada bukti bahwa ia merencanakan pertemuan dengan Tuan, dan tidak ditemukan indikasi bahwa ia dimanfaatkan oleh pihak lain untuk menjebak Tuan."

Senyum Adrian semakin jelas terlihat. Entah mengapa, laporan itu membuat beban di dalam hatinya seakan menghilang.

"Bagus."

Namun, ekspresi Aldo tidak ikut berubah. Ia tampak ragu melanjutkan kalimat berikutnya.

"Hanya saja... ada satu kabar yang kurang baik, Tuan."

Tatapan Adrian langsung berubah tajam.

"Apa?"

"Nona Kayla berencana melakukan aborsi akhir pekan ini."

Kalimat itu membuat senyum Adrian lenyap seketika. Wajahnya mengeras. Ia bangkit dari kursinya hingga kursi kulit di belakangnya sedikit bergeser.

"Mustahil."

Suara Adrian terdengar rendah, tetapi dipenuhi kemarahan yang sulit disembunyikan.

"Sebarkan informasi ke seluruh rumah sakit. Tidak boleh ada satu pun yang memfasilitasi tindakan aborsi atas nama kayla. Kalau tidak mereka akan berhadapan dengan keluarga wijaya."

"Baik, Tuan."

Adrian kembali memandang layar yang masih menampilkan gambar USG tersebut. Tatapannya perlahan berubah lebih lembut.

"Lindungi Kayla."

Aldo menganggukkan kepala.

"Tempatkan petugas keamanan secara tidak mencolok di sekitar hotel. Tambah kamera pengawas pada titik-titik yang masih memiliki area buta. Pastikan seluruh lorong, area parkir, dan akses keluar masuk dapat dipantau dengan baik."

Adrian belum berhenti memberi perintah.

"Jika ada lantai yang licin, segera perbaiki. Pastikan pegangan tangga diperiksa. Lift harus menjalani pengecekan setiap hari. Jangan biarkan ada benda berat yang bisa membahayakan karyawan."

Aldo terus mencatat tanpa menyela sedikit pun.

"Awasi semua makanan dan minuman yang dikonsumsi Kayla selama jam kerja. Jika ia lembur, siapkan makanan bergizi tanpa membuatnya curiga. Bila ia membutuhkan bantuan, pastikan selalu ada orang yang bisa menolongnya, tetapi jangan sampai ia mengetahui semua ini."

"Baik, Tuan. Semua akan saya laksanakan."

1
Ariany Sudjana
Linda juga sama, apa ga ada niat untuk mencari kebenaran dulu? malah mau saja percaya dengan omongan pelacur murahan
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Lina, dan mau saja dibodohi sama perempuan sampah seperti Rina... katanya orang kaya, tapi bodohnya kebangetan
Ariany Sudjana
berarti Kayla anak kandungnya Linda yang hilang itu ya? semoga Adrian bisa menemukan siapa orang tua kandungnya Kayla, dan membungkam mulut si pelacur murahan Rina, juga Lina itu
Ariany Sudjana
kenapa bab 28 dan 29 isinya sama?
Adi Sudiro
wanita 2 menjijik kan apak mereka anak kandung..?
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan yang ga tahu diri kalian itu, Rina, Mila, sama saja, sama-sama pelacur dan kalian harusnya dibunuh saja, karena sudah mengusir istri bos. mampus kalian🤣🤣😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!