NovelToon NovelToon
Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Kaya Raya / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Percikan Cemburu dan Sudut Tergelap Penthouse

Malam itu, hujan deras mengguyur Jakarta, menciptakan ketukan ritmis yang konstan pada dinding kaca besar penthouse mewah milik Arkan Mahendra. Di dalam ruangan yang luas dan berdesain modern minimalis tersebut, suasana justru terasa jauh lebih dingin dan mencekam daripada badai di luar.

Viona Adeline duduk di tepi ranjang king size kamar utama, masih mengenakan pakaian kerjanya—kemeja putih polos dan rok sepan hitam khas staf administrasi junior. Tangannya saling bertautan erat di pangkuan, mencoba meredam gemetar yang menjalar di sekujur tubuhnya. Pikirannya masih melayang pada kejadian di lobi kantor sore tadi, saat Reno—mantan kekasihnya—tiba-tiba muncul dan mencoba menghadangnya di depan kerumunan karyawan.

Pintu kamar utama terbuka dengan sentakan pelan namun tegas. Sosok tinggi tegap Arkan Mahendra melangkah masuk. Pria berusia 29 tahun itu sudah menanggalkan jas formalnya, menyisakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas yang terbuka, menampilkan rahang tegas dan tatapan mata hitam kelam yang siap mengintimidasi siapa saja. Aura kepemimpinannya yang pekat malam ini bercampur dengan kemarahan yang tertahan.

Arkan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia berjalan menuju meja bar kecil di sudut kamar, menuangkan whisky ke dalam gelas kristal, lalu meneguknya hingga tandas. Gerakannya tenang, namun Viona tahu, itu adalah ketenangan sebelum badai besar melanda.

"Kau tahu apa kesalahanmu hari ini, Viona?" suara bariton Arkan menggema rendah, memecah keheningan kamar. Pria itu membalikkan tubuh, menatap Viona dengan sepasang netra yang memancarkan kilat berbahaya.

Viona memberanikan diri mendongak, menatap langsung ke dalam mata pria yang telah membeli kebebasannya tersebut. "Saya tidak melakukan kesalahan apa pun, Tuan Mahendra. Kehadiran Reno di lobi kantor tadi sama sekali di luar kendali saya. Saya sudah memintanya pergi."

Mendengar nama pria lain diucapkan dari bibir Viona, Arkan berjalan mendekat dengan langkah lebar yang konstan. Jarak di antara mereka terkikis habis dalam hitungan detik. Arkan membungkuk, mencengkeram kedua sisi kasur di kanan-kiri tubuh Viona, mengurung wanita itu dalam kuasanya. Aroma maskulin yang bercampur dengan wangi alkohol tajam langsung mengepung indra penciuman Viona.

"Di luar kendalimu?" Arkan berbisik tepat di depan wajah Viona, suaranya terdengar sangat dingin dan posesif. "Dia memegang tanganmu, Viona. Di depan umum. Di lingkungan perusahaanku. Apakah kau lupa dengan isi kontrak yang sudah kau tanda tangani? Raga dan waktumu adalah milikku sepenuhnya. Tidak boleh ada pria lain yang menyentuhmu, bahkan seujung kuku pun!"

"Dia hanya ingin berbicara, Tuan!" bantah Viona, mencoba mempertahankan harga dirinya yang selalu diinjak-injak oleh ego sang CEO. "Reno tidak tahu apa-apa tentang hubungan kontrak kita. Dia hanya mengkhawatirkan saya setelah keluarga saya hancur akibat utang!"

Cengkeraman Arkan berpindah ke dagu Viona, mengangkatnya dengan sedikit tekanan agar wanita itu tidak bisa berpaling. "Aku tidak peduli dengan alasannya. Yang aku tahu, kau adalah wanita simpananku. Tugasmu hanyalah patuh dan melayaniku, bukan memberi ruang bagi masa lalumu untuk kembali mengusik. Uang ratusan juta yang kukirimkan setiap bulan untuk pengobatan ibumu seharusnya sudah cukup untuk membeli seluruh kesetiaanmu!"

Kata-kata tajam itu menghunjam tepat di ulu hati Viona, memicu rasa sesak yang luar biasa. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata bulat besarnya yang sendu, namun ia sekuat tenaga menolak untuk meneteskannya di depan pria arogan ini. Viona tahu, di mata Arkan, hubungan mereka hanyalah sebatas transaksi bisnis dan pemuas gairah belaka. Tidak ada ruang untuk perasaan atau empati.

"Anda bisa membeli tubuh saya, Tuan Mahendra. Tapi Anda tidak akan pernah bisa mendikte pikiran atau masa lalu saya," balas Viona dengan suara bergetar namun sarat akan keteguhan.

Senyum miring yang meremehkan terukir di bibir kokoh Arkan. "Kau menantangku, Viona?"

Sebelum Viona sempat menjawab, Arkan menarik tubuh ramping wanita itu ke dalam pelukannya secara kasar. Sentukan fisik yang mendadak itu memicu luapan gairah yang membara, sebuah ketegangan konstan yang selalu mengikat mereka berdua dalam hubungan terlarang ini. Arkan mendaratkan bibirnya di leher jenjang Viona, memberikan kecupan-kecupan menuntut yang sengaja meninggalkan tanda kemerahan di kulit putih bersih wanita itu.

"Lepas, Tuan...!" Viona mencoba mendorong dada bidang Arkan, namun tenaganya sama sekali tidak sebanding dengan proporsi tubuh atletis sang CEO yang mendominasi.

"Jangan pernah mencoba lari atau menolakku, Viona. Sangkar emas ini adalah duniamu sekarang," bisik Arkan posesif di sela-sela sentuhannya, mengabaikan penolakan Viona dan menuntut kepatuhan mutlak malam itu.

Keesokan paginya, sinar matahari menembus celah gorden kamar, membawa kehangatan yang kontras dengan suasana hati Viona. Arkan sudah pergi sejak subuh karena urusan bisnis luar kota, meninggalkan penthouse dalam keadaan sepi. Viona bangun dengan tubuh yang terasa lelah dan hati yang kian rapuh. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi; tanda kemerahan di lehernya menjadi bukti nyata dari keposesifan Arkan yang tak terkendali.

Dengan cekatan, Viona memakai foundation tebal untuk menutupi tanda tersebut sebelum mengenakan pakaian kerjanya. Hari ini ia harus tetap bersikap profesional di kantor Mahendra Group sebagai staf biasa yang tidak terlihat.

Sesampainya di kantor, Viona mencoba menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas administrasi Divisi Manufaktur. Namun, sekitar jam makan siang, suasana kubikelnya mendadak riuh. Beberapa staf wanita di dekatnya mulai berbisik-bisik sambil menatap layar ponsel mereka.

"Lihat ini, Nona Clarissa baru saja mengunggah foto makan malam keluarga bersama Tuan Arkan di akun sosial medianya," ucap salah satu rekan kerja Viona dengan nada antusias. "Mereka terlihat sangat serasi. Kabarnya tanggal pernikahan mereka akan segera diumumkan."

Viona yang tidak sengaja mendengar percakapan itu menghentikan gerakan jemarinya di atas papan ketik. Dadanya mendadak terasa dihantam oleh batu besar. Rasa cemburu dan sakit hati menyergapnya secara tiba-tiba, memicu luapan emosi yang coba ia sangkal selama ini. Viona dipaksa sadar kembali akan posisinya; di siang hari Arkan adalah milik publik dan tunangan resminya, sementara dirinya hanyalah rahasia kelam yang terkurung di malam hari.

"Viona, kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali," tanya seorang rekan kerja di sebelahnya, menyadari perubahan ekspresi Viona.

Viona memaksakan sebuah senyuman tipis. "Ah, ya. Saya hanya sedikit pusing karena kurang tidur semalam. Saya izin ke toilet sebentar."

Viona bergegas berdiri dan berjalan menuju toilet karyawan. Di dalam bilik yang sepi, ia akhirnya membiarkan air matanya runtuh. Rasa angst atau penderitaan mental ini terasa begitu menyiksa. Tanpa ia sadari, dinding pertahanan hatinya telah bobol; ia telah jatuh cinta pada pria sedingin es yang tidak boleh dan tidak akan pernah ia miliki.

Malam kembali menjemput. Viona kembali ke penthouse mewah dengan perasaan hampa. Ia duduk di ruang tengah yang luas, sengaja tidak menyalakan lampu, membiarkan kegelapan malam menemaninya. Pintu depan terbuka sekitar pukul sembilan malam, menandakan Arkan telah kembali dari perjalanan bisnisnya.

Arkan menyalakan lampu utama, dan langkah kakinya langsung terhenti saat melihat Viona duduk diam di sofa dengan tatapan kosong. Pria itu meletakkan tas kerjanya, lalu berjalan mendekat.

"Kenapa duduk di kegelapan?" tanya Arkan, nada suaranya tidak sedingin semalam, namun tetap terdengar tegas.

Viona menatap Arkan, lalu teringat akan foto pria itu bersama Clarissa yang dilihatnya siang tadi. Ego dan rasa sakit hatinya membuat Viona bersikap lebih berani dari biasanya. "Saya hanya sedang berpikir, Tuan Mahendra. Sampai kapan kontrak gila ini akan berlangsung? Bukankah pernikahan Anda dengan Nona Clarissa sudah semakin dekat?"

Pertanyaan itu membuat rahang Arkan kembali mengeras. Ia benci jika Viona mulai mempertanyakan batasan hubungan mereka atau membawa-bawa nama Clarissa ke dalam ruang privat mereka. Arkan melangkah maju, mencengkeram lengan Viona dan menariknya berdiri hingga mereka saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat.

"Sudah pernah kukatakan padamu, Viona. Jangan pernah lancang mencampuri urusan pribadiku di luar sangkar ini. Hubunganku dengan Clarissa adalah urusan bisnis keluarga, sedangkan kau adalah urusan gairah dan kepemilikanku," ucap Arkan dengan tatapan mata hitam kelam yang menuntut kepatuhan penuh.

"Tapi saya manusia, Arkan! Bukan benda mati yang bisa Anda simpan dan Anda pakai sesuka hati saat Anda bosan!" pekik Viona, air matanya akhirnya pecah, meluapkan seluruh rasa sesak yang tertahan di dadanya. Untuk pertama kalinya, ia memanggil nama pria itu tanpa embel-embel 'Tuan'.

Melihat air mata Viona dan mendengar luapan emosinya, ada sesuatu yang bergetar di dalam dada Arkan—sebuah perasaan asing yang menolak ia akui sebagai cinta. Sifat posesifnya mendadak membara melihat kerapuhan wanita di depannya. Bukannya melepaskan, Arkan justru semakin mendekap tubuh Viona erat, mengunci pergerakan wanita itu dalam pelukan dominannya.

"Kau tidak akan ke mana-mana, Viona. Tetaplah di sini, di bawah kendaliku," bisik Arkan rendah, sebelum akhirnya membungkam bibir Viona dengan ciuman yang penuh gairah dan tuntutan possessif, menenggelamkan konflik benci dan cinta mereka ke dalam malam yang kian larut.

1
Aysah Meta
Ya tuhan Buu..bisanya kau nolak anak mu,Viona!!Banyak hal sdh dia lalui..Krn km,dia melakukan ini semua.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.
Aysah Meta
Akhirnyaa up juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!