"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"
Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.
"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"
baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Rama terdiam cukup lama setelah mendengar permintaan Rava. Di kamar rumah sakit itu, hanya suara detik jam dinding dan napas berat Rava yang terdengar. Wajah anaknya tampak lemah, tapi di balik tatapan sayu itu ada harapan besar yang sulit diabaikan.
“Pa… aku cuma pengin sementara aja. Sampai aku bisa jalan normal lagi,” suara Rava lirih tapi tegas. “Mama nanti ikut Papa Fahri ke luar negeri. Aku nggak mau sendiri di rumah. Cantika juga lagi hamil. Aku takut malah nyusahin dia.”
Rama menatap putranya dalam-dalam. Ada rasa iba yang menyesak di dada. “Kamu nggak perlu khawatir soal itu, Va. Kalau kamu mau, Papa bisa carikan asisten rumah tangga buat bantu Cantika. Jadi kamu tetap di rumah kamu sendiri.”
Rava menggeleng perlahan, menatap ayahnya dengan sorot mata memohon. “Beda, Pa. Rumah Papa lebih luas, ada sopir, ada pembantu. Kalau malam aku butuh sesuatu, atau ada darurat lebih gampang. Lagian, aku kan anak Papa juga…”
Kalimat terakhir itu menampar perasaan Rama. “Anak Papa juga.”
Ya, benar. Rava adalah darah dagingnya—meskipun hubungan mereka kini dipenuhi jarak dan bayang-bayang masa lalu yang tak tuntas.
Rama terdiam. Ia tahu, permintaan Rava bukan sekadar soal kemudahan. Di balik alasan praktis itu, ada sesuatu yang lain—mungkin keinginan untuk kembali dekat dengannya, atau… dengan Citra.
“Papa pikirkan dulu ya, Va,” ucap Rama pelan, berusaha menenangkan diri. “Papa juga harus bicara sama Citra. Sekarang kamu istirahat aja dulu.”
Rava menatap ayahnya penuh harap. “Kalau Citra nggak setuju, aku tetap boleh, kan, Pa?”
Rama tak langsung menjawab. Ia hanya menepuk bahu anaknya pelan, lalu berdiri. “Besok kamu boleh pulang, ya. Istirahat yang cukup.”
Saat Rama berjalan keluar kamar, Rava hanya menatap punggung ayahnya yang semakin menjauh. Di matanya, tersisa seberkas harapan yang menggantung di udara. Semoga Papa mau membujuk Citra…
Di perjalanan pulang, kepala Rama terasa berat. Jalanan sore yang padat tak membantu menenangkan pikirannya. Ia memegang setir mobil dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menekan pelipis.
“Bagaimana kalau Citra menolak?” pikirnya dalam hati. "Lagi pula, Rava juga anakku. Aku enggak mungkin mengabaikan permintaan Rava. Apalagi dia sedang sakit begini... Ya Tuhan... Cobaan apa lagi ini?"
Ia tahu betul luka di hati Citra belum benar-benar sembuh. Dulu, perempuan itu dipermalukan habis-habisan oleh Rava—anaknya sendiri. Dan kini, bagaimana mungkin ia meminta Citra tinggal serumah dengan orang yang dulu membuatnya menangis di pelaminan?
Rama mengembuskan napas panjang. “Aku harus gimana sekarang? Ambil putusan mana pun, semuanya berat.... Satu sisi anak lelakiku sedang sakit, sedangkan satu lagi istriku yang dulu pernah menjalin hubungan dengan Rava... Aku harus gimana?”
Sesampainya di rumah, Rama sengaja mampir ke toko bunga kecil di dekat kompleks. Ia membeli satu buket mawar putih—favorit Citra. Entah untuk melunakkan suasana atau sekadar mengingatkan dirinya bahwa masih ada cinta yang harus dijaga.
Malam turun perlahan. Di halaman belakang rumah, lampu taman temaram menerangi kolam renang kecil. Citra duduk di pinggiran, kakinya bermain di air, sementara Rama datang membawa bunga di tangannya.
“Untuk siapa, nih?” tanya Citra sambil tersenyum menggoda.
Rama duduk di sebelahnya, menyerahkan buket itu. “Untuk istri cantikku yang selalu sabar menghadapi suami keras kepala.”
Citra tertawa kecil, lalu menerima bunga itu dengan tatapan lembut. “Keras kepala sih iya, tapi romantis juga ternyata.”
Mereka berbincang ringan malam itu. Tentang pekerjaan, tentang tanaman yang baru tumbuh di halaman, tentang kenangan kecil yang mereka bangun bersama. Suasana begitu tenang, sampai akhirnya Rama memutuskan untuk membuka topik sebenarnya.
“Citra…” suaranya pelan, tapi cukup membuat wanita itu menoleh.
“Ada apa, Mas?”
Rama menatap air yang beriak lembut di bawah pantulan bulan. “Besok Rava keluar dari rumah sakit.”
Citra mengangguk pelan. “Syukurlah. Aku dengar dari kabar, lukanya cukup parah.”
Rama mengangguk, lalu melanjutkan dengan hati-hati, “Rava minta izin tinggal di rumah ini sementara waktu.”
Citra tertegun. Tangannya berhenti mengusap bunga di pangkuan. Wajahnya kehilangan senyum.
Rama tahu ini momen yang berat. Tapi ia tak menambahkan apa pun lagi. Ia memilih diam, memberi waktu bagi Citra mencerna.
Angin malam berhembus pelan, membawa aroma kolam dan bunga melati di halaman. Tak ada jawaban malam itu. Citra hanya menunduk, menatap pantulan wajahnya di air yang bergetar.
kalo dah ditinggal pegi..
gigit jari bakalan lani
klao kehilangan 2 suami
meninggal Juni 2012
😭😭