Ini kisahku. Tentang penderitaan dan kesakitan yang mewarnai hidupku. Kutuangkan dalam kisah ini, menjadi saksi bisu atas luka yang sengaja mereka perbuat padaku sepanjang hidupku.
Karina, lahir dari seorang ibu yang pemabuk sejak ia masih kecil. Menikahi pria yang sangat ia cintai tak kalah buruk memperlakukan Karina. Di tambah sang mertua yang tak pernah berpihak padanya. Hingga satu tragedi telah mengambil penglihatannya. Karina yang mengalami kebutaan justru mengalami perlakuan buruk dari suami dan mertuanya.
Namun seorang pria tak di kenal telah membawanya keluar dari kegelapan. Yang tak lain pria yang sama yang merenggut penglihatannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 31
Ava membaringkan Karina di atas tempat tidur, lalu memanggil Dokter. Ia khawatir terjadi apa apa dengan Karina. Setelah Dokter memeriksa Karina di nyatakan baik baik saja, hanya bagian dada saja yang memar akibat tendagan kaki Zahra.
"Karina, apa masih sakit?" tanya Ava duduk di tepi tempat tidur. Membenarkan rambut Karina yang menghalangi wajah cantiknya.
"Tidak apa apa, terima kasih mas. Kalau tidak ada mas, aku tidak tahu apa jadinya." Karina bangun lalu duduk di atas tempat tidur. Menundukkan kepalanya sesaat. Ia merasa semakin menyusahkan orang lain. Tapi apa yang bisa di lakukan orang buta seperti dirinya?
"Hei, kau tidak perlu sedih. Semua akan membaik, aku pasti mengobati matamu sampai sembuh. Bersabarlah Karina, jangan kau perlihatkan wajah sedihmu."
"Mas, aku-?"
"Sssttt! Ava meletakkan satu jarinya di bibir Karina. " Jangan bicara apa apa, sebaiknya kau istirahat."
Ava kembali membaringkan tubuh karina lalu menyelimutinya. "Kau istirahat, aku akan menjagamu di luar."
Karina menganggukkan kepalanya, dan berusaha memejamkan matanya. Sejenak untuk melupakan rasa sesak di dalam dadanya.
"Bagaimana kalian bisa sekejam itu padaku," gumam Karina pelan.
**
Di sore hari, Ava memutuskan untuk menikahi Karina. Setelah ia pikirkan matang matang resiko yang akan dia hadapi nanti. Dia sudah siap untuk ke depannya menghadapi berbagai rintangan. Ava berpikir, satu satunya jalan menikahi Karina supaya wanita itu terhindar dari gangguan Pramudya atau Akexis yang mungkin akan mengambil Karina secara paksa. Dia tahu betul bagaimana Alexis.
Setelah perenungan yang panjang hingga berjam jam, akhirnya Ava memberanikan ungkapkan niatnya pada Karina.
"Karina."
Ava membawa Karina duduk bersama di taman rumahnya.
"Mas Ava, ada apa? kenapa kau membawaku kemana?" tanya Karina menggenggam erat tangan Ava.
"Di taman Karina."
"Ada apa mas?" tanya Karina.
"Aku ingin bicara yang sangat penting, tapi kau jangan marah Karina." Ava menarik napas dalam dalam, mengumpulkan keberaniannya untuk bicara.
"Ada apa?"
"Maukah kau menjadi istriku?" tanya Ava menatap dalam wajah Karina.
"Istri?"
"Ya."
Karina terdiam, ia akui Ava sangat baik dan perduli. Tapi untuk menjalin hubungan lagi dengan pria lain, rasanya Karina masih takut. Kenangan buruk tentang Pram sangat mengganggu mentalnya.
"Mas Ava..."
"Ya, Karina. Bagaimana?" tanya Ava sudah tidak sabar menunggu jawaban Karina.
"Maaf mas, aku tidak bisa."
Ava terdiam, ada rasa kecewa di hatinya. Namun ia kembali mengingat hari hari buruk Karina selama ini. Ava coba mengerti dan menerima keputusan Karina.
"Mas Ava.."
"Karina, jika itu keputusanmu. Tidak masalah, aku bisa mengerti."
"Mas Ava, terima kasih."
"Iya," sahut Ava. "Ayo masuk ke dalam, hari mulai gelap."
Ava menarik tangan Karina supaya berdiri lalu menggendongnya. Karina menjerit kecil, lalu melingkarkan tangannya di leher Ava.
"Kapan kau akan melunasi hutang Widia? kalau kau hanya mengurusi wanita itu."
Ava menoleh ke arah suara, nampak Alexis berjalan mendekatinya.
"Tuan Alex, kau?" sapa Ava.
"Aku takut," bisik Karina pelan semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku mau bicara, Alfarezi!" ucap Alexis dengan nada tinggi menatap ke arah Karina yang memeluk erat Ava. "Empat mata saja."
"Baik," sahut Ava melirik ke arah Karina sesaat. "Aku antar karina ke dalam dulu."
Alexis hanya diam memperhatikan Ava menggendong Karina masuk ke dalam rumah. Hatinya berdesir panas, ada rasa cemburu melihat kedekatan Ava dan Karina. Benih cinta hadir tanpa di undang di relung hati Alexis yang paling dalam. Karunia Yang Maha Kuasa untuk seluruh mahluk. Tak lama Ava kembali dari dalam rumah menemui Alexis.
"Ada apa?" tanya Ava.
"Tidak di sini, kau ikut aku." Alexis balik badan melangkahkan kakinya mendahului Ava.
Ava sempat tertegun, ada yang aneh dengan permintaan Alexis yang ingin bicara empat mata. Namun pada akhirnya, Ava menyusul Alexis yang sudah menunggunya di dalam mobil.
moga tidak ya klu iya gk semangat lagi baca nya