NovelToon NovelToon
Ayah Darurat Untuk Janinku

Ayah Darurat Untuk Janinku

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Hamil di luar nikah / Konflik etika / Nikah Kontrak / Menikah Karena Anak / Ayah Darurat / Tamat
Popularitas:326.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Sheninna Shen

Notes : zona dewasaaaaaa!

“Om nikahin temenku ya? Ntar dapet istri sekaligus anak di hari pertama kalian menikah!”

Ide gila yang muncul dari Tari, membuat masa depan Lea yang hancur lebur menjadi indah.

Siapa sangka? Luca, pria yang Lea nikahi sebagai ayah darurat dari janinnya, telah merubah kehidupannya menjadi lebih berwarna dan berarti.

Akankah Luca menutup mata dengan siapa ayah kandung dari janin di perut istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Menahan Diri

..."Sejak kemaren aku nahan diri untuk tetap terlihat baik-baik aja, tapi ternyata?" — Eleanor Lunette...

Keesokan harinya, Luca berangkat ke kantor dan meninggalkan Lea sendiri di rumah.

Tak lama setelah Luca berangkat kerja, Tari datang ke apartemen dan menemui sahabatnya yang sedang bunting.

Ting tong!

Ting tong!

Ting tong!

Ceklek!

"Sabar Tariiiiiii." Lea menggigit bibir sambil mempelototi sahabatnya itu. "Lo liat nih, perut gue mulai buncit. Ga bisa buru-buru."

"Sorry, Le." Tari cengengesan sambil mencubit gemas kedua pipi sahabatnya.

"Hellooowww, Adekkkk," Tari memegang perut Lea yang sudah mulai buncit. "Kakak Tari dateng nih."

Lea menepuk tangan Tari. "Ayok."

"Sekarang?" Tari melihat ke arah sahabatnya, menatap gadis itu dari atas sampai bawah. "Lo nggak mau dandan?"

"Kata Kak Luca, kek gini aja gue udah cantik." Lea mencebik. Kemudian ia berjalan menuju ke arah kamar tidurnya.

"Iya, cantik di mata Om gue. Tapi belom tentu cantik di depan pelakor!" celetuk Tari sengit. Membuat Lea kembali teringat dengan tujuannya hari ini. "Inget Le. Mau secantik apapun istri sah, lebih cantikan pelakor. Setidaknya lo tampil lebih cantik dari biasanya."

Memang, Tari itu si paling jago menjadi kompor. Andai ada Dimas di sana, mungkin lebih berisik. Tapi keduanya belum ingin mengatakan kepada Dimas. Mereka ingin memastikan kebenaran dengan mata kepalanya sendiri, baru setelah itu mereka ceritakan kepada Dimas.

"Gimana mau dandan, orang gue lagi hamil gini."

Lea terlihat sedih saat melihat pantulan dirinya di depan cermin. Ia mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit. Dalam kondisi berbadan dua, ia tak bisa mengenakan celana jeans yang ketat seperti dulu lagi. Ia juga tak bisa mengenakan heels kesukaannya.

"Le, pake dress aja. Gue paling suka liat lo pake dress. Terus ntar rambut lo di kiwil-kiwil. Dandan! Itu point pentingnya. Kalo perlu, lo pake deh lipstick merah! Biar ada badas-badasnya dikit."

Mendengarkan cerocosan Tari, Lea pun bergegas mengganti dress yang paling bagus menurutnya, kemudian ia memoles wajahnya secantik mungkin dan tentunya tidak menor. Sementara itu, Tari membantu mencatok rambut sahabatnya yang sedang dandan.

"Kemaren, lo jadi cek hp Om gue?"

Lea memakai cushion dengan lembut ke wajahnya. "Jadi."

"Terus? Ketemu harta karun?" Tangan Tari dengan lihai menggunakan catokan di rambut panjang milik sahabatnya.

"Nggak ada yang mencurigakan. Semua pesan yang gue liat, tentang kerjaan."

"Panggilan masuk? Galeri?"

"Ada sih."

"Apa? Huh?" Tari melihat ke arah Lea melalui cermin meja rias.

"Kebanyakan foto gue di dalamnya."

"Masa sih?" Tari memonyongkan bibirnya sambil melakukan gerakan ke kiri dan ke kanan. "Sejujurnya, gue antara percaya ga percaya sih Om gue selingkuh. Tapi ... tuh foto bikin gue percaya."

Lea hanya diam dan menghela nafas panjang. Ia sudah lelah berasumsi berlebihan sejak kemarin. Berusaha untuk bertenang di samping pria itu, meski semalaman sulit untuk memejamkan mata. Hari ini, ia berharap ada titik terang yang dapat menunjukkan kejadian yang sebenarnya.

...🌸...

Ting!

Pintu lift terbuka. Lea dan Tari berjalan keluar dari lift dengan langkah yang sangat percaya diri.

Gadis yang berambut coklat separas bahu itu mengangkat kepalanya. Matanya berkeliling mencari sosok yang sama dengan di foto yang sahabatnya terima. Tangannya pun tak lepas menggenggam tangan Lea, seolah sudah bersiap sedia menjadi garda depan untuk menyelamatkan sahabatnya, apapun yang terjadi.

Di saat kedua gadis itu berjalan menyusuri ruang perkantoran yang dipenuhi meja dan karyawan yang sedang sibuk, semua mata tertuju pada keduanya. Mereka menatap keduanya dengan tatapan yang ... seperti tak asing? Tapi mereka tak ingat, pernah melihat kedua orang itu di mana?

"Permisi," ucap Lea lembut. Bibir sensualnya yang dipoles lipstick ombre bergerak dengan indah, membuat pria yang Lea hampiri sampai terpesona akan kecantikannya. Dan, tak ada yang tahu bahwa saat itu Lea sedang hamil, karena dress longgar yang ia kenakan, membuat perut buncitnya tak begitu terlihat. Terlebih lagi usia kandungannya masih

"Ruangan Pak Luca, di mana ya?"

"Oh, itu," ucap pria tadi sambil menunjuk lurus ke depan. "Tapi, ada perlu apa ya? Sudah bikin janji?"

"Belum," jawab Tari sendat. "Emang perlu?"

"Iya. Bikin janji dulu dengan Mbak Sherly. Karena, Pak Luca tidak suka dengan pertemuan mendadak."

"Ayok, Le. Kita serang pria itu." Tari menarik tangan Lea dengan sangat berani. Membuat semua mata tertuju ke arah mereka dengan tatapan yang takut-takut. Bahkan ada yang dengan sengaja berdiri untuk melihat apa yang terjadi karena kedua orang itu dengan berani masuk ke ruangan Luca tanpa mengetuk pintu.

"Om Luca?" Tari membuka pintu tersebut tanpa mengetuk terlebih dahulu.

Dan ... pemandangan di dalamnya ... membuat kedua gadis itu terbakar emosi. Terlebih Lea, ia benar-benar tak lagi bisa menahan diri untuk bersikap anggun.

"Kalian ngapain?!" Bentak Lea sambil melepaskan genggaman tangan Tari. Nafasnya terlihat menggebu-gebu dengan aura wajah yang sangat gelap.

Pada saat itu, Luca terlihat sedang duduk di kursi kerjanya, sementara Sherly terlihat sedang berjongkok di depan Luca. Dan posisi itu sangat rentan, membuat mata siapapun memandang menjadi salah paham.

Sherly tergesa-gesa bangun dari jongkoknya sambil memegang tisu di tangan, membuat Lea dan Tari memikirkan hal-hal vulgar yang tak seharusnya terjadi antara wanita itu dengan pria beristri.

"Sayang." Luca langsung berdiri dari duduknya, melewati Sherly yang masih berdiri di samping tempat duduknya dengan wajah yang pucat.

"Apa? Salah paham?!!!" Lea melangkah mundur sambil merogoh tas yang menggantung di bahunya.

"Sejak kemaren aku nahan diri untuk tetap terlihat baik-baik aja," Lea mengambil amplop coklat yang ia terima kemaren, kemudian ia keluarkan semua foto-foto yang ada di dalam, lalu ia lemparkan dengan sekuat tenaga tepat di wajah Luca. "Tapi ternyata, semua yang ada di foto ini bukan sebuah kebohongan!"

Luca terbelalak kaget saat melihat semua foto-foto yang melayang berjatuhan di atas lantai. Semua foto-foto itu terlihat seperti ada sesuatu antara ia dan Sherly. Padahal, hubungan mereka tak sejauh itu.

"Nyonya, ini nggak seperti yang terlihat. Tadi saya menumpahkan air dan berusaha mengeringkannya."

"Pekerjaan? Pekerjaan menggoda suami orang?! Iya?!!!" hardik Lea dengan luapan emosi yang sudah di ubun-ubun sejak tadi.

"Dan tumpahan air yang ada di paha suami gue, lo lap juga?!!!" Lea menatap celana Luca yang basah tepat di paha saat itu.

"Sengaja 'kan numpahin air ke paha suami gue?! Kebelet lo megang paha suami gue?!!!"

"Dan foto itu, lo 'kan yang kirim? Biar gue terpancing untuk ke kantor, terus lo goda suami gue?!"

"Le, inget perut." Tari memegang kedua bahu Lea agar sahabatnya tak berlarut-larut dalam emosi. Yah ... meskipun saat itu ia ingin sekali menjambak rambut si pelakor itu.

"Sayang, tenangin diri dulu. Setelah itu kita duduk bareng dan saya akan menjelaskan semuanya. Ya? Kasian anak kita." Luca berusaha merebut tubuh istrinya dari pegangan keponakannya, tapi tangannya di tepis dengan kasar oleh Lea.

Di saat yang sama, semua karyawan yang sejak tadi menonton kejadian yang tak dapat dilewatkan itu, mereka bergegas kembali ke tempat duduk karena tatapan mata Luca. Tatapan yang seolah memberikan isyarat 'lanjutkan pekerjaan kalian!'.

...🌸...

...🌸...

...🌸...

...Bersambung .......

1
Azmy
lea lea jadi perempuan gampangan banget suami bru meninggal udah mau aja di cium2 sama laki lain,tidur bareng lagi murahan amat
Azmy
itulah salahnya mereka masa membiarkan anak perempuan satu kamar sama laki2 apa nggak takut kalo misalx ank di perkaos gtu
Azmy
ih seharusnya yg ngurus lea tari aja kan mereka sahabatan ini kok malah gerry yg notabennya laki2
Azmy
bukankah awal cerita warna mata luca coklat ya thor kok sekarang berubah jadi biru
Aida Rayhan
malah aku jadi malas lanjutinya.
Aida Rayhan
wah kayaknya anak luca sendiri
Nabil Az Zahra
mungkinkah pasien kritis yg dokter sebut itu luca?
Nabil Az Zahra
aku kok mlh mkir ini ulah kinan ya,, 🤔
IRMA ANISA
Kasian banget, untung cuma novel. kalo bneran buat gue ajah, mau kog gue nampung yayang Geri😅
ardan
bagus sayangnya chapternya sedikit
Wisnu Mahendra
saya tebak, yg ngamilin lea itu si luca, tapi yg nganter pulang si gerry
mimief
Sherly ya..kyknya sekretaris nya ini
mimief
wkwkwkwk
terkadang takdir selalu mempunyai cara untuk menertawai kita bukan?
mimief
kok..aku yg nyesek ya liat interaksi mereka
mimief
wkwkkwk...
syok Mak nya
mimief
kyknya Luca juga ga sadar..udah ngelepas keperjakaan nya.
tapi herannya siapa yg ngenter malam itu
mknya pas inget akhirnya dia mau aku aja nikahin lea
mimief
ponakan luknut😔🥺🤣
karinaefraim78_
pelukan luca taa? kok leaa😭😭😭
karinaefraim78_
😭😭😭😭
Nining Chili
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!