Menyukai seseorang itu bukan hal baru untuk Bagas, boleh dibilang ia adalah seorang playernya hati wanita dengan background yang mumpuni untuk menaklukan setiap lawan jenis dan bermain hati. Namun kenyataan lantas menamparnya, ia justru jatuh hati pada seorang keturunan ningrat yang penuh dengan aturan yang mengikat hidupnya. Hubungan itu tak bisa lebih pelik lagi ketika ia tau mereka terikat oleh status adik dan kakak.
Bagaimana nasib kisah cinta Bagas? apakah harus kandas atau justru ia yang memiliki jiwa pejuang akan terus mengejar Sasmita?
Spin off Bukan Citra Rasmi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hipertenlove ~ Bab 31
Tatapan nyalang Sasi berubah jadi dingin pada amihnya. Orang-orang salah, ia yang paling tau siapa amihnya...dan saat ini, amih belum berubah menurutnya. Ia hanya mengendurkan sabuk demi mengencangkannya lebih kencang lagi.
Dan ia, tidak sama seperti a Bajra, tidak sama seperti a Candra, apalagi teh Rashmi. Sasi...memiliki caranya sendiri untuk menghadapi amih Sekar Taji.
"Sasi berhak menolak. Nasib Sasi bukan di tangan amih...Sasi berhak menentukan takdir Sasi sendiri."
Sama halnya dengan Sasi, alis amih mulai menukik kali ini. Ia akui, diantara keempat anaknya, Sasi memang berbeda, ia seperti cerminan....dirinya.
"Kamu ngga tau yang baik dan terbaik, Arum Sasmita..." jawab amih sudah menaik turunkan nafasnya.
"Baik menurut amih atau baik menurut Sasi, belum tentu baik menurut Allah...apa amih dewa? Apa amih Tuhan? Sasi mau jika memang Sasi mau lakuin...tapi Sasi menolak jika Sasi memang mau menolak."
Gadis itu segera memakai bajunya dan keluar dari kamar, meninggalkan amih.
"Neng Sasi!"
"Sasmita!"
"Amih tetep hukum neng, karena kesalahan neng Sasi hari ini. Besok, setelah keluarga kasepuhan pulang...amih mau neng Sasi mondok di paviliun buat latihan jaipong seharian, tanpa hiburan atau alat komunikasi."
Teriaknya, namun Sasi menulikan diri. Ia berjalan cepat demi bergabung dengan yang lain.
Sasi langsung berbaur dengan obrolan Bagas, apih, nini dan aki.
Wilang ada disana, namun sepertinya ia memang tak berani muncul untuk mengganggu. Dari tempatnya ia hanya memperhatikan Sasi yang bertukar tatap dengan Bagas begitu bahagia.
"Kayanya tebakan kita sama, Lang...Sasi sama si akang Bagas ada apa-apanya..." Kemala melintasi Wilang dari dapur menuju ruang tengah, lalu menoleh dan tersenyum pada Wilang.
Wilang menggeleng, mengenyahkan pikiran negatif itu. Lagipula tak mungkin, Sasi dan Bagas adalah ipar...lagipula tak mungkin keluarga Kertawidjaja akan merestui itu, mengingat bagi mereka hal itu adalah tabu.
Sasi berdadah ria saat Bagas yang memilih untuk memesan ojek online itu keluar dari pagar, padahal apih sudah menawarkan mobil dan mang Ujang, begitu pun mang Ujang sendiri.
"Masuk neng." ajak apih yang langsung beristighfar ria sebab hari ini cukup melelahkan untuknya.
"Gendong..." pinta Sasi yang nyatanya sudah melilitkan kedua tangannya di leher apih, "aduh neng astagfirullah!" aduh apih dihadiahi gelak tawa apih. Tak urung apih benar-benar menggendong Sasi layaknya anak mon yet masuk ke dalam.
Sikap kekanakan itu mengundang gelak tawa yang lain juga, meski tidak termasuk amih yang justru menegur Sasi, "neng...itu apih nanti encok...ngga inget berat badan."
Alih-alih mengiyakan ucapan yang istri, apih justru beralih menggendong Sasi ala pengantin baru, "yeuhhh apih dapet anak gadis!" serunya memancing tawa Sasi lebih kencang lagi.
Nini, aki bahkan para ambu ikut tertawa. Selalu, adegan ayah dan anak dari keduanya selalu membuat siapapun iri.
"Udah siap dijodohkan itu, Mar..." ucap raden aki. Dan Sasi menoleh cepat demi mendengar ucapan aki, "ih aki...apa-apaan. Udah ngga jaman jodoh-jodohan, emangnya jaman siti nurbaya?!" sewotnya turun dari gendongan apih, keduanya menyudahi bonding ala Sasi dan apih dengan apih yang memijit pinggangnya seraya meringis, "makan apa kamu neng, makin berat aja."
"Dikasih batu sama bi Sekar kayanya, mang." Kekeh Kemala ikut bergabung.
"Bagus, di usianya Sasi berisi, badannya bagus ngga kurus kaya kamu, Mala..." ujar sang ibu memantik desisan Kemala dan senyum amih.
"Eceu mah pasti pinter ngajarin Sasi sama Asmi jaga badannya, buktinya Asmi...udah lahiran aja badannya masih bagus, kaya eceu...anak 4 tapi ngga keliatan kaya lahiran normal." Puji ibu dari Mala, hingga akhirnya para ibu berlanjut bicara ngaler ngidul.
"Sasi dikasih batu, kamu kali-nya..." balas Sasi duduk di sofa tengah.
Kemala mendekatinya duduk di sofa, "Si.."
"Apa?" tanyanya malas.
"Yang tadi teh si akang Bagas kan, ya...berasa pangling, makin ganteng..." gemas Kemala, raut wajahnya saat bicara itu, sungguh membuat Sasi tak suka.
"Kenapa? Suka? Jangan lah. Sasi mah kasian sama kamu, a Bagas ceweknya banyak...mana cantik-cantik. Udah pasti kamu mah kalah saing."
Kemala berdecak, "masa? Kamu juga suka kan?" tembak Kemala sontak membuat Sasi menoleh horor, "so tau. Mana mungkin..." Sasi menampik, padahal ia sudah menggigit bibir bawahnya tanda jika ia sedang berbohong, sekaligus tak nyaman dengan pernyataan Kemala.
Kemala justru tersenyum usil, "emhhh, keliatan tau. Kamu suka kang Bagas..."
Sasi melotot ke arah Kemala singkat, "ngga."
Kemala berdecak kagum, "tapi kalo suka juga wajar sih, siapa juga yang ngga suka, apalagi suka barengan terus...kalo Mala jadi kamu, udah Mala tembak." ia tertawa seolah tak merasa berdosa bicara seperti itu.
"Ck. Ambil!" Jelas Sasi tidak sedang serius, ia sedang menutupi kenyataan itu dari Kemala, Sasi bergegas beranjak dari duduknya melangkah ke arah dapur.
Kemala tersenyum mendengus, "kena kamu, Si."
Sasi memencet tuas dispenser dengan gelas di bawahnya, membuat butiran air mengisi begitu deras gelas itu sampai setengah penuh.
Sasi meneguknya kemudian diam sejenak bermaksud menetralkan hatinya, sembari memandang lurus.
"Den rara."
Tak ada sahutan atau balasan Saai tanda jika gadis itu tengah melamunkan sesuatu sambil menggenggam gelas.
Wilang mengukir senyum, "den rara melamun? Pamali den, malam-malam begini ngelamun, lamunin apa?" tanya Wilang semakin menahan kedutan bibirnya saat Sasi justru bergumam tanpa suara dan menggeleng berkali-kali.
"Den."
"H--ha? Astagfirullah!" seru Sasi terkejut berhasil membuat Wilang terkekeh.
"Wilang ih! Ngagetin!" tepuknya di bahu Wilang.
"Den rara dari tadi saya sapa, tanya malah ngelamun."
"Pamali den..." wajah hitam manis yang memang benar-benar manis itu selalu menyapa dan menegur Sasi dengan lembut.
Sasi terkekeh renyah, "ck. Ngga lah...Sasi cuma lagi mikir aja..." ia menaruh gelasnya di pantry lalu duduk di kursi meja makan.
"Mikir apa den, sampe ngga denger saya tegur?" Wilang turut mengambil posisi di sebrang Sasi. Tutur katanya yang selalu sopan, ramah, dan empuk, persis-persis customer service.
"Mikir, kenapa orang-orang tuh selalu kepo urusan Sasi.." jawabnya ketus, dan Wilang langsung tak enak dibuatnya, namun Sasi langsung tertawa karena berhasil membuat Wilang merasa bersalah, ia senang...membuat Wilang begini sejak dulu. Pemuda manis nan jangkung satu ini memang terlampau lugu sejak dulu, makanya Sasi sangat senang menjahilinya.
"Maaf den, kalau saya lancang."
Sasi menepis udara, dimana nyamuk-nyamuk langsung tersingkir, "engga lah boong. Kamu tuh ya, Lang...masih aja."
"Oh iya, besok kamu sekolah di sekolah Sasi kan. Biasanya kalo anak baru tuh mesti di ospek dulu..."
Wilang mengangkat kedua alisnya saat kata ospek menggema di telinga, "oh iya? Ospek macam penerimaan siswa baru gitu? Masa den, kan udah lewat. Atau justru 'ospek' ?" Wilang menekuk kedua jemarinya bersamaan.
Sasi terkekeh begitupun Wilang yang mendengus, "masih jaman?"
Sasi mengangguk, pun dengan Gilang, "saya ngga takut den rara."
"Uhhh," seru Sasi.
"Yakin deh. Nanti kamu tuh jadi bintang, anak-anak pinter, famous pada kegeser pamornya..."
Wilang hanya tersenyum, di balik t-shirt navy itu, ada hati yang mengalir hangat. Saya tak butuh menggeser posisi siapapun di sekolah den rara. Hanya butuh menggeser satu nama di hati den rara saja. Tatapnya pada Sasi.
.
.
.
.
ini yg kami mau...
tapi aku team rahwana...