Nayla, gadis yang dibesarkan di panti asuhan harus bekerja keras memenuhi kebutuhan adik-adik pantinya. Suatu hari dia bertemu dengan wanita kaya raya yang menyuruhnya untuk menikahi putranya.
Awalnya Nayla menolak, karena dia sudah berjanji pada teman masa kecilnya. Tapi karena suatu keadaan dia terpaksa menyetujuinya.
Akankah kehidupan rumah tangga Nayla bahagia, ketika rumah tangga yang di bangun berusaha di rusak oleh sang mertua yang awalnya menjodohkannya?
Bagaimana nasib Nayla, saat sahabatnya berubah menjadi musuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai balas dendam
Nayla menatap ke arah Vita, dia berjalan mendekat ke arah meja mereka dan duduk di antara Alvin dan Vita. Vita menelan ludahnya dengan susah payah. Dia takut kalau Nayla akan memberitahu Alvin dan kakaknya tentang perbuatan yang dia lakukan.
"Vit, kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Nayla kepada sahabatnya itu.
"Ada apa, Vit?" kini giliran Fandi yang ikut bertanya.
"Ti...tidak," jawab Vita yang terdengar gugup.
"Apa kamu membuat kesalahan? Kenapa kamu terlihat gugup?" Alvin pun ikut bertanya karena melihat sikap aneh yang di tunjukkan oleh adik dari sahabatnya itu.
"Pak Alvin, Kak Ifan, mana mungkin Vita membuat kesalahan, diakan gadis baik," jawab Nayla di sertai senyum, namun justru membuat Vita merasa semakin ketakutan.
"Kamu benar, Nay. Adikku ini memang baik, cuma kadang dia ceroboh dalam bertindak," kata Fandi sambil mengusap kepala adik perempuannya.
"Kak, aku sudah besar jangan selalu memperlakukan aku seperti anak kecil" tukas Vita, Dia menyingkirkan tangan kakak lelakinya dari kepalanya.
"Ohya Al, apa yang ingin kamu katakan tadi. Sekarangkan Nayla sudah datang, cepat katakan!" seru Fandi.
Alvin menatap Nayla sebentar, kemudian dia menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya.
"Nay, kamu yang mau mengatakan pada mereka atau aku?" tanya Alvin kepada Nayla.
Fandi yang tidak mengerti maksud perkataan sahabatnya, hanya bisa menatap wajah Alvin dan Nayla bergantian.
"Ada apa ini? Apa ada yang kalian sembunyikan?" tanya Fandi. Dia merasa penasaran dengan sikap aneh yang di tunjukkan oleh dua orang di hadapannya.
Alvin mulai membuka suara, "Sebenarnya aku dan Nayla..."
"Kak Fandi, bukankah kak Fandi menyukaiku? Bagaimana kalau kita pacaran!"
Entah apa yang membuat Nayla mengatakan itu, dengan gampangnya dia mengajak Fandi untuk menjadi pacarnya.
Alvin menatap Nayla tajam, dia masih tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Bagaimana mungkin istrinya mengajak laki-laki lain untuk menjadi pacarnya.
"Nay, kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?" tanya Alvin diiringi tatapan tajamnya.
"Tentu saja, Pak. Bukankah, Kak Fandi dan aku sama-sama single, jadi apa salahnya jika kami pacaran."
Jawaban Nayla benar-benar membuat Alvin sangat geram, dia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.
Vita tersenyum bahagia mendengar jawaban Nayla barusan, tapi berbeda dengan Fandi. Dia justru merasa ada sesuatu yang Nayla sembunyikan, hingga dia harus mengatakan hal seperti itu.
"Jadi ini yang kamu pilih?" tanya Alvin dengan menatap kedua bola mata Nayla.
"Iya," jawab Nayla lirih, dia tidak berani menatap balik Alvin.
"Kalau begitu aku ucapkan selamat untuk kalian berdua," ucap Alvin. Dengan menahan segala kemarahannya, Alvin langsung pergi meninggalkan meja makan tersebut.
"Kak Al, tunggu!" Vita berlari menyusul Alvin.
Setelah kepergian Alvin, Nayla terduduk lemas, dia menelungkupkan kepalanya di atas meja, tangisnya pecah seketika.
"Nay, sebenarnya ada apa ini?" tanya Fandi kepada Nayla. Dia tahu kalau pasti ada sesuatu yang Nayla sembunyikan.
Nayla masih belum menjawab, dia masih saja menangis bahkan tangisnya makin terdengar memilukan.
"Nay," Fandi menarik tempat duduknya agar lebih mendekat ke arah Nayla. Dia menepuk-nepuk punggung Nayla pelan, berusaha memberikan ketenangan padanya.
"Nay, ceritalah! Setidaknya dengan bercerita kamu bisa sedikit lega!" suruh Fandi.
Nayla ingin sekali bercerita, tapi dia tidak mungkin menceritakan masalahnya kepada orang lain, apalagi Fandi.
#Flasback
Nayla mengetok pintu gudang dengan sangat keras saat tahu, kalau pintu itu di kunci dari luar.
"Tolong! Siapapun di luar, tolong bukakan pintunya!" teriak Nayla sambil terus mengetuk pintu tersebut.
"Tolong!!!" teriak Nayla berkali-kali. Namun hingga hampir satu jam dia berteriak, belum juga ada orang yang membukakan dia pintu. Dan di saat dia mulai pasrah, pintu itu tiba-tiba terbuka. Nayla begitu bahagia ketika pintu itu terbuka, senyum kebahagian terpancar dari bibir indahnya. Tapi senyumnya seketika lenyap saat mengetahui siapa orang yang membukakannya pintu.
"Nyo...Nyonya,"
Nayla menundukkan kepalanya saat tahu yang menolongnya adalah ibu mertuanya, Sarah.
"Terimakasih karena ibu membantuku keluar dari gudang ini," ucap Nayla dengan tetap menundukkan kepalanya.
"Jangan senang dulu, aku membantumu ke luar karena ada hal yang harus kamu kerjakan," ujar Sarah.
"Apa itu Nyonya?" tanya Nayla.
"Alvin sedang menunggumu di restoran yang ada di depan perusahaan. Dia ingin mengungkap status pernikahan kalian di depan Fandi dan Vita. Tapi, aku tidak menginginkan hal itu terjadi. Walau bagaimanapun, kamu harus bisa membuat Alvin tidak membuka status hubungannya denganmu. Terserah dengan cara apa, bahkan aku akan sangat bahagia jika kamu bisa membuat hati Alvin terluka," terang Sarah .
"Nyonya, sebelum aku melakukan hal itu, bisakah Anda memberitahuku alasan kenapa Anda ingin membuat putra Anda sendiri menderita?" tanya Nayla. Dia tidak pernah habis pikir kalau ada seorang ibu yang ingin sekali melihat putranya sendiri menderita.
"Baiklah, agar kamu tidak penasaran aku akan menjawabnya dengan jujur," Sarah sedikit memberikan jeda sebelum dia mengatakan sebuah kebenaran.
"Alvin adalah anak tiriku,"
Mata Nayla terbelalak mendengar pengakuan Sarah. Dia semakin terperangah saat mendengar penuturan Sarah yang berikutnya.
"Maksud Anda?"
"Aku ingat saat wanita bernama Rianti itu datang bersama dengan Hadinata dan Alvin yang masih bayi. Wanita itu minta maaf karena telah diam-diam menikah dengan suamiku. Dan dia datang memintaku untuk membesarkan anaknya, karena dia mengalami sakit parah. Saat itu aku hanya bisa menerima anak itu, karena aku sudah di vonis mandul oleh dokter. Di tambah mertuaku juga sangat menyukai Alvin yang masih bayi, tapi sejak saat itu aku sudah bersumpah untuk membalas semua yang wanita itu lakukan melalui anaknya. Selamanya aku tidak akan membiarkan Alvin hidup bahagia, sama seperti ibunya yang sudah merebut kebahagiaanku," tutur Sarah panjang lebar, bahkan dari tatapan matanya terlihat kalau dia menyimpan kebencian yang mendalam terhadap Alvin.
"Dan sekarang, aku ingin memulainya darimu. Buatlah agar Alvin merasakan penderitaan yang sama seperti yang aku rasakan. Buat hatinya terluka, kalau perlu 100 kali lipat dari rasa sakit yang aku rasakan!" seru Sarah.
"Tapi Nyonya..."
"Jika kamu menolak, maka penjara sudah menanti ibu pantimu!" ancam Sarah.
Ancaman yang sama, yang selalu dia ucapkan dan membuat Nayla tidak bisa menolaknya.
"Baiklah, aku akan lakukan sesuai perintahmu," jawab Nayla pasrah.
"Pergilah sekarang!" suruh Sarah.
Nayla segera berjalan meninggalkan gudang tersebut.
#Flashback off
Nayla mengangkat wajahnya, dia menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya. Dia menarik napas perlahan kemudian menghempaskannya. Hal itu dia lakukan berkali-kali, seolah dia sedang mengeluarkan segala beban di hatinya.
"Kak, bisakah Kak Ifan mengantarku ke ruamah ibu Retno? Aku ingin menenangkan diri di sana!" pinta Nayla.
"Tidak apa-apa, jika aku di pecat. Aku lebih memilih itu jika bisa," jawab Nayla dengan diiringi senyum. Senyum yang malah membuat Fandi menatapnya miris, karena dia tahu senyum yang Nayla tampakkan adalah senyum untuk menutupi kepedihan di hatinya.
"Al, aku tidak tahu ada hubungan apa antara kamu dan Nayla. Tapi aku yakin, kamu dan Nayla saling mencintai. Aku bisa melihat dari mata kalian berdua. Aku janji pada kalian berdua, aku pasti akan membantu kalian untuk bersatu," ucap Fandi dalam hati.
Fandi memang menyukai Nayla sejak dulu, tapi dia sadar kalau selama ini Nayla hanya menganggapnya seorang kakak. Dan hari ini, dia tahu siapa orang yang Nayla cintai.
Fandi menyuruh Nayla menunggunya di halaman restoran. Tidak lama berselang, Fandi sudah kembali tiba di hadapan Nayla dengan membawa mobil miliknya.
"Ayo, masuk!" seru Fandi dari dalam mobil. Nayla segera membuka pintu depan mobil milik Fandi dan segera menaiki mobil tersebut. Mobil itupun segera meninggalkan area restoran.
Dari semua pertengkaran tadi ada seorang wanita yang tersenyum puas melihatnya. Dia begitu bahagia melihat Alvin menderita.
"Lihatlah, aku sudah mulai bisa membalas sakit hatiku padamu, Rianti."
Siapa lagi wanita jahat yang menginginkan Alvin menderita, selain ibu tirinya, Sarah.
suka banget, walopun sebel banget sama karakter Vita di novel ini.. 😡
semoga sehat selalu ya kak..
mau baca karya2mu lainnya, bikin nagih soalnya..
semangat terus untuk berkarya ya kak.. 💪🏻😘🥰
APA -APAAN INI ???!!!
semoga bs baca ampe tamat.