Starla, putri kandung seorang pengusaha kaya yang tidak disayang memutuskan menerima tawaran seorang pria untuk dijadikan simpanan. Setelah empat tahun berlalu, Starla pun memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak diantara mereka lagi. Starla meninggalkan Nino begitu saja. Hingga pada akhirnya, Nino ternyata berhasil menemukannya dan mulai terus membayanginya dengan cara mendekati Kanaya, kakak tiri Starla. Nino, pria yang terbiasa dipuja-puja oleh banyak wanita, jelas tidak terima dengan perbuatan Starla. Seharusnya, dia yang meninggalkan wanita itu. Namun, justru malah Starla yang meninggalkannya.
Berbekal dendam itu, Nino awalnya berniat untuk mempersulit Starla. Siapa sangka, di tengah rencananya mendekati Kanaya, Nino menemukan sebuah fakta bahwa selama ini Starla tak pernah merasakan bahagia. Sedari kecil, hidupnya selalu dirundung kesusahan. Hak-haknya bahkan direbut.
Berawal dari rasa penasaran, Nino justru mendapati bahwa perasaannya terhadap Starla ternyata sudah berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Barang sisa
"Nino, maaf atas kejadian tadi," ucap Arlo tak enak kepada calon menantunya. "Starla memang seperti itu. Dia suka sekali mencari masalah."
Keduanya duduk di ruang keluarga sambil mengobrol dengan santai. Sementara, Kanaya dan Grace sedang beristirahat di taman belakang.
"Tadi, apa maksud Starla dengan dikirim keluar negeri tanpa diberi uang sepeser pun?" tanya Nino.
Wajah Arlo sedikit berubah tegang. Kedua telapak tangannya saling mengusap.
"Itu hanya salah paham," jawab Arlo. "Saat dia berada di luar negeri, Ibunya lupa mengirimkan uang bulanan untuknya. Itu sebabnya, dia menuduh kami menelantarkan dirinya. Padahal, tidak sama sekali."
"Berapa lama kalian lupa mengirim uang untuknya?" tanya Nino lagi.
Wajah Arlo semakin menegang. Tatapan matanya terus berlarian ke arah lain dengan gelisah.
"Hanya beberapa bulan saja," jawab Arlo berbohong.
Sayangnya, Nino bukan pria yang mudah dibohongi. Dari mimik wajah Arlo, dia dapat membaca adanya kebohongan besar yang disembunyikan oleh pria tua itu.
"Nino," panggil Kanaya dengan riang. "Aku baru saja memetik beberapa mawar di taman belakang. Untukmu," ucap Kanaya dengan nada manja sambil menyerahkan tiga tangkai mawar mewah yang sengaja dia petik untuk Nino.
"Terimakasih, Kanaya," ucap Nino seraya tersenyum dan menerima mawar itu.
Kanaya ikut tersenyum. Dia hendak memeluk Nino, namun pria itu malah tiba-tiba berdiri.
"Sudah larut malam. Sebaiknya, aku pulang," pamit Nino.
"Y-ya, baiklah," angguk Arlo kaku.
Kanaya juga berusaha mengusir prasangka didalam kepalanya. Tadi, Nino bukan sengaja menghindari pelukannya, kan? Pria itu tiba-tiba berdiri karena memang sudah waktunya untuk pulang, kan?
"Kalau begitu, hati-hati!" ucapnya kepada Nino.
"Baiklah!" angguk Nino. "Kamu juga harus beristirahat sekarang! Udara malam tidak baik untuk kesehatan mu," pesannya kepada Kanaya.
Perempuan itu seketika jadi melambung tinggi ke langit ke tujuh. Nino sangat perhatian padanya. Itu artinya, dia sudah berhasil menaklukkan pria kaya dan berkuasa itu ke dalam pelukannya.
"Ish, menjijikkan sekali," gerutu Nino sambil melepaskan jasnya begitu dia berada didalam mobil.
Aroma parfum Kanaya masih melekat di sana. Hal itu membuat Nino jadi merasa jijik.
"Mana baju ganti ku?" tanya Nino kepada sang asisten yang juga merangkap sebagai supir pribadinya.
"Ini, Tuan," jawab Dika seraya menyerahkan paperbag berwarna hitam kepada Nino.
Pria dewasa itu berganti pakaian didalam mobil yang sudah melaju meninggalkan kediaman keluarga Alexander. Tanpa sengaja, Dika melihat sosok Starla yang sedang duduk di trotoar jalan sambil menangis.
Pemandangan itu sangat langka. Selama ini, Starla tak pernah terlihat selemah itu. Dika bahkan harus memastikan sampai tiga kali sebelum berani melaporkan keberadaan Starla pada Nino.
"Tuan Gio, sepertinya itu Nona Starla," ucap Dika sambil menghentikan mobil, tak jauh dari tempat Starla sedang duduk sendirian dan menangis.
Nino menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Dika. Dan... Degh. Dadanya tiba-tiba merasa sesak saat melihat air mata Starla.
Ia merasa sedih tanpa alasan. Melihat Starla yang serapuh itu, membuat dirinya nyaris kehilangan kendali.
"Tunggu di sini!" titah Nino. Dia turun dari mobil kemudian berjalan tenang menghampiri Starla.
"Kamu menangis?" tanyanya kepada perempuan cantik itu.
Starla tersentak kaget. Dia lekas berbalik, menghapus air matanya kemudian berdiri untuk menyetarakan tingginya dengan pria itu.
"Bukan urusanmu," jawab Starla ketus.
"Ada apa? Apa kamu punya masalah?" Nino tak peduli meski Starla berkata ketus kepadanya. Yang dia pedulikan hanya penyebab, kenapa Starla bisa menangis.
"Sepertinya, kita tidak seakrab itu sampai-sampai aku harus mengatakan semua masalahku pada kakak ipar. Iya, kan?" balas Starla dengan senyum mencibir.
"Kakak ipar?"
Entah kenapa, panggilan itu terasa menyebalkan di telinga Nino. Dia tak suka Starla memanggilnya seperti itu.
"Di sini hanya ada kita berdua. Kamu tidak perlu memanggil ku dengan sebutan seperti itu," lanjutnya sambil berusaha meredam kemarahan yang hampir muncul dipermukaan.
"Jadi, aku harus memanggil mu dengan sebutan apa?" tanya Starla.
Nino merasa jika sikap Starla benar-benar berbeda dengan yang dulu dia kenal. Starla tidak pernah berucap dengan nada seasing ini. Seolah-olah, kebersamaan mereka selama empat tahun lamanya, bukanlah sesuatu yang patut untuk dikenang.
"Terserah. Panggil Sayang seperti dulu juga, boleh," jawab Nino sambil tersenyum kecil.
"Maaf," ucap Starla dengan ekspresi datar. "Aku tidak pernah berniat memanggil kakak iparku dengan panggilan sayang."
"Oh, ya?" Tiba-tiba, Nino memeluk dan menarik pinggang Starla hingga tubuh perempuan cantik itu merapat ke tubuhnya.
Wajah keduanya begitu dekat. Hidung mereka bahkan sudah sempat bersentuhan.
Udara malam yang semula dingin perlahan berubah panas. Nino menahan napas. Berusaha mengontrol hasrat yang selama enam bulan terakhir tak pernah bisa ia bangkitkan lagi.
Nino pernah mencoba ingin tidur dengan perempuan lain setelah Starla pergi. Namun, tubuhnya ternyata menolak mereka semua. Mau secantik apapun, yang terlintas dibenak Nino hanya selalu wajah Starla.
"Starla, kamu semakin cantik," puji Nino.
Matanya hanya fokus pada bibir merah Starla. Nino masih sangat ingat rasanya. Manis dan lembut.
"Lepas!" pinta Starla.
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
Starla berusaha memberontak. Namun, pelukan Nino malah semakin erat.
"Tuan Gionino, tolong lepaskan aku!" pinta Starla sekali lagi.
Nino tersenyum. Satu tangannya mencengkram pelan dagu perempuan cantik itu. Jemarinya yang panjang, kini mulai berani menyentuh bibir Starla.
"Starla, aku sangat merindukan kamu."
Nino berusaha untuk mencium bibir merah merekah itu. Sayangnya, sang pemilik menolak dengan tegas dan tidak membiarkan Nino mencicipinya walau hanya sedikit.
Bugh!
Starla menginjak kaki Nino dengan keras. Seketika, Nino mengadu kesakitan lalu reflek melepaskan pelukannya dari pinggang ramping Starla.
"Tuan Gionino, tolong perhatikan sikap Anda! Aku bukan simpanan Tuan lagi," tegas Starla dengan mata memerah.
"Kalau begitu, apa kamu berminat jadi simpanan ku lagi?" tanya Nino.
Starla tersenyum sinis. Terlintas ekspresi jijik di sepasang mata indahnya.
"Maaf. Aku tidak pernah berminat dengan semua barang yang menjadi sisa Kanaya. Termasuk, Tuan Gionino."
Telapak tangan Nino mengepal kuat. Dia nyaris tak percaya dengan indra pendengarannya sendiri. Sekarang, Starla menolak untuk dia sentuh?
"Kamu mengatai aku barang sisa?" tanya Nino tak percaya.
"Ya," angguk Starla sambil tersenyum sinis. "Dan, menurutku barang sisa itu sangat menjijikkan."
Nino tersenyum getir. Harga dirinya bagai diinjak-injak oleh Starla. Padahal, niatnya mendekati Kanaya hanya untuk memanas-manasi Starla. Namun, siapa sangka jika akhirnya malah jadi seperti ini.
Bukannya membuat Starla jadi cemburu dan merengek untuk kembali padanya, perempuan itu malah berkata jijik jika dekat dengannya.
"Starla, tunggu!" panggil Nino. Dia berusaha mengejar langkah Starla yang sudah bersiap untuk naik ke sepeda motor matic-nya.
"Apa lagi?" tanya Starla.
Nino menghela napas panjang. Meski sedang marah, dia tetap tak bisa mengabaikan Starla.
"Pakai ini," ucapnya sembari memasangkan jasnya ke tubuh Starla.
"Tidak perlu. Aku..."
"Pakai saja!" potong Nino cepat. "Udara sangat dingin. Jangan sampai kamu sakit."
Starla mengalah. Udara memang terasa sangat dingin. Dan, bodohnya dia karena lupa membawa jaket padahal dia mengenakan gaun dengan bahu yang terbuka.
"Terimakasih. Setelah ku cuci, jasnya pasti akan aku kembalikan," ucapnya sebelum tancap gas meninggalkan tempat itu.
"Cih, dasar anak kecil!"
Buang laki² yang demi gengsi & ego tinggi hanya untuk merendahkan dirimu😠
Nino pikir di dunia hanya ada dia saja tanpa ada orang lain yang masih baik untuk menolongmu Starla 💪
Starla bangkit & cari kebahagianmu tanpa Arlo & Nino, masih banyak orang yang baik padamu Starla 💪