"Jangan menghindar, Alana..."
dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.
Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.
"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Mahkota Untuk Alana
Pagi itu sinar hangat matahari menembus jendela ruang perawatan VVIP.
Alana terlihat sibuk membantu ibunya merapikan pakaian ayahnya ke dalam tas.
Ibu Alana berkali-kali mengusap sudut matanya. Jemarinya masih sedikit bergetar—sisa trauma dari penyekapan di gudang tua gelap itu.
"Alana, Ibu masih merasa seperti mimpi. Melihat ayahmu bangun dan kita semua selamat... Ibu tidak tahu bagaimana cara membalas dan berterima kasih seperti apa kepada Tuan Muda Raden."
Alana menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu menggenggam tangan ibunya yang terasa sangat kurus dan dingin akibat belasan tahun menderita dari sekapan Nadia dan komplotannya.
"Bu, ini semua sudah berakhir, kita sudah bebas sekarang. Raden justru berterima kasih karena Ibu sudah bertahan dan menjaga mamanya selama di sana. Jadi Ibu nggak perlu sungkan," ucap Alana menenangkan.
Tiba-tiba pintu terbuka. Raden masuk bersama kedua orang tuanya. Penampilan mereka sangat berwibawa.
Bahkan penampilan Mama Aristi jauh lebih elegan dari sebelumnya, kontras dengan keluarga Alana yang masih nampak lemas, namun tatapan mereka penuh kasih.
"Sudah siap?" tanya Raden lembut sambil mengambil tas dari tangan Alana.
Arsenio langsung menghampiri ayah Alana yang masih duduk di kursi roda.
"Pak, mulai hari ini dan seterusnya jangan panggil saya Tuan. Panggil nama saja. Kita kan keluarga sekarang."
Setelah semua selesai mereka akhirnya keluar dari ruangan itu.
Koridor rumah sakit yang biasanya berisik seperti pasar kini sepi karena dikosongkan khusus untuk mereka.
Di sepanjang jalan pasukan elit keluarga Adicandra yang berjaga menunduk hormat. Menciptakan suasana yang sangat formal dan terjaga.
Alana berjalan di sisi kanan kursi roda ayahnya sementara Raden berjalan di samping Alana seolah berjalan sebagai pelindung.
Saat mereka sampai di depan lobi, deretan mobil Rolls-Royce hitam sudah menunggu dengan mesin yang menderu halus.
"Alana Sayang ikut di mobil utama ya sama ayah dan ibu juga," instruksi Raden.
Setelah Raden mengucapkan itu mereka akhirnya masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil yang sangat mewah itu, Ibu Alana tampak canggung duduk di kursi kulit yang sangat empuk.
Sementara Ayah Alana hanya diam menatap tangannya yang kini bersih, bukan lagi penuh debu seperti di bunker kemarin.
"Yah... Bu...." Alana membuka suara di tengah perjalanan yang hening.
"Rumah yang akan kita datangi ini sangat besar seperti istana jadi Alana ingin ayah dan ibu tidak perlu sungkan. Anggap saja seperti rumah sendiri."
Ibu Alana menghela napas panjang, wajahnya masih terlihat pucat.
"Ibu hanya takut Nak. Kita ini hanya orang biasa, apa pantas tinggal di rumah sebesar itu setelah semua yang kita lalui. Ibu rasa lebih baik kita kembali rumah."
"Ibu," sahut Raden dari kursi depan yang sengaja memutar tubuhnya menghadap mereka.
"Alana adalah nyawa bagi saya. Dan ibu menjadi pelindung selama mama saya disekap. Jadi ke rumah besar itu belum cukup untuk membalas kebaikan keluarga kalian."
Mendengar itu ayah Alana tersenyum tipis. "Terima kasih Nak Raden karena telah membantu kita selama ini. Tolong jaga putri ayah. Dia sedikit keras kepala tapi hatinya lembut."
Begitu sampai di depan mansion kemegahan bangunan itu membuat ibu Alana refleks menutup mulutnya dengan tangan lalu menggenggam erat lengan Alana.
"Bu tidak perlu khawatir," ucap Alana menenangkan ibunya.
Begitu mereka turun dari mobil ratusan pelayan berjajar rapi tapi suasana berubah sedikit tegang saat mereka masuk ke lobi utama.
Alana melihat Gina, keponakan Bik Sari, memberikan kode kepada temannya untuk mengambil barang-barang keluarga Alana dengan ekspresi wajah meremehkan—seolah barang itu adalah sampah.
"Taruh di kamar belakang saja, itu kan barang-barang jelek dan bekas tawanan takutnya ada banyak kuman dan mengotori mansion utama," bisik Gina pelan tapi Alana bisa mendengarnya.
Alana menghentikan langkahnya dan melepaskan genggaman tangan ibunya lalu menghampiri Gina dengan menahan amarah.
"Kuman?" tanya Alana dengan nada tenang tapi sangat dingin.
Gina tersentak kaget. "Ah, No-nona Alana... maksud saya, kami harus sterilisasi barang-barang bekas penyekapan. Agar nggak ada penyakit yang datang."
"Jangan bohong kamu. Saya perawat, saya tahu mana prosedur medis dan mana penghinaan jadi kamu tidak perlu mengelak," Alana menatap tajam nametag di dada Gina.
"Anda tahu kenapa wanita yang dulu berpura-pura menjadi Mama Aristi gampang ketahuan? Karena dia memelihara orang-orang bermuka dua seperti kamu."
"Jika kamu merasa barang-barang orang tua saya tidak pantas ada di sini, artinya kamu meragukan keputusan Tuan Arsenio untuk membawa kami ke sini adalah sebuah kesalahan."
"Apa kamu di sini ingin mengajari cara beliau mengelola rumahnya sendiri?" tanya Alana mengintimidasi.
Mendengar itu Gina langsung pucat pasi, lututnya bergetar hebat. "Maaf.. maaf Nona, bukan begitu maksud saya anda jangan salah paham..."
"Salah paham katamu? Aku mendengarkan sendiri kamu mengatai barang-barang orang tuaku kuman kamu kira aku budeg!"
"Jadi mulai sekarang, perlakukan kedua orang tua saya seperti anda memperlakukan Mama Aristi. Satu saja keluhan yang saya dengar dari ibu saya tentang sikap para pelayan di sini, saya sendiri yang akan membedah kontrak kerja Anda dan memutusnya secara tidak hormat. Paham?"
"Paham, Nona!" jawab Gina sambil menunduk dalam.
Malam harinya suasana di meja makan terasa sangat hangat. Arsenio secara resmi memberikan Black Card dan sertifikat klinik sebagai hadiah untuk Alana.
Setelah acara makan malam keluarga usai, Raden menuntun Alana menuju balkon pribadi miliknya di lantai paling atas mansion.
Raden berdiri di belakang Alana lalu memeluk pinggang gadis itu dari belakang.
Ia menyandarkan dagunya di bahu ramping Alana, menghirup dalam-dalam rambut Alana yang selalu menjadi candu untuknya.
"Akhirnya... sayang hanya ada kita berdua," bisik Raden dengan suara serak yang menenangkan.
"Setelah semua badai, darah, dan air mata yang kita lalui, aku akhirnya bisa memelukmu di rumah ini tanpa rasa takut akan kehilanganmu lagi. Rasanya sangat lega."
Alana memejamkan mata, sambil menikmati pelukan hangat Raden.
"Rasanya masih seperti mimpi, Den. Beberapa hari lalu kita masih bertaruh nyawa di gudang gelap itu dan sekarang lihatlah.. bintang-bintang ini sangat indah bukan."
Raden kemudian memutar tubuh Alana agar menghadapnya. Di bawah sinar rembulan mata tajam Raden menatap Alana dengan tatapan memuja.
Ia mengelus lembut pipi Alana yang kini merona malu-malu.
"Kamu bukan hanya sekadar perawat yang membantuku untuk pulih menghadapi semua hal tapi kamu adalah cahaya yang menuntunku pulang saat aku tersesat dalam dendam."
"Kamu tahu saat melihatmu membungkam mulut pelayan julid tadi rasanya aku sangat bangga. Kamu benar-benar ratu di rumah ini."
"Bisa aja kamu. Aku hanya tidak ingin ada yang merendahkan keluargaku lagi, Raden," sahut Alana tulus.
Raden menarik Alana ke dalam pelukannya.
"Aku janji, tidak ada lagi yang berani. Kita akan mempersiapkan pesta pertunangan yang paling megah agar seluruh dunia tahu siapa kamu dan kali ini semua keluarga kita lengkap."
Raden kemudian menunduk dan mencium kening Alana cukup lama, lalu berakhir dengan ciuman lembut di bibir Alana.
Seperti sebuah segel janji bahwa fajar mereka tidak akan pernah tenggelam lagi.
"I love you, my savage nurse," bisik Raden. "I love you more, my doctor CEO," balas Alana manis.
***
Catatan Penulis:
Puas banget kan lihat Alana kasih pelajaran ke pelayan yang sok tahu? Akhirnya keluarga mereka bisa kumpul lengkap di mansion! Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komentar kalian di bab ini ya!
Btw, gue punya kejutan baru buat kalian!
Buat yang suka karakter istri bar-bar dan bikin suami mafia elus dada, yuk mampir ke novel terbaru gue: "My Savage Wife: Mafia Juga Takut Istri".
Ceritanya lebih kocak, apalagi kalau si istri dokter-pengacara ini udah kumat latahnya di depan anak buah suaminya. Dijamin beda dari yang lain!
Cek profil gue sekarang ya, novel ini update rutin tiap hari jam 15.17! Sampai ketemu di sana! 🔥✨