Karena bosan dengan kehidupan yang dijalani selama ini, Rania gadis cantik berusia 25 tahun yang telah menyelesaikan s2 di luar negeri ingin mencoba hal baru dengan menjadi seorang OB di sebuah perusahaan besar.
Tapi siapa sangka anak dari pemilik perusahaan tersebut justru menginginkan Rania untuk menjadi pengasuhnya.
Sedangkan Raka duda berusia 40 tahun ,CEO sekaligus ayah dari 3 orang anak yang belum move on dari sang mantan istri yang meninggal pasca melahirkan anak ke 3 nya.
Bagaimana perjalanan Rania dalam menghadapi tantangan yang dibuatnya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan untuk Sherly
Di sudut lorong kantor yang sepi, Zidane berdiri dengan tangan bersedekap, menatap Sherly dengan sorot mata tajam.
“Aku peringatkan, Sherly,” suaranya datar namun penuh tekanan, “jangan pernah ganggu Rania lagi.”
Sherly tertawa sinis. “Dan kalau aku tetap melakukannya?”
Zidane mendekat, suaranya merendah tapi tajam seperti pisau. “Aku nggak akan tinggal diam seperti dulu. Aku udah cukup tahu siapa kamu sebenarnya.”
Sherly mengangkat dagu, matanya berbinar penuh ejekan. “Oh? Aku penasaran, Zidane. Apa kamu masih menyimpan perasaan itu?”
Zidane tersenyum sinis. “Perasaan? Yang mana? Rasa jijik atau benci?”
Sherly terdiam sejenak, tapi kemudian ia mendekatkan wajahnya ke Zidane, berbicara dengan nada berbisik. “Dulu kamu nggak pernah membenciku, kan? Dan apa kamu ingat apa yang pernah kita lewati .”
Zidane mengepalkan tangan lebih erat, menahan amarah yang hampir meledak. “Dulu aku buta dan bodoh.”
Sherly tertawa sinis. "Kenapa? Kamu jatuh cinta sama dia?"
Zidane tertawa pendek, tapi tidak ada humor di sana. “Bukan urusanmu,Kamu nggak akan pernah mengerti apa itu cinta, Sherly. Kamu hanya tahu cara memiliki, bukan mencintai.”
"Tapi ini urusanku!" Sherly mendekat, menatap Zidane dengan mata penuh emosi.
"Aku peringatkan sekali lagi, Sherly," suara Zidane terdengar pelan tapi berbahaya, "Jangan pernah menyentuh Rania lagi."
Sherly mendengus sinis, menyilangkan tangan di dadanya. “Kamu pikir kamu siapa? Pengawal pribadinya?”
“Aku nggak peduli kamu nganggep aku siapa,” balas Zidane. “Tapi aku tahu apa yang kamu lakukan kemarin. Aku lihat ada lebam di pipi Rania, dan dia nggak mungkin melukai dirinya sendiri.”
Wajah Sherly menegang, tapi ia cepat-cepat menyembunyikan kegugupannya dengan tawa sarkastik. “Jadi kamu langsung nuduh aku? Siapa tahu dia jatuh atau kejedot sesuatu.”
Zidane mendekat selangkah, suaranya lebih pelan tapi tajam. “Rania mungkin nggak mau bicara, tapi aku tahu cara kamu memperlakukannya selama ini. Dan aku nggak akan diam aja.”
Sebelum Sherly sempat membalas, suara berat terdengar dari belakang mereka.
“Apa yang terjadi di sini?”
Mereka berdua menoleh cepat. Raka berdiri di ambang pintu kantornya, tatapannya tajam dan penuh selidik.
Sherly berusaha bersikap tenang. “Bukan apa-apa, Kak.”
Raka menatap Zidane, meminta penjelasan. Zidane menarik napas dalam sebelum berbicara, “Pak, kemarin saya melihat ada lebam di pipi Rania. Awalnya dia tidak mau cerita, tapi saya tahu itu bukan karena dia ceroboh. Dan saya yakin penyebabnya adalah Sherly.”
Mata Raka menajam, beralih ke Sherly. “Apa ini benar?”
Sherly membuang muka. “Aku hanya... aku kesal! Dia nggak seharusnya ada di sini, Kak! Dia cuma seorang—”
“Cukup.” Suara Raka penuh ketegasan. “Aku tidak peduli siapa dia. Yang aku peduli adalah tidak ada tempat untuk kekerasan di rumah atau di kantor ini.”
“Tapi Kak—”
“Kamu pikir karena kamu adik mendiang istriku, kamu bisa berbuat seenaknya?” Raka memotong dingin. “Aku sudah cukup sabar selama ini, Sherly. Jangan paksa aku mengambil tindakan lebih jauh.”
Sherly menatap Raka dengan mata penuh emosi. “Kenapa kakak selalu membela dia?”
“Karena dia tidak bersalah,” jawab Raka tanpa ragu.
Sherly mengepalkan tangan, tatapan penuh kebencian mengarah pada Zidane sebelum beralih ke Raka. “Aku benci dia, Kak. Aku benci Rania! Dan aku akan memastikan dia tidak akan nyaman di sisi kamu.”
Raka menghela napas panjang, matanya menggelap. “Itu keputusanmu. Tapi ingat, aku tidak akan tinggal diam.”
Sherly mendengus tajam sebelum berbalik dan pergi dengan langkah penuh amarah.
Zidane menatap punggungnya, perasaan benci yang telah lama ia pendam semakin menguat. Ia tahu Sherly tidak akan berhenti begitu saja. Dan ia juga tahu, semakin lama, Rania berada dalam bahaya.