Selama belasan tahun Alesha Kamil sendirian membesarkan keponakannya, Azzam. Ia berharap seluruh cinta yang ia berikan dapat menggantikan figur ayah yang tak pernah dikenal anak itu.
Namun tiba-tiba, suatu hari Keenandra Malik Gunawan mendatangi Alesha di rumahnya. Musisi yang terkenal playboy itu sebetulnya ayah kandung Azzam, dia datang karena surat-surat kaleng yang berisi pemberitahuan jika dia memiliki seorang anak.
Akankah Keenan mengambil Azzam dari Alesha yang sudah mengurus dan membesarkannya? atau Keenan justru menginginkan yang lain?
Yuk baca selengkapnya di Dia juga Anakku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
“Pantas saja kau terlihat sangat sehat,” ujar Andra pada Azzam sambil mendorong piringnya. “Kau selalu disuguhi makanan seperti ini seumur hidupmu.”
“Ibu memang koki yang jempolan.” Azzam tersenyum pada Alesha sebelum menyuap gulungan daging terakhir ke dalam mulutnya. “Daging panggang Ibu kali ini benar-benar yang terbaik.”
Alesha senang mendengar pujian dari putranya. “Ibu senang kau menyukainya, tapi Ibu harap kau masih menyisakan tempat untuk makanan penutup.”
“Di sebelah sini.” Azzam menunjuk celah di antara tulang rusuknya. Itu adalah permainan kanak-kanak yang biasa mereka mainkan.
“Kalau begitu Ibu tidak akan membuatmu menunggu lebih lama lagi, makanan penutup akan segera dihidangkan.” Alesha berdiri dan mulai menumpukkan piring-piring kotor ke atas nampan.
“Biar aku bantu.” Andra memundurkan kursinya.
“Tidak usah.”
“Tidak apa-apa, Al.”
“Ya... ini kan ulang tahunku, jadi aku hanya akan duduk di sini dan mendengarkan seberapa kerasnya aku bisa bersendawa.”
“Azzam...”
“Bercanda, Ibu.”
Alesha menyeringai pada Azzam dan membawa nampannya ke dapur.
“Yang ini ditaruh di mana?” tanya Andra, mengacungkan sepasang tempat lada dan garam.
“Lemari, di rak kedua.”
“Tatanan meja yang indah, dan makanan yang sungguh lezat.”
“Terima kasih.”
“Tidak ada makan malam yang sesempurna malam ini. Bunga yang indah, cahaya lilin, dan…“ Andra berjalan mendekat ke arah Alesha, dan menatapnya lekat-lekat. “Seorang gadis cantik.”
Alesha melirik kesal. “Aku tidak akan termakan gombalanmu, Andra!”
“Ya ampun. Aku serius Alesha, kau benar-benar cantik malam ini.” Andra meraih dagu Alesha, memaksa gadis itu untuk menatap matanya.
Mata mereka bertemu, sekejap Andra teringat pada gadis kecil yang pernah ia temui di kajian saat mengantar almarhum eyangnya ke kajian belasan tahun lalu. Andra terdiam menatap betapa miripnya Alesha dengan gadis kecil itu, kemudian ia menggelengkan kepalanya dan menyangkal bahwa gadis itu adalah Alesha.
“Anak kita sedang menunggu,” ujar Andra seraya menurunkan tangannya dari dagu Alesha. “Apa ada lagi yang bisa kubantu?”
Alesha berbalik mengambil kue yang ia simpan di kulkas, dalam sekejap lilin-lilin kue ulang tahun Azzam sudah dinyalakan oleh Andra dan ia membawanya ke ruang makan, tempat Azzam menunggu.
“Kalian tidak akan melakukan sesuatu yang norak seperti menyanyikan lagu Happy Birthday, kan?”
Alesha menatap Andra dan tersenyum bersekongkol. Lalu mereka berdua menyanyi keras-keras. Azzam langsung merosot di kursinya dan menutup telinga dengan kedua telapak tangannya. Mereka bertiga tertawa sebelum lagunya selesai.
Azzam memejamkan matanya, kemudian ia meniup semua lilinnya dengan satu hembusan napas.
"Tumben kamu berdoa sebelum tiup lilin, biasanya kamu langsung meniupnya. Memangnya apa yang kau sedang inginkan?" tanya Alesha ketika ia mengiris kue coklat tiga lapis yang dibuatnya dengan susah payah dan menyajikan potongan besar untuk Azzam dan Andra.
"Rahasia." Azzam langsung menghabiskan kue buatan Alesha dengan lahap dalam sekejap mata, begitu pula dengan Andra.
“Sekarang waktunya untuk hadiah.” Alesha keluar ruangan dan kembali dengan sebuah hadiah yang terbungkus rapi. “Tapi pertama-tama, buka yang ini dulu.”
“Pertama-tama? Maksud Ibu hadiahnya lebih dari satu?”
Alesha tersenyum penuh rahasia pada Azzam dan berkata setengah bersenandung, “Ini kejutan...” Ia nyaris tidak dapat menahan kegembiraannya, Alesha berdiri di belakang kursi Azzam sementara anak itu membuka kotak hadiahnya yang berisi sesetel pakaian baru.
“Ibu, ini keren sekali!” serunya, memasang celana dan kemeja di tubuhnya. “Setelan ini pas sekali.”
“Kau suka?”
“Tentu saja, ini keren sekali.”
Mereka begitu tenggelam dalam perbincangan mereka tentang pakaian itu, yang merupakan merek ternama dan keluaran terbaru, hingga mereka tidak melihat Andra berjalan menuju jendela dan memandang ke luar.
Ketika kembali, Andra memiringkan kepalanya ke halaman depan. “Kau harus pergi keluar untuk membuka hadiah dari Ayah,” ujarnya pada Azzam.
“Keluar?”
“Ayo pergilah.”
Andra menuntun Azzam dan Alesha ke pintu depan. Azzam baru berjalan beberapa langkah ketika ia melihat mobil sport baru yang mengilap terparkir di tepi jalan. Ia langsung menghentikan langkahnya. Matanya melebar, mulutnya menganga, ia berbalik. “Dari mana datangnya mobil itu?”
“Baru saja dikirim. Untunglah tepat waktu.”
“Maksud Ayah… itu hadiahku? Ferrari?”
“Selamat ulang tahun, putraku.” Andra mengayun-ayun kunci mobil di depan hidung Azzam.
Azzam menatap kunci itu, kemudian menatap Andra, menatap Alesha. Lalu ia berjungkir balik di rumput, mengambil kuncinya dari Andra dan langsung berlari menuju mobil baru itu.
“Tunggu,” ujar Andra, tertawa saat ia berlari mengejarnya, “Ada beberapa hal yang perlu Ayah tunjukkan padamu sebelum kau mengendarainya.”
Andra dan Azzam masuk ke dalam mobil, namun diam-diam Alesha menyelinap masuk ke rumah. Ia takut tidak dapat menahan jeritannya, sehingga ia membungkam mulut dengan kepalan tangannya.
Meja pesta ulang tahun yang tadi penuh keceriaan tampak mengejeknya, hadiah setelan kemeja yang baru saja diberikannya pada Azzam tergeletak begitu saja, setelan itu juga kelihatan seperti menertawakannya.
Dengan sentakan tangannya yang penuh amarah, Alesha menyingkirkannya dari atas meja hingga jatuh ke lantai. Ia mengambil kotak kecil yang terbungkus rapi dari saku roknya dan berusaha menghancurkannya, ia merobek kertas dan pitanya dengan kukunya.
“Azzam bilang dia mau memamerkan mobil barunya ke Farel, tapi kau tenang saja dia tidak akan lama,” ujar Andra, masuk kembali ke dalam rumah. “Kau kenapa tidak keluar...” Ia langsung menghentikan kata-katanya ketika wanita itu berbalik, menghadangnya bagai seekor ular kobra yang siap menyerang.
“Apa yang harus kukatakan padanya, Andra? Mengatakan tidak, dia tidak boleh menerima mobil itu? Bahwa mobil itu terlalu mahal dan mencolok untuk seorang anak SMA yang baru menerima SIM? Bahwa seharusnya kau membicarakannya dulu denganku? Bahwa bukan tempatmu untuk memberinya sesuatu yang semewah itu? Kata-kata mana yang seharusnya kukatakan untuk mematahkan semangat Azzam?”
Andra terdiam sesaat, kemudian ia berkata. “Tidak pernah terpikir olehku untuk membicarakan masalah hadiah ini denganmu.”
“Kau seharusnya membicarakan hal ini denganku. Aku Ibunya.”
“Dan aku Ayahnya.”
“Kau Jin pada lampu ajaib Aladin!”
Air mata mulai membasahi pipinya, tapi Alesha bahkan tidak menyadarinya. Ia juga tidak menyadari bahwa dirinya mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya yang kecil dengan penuh amarah.
“Kau masuk dalam kehidupan Azzam membawa segala macam hadiah. Kau hebat, menakjubkan, seperti seorang dewa. Menjadi orang tua itu memang mudah selama bukan kau yang mengganti popoknya atau terjaga sepanjang malam karena gusi anakmu sakit saat tumbuh gigi. Kau tidak pernah harus memarahinyanya padahal hatimu hancur karena melakukannya. Tidak, kau tidak perlu melakukan semua itu, ya kan?”
“Kau yang memilih untuk membesarkan Azzam.”
“Ya, aku yang memilihnya. Bahkan jika waktu bisa kuputar kembali aku akan tetap memilihnya lagi, karena aku menyayanginya. Aku akan menyusuinya sendiri seandainya aku bisa. Aku sudah berkorban banyak untuk memberinya kehidupan yang berkualitas.”
Alesha mengangkat tangannya untuk mencegah Andra berkomentar. “Segala yang telah kulakukan, kulakukan dengan senang hati. Aku tidak menginginkan ataupun mengharapkan apapun darinya selain cintanya. Aku hanya ingin kau tahu betapa aku membenci kehadiranmu dalam hidupnya saat ini dan berusaha menjauhkan Azzam dariku.”
“Aku tidak pernah menjauhkanmu dari Azzam, Alesha.”
“Kau sudah melakukannya. Dia tinggal bersamamu, bukan denganku. Kau memberinya mobil impian setiap anak laki-laki, dan aku memberinya..”
Kata-katanya terputus dan ia berbalik memunggungi Andra, mencengkeram kotak kecil dalam genggaman tangannya.
“Apa?”
“Pergilah. Tunggu Azzam di luar, aku tidak mau kau ada di sini. Aku benci padamu karena sudah meremehkan aku.”
“Apa yang ada di kotak itu? Hadiah lain?”
“Pergi, Andra!”
Andra merebut kotak yang dipegangnya. “Berikan padaku.”
Alesha berusaha merebutnya kembali, tapi Andra memegangnya di atas kepala, jauh dari jangkauannya. Andra membuka kotak itu, sebuah kunci jatuh ke tangannya.
“Sebuah mobil.” Sumpah serapah meluncur dari bibirnya, ia memejamkan mata dan mencengkeram kunci itu dengan ibu jari dan jari tengahnya.
Alesha mengusap air mata dari pipinya dan menantang pria itu. “Sebuah mobil bekas. Tidak baru, dan tidak mentereng. Hanya alat transportasi yang dapat berjalan dengan aman. Azzam akan melonjak kegirangan seandainya kau tidak membelikannya mobil mewah itu!” Ia menunjuk ke jalan.
“Alesha, aku...”
“Tidak!” seru Alesha parau, mengelak dari sentuhan pria itu. “Aku tidak butuh permintaan maaf maupun belas kasihan darimu. Aku juga tidak bisa melarang Azzam untuk menikmati hal-hal yang kau berikan padanya.”
“Aku sama sekali tidak berniat melukaimu.”
“Terlepas dari niat baikmu Andra, itulah yang telah kau lakukan. Sekarang tolong pergi.” Alesha dapat merasakan puncak kemarahannya. “Aku tidak mau kau datang ke sini lagi. Azzam boleh memilih untuk tinggal bersamamu selamanya, kalau dia yang menginginkan itu. Aku akan mengusahakan waktu untuk bertemu dengannya, tapi aku tidak mau melihatmu lagi.”
Ia menunjuk dada Andra. “Jangan pernah, jangan pernah memberitahu Azzam tentang mobil yang kubeli untuknya. Itu hanya akan membuatnya merasa tidak enak dan diusik rasa bersalah.”
Alesha membungkuk dan memungut setelan baju baru itu lalu melipatnya dengan hati-hati. “Nih, dia mungkin mau memakainya saat dirumahmu nanti.” Ia mengulurkannya pada Andra.
Alesha lari ke kamarnya dan belum sempat menutup pintu air mata akhirnya membanjiri matanya.