Anak adalah titipan,anak adalah amanah,dan kewajiban kita sebagai orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi mereka.
Dan Dinda,yang diusia muda sudah menjadi ibu sekaligus ayah bagi tiga buah hatinya harus berjuang keras menafkahi meskipun ada begitu banyak rintangan yang harus dihadapi.
Mampukah Dinda melewati ujian hidupnya seorang diri,sekuat dan segigih apa perjuangannya untuk ketiga anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penggemar Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jangan beri kami makan dari uang haram!
"Bu,pak,Ria kerja di Batam ya" ucap Ria suatu hari
"koq bisa kamu berpikir sampai mau jauh kerja disana" Zaida menatap putri satu satunya itu
"temen temen Ria banyak yang mau kerja disana bu"
Zaida dan Usman saling bertatapan
"lewat Depnaker koq,bukan pergi sendiri,mumpung ada kesempatan Pak" Ria mencoba membujuk orang tuanya
"oh kalau lewat Depnaker sih gak masalah,kirain mau modal nekat" Zaida bernapas lega
"jadi boleh Bu,Pak?" tanya Ria
Zaida dan Usman mengangguk,Ria berteriak kegirangan memeluk dan mencium kedua orang tuanya,tak lupa pula memeluk dan mencium dua keponakannya serta kakak iparnya.
Dinda turut merasa bahagia menyaksikn kebahagiaan adik iparnya itu
"yang penting kamu harus bisa jaga diri" Dinda berpesan 'jangan seperti aku' batinnya sambil tersenyum,nyaris air matanya lolos karena terharu tapi berusaha ditahannya demi tak ingin menciptakan kesedihan.
"kalau nanti ante udah kerja,ante beliin baju ya" ucap Ria pada Galang dan Nabila,kedua bocah itu mengangguk saja
"mau mobilan te" ucap Galang dengan polosnya
Ria menghujani dua keponakan kesayangannya itu dengan ciuman hingga keduanya terkikik kegelian.
'harusnya aku bisa bekerja dan menghidupi diriku sendiri' Dinda membatin,semua sudah terjadi,tak ada yang harus disesali lagi.
***
"Nih,," Yoga melemparkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah ke atas kasur,membuat Dinda kaget dan mendongak ke arah Yoga,
"uang darimana ini pa?" tanya Dinda,karena setahunya suaminya tidak bekerja,jadi darimana uang sebanyak ini.
"gak usah banyak tanya,yang jelas pakai uang itu untuk kebutuhan kamu dan anak anak" ucap Yoga
tak ingin suaminya marah,Dinda pun segera menyimpan uang itu ke dalam lemari pakaiannya.
tut,tut,tut
Dinda mendengar suara getaran seperti telepon tapi tak tau darimana datangnya suara itu,karena dirinya sendiri tidak memiliki benda pipih berharga mahal itu.
"halo,ok,aku tunggu dirumah" ternyata suara getaran tadi betul suara hape yang tak disangkan Dinda adalah milik Yoga ,sejak kapan suaminya punya hape,batin Dinda
"papa punya hape?" tanyanya penasaran
"iya,kenapa? kaget? kerja kalau mau benda ini?" Yoga memamerkan benda pipihnya di hadapan Dinda sambil tersenyum miring,Dinda hanya diam saja.
Terdengar suara ketuk di pintu utama,Dinda akan bangkit untuk membuka pintu tapi langkahnya terhenti saat Yoga langsung berlari mendahuluinya,Dinda membiarkan saja dan kembali duduk di ats ranjang.
"apa itu pa?" tanya Dinda saat Yoga masuk kembali ke dalam kamar sambil membawa bungkusan yang dibentuk kotak berwarna hitam.
"berisik! Bisa gak sih gak banyak tanya kamu? bawel" sentak Yoga membuat Dinda langsung terdiam.
Dinda memang tak mengerti sama sekali apa yang sedang dilakukan oleh suaminya itu,tangannya begitu gesit menimbang dan memindahkannya ke kantong klip yang berukuran sangat kecil, 'ngapain ngebungkusin garam krosok' batin Dinda,dia hanya bisa mengintip tanpa bisa bertanya karena takut suaminya akan marah.
***
Malam harinya seusai makan malam,semua duduk di sofa untuk menonton televisi kecuali Yoga yang sejak sore sudah menghilang entah kemana,Dinda duduk selonjoran di karpet sambil mengawasi kedua anaknya yang tengah bermain,matanya tidak fokus ke televisi namun telinganya mendengar dengan jelas apa yang sedang disiarkan saat ini.
Tiba di berita yang menampilkan beberapa orang ditangkap karena mengedarkan shabu shabu,entah mengapa matanya terpusat saja menyaksikan berita itu,dan matanya seketika membulat sempurna melihat gambar yang sedang diputar di televisi,
'mirip banget sama yang kemarin malam dibungkusin sama kak Yoga' batinnya
'kalau benar benda itu sama,artinya kak Yoga mengedarkan obat terlarang' Dinda terperangah sendiri dan refleks menutup mulutnya
"kenapa kamu Din?" tanya Zaida yang sejak tadi memperhatikan tingkah laku menantunya itu yang menurutnya aneh.
"ah,ee,anu bu,gak papa,tadi liat berita itu aja" tunjuk Dinda ke televisi
"tentang narkoba tadi?" tanya Zaida,Dinda mengangguk cepat
"shabu shabu kak" jawab Agung tanpa menoleh ke arah Dinda
"lagi heboh sekarang tu dimana mana,ngeracunin anak anak muda,disini pun kayanya lagi marak" ucap Agung lagi
Dinda terdiam dan mulai berpikir keras, 'apa iya,kak Yoga jadi pengedar obat terlarang?' batinnya,ada rasa tak percaya ,tapi apa yang dilihatnya tadi persis sama dengan yang dia lihat di kamarnya kemarin malam.
'kalau memang benar iya,berarti uang yang dikasih kemarin itu,uang gak halal,Astaghfirullahal'adzim' Dinda berperang dengan batin.
'gak bisa dibiarkan' gumamnya lagi
***
"Nih,," seperti malam kemarin,Yoga melemparkan lagi 5 lembar uang kertas berwarna merah ke hadapan Dinda
"uang darimana ini pa?" tanya Dinda dengan ketus
"memangnya kenapa? harus semua yang aku lakukan itu kamu tau? kamu cukup diam dan terima berapapun yang aku kasih" tegas Yoga dengan sedikit emosi
"gak bisa gitu pa,aku juga berhak tau darimana uang yang kamu kasih karena aku gak mau kamu kasih aku dan anak anak dari uang haram!" protes Dinda
plak,,
Satu tamparan keras berhasil menghentikan ocehan Dinda,jemari kurusnya memegangi pipinya yang tampak memerah,air matanya mulai mengalir karena merasakan perih akibat tamparan itu.
"perempuan gak tau di untung kamu! masih untung aku masih mau nampung kamu disini dan mau ngasih kamu makan,dasar perempuan s*al" Yoga menendang punggung Dinda hingga Dinda terjungkal ke depan,belum merasa cukup,Yoga menarik rambut panjang milik Dinda,
"ampun pa,ampun" teriaknya mengiba agar Yoga berhenti,Yoga seperti kesetanan ingin melayangkan pukulan lagi pada istrinya,tapi suara bentakan Agung menghentikan gerakannya.
"woi,s*tan lu ya" teriak Agung kemudian meninju wajah Yoga hingga membuat Yoga tersungkur ke samping,Agung kembali menarik Yoga agar berdiri dan sekali lagi meninju rahang kakak kandungnya itu hingga tersungkur kembali,
Dinda yang merasa kasihan melihat suaminya langsung memeluk tubuh Yoga,melindunginya dari pukulan Agung,Agung seketika menghentikan gerakan tangannya dan melongo melihat Dinda yang memeluk Yoga sambil mengarahkan telapak tangannya ke arah Agung,dengan napas ngos ngosan Agung berdiri tak percaya dengan apa yang dilakukn oleh kakak iparnya itu.
"cukup Gung,jangan" Dinda memohon,Agung hanya berdiri diam sambil mengatur napasnya
Zaida yang berdiri di pintu kamar hanya bisa menangis menyaksikan pergumulan kedua putranya itu,tapi bibirnya tak mampu mengatakan apapun karena dia tau putra sulungnya memang bersalah.
"minggir kamu perempuan s*al"teriak Yoga pada Dinda sambil mendorong tubuh ringkih yang memeluknya itu ke arah samping,Dinda beringsut mundur tak berani lagi mendekati Yoga,hanya isak tangisnya yang terdengar begitu pilu.
"kakak gak kenapa kenapa kan?" tanya Agung saat Yoga sudah pergi dari kamar itu,Dinda menggeleng lemah.
Zaida pun segera menghampiri Dinda,membantu menantunya itu berdiri dan mendudukkannya di tepi kasur,sungguh siapapun yang melihat keadaan Dinda saat itu tidak akan tega,rambut serta pakaiannya tampak sudah tak beraturan,air matanya mungkin sudah tidak lagi keluar tapi isakannya terus terdengar,membuat Zaida meneteskan air mata nya kembali.
itu blm seberapa, karma yg
di terima oleh anak mu yg tersayang.
siapkan mental, siapkan pisik.
dan berlapang dada.
thanks mbak 💪😍
bacanya, kayak buah dd Ng pake
bra, tergantung tapi masih nempel
di dada, kalo novel ini di hati.
thanks mbak 💪🥰