Mereka dijodohkan oleh sang Kakek sejak kecil dan direstui oleh kedua orang tua. Setelah dewasa, mereka tidak setuju dijodohkan dan melarikan diri sebelum pertunangan dilangsungkan, karena sudah punya kekasih.
Hanya berbekal sisa tabungan semasa kuliah dan sedikit keberanian, mereka lari dari rumah, meninggalkan proses pertunangan demi sang kekasih. Namun sangat menyakitkan, saat tahu kekasih mereka telah berpaling..
》Mungkinkah mereka terus berlari atau kembali pada keputusan orang tua?
》Mungkinkah ada kesempatan kedua untuk melanjutkan proses perjodohan sang kakek?
Ikuti kisahnya di Novel "SECOND CHANCE"
Selamat membaca.
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Terkuak 5.
...~•Happy Reading•~...
Philemon jadi tersenyum mendengar Maya menceritakan tentang kakinya. Dia jadi teringat peristiwa dan pertemuan pertama mereka, karena kaki Maya yang sakit.
"Sini kakinya..." Ucap Philemon, serius. Maya sontak menjulurkan kakinya ke arah Philemon, tanpa ragu atau sungkan lagi. Terasa mereka sudah sangat lama mengenal.
Philemon langsung menepuk pelan pergelangan kaki Maya sambil berkata. "Trims, ya. Sudah sakit pada waktu yang tepat. Tapi itu yang terakhir, ya. Jangan sakit lagi." Ucap Philemon sambil tersenyum dalam hati atas tindakannya, lalu memeriksa pergelangan kaki Maya yang pernah bengkak.
Hal yang tidak berani dia lakukan pada malam kejadian untuk memeriksa kaki Maya saat masih bengkak. Sekarang dia berani memegang dan memeriksa kaki Maya, karena mereka sudah pacaran.
"Iyaaa. Ngga akan lagi, karna aku akan sering digendong." Maya menjawab dengan menggunakan suara berubah dari tenggorokan ala muppet, mewakili kakinya. Dia jadi tertawa dengar suaranya, begitu juga dengan Philemon.
"Hahahaha... Ternyata ada yang ingat dan mau digendong lagi. Ngga perlu tunggu kaki sakit baru digendong. Jadi ngga perlu membuat kakimu sakit untuk minta digendong. Bilang saja, aku akan gendong dengan senang hati." Philemon berkata sambil menepuk betis Maya, pelan, sambil tersenyum.
"Iiiissshhh..." Ucap Maya, lalu menarik kakinya, malu. Ketahuan suka digendong oleh Philemon.
"Eeeeh, Philee... Aku jadi ingat, saat aku bilang pada Fanus, kau tunanganku. Padahal saat itu aku hanya mau menghindar darinya, ternyata ada benarnya. Kau memang sudah jadi tunanganku." Maya berkata lalu kembali menutup mulutnya, memikirkan ucapannya pada malam itu.
"Kau katakan itu hanya untuk Fanus?" Philemon bertanya dan bernafas lega melihat respon Maya yang tidak mempermasalahkan tindakannya yang menolak perjodohan mereka.
"Ooh, iya. Untuk cewek roda 4 itu juga. Tapi waktunya salah. Bukan sudah bertunangan seminggu, tapi sejak balimut." Ucapan Maya yang mengcopy ucapan Philemon membuat mereka tertawa.
Meraka memang sudah dijodohkan sejak balita. Saat Maya lahir perempuan, Kakek mereka berdua melakukan perjodohan bagi kedua cucu mereka. Sebab Philemon yang sudah lahir lebih dulu, laki-laki. Jadi mereka merasa suatu hal yang sangat pas untuk meneruskan hubungan persahabatan mereka.
"K'may, kita ngobrol aja, ya. Aku pingin tau, kau menolak karena tidak mau dijodohin aja, atau sudah punya pacar?" Tanya Philemon serius, dia ingin menjernihkan hubungan mereka. Maya sendiri sudah tahu, dia punya pacar, Netta.
"Hhhmmm... Utamanya, memang ngga mau dijodohin. Tapi saat itu, aku ada pacaran juga dengan si belang." Maya berkata pelan. Dia merasa tidak enak membicarakan Aldo kepada Philemon.
Yang dikatakan Maya, membuat alis Philemon bertaut. "Kau pacaran dengan kucing?" Tanya Philemon untuk menetralkan hati Maya yang sedang tidak enak terhadapnya.
"Iiiiiihhh... Kaki dua yang berhidung belang." Ucap Maya sambil mendelik ke arah Philemon yang dia tahu sedang meledeknya.
"Hahaha... Aku tau. Mau cerita?" Tanya Philemon serius, karena ingin tahu sebenarnya. Jadi dia bisa tahu kehidupan dan hubungan Maya sebelumnya. Agar kelak tidak ada salah paham di antara mereka.
Maya mengangguk pelan. "Tapi janji, ngga boleh ketawa, ya. Aku sebenarnya, malu menceritakan." Philemon mengangguk kuat, sebagai tanda dia akan serius mendengarkan.
Kemudian Maya menceritakan peristiwa yang terjadi saat dia kabur dari rumah ke Jasi dan memergoki Aldo dengan wanita lain ke tempat kostnya. Ucapan belang dan semua yang terjadi.
"Hahahaha.... Uupppsss... Sorry, aku ngga bisa tahan untuk tertawa. Sebenarnya kau sedang marah, atau apa? Segala cumi, gurita, belang diajak-ajak untuk melabrak orang itu." Philemon jadi mengerti, sejauh mana hubungan Maya dan Aldo.
"Entah, malas aja lihat mereka, apa lagi si belang itu. Aku ngga punya kata yang pas untuknya dan ngga mau cari kata yang cocok. Jadi begitu saja keluarnya." Ucap Maya sambil mengangkat bahunya.
"Kau sendiri, sama si wanita roda 4 itu, gimana? Ko' dia masih mencarimu di bengkel?" Tanya Maya yang mengingat mantan pacar Philemon.
"Dia tidak terima aku kerja di bengkel. Ya, mungkin tidak sesuai dengan standar atau yang dia bayangkan. Dia mungkin berpikir, aku dari keluarga berduit, karena bisa kuliah di Universitas keren dan mahal. Bahkan bisa kuliah di luar negeri. Jadi mungkin marah atau kecewa denganku, lalu belok."
"Limo itu, temanku. Mungkin sudah lama naksir dia. Cuma dia memilih pacaran denganku. Tetapi saat mengetahui aku kerja di bengkel beberapa bulan lalu, mulai bertingkah. Mungkin telah menurunkan gengsinya saat berjalan denganku. Jadi ya, sosor Limo yang dia tahu dari keluarga berduit."
"Saat aku melihat mereka berdua sedang bermesraan di mobil, aku ketok kepala Limo dengan ponselku, karna dia temanku dan tidak jujur. Dia tidak bilang yang sebenarnya, kalau dia suka sama wanita itu. Ya, putus begitu saja."
"Lama tidak berhubungan lagi dengan mereka, tiba-tiba muncul hari itu. Ngga tau angin apa yang meniup mereka ke situ." Ucap Philemon santai, karena sikap Maya membuat dia bisa bebas menjelaskan.
"Angin gondrong... Hehehe." Maya mengangkat 2 jarinya, tanpa peace.
"Eeh, jadi yang aku bilang itu benar, ya. Dia serakah, mau gabung kalian berdua jadi yang'yang. Sudah jalan sama yang roda 4, tapi kalah ganteng, jadi masih ingat sama yang eeeehhhmmm.." Maya tidak meneruskan ucapannya. Dia langsung menutup mulutnya dengan tangan, karena menurutnya, Limo biasa saja seperti pria kebanyakan.
'Hanya mobil bagus yang bisa membuat dia ada nilai tambah. Entah bagaimana Netta, jika melihat Philemon dalam mobil erro² hitam legam yang ada di halaman rumah'. Maya berkata dalam hati.
"Kalau mau muji, muji aja. Nanti ada yang muji, aku diminta mandi oli." Philemon berkata sambil tersenyum.
"Hahaha... Jangan diingatin lagi soal itu. Entah, hari itu emosiku ditiup angin apa ke bengkel." Maya jadi tersenyum mengingat semua ucapannya di bengkel.
"Angin gondrong... Hahaha." Maya makin tertawa dengar balasan Philemon.
"Sekarang clear, ya. Jadi tidak perlu dipersoalkan, jika suatu waktu bertemu dengan mereka." Philemon berkata serius sambil menatap Maya.
"Eeeh, tungguuu... Lalu sang 'beb' yang malam-malam itu, siapamu?" Maya mengingat wanita yang memanggil philemon, 'beb'.
"Ooh, dia teman SMAku di Cengkut. Tidak ada apa-apa di antara kami. Aku juga heran, pada malam itu dia tiba-tiba panggil 'beb'. Mungkin hanya untuk provokasi, saat melihat aku bicara denganmu." Philemon berkata serius dengan mimik wajah yang berbeda dengan saat dia bicara tentang Netta.
"Aku tidak tau, ada pembicaraan apa antara Ibu dengan dia, atau dia dengan Ibu. Sejak aku pulang dari Moro karena Kakek sakit, dia terus berada di dekatku."
"Kadang-kadang membuatku emosi dan bertukar kata dengannya atau Ibu. Dia sering berada di rumah, membuat aku sering di rumah sakit. Eeh, dia ikut juga ke rumah sakit. Bisa bayangkan emosiku yang harus ditahan, karena Kakek sedang sakit?" Philemon bertanya sambil melihat Maya dengan serius.
"Kehadirannya membuat rumah tidak lagi seperti dulu, saat Kakek masih hidup. Dia tiba-tiba muncul di rumah, tanpa ada sinyal." Philemon berkata dengan mimik wajah yang serius dan kaku. Maya jadi tertegun melihat perubahan wajahnya.
...~•••~...
...~●○♡○●~...
apa lemon nanti pria yang dijodohkan sama kamaya