NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:707
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Tidak terduga.

Gerimis di luar telah sepenuhnya reda, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Di ruang tengah lantai dasar, Bora baru saja selesai menata mangkuk sup iga hangat dan semangkuk nasi di atas meja kopi, tepat di depan sofa tempat Prisha bersandar.

Namun, gerakan Prisha yang baru saja hendak meraih sendok seketika terhenti saat mendengar langkah kaki tegap yang sangat familier dari arah tangga. Saka Tanubrata berjalan mendekat. Pria itu telah menanggalkan jas kerjanya, menyisakan kemeja hitam formal yang lengannya kini digulung berantakan hingga ke siku. Tanpa sepatah kata pun, ia langsung mendudukkan diri di sofa tunggal yang berada tepat di seberang Prisha.

Prisha mengangkat sebelah alisnya. Sebuah senyuman penuh arti perlahan terukir di wajah cantiknya.

"Wah, keajaiban dunia macam apa ini?" sindir Prisha, memecah keheningan dengan nada jenaka yang dibuat-buat. "Tumben sekali Kak Saka sudah pulang jam segini? Biasanya kan sengaja lembur sampai tengah malam di kantor."

Saka melirik datar ke arah piring di depan Prisha, lalu menjawab dengan suara baritonnya yang berat. "Ini rumahku. Terserah aku mau pulang jam berapa."

"Ah, kupikir Kakak bakal mengurung diri di ruang kerja atau kamar atas sepanjang malam," lanjut Prisha. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap Saka dengan pandangan menantang yang berani. "Tumben tidak menghindariku lagi? Takut terpesona ya kalau melihatku lama-lama?"

Saka mendengus sinis, memperbaiki posisi duduknya. "Jangan terlalu tinggi percaya dirimu, Prisha. Aku ke bawah karena lapar, dan kebetulan makanan di ruang makan utama belum siap."

"Alasan klasik," cibir Prisha pelan sambil memutar bola matanya.

Bora yang peka dengan situasi segera melangkah maju tanpa suara. Dengan cekatan, ia mengambil mangkuk kosong tambahan, menyendokkan nasi serta sup iga yang mengepulkan uap hangat untuk Saka, lalu meletakkannya di hadapan sang tuan muda sebelum melangkah mundur kembali ke posisinya.

Saka mulai meraih sendoknya. Namun, sebelum menyuap makanan, pandangan matanya sempat melirik ke arah tumpukan kertas fotokopi materi kuliah yang tergeletak di ujung sofa panjang tempat Prisha bersandar.

"Gadis yang tadi sore itu ... dia benar-benar temanmu?" tanya Saka tiba-tiba.

Prisha mendongak, sedikit terkejut karena Saka berinisiatif mengungkit soal Ayu. "Tenu saja. Kenapa? Kakak tertarik? Jangan bilang Kakak langsung terpesona melihat keluguan temanku."

"Hah?"

"Karena kupikir Kakak suka tipe yang lugu-lugu begitu." Prisha teringat foto Utami.

"Aku serius, Prisha," potong Saka cepat, suaranya terdengar tegas dan suram. "Ternyata putri manja yang dikudeta dari takhtanya seperti dirimu masih punya satu pengikut setia yang mau datang jauh-jauh ke rumah ini."

"Namanya Ayu, Kak. Dan tolong ya, dia bukan pengikut, dia sahabatku," balas Prisha dengan nada bangga, egonya sebagai seorang Kaelen sedikit melambung. "Tidak semua orang di dunia ini berhati batu dan suka memandang rendah diriku seperti Kakak. Ayu itu gadis yang sangat tulus. Dia bahkan rela bersusah payah mencari alamat rumah ini hanya untuk membawakan catatan kuliahku agar aku tidak ketinggalan pelajaran selama kakiku sakit."

Saka menghentikan gerakan sendoknya di udara. Matanya menatap tajam ke arah Prisha, seolah sedang menilai kedangkalan berpikir gadis di depannya.

"Tulus?" Saka menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sarkasme. "Di dunia nyata, tidak ada yang benar-benar tulus tanpa ada udang di balik batu, Prisha. Apalagi untuk orang yang sudah kehilangan seluruh status sosial dan kekayaannya sepertimu."

"Maksud Kakak apa, sih?" Prisha mulai merasa tidak nyaman, alisnya bertaut rapat. "Kakak menuduh Ayu punya niat buruk padaku? Jangan samakan semua orang baik dengan cara pandang Kakak yang sinis dan penuh prasangka itu, ya!"

"Aku hanya mengatakan apa yang kulihat berdasarkan fakta," ucap Saka dengan nada dingin yang acuh tak acuh. "Tatapan mata gadis itu tadi saat pertama kali melangkah masuk dan melihat isi rumah ini ... dan terutama saat dia melihatku berdiri di sana. Itu bukan tatapan murni dari seorang teman yang hanya mengkhawatirkan kesembuhanmu."

"Hah! Pandanganmu itu memang selalu buruk!" potong Prisha ketus, wajah cantiknya merengut kesal karena sahabatnya dijelek-jelekkan. "Aku sudah berteman dengannya cukup lama. Aku tahu mana orang yang tulus dan mana yang palsu. Ayu selalu ada untuk membantuku, bahkan saat semua anak di kampus menjauhiku karena hasutan si ular Yunha. Jadi stop menuduhnya dengan teori konspirasi konyol Kakak itu."

Saka hanya mengedikkan bahunya sekilas, kembali menyuap sup iganya dengan tenang. "Terserah. Jangan datang menangis di depanku nanti kalau suatu hari apa yang kuucapkan terbukti benar."

"Tidak akan pernah! Simpan saja pikiran burukmu itu untuk dirimu sendiri!" ketus Prisha.

Karena suasana hatinya mendadak memburuk akibat ucapan Saka, Prisha memutuskan untuk mengabaikan pria itu. Ia berniat mengambil mangkuk kecil berisi sambal dan potongan jeruk nipis yang terletak agak jauh di ujung meja kopi.

Mengingat kaki kirinya yang terbungkus gips tebal tidak bisa ditekuk atau dijadikan tumpuan, Prisha terpaksa mencondongkan seluruh tubuhnya ke depan dengan posisi yang sangat tidak seimbang.

Kretak!

Sofa panjang beludru yang diduduki Prisha sedikit bergeser karena dorongan berat tubuhnya yang bertumpu pada satu sisi. Dalam hitungan detik, gravitasi mengambil alih. Tubuh Prisha kehilangan keseimbangan sepenuhnya. Ia memekik kaget saat merasakan tubuhnya akan segera menggelinding jatuh ke lantai ubin untuk kedua kalinya dalam dua hari ini.

"Prisha!"

Gerakan Saka terjadi begitu cepat, seolah didorong oleh refleks murni yang mengabaikan segala gengsi dan tembok esnya. Pria itu langsung setengah melompat dari sofa tunggalnya, menjatuhkan sendoknya begitu saja hingga berdenting keras di atas meja, lalu menjulurkan kedua lengannya yang kekar untuk menangkap tubuh Prisha yang hampir terjungkal.

Bruk!

Prisha tidak menghantam lantai. Alih-alih ubin yang dingin, wajah dan dadanya justru mendarat dengan keras di dada bidang Saka yang kokoh. Kedua tangan kekar Saka telah mencengkeram erat kedua bahu Prisha, menahan seluruh bobot tubuh gadis itu agar tetap stabil di atas sofa panjang.

Jarak di antara mereka seketika mengikis habis, menyisakan jarak tidak lebih dari beberapa sentimeter saja. Prisha bisa mendengar dengan sangat jelas detak jantung Saka yang berpacu sedikit lebih cepat dari normal di balik kemeja hitamnya, sementara embusan napas hangat pria itu menerpa puncak kepalanya. Suasana di ruang tengah mendadak sunyi senyap, menyisakan ketegangan pekat yang belum pernah terjadi di antara mereka sebelumnya.

"Wah keajaiban! Kak Saka menangkapku!"

Saka langsung menurunkan pandangannya, menatap wajah Prisha yang berada tepat di bawah dagunya tersenyum cengengesan pp. Kedekatan yang terlalu intim ini membuat raut wajah Saka seketika mengeras akibat rasa campur aduk yang bergejolak di dalam dadanya.

Bora bertepuk terus tangan. Prok ... Prok ... Prok.

"Wah Nona! Selamat! Kali ini pantat Anda tidak perlu di oles salep memar."

"Kau ini benar-benar tidak bisa diam sehari saja, ya?!" omel Saka dengan suara baritonnya yang meninggi, sarat akan rasa jengkel sekaligus cemas yang berusaha keras ia tutupi di balik kemarahannya. "Kau mau membuat kakimu yang tinggal satu itu patah juga, hah?! Kenapa tidak minta tolong pada Bora kalau mau mengambil sesuatu?!"

Senyum Prisha menghilang. Ia menatap lekat sepasang mata Saka yang berada begitu dekat dengannya, menangkap kilat kepanikan yang belum pernah ia lihat sebelumnya dari pria es ini. Namun, alih-alih merasa takut atau bersalah karena baru saja hampir mencelakai dirinya sendiri, insting menggoda dalam diri Prisha justru kembali bangkit dengan kuat begitu menyadari raut wajah Saka yang mulai tampak salah tingkah.

Sebuah senyuman tipis yang memikat dan penuh kelicikan perlahan terukir di bibir ranum Prisha. Ia sengaja tidak langsung menjauhkan tubuhnya, melainkan justru semakin menyandarkan seluruh bobot tubuhnya pada dada bidang Saka, menikmati kehangatan yang menjalar dari sana.

"Kenapa aku harus repot-repot meminta tolong pada Bora ..." bisik Prisha dengan nada suara yang sengaja dibuat manja, mendayu, dan penuh provokasi, sementara matanya mengerjap pelan menatap Saka dari bawah. "... kalau ternyata Kak Saka bisa bergerak secepat ini untuk menangkap tubuhku?"

Saka langsung membeku di tempatnya berdiri, cengkeramannya di bahu Prisha menegang.

"Lagipula ..." Prisha mendekatkan wajahnya sedikit lagi, menantang egomu yang setinggi langit dengan menyisakan jarak yang sangat tipis di antara bibir mereka, hingga Saka bisa mencium aroma samar buah anggur dari napas gadis itu. "... kalau kedua kakiku sampai patah, Kak Saka kan bisa menjadi sepasang kakiku yang baru. Kakak pasti bersedia menggendongku ke mana-mana setiap hari, kan?"

Mendengar ucapan yang teramat tebal muka dan penuh godaan vulgar itu, kesadaran Saka seketika kembali pulih sepenuhnya. Wajah kakunya berubah menjadi merah padam antara kesal, malu, dan gusar karena merasa telah dipermainkan lagi oleh gadis ini.

"Bora, berhenti beretepuk tangan. Berisik."

Bora menurunkan tangannya. "Baik, Tuan Muda."

Saka langsung melepaskan cengkeraman tangannya di bahu Prisha dengan sedikit kasar, mendorong tubuh gadis itu perlahan namun tegas agar kembali bersandar pada tumpukan bantal sofa beludru.

"Kau benar-benar gadis gila yang tidak tahu diri," ketus Saka, suaranya terdengar sedikit bergetar karena menahan rasa dongkol yang meluap-luap di dadanya.

Saka langsung berdiri tegak, merapikan kemeja hitamnya yang sedikit kusut akibat remasan tangan Prisha tadi dengan gerakan yang terburu-buru. Ia tidak sudi lagi melanjutkan makan malamnya yang telah hancur berantakan oleh ulah sang 'Putri Jahat'.

"Bora! Bersihkan semua mejanya sekarang. Aku sudah kenyang," titah Saka dengan nada suara yang menggelegar dingin, menggema ke seluruh ruangan tanpa berani ditentang oleh siapa pun.

Tanpa menoleh sedikit pun lagi ke arah Prisha yang kini sedang menutup mulutnya untuk menahan tawa puas di atas sofa, Saka memutar tubuhnya dengan kasar. Ia melangkah tegap dengan langkah-langkah lebar menaiki anak tangga berkarpet hitam, melarikan diri kembali ke zona nyamannya di lantai atas demi menyembuhkan detak jantungnya yang mendadak berantakan tidak karuan.

Prisha yang melihat punggung kokoh itu menjauh dan menghilang di balik tikungan tangga dengan gusar langsung meledakkan tawa kecilnya yang renyah dan penuh kemenangan.

"Hahah aku tidak menyangka dia akan menangkapku," ucap Prisha riang, matanya berbinar puas sambil kembali meraih sendoknya untuk melanjutkan makan malam dengan nafsu makan yang mendadak meningkat dua kali lipat—kebalikan dari Saka.

Bersambung....

1
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!