NovelToon NovelToon
MY ALTER EGO

MY ALTER EGO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Wanita / Wanita Karir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: FantasiKuyy

Judul: My alter ego

Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.

Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Kesepakatan dalam Kehancuran

Jari-jari lentik Hira Lione berhenti mengetik. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan rasa tidak nyaman yang merayap di tengkuknya.

Bagas, rekan kerja dari divisi pemasaran, kembali berdiri terlalu dekat di belakang kursinya. Pria itu mencondongkan tubuh, seolah sedang memperhatikan layar monitor Hira.

"Laporannya belum selesai, Hira?" tanya Bagas.

Suara pria itu terdengar rendah. Tangannya bergerak, sengaja menyentuh sandaran kursi Hira hingga ujung jarinya nyaris menyerempet bahu wanita itu.

Hira segera memundurkan kursinya. Ia menoleh dengan ekspresi datar, menyembunyikan rasa jijiknya rapat-rapat.

"Sedang saya kerjakan, Pak Bagas. Maaf, bisa tolong beri saya sedikit ruang? Saya kesulitan mengetik," balas Hira.

Bagas mendecak pelan. Pria itu menyilangkan tangan di depan dada, menatap Hira dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Kamu ini kaku sekali. Padahal dengan wajah secantik itu, kamu tidak perlu kerja terlalu keras di sini. Cukup senyum saja ke klien, proyek pasti tembus."

Hira menggigit bibir bagian dalamnya. Tangannya mengepal kuat di bawah meja. Ini bukan pertama kalinya ia dilecehkan secara verbal seperti ini, dan sepertinya bukan yang terakhir.

Belum sempat Hira membalas, sebuah map merah tebal mendarat keras di atas mejanya.

Plak!

Hira terperanjat. Ia mendongak dan melihat Siska, manajer divisinya, berdiri dengan mata membelalak marah. Rahang wanita yang usianya beberapa tahun lebih tua dari Hira itu tampak mengeras.

"Hira! Apa yang kamu kerjakan dari tadi pagi?!" bentak Siska dengan suara melengking.

Beberapa karyawan lain menoleh, namun mereka segera pura-pura sibuk kembali. Tidak ada yang berani ikut campur jika Siska sudah mengamuk.

"Saya sedang menyelesaikan rekap data kuartal ketiga seperti yang Ibu minta," jawab Hira pelan namun jelas.

"Bohong! Kalau kamu memang kerja, laporannya sudah ada di meja saya satu jam yang lalu!"

Siska menunjuk wajah Hira dengan ujung pena. Tatapan manajer itu menyapu wajah Hira yang dipulas riasan tipis, lalu turun ke kemeja kerja Hira yang sederhana namun pas di badannya yang proporsional.

Kilat kebencian dan kecemburuan terlihat sangat jelas di mata Siska.

"Kamu pikir karena kamu cantik, kamu bisa bersantai dan menggoda karyawan pria di jam kerja?! Otakmu itu dipakai, Hira! Jangan cuma mengandalkan tampang!" bentak Siska lagi.

Hira menundukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak menggoda siapa pun. Justru dia yang terus-terusan diganggu. Ia tahu, Siska hanya mencari-cari alasan. Siska membencinya karena bulan lalu presentasi Hira dipuji habis-habisan oleh direktur utama, membuat Siska merasa tersaingi.

"Maafkan saya, Bu. Saya akan selesaikan sekarang juga," ucap Hira, memilih mengalah. Ia tidak punya energi untuk berdebat.

Siska mendengus sinis. Ia memutar bola matanya dan berbalik pergi dengan langkah menghentak. Bagas pun sudah menghilang entah ke mana.

Hira kembali menatap layarnya. Pandangannya mulai mengabur oleh genangan air mata yang mati-matian ia tahan.

Langkah Hira terasa sangat berat saat ia mendorong pintu rumahnya. Tidak ada siapa-siapa di sana. Ruang tamu itu gelap dan sepi.

Hira meletakkan tasnya di atas sofa. Ia berjalan gontai menuju meja kecil di sudut ruangan. Di sana, terdapat dua bingkai foto dengan kalungan bunga melati yang mulai layu.

Dada Hira sesak. Ia menyentuh kaca bingkai foto ayah dan ibunya. Baru seminggu. Tujuh hari yang lalu, kedua orang tuanya meninggal dunia dalam kecelakaan beruntun di jalan tol.

Air mata yang sejak tadi ia tahan di kantor akhirnya tumpah. Tubuh Hira merosot. Ia bersimpuh di lantai, memeluk lututnya sendiri sambil menangis tergugu.

Di tengah tangisannya, ponsel di dalam tas Hira bergetar hebat.

Hira mengusap wajahnya yang basah. Ia merangkak perlahan, menarik ponselnya keluar. Layar ponsel itu menyala, menampilkan notifikasi.

[Pesan Masuk: Reza (Suami)]

[Reza: Sayang, malam ini aku lembur lagi. Ada rapat darurat dengan Bu Direktur. Kamu tidur duluan saja ya. Jangan lupa makan.]

Hira menelan ludah. Ada rasa perih yang aneh di hatinya. Seminggu ini, tepat saat ia paling membutuhkan sosok suaminya, Reza selalu beralasan lembur.

Satu detik kemudian, sebuah pesan lain masuk dari nomor yang tidak dikenal.

[Pengirim Tidak Dikenal: Mengirim sebuah gambar.]

Hira mengerutkan kening. Jari telunjuknya yang bergetar menekan layar, membuka pesan tersebut. Matanya langsung melebar sempurna. Napasnya seakan berhenti di tenggorokan.

[Gambar: Reza duduk di sebuah sofa remang-remang. Kemejanya berantakan. Ia sedang memangku dan mencium leher seorang wanita yang sangat Hira kenal—Bu Anita, bos tempat Reza bekerja.]

Ponsel itu terlepas dari genggaman Hira, jatuh berdebum ke lantai.

Dunia Hira runtuh malam ini. Orang tuanya pergi selamanya, pekerjaannya seperti neraka, dan kini, pria yang berjanji akan menjaganya seumur hidup malah mengkhianatinya dengan wanita yang lebih tua demi jabatan.

"Kenapa... kenapa semua ini terjadi padaku?" bisik Hira parau. Ia menjambak rambutnya sendiri, menangis hingga suaranya nyaris hilang.

Tiba-tiba, di tengah keputusasaannya yang paling dalam, Hira mendengar sesuatu.

Bukan suara dari luar, melainkan dari dalam kepalanya sendiri.

{Menyedihkan sekali. Berapa lama lagi kamu mau menangis seperti orang bodoh di lantai itu?}

Hira terlonjak. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik. Matanya menyapu seluruh penjuru ruang tamu. Kosong.

"Siapa itu?!" seru Hira dengan suara bergetar.

{Tidak perlu mencari. Aku ada di dalam sini. Di dalam kepalamu.}

Suara itu terdengar sangat jernih. Nadanya begitu dingin, tajam, dan penuh dengan keangkuhan. Anehnya, suara itu terdengar persis seperti suara Hira sendiri, namun tanpa sedikit pun keraguan atau rasa takut.

{Aku adalah kamu, Hira. Bagian dari dirimu yang selama ini kamu kurung. Bagian yang sudah muak melihatmu terus-terusan menunduk dan membiarkan dunia menginjak-injakmu.}

Tangan Hira mencengkeram ujung bajunya. "A-apa maumu? Apakah aku sudah gila sekarang?"

{Kamu belum gila. Kamu hanya hancur. Tapi tenang saja, aku bisa memperbaiki semua kekacauan ini.}

Suara itu tertawa kecil. Tawa yang mengisyaratkan kelicikan yang luar biasa.

{Mari kita buat kesepakatan. Kamu terlalu lemah untuk menghadapi bajingan-bajingan itu. Suamimu, bosmu, rekan kerjamu... mereka semua sampah. Biarkan aku mengambil alih tubuh ini.}

Hira menahan napas. Pikirannya berkecamuk. Menyerahkan tubuhnya? Kepada sosok lain yang bersarang di kepalanya?

"Kalau aku menyerahkan tubuhku... apa yang akan terjadi padaku?" bisik Hira ragu.

{Kamu bisa beristirahat di dalam. Menonton pertunjukannya. Dan jangan khawatir...}

Suara itu memberi jeda sejenak, membiarkan Hira menyerap setiap kata-katanya.

{...sebagai pemilik asli, kamu memegang kendali mutlak. Kamu bisa kembali mengambil alih tubuh ini kapan pun kamu mau. Kapan saja. Hanya sebuah pertukaran sementara. Aku yang akan membalaskan dendammu, dan kamu cukup duduk manis. Bagaimana?}

Hira menatap ponselnya yang tergeletak di lantai. Layarnya masih menyala, menampilkan foto perselingkuhan suaminya. Ia teringat wajah Siska yang mencemoohnya. Ia teringat tangan kotor Bagas yang mencoba menyentuhnya.

Rasa sakit dan kesedihannya tiba-tiba membeku, tergantikan oleh amarah yang selama ini ia pendam.

Hira mengusap sisa air matanya dengan kasar. Rahangnya mengeras.

"Sepakat," ucap Hira mantap.

Detik itu juga, sebuah sensasi dingin menjalar dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Hira menutup matanya. Tarikan napasnya yang tadi tersengal-sengal, kini berubah sangat tenang dan teratur.

Ketika mata itu terbuka kembali, pandangan rapuh dan penuh air mata itu telah lenyap tanpa sisa.

Hira berdiri secara perlahan. Postur tubuhnya yang biasa sedikit membungkuk, kini tegak lurus sempurna. Ia merapikan rambutnya dengan gerakan elegan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.

Ia melangkah mendekati cermin besar di dekat pintu. Bayangannya terpantul di sana. Ujung bibirnya perlahan tertarik ke atas, membentuk sebuah senyum miring yang sangat dingin dan mematikan.

Hira mengambil ponsel di lantai, mengetik sebuah balasan dengan ibu jarinya yang bergerak cepat.

[Pesan Keluar untuk Reza: Semangat lemburnya, Sayang. Semoga kerjamu dengan Bu Anita membuahkan hasil yang 'memuaskan'.]

Hira mematikan layar ponselnya. Mata indahnya menyipit tajam menatap ke luar jendela yang gelap.

"Nah, mari kita lihat, siapa yang akan hancur lebih dulu."

1
Kustri
ayo UP lg💪
lg seru nih
Kustri
koq msh siang
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
Kustri
dilanjut bsk ra, sdh saat'a pulang
Kustri
cepet bgt hira dpt smua info penyelewengan🤔🤔🤔
kodammu luar biasa!
Kustri
💪💪💪thor
Kustri
👏👏👏
🤝
Kustri
vote u hira💪
Kustri
dgn senang hati kutrima tantanganmu presdir💪
Kustri
klo teran cenayang pasti bisa merasakan alter ego'a hira🤣
Kustri
☕dl hira.... semangat💪
Kustri
ketemu jodoh🤣
Kustri
hlaaa... istri'a sdg berduka bukan'a ditemeni ini malah nyari hiburan sendiri, dasar suami durhaka🤣👊👊👊
Kustri
siapa yg kirim foto yaa🤔🤔🤔
Kustri
tunggu... tunggu berarti hira & suami 1 bos gitu thor🤔
ampe qu ulang baca part 1 hlo
JihanSan: betul cekali teman
total 1 replies
Kustri
awal yg menarik
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!