NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:25.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Jena, Kamu Pergi Ke Mana?

"Ini kan ... kartu akses apartemen." Jovian menatap kartu akses apartemen itu tanpa berkedip. Darahnya seakan berhenti mengalir. Napasnya tercekat. Perasaan yang sejak tadi berusaha ia tepis kini berubah menjadi ketakutan yang nyata.

Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka. Tanpa menunggu sedetik pun, Jovian langsung berlari keluar. Langkahnya panjang dan tergesa-gesa menyusuri koridor menuju unit apartemen yang selama dua tahun terakhir menjadi tempat tinggal Jena.

"Jangan ... jangan sampai ..." gumamnya lirih. Tangannya yang sedikit gemetar segera menempelkan kartu akses pada panel di samping pintu.

Kunci elektronik terbuka. Jovian langsung mendorong pintu hingga terbuka lebar. "Jena!" Tak ada jawaban. "Jena!" Ia berlari masuk, bahkan tak sempat melepas sepatunya. Pandangannya menyapu seluruh ruang tamu.

Semuanya masih tertata rapi. Bahkan vas bunga yang dulu dibeli Jena masih berada di tempatnya. Namun ... suasana apartemen itu terasa asing.

Tak ada aroma masakan yang biasanya menyambutnya sepulang kerja. Tak ada suara televisi. Tak ada suara langkah kaki Jena. Keadaan apartemen benar-benar sunyi. "Jena!" panggilnya sekali lagi, kali ini lebih keras.

Jovian langsung berlari menuju kamar.

Pintu kamar didorong hingga membentur dinding.

Ranjang telah dirapikan dengan sangat rapi. Selimut terlipat sempurna. Bantal tersusun seperti kamar hotel. Dadanya mulai dipenuhi firasat buruk. Dengan tergesa ia membuka lemari pakaian.

Pintu lemari terbuka lebar. Jovian membeku. "Kosong?" Tak ada satu pun gaun, kemeja, ataupun jaket milik Jena yang biasanya memenuhi sisi kiri lemari. Ia buru-buru membuka laci pertama.

Kosong.

Laci kedua.

Kosong.

Laci ketiga.

Tak ada apa pun.

Jovian semakin panik. Ia berjongkok, membuka tempat penyimpanan pakaian di bagian bawah. Tak ada apa-apa.

Ia berlari menuju meja rias. Seluruh botol skincare, parfum, kosmetik, sisir, hingga pengikat rambut milik Jena telah lenyap. Tak tersisa satu pun. "Enggak ..." Jovian menggeleng berulang kali.

Dengan napas memburu ia membuka kamar mandi. Rak yang biasanya dipenuhi perlengkapan mandi Jena kini hanya menyisakan perlengkapannya sendiri. Sikat gigi Jena, sabun, sampo dan handuk. Semuanya sudah tidak ada.

Jovian mundur beberapa langkah. Tubuhnya terasa lemas. "Tidak ..." Ia kembali berlari keluar kamar, memeriksa ruang kerja kecil.

Barang-barang Jena benar-benar sudah tidak ada. Yang tersisa hanyalah barang-barang yang memang dibeli Jovian untuk mengisi apartemennya. "Jena ..." bisiknya dengan suara bergetar. Perlahan lututnya kehilangan tenaga. Ia jatuh terduduk di lantai ruang tamu. Tatapannya kosong menatap ruangan yang kini terasa begitu luas ... sekaligus begitu hampa.

Baru saat itulah ia benar-benar menyadari. Jena bukan sekadar pergi karena marah. Perempuan itu telah menghapus seluruh jejak kehidupannya dari apartemen ini. Dan juga dari kehidupan Jovian. "Jena ... kamu pergi ke mana?"

***

Jena perlahan membuka pintu kamar hotelnya. Wajahnya tampak jauh lebih segar setelah beristirahat beberapa jam. Ia mengenakan blouse putih sederhana yang dipadukan dengan celana jeans biru muda serta sneakers putih. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, hanya sebagian kecil dijepit ke belakang. Ia mengunci pintu kamar, lalu berjalan menuju lift sambil membawa tas selempang kecil.

Begitu keluar dari hotel, udara sore Bandung langsung menyapanya. Semilir angin yang sejuk membuat Jena mengembuskan napas panjang. "Hmm ... enaknya ngapain ya?" gumamnya sambil menoleh ke kanan dan kiri. Beberapa detik kemudian, matanya berbinar. "Aku mau jalan-jalan sore di Alun-Alun Bandung, ah!" ujarnya semangat. "Terus cari jajanan khas Bandung." Senyumnya semakin lebar."Cuanki, batagor, terus minumnya aku mau nyobain bajigur." Jena terkikik kecil sambil menepuk kedua telapak tangannya. "Hihi ... pas banget buat udara Bandung yang dingin." Tanpa berpikir lama, ia segera memesan taksi online. Tak sampai lima menit, mobil yang dipesannya tiba di depan hotel.

"Selamat sore, atas nama Mbak Jena?" sapa sang sopir ramah.

"Sore, Pak. Iya, ke Alun-Alun Bandung ya, Pak."

"Siap." Sang sopir membukakan pintu mobil, Jena pun masuk dan mobil pun melaju membelah jalanan Kota Bandung yang mulai dipenuhi kendaraan menjelang malam.

Jena menyandarkan tubuhnya di kursi sambil menikmati pemandangan dari balik jendela. Sudah lama sekali ia tidak mengunjungi kota ini. Entah mengapa, setiap sudut Bandung selalu memberinya perasaan hangat. "Kota ini ..." bisiknya pelan. "Semoga bisa membantuku memulai semuanya dari awal." Tanpa disadari, senyum tulus kembali menghiasi wajahnya. "Aku ingin melupakan masa laluku. Terutama Jovian Ardhana."

Beberapa menit kemudian, mobil yang ditumpangi Jena akhirnya tiba di kawasan Alun-Alun Bandung. Setelah membayar ongkos, ia turun dari mobil sambil mengucapkan terima kasih kepada sang sopir.

"Hmm ..." Jena menarik napas panjang. Udara sore yang sejuk langsung menyentuh kulitnya, membuat senyumnya semakin lebar.

Suasana Alun-Alun Bandung masih cukup ramai. Banyak keluarga yang membawa anak-anak, pasangan muda yang berjalan bergandengan tangan, hingga para wisatawan yang sibuk mengabadikan momen.

Jena mulai melangkah pelan menyusuri kawasan itu. Tatapannya bergerak ke kiri dan ke kanan, menikmati deretan pertokoan yang berjejer rapi di sepanjang jalan. Ada toko oleh-oleh khas Bandung, butik pakaian, kedai kopi, hingga kios-kios kecil yang menjajakan aneka camilan. Sesekali ia berhenti sejenak ketika melihat etalase yang menarik. "Wah ... lucu banget," gumamnya saat melihat deretan gantungan kunci berbentuk ikon Kota Bandung.

Beberapa langkah kemudian, matanya kembali tertuju pada sebuah toko yang memajang aneka kerajinan tangan dari kayu dan bambu. "Bagus-bagus ya ..." ujarnya pelan sambil tersenyum.

Jena memang tidak berniat berbelanja. Ia hanya ingin menikmati suasana kota yang baru saja didatanginya, membiarkan pikirannya beristirahat dari segala beban yang selama ini menyesakkan dada.

Ia kembali melanjutkan langkah dengan santai. Angin sore meniup lembut rambutnya, sementara wajahnya tampak jauh lebih tenang dibanding beberapa jam sebelumnya. "Ternyata ... jalan-jalan sendirian juga menyenangkan," gumamnya lirih. Senyum kecil kembali menghiasi wajahnya. Untuk sesaat, ia benar-benar berhasil melupakan semua kepedihan yang ditinggalkannya di Jakarta. Kini, yang ingin ia lakukan hanyalah menikmati setiap sudut Kota Bandung dengan langkah yang ringan dan hati yang perlahan mulai pulih.

***

Jovian masih terduduk lemas di sofa ruang tamu. Apartemen yang biasanya terasa hangat kini berubah begitu sunyi.

Di tangannya tergenggam ponsel yang menampilkan foto Jena. Satu per satu foto itu ia pandangi. Air matanya kembali jatuh tanpa bisa ditahan.

"Kamu pergi ke mana, Jen?" bisiknya lirih. Jemarinya mengusap layar ponsel, seolah sedang membelai pipi perempuan yang begitu ia rindukan. "Aku cuma ingin ketemu kamu ... sekali saja." Jovian menundukkan kepala. Bahunya bergetar pelan menahan sesak yang terus menghimpit dadanya.

Beberapa saat kemudian, matanya perlahan membelalak. Sebuah pemikiran tiba-tiba muncul di benaknya. "Rumah lama Jena." Jovian langsung mengangkat kepala. "Pasti Jena pulang ke sana." Harapan yang sempat padam kini kembali menyala.

Tanpa berpikir panjang, ia segera bangkit dari sofa, menyimpan ponselnya ke dalam saku, lalu bergegas keluar dari apartemen.

Namun baru beberapa langkah menuju lift, ia mendadak menghentikan langkahnya. "Ah ... aku harus tanya Grace dulu. Tadi Jena pergi membawa apa saja dan mungkin Grace juga tahu ... Jena pergi ke mana." Ia teringat petugas resepsionis itu sempat berbicara saat sudah memberikan titipan dari Jena, tapi tadi ia abaikan begitu saja.

Tanpa membuang waktu lagi, Jovian langsung masuk ke lift.

Sesampainya di lantai dasar, Jovian gegas menghampiri Grace. "Mbak Grace ... tadi siang Jena pergi bawa apa saja dari sini?" tanya Jovian to the point.

Grace berpikir sejenak sebelum menjawab. "Mbak Jena bawa dua koper besar, sama satu tas jinjing berukuran sedang dan shoulder bag."

Jantung Jovian serasa diremas. "Terus dia ada bilang mau pergi ke mana?"

Grace mengernyitkan kening. "Memangnya Mbak Jena nggak bilang ke Mas Jovian?"

"Enggak!" jawab Jovian singkat. "Tolong kasih tahu saya dia pergi ke mana?" desak Jovian.

"Tadi pas saya tanya ... Mbak Jena bilang mau pergi liburan."

"Hah? Liburan?" Kedua alis Jovian menukik tajam.

"Iya." Grace mengangguk.

"Dia bilang nggak mau liburan ke mana?"

"Nggak, Mas. Saya juga tadi nggak nanya."

"Argh!" Jovian mengerang frustrasi, membuat Grace dan rekannya terlonjak sedikit. "Terima kasih atas informasinya." Jovian melangkah pergi. "Sekarang juga, aku harus ke rumah Jena!" putusnya dalam hati.

Sementara itu, Grace dan rekannya saling senggol. "Kayaknya Mas Jovian dan Mbak Jena bertengkar deh?" tebak Grace.

"Iya, sepertinya begitu."

Mesin mobil meraung saat Jovian menginjak pedal gas lebih dalam. Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.

"Jena pasti pulang ke rumah. Dia pasti ada di sana." Ia terus meyakinkan dirinya sendiri. Hanya harapan itu yang kini membuatnya tetap bertahan.

Hampir satu jam kemudian, mobil hitam miliknya akhirnya memasuki sebuah kawasan perumahan yang begitu dikenalnya. Tempat yang dulu sering ia datangi.

Jovian langsung menghentikan mobil tepat di depan rumah peninggalan kedua orang tua Jena. Belum sempat mesin dimatikan, matanya lebih dulu menatap ke arah rumah itu. Namun tak ada tanda-tanda Jena ada di sana.

Pagar besi terkunci rapat dengan gembok yang masih terpasang. Lampu teras tidak menyala..Begitu pula seluruh lampu di dalam rumah. Keadaannya gelap gulita.

Jovian buru-buru turun dari mobil. "Jena!" Ia mengguncang pagar dengan kedua tangannya. "Jena! Kamu di dalam?" Tapi sayangnya tidak ada jawaban. Yang terdengar hanyalah suara gesekan pagar besi dan embusan angin petang.

Halaman rumah tampak sepi. Beberapa daun kering berserakan tertiup angin. Tak ada tanda-tanda seseorang berada di sana.

Perlahan, kedua tangan Jovian terlepas dari pagar. Tatapannya kosong. "Rumah ini ... kosong." Napasnya terasa semakin berat. "Jena sepertinya tidak ada di sini." Suaranya nyaris tak terdengar. Ia menundukkan kepala.

Nomor ponsel Jena tak bisa dihubungi. Apartemen telah ditinggalkan. Rumah lamanya pun kosong. Jena benar-benar menghilang dari hidupnya.

Jovian memejamkan mata. Setetes air mata kembali jatuh tanpa mampu ia cegah. "Jena ..." bisiknya lirih. "Kamu pergi ke mana?" lirihnya putus asa.

1
Nining Sariningsih
good👍,,,,tuh si Jo gak punya malu kali ya dah tidur ma si michi juga masih mau ma jena jijik gua thoorrrrrr,kalo bisa cepat2 deh ada karma buat keluarga si Jo biar pada instrospeksi kelamaan dibiarkan malah entar menjadi2 mereka 😅😅😅
Ama Apr: haha sabar, biarkan mreka senang2 duyu
total 1 replies
Yeyet Rohaeti
dasar orang kaya sombong, semoga bangkrut perusahaan ny, biar keluarga nya jatuh miskin.
Ama Apr: iya pantes Allah tk mempersatukan jena dan jovian
total 1 replies
partini
ternyata sama kaya ortu nya suka menghina orang miskin
Ama Apr: ya, namanya juga turunan kk😂
baiknya selama ini cuma kedok
total 1 replies
nunik rahyuni
siapa sih..ganggu aja?klo jo yg datang simbur pakai banyu cucian j jena...orang g tau diri..😡
Ama Apr: hahaha mantap
total 1 replies
Nining Sariningsih
jangan sampai si jovian yang datang ganggu orang aja kalau bener,kalo bener si Jo tendang aja jena jangan kasih kesempatan orang gila itu tuk masuk lagi ke hidup mu,,,,,,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Inarrr Ulfah
waduh siapa.tuh apa si Jo
Ama Apr: besok ya🤭
total 1 replies
mama
kyk kerbau aj km jo jo nurut amat jdi laki..gk ada tegas2 ny sm sekali,gk sreg blas sm karakter ny di Jovian ..laki2 kok lembek amat
Ama Apr: anak mami
total 1 replies
nunik rahyuni
lgsg di buat part kawinan j thor...bosen sma micin nag g punya harga diri mau maunya jd tempat pembuangan limbah j..habis dipke lgsg di tinggal .mana merengek rengek supaya di masuki..kan g ada harga dirinya..murahan.....di obral.
Ama Apr: biarin kk😂, itu gambaran klo manusia nggk ada yg sempurna. Michelle boleh punya sglanya, tapi dia nggak punya malu🤭
total 1 replies
Kota Tegalan
nungguin part Jihan Toto Jena nihhh , apalagi Jihan ngarep banget di jodohkan sama anak tunggal dari keluarga milyader gongnya Toto Jena yg nikah padan muka tuh Ardhana family 🤣🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: wkwwk🤭
total 3 replies
Yeyet Rohaeti
iya sama, saya juga pas si jovian ama si Michelle aku skip sebel banget.
Ama Apr: hehe jng gitu kk😂
total 1 replies
partini
jujurly Thor kalau pas part si Jo aku skip kalau Jena aku baca
Ama Apr: jangan dong😂
total 1 replies
nunik rahyuni
toto anak ceo yg menyamar ya thor🤔🤔
yg di incer sifa buat jihan...
Ama Apr: hihi, tunggu sj kk
total 1 replies
nunik rahyuni
itu jatahnya jena thor...awas lo klo di kasihkn kutu kupret itu...😡
Ama Apr: hahaha🤭
total 1 replies
nunik rahyuni
ya mereka sangat cocok...yg satu g punya pendirian satunya tukang memaksakan kehendak
.cocok kan
Ama Apr: betul, klop
total 1 replies
falea sezi
buang berlian demi jalang 🤣🤣 tinggal nunggu penyesalan mu joo😒
Ama Apr: pastii itu😂
total 1 replies
Nining Sariningsih
jijik sama keluarga si jovian,tuhan masih sayang ma jena makanya segera dijauhkan sama keluarga tonik itu,Thor jangan2 Toto itu yang punya perusahaan taksinya🤭,,,,,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Eneng Farida
thor jangan bilang toto yg punya perusahaan taksi itu dia yg menyamar trus d jodohin sm jihan ngga rela smpqi itu terjadi
Ama Apr: belum tentu jg kk🤭
total 1 replies
partini
keluarga gila harta dan tahta mau jodohin juga bagus sih biar tambah kaya raya 👍👍👍👍
Ama Apr: kayknya semua negara y kk😂
total 5 replies
falea sezi
kuat Jena lupain laki bego bekasss itu mas toto siap menanti🤣
Ama Apr: iya hihi
total 1 replies
Nining Sariningsih
betul,,,banget jena lupakan orang2 serakah itu,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!