Lima tahun lalu, Indri Izanami dibuang saat hidupnya berada di titik terendah. Dikhianati, dihina, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah ia cintai, ia menghilang tanpa jejak dari Jakarta.
Kini, ia kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diinjak-injak,tapi sebagai sosok misterius yang memesona, berkuasa, dan berbahaya. Kehadirannya mengguncang para konglomerat yang pernah menghancurkannya.
Ardika, mantan kekasih yang dulu membuangnya, kini terobsesi untuk memilikinya kembali.
Surya Rabinson, cinta pertama yang menjadi sumber luka terdalamnya, mendadak terjebak dalam hasrat dan penyesalan yang membara.
Dan ketika Hisoka Adicambra, sang kaisar bisnis yang paling ditakuti di Jakarta, menunjukkan ketertarikan padanya, permainan balas dendam berubah menjadi perang kekuasaan yang mematikan.
Namun di balik senyum dinginnya, Indri menyimpan satu tujuan:
Membuat mereka semua berlutut di hadapannya.
Karena kali ini, yang menjadi mangsa bukan lagi dirinya.
Melainkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Ancaman Kegelapan
Beberapa hari kemudian, teror itu berlanjut. Pesan-pesan singkat, panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal. Indri mulai merasa paranoid. Ia merasa diawasi, setiap geraknya dipantau. Ia bahkan sempat melihat sekilas bayangan yang mencurigakan di luar apartemennya, sesosok pria yang berdiri terlalu lama di seberang jalan, di bawah lampu jalan yang remang-remang. Ia bukan lagi Anya Petrova yang mencari kedamaian, ia adalah Indri Izanami lagi, si mangsa yang terus-menerus diburu.
"Aku tahu siapa kau, Indri," sebuah pesan baru muncul, kali ini lebih mengerikan. "Aku tahu masa lalumu. Aku tahu apa yang kau pikirkan. Dan aku tahu betapa rapuhnya kebahagiaanmu."
Indri membanting ponselnya ke meja. Kemarahan dan ketakutan beradu dalam dirinya. Siapa pria ini? Apa yang ia inginkan darinya? Ia teringat kata-kata Kalinda saat mereka merayakan kemenangan mereka. "Masih ada lebih banyak ikan besar di lautan Jakarta." Apakah ini salah satu dari mereka?
Ia memutuskan untuk melakukan penyelidikan mendalam. Menggunakan semua sumber daya yang ia miliki, baik yang legal maupun ilegal, Indri mencoba melacak pengirim pesan misterius itu. Ia bekerja sepanjang malam, matanya perih karena layar laptop yang terlalu terang, pikirannya berpacu, mencoba menghubungkan titik-titik yang samar.
Dan kemudian, ia menemukannya. Sebuah jejak digital yang samar, tersembunyi di balik lapisan enkripsi yang rumit. Jejak itu membawanya ke sebuah nama.
Ren.
Adik kandung Hisoka Adicambra.
Indri terkesiap. Ren. Pria yang nyaris tak pernah ia lihat di lingkaran sosial lama mereka, selalu berada di belakang bayang-bayang kakaknya yang karismatik. Ia ingat pernah mendengar desas-desus bahwa Ren adalah sosok yang lebih kejam, lebih pragmatis, dan lebih haus kekuasaan daripada Hisoka. Setelah kematian Hisoka, tampaknya Ren telah melangkah keluar dari kegelapan, berniat mengambil apa yang ia anggap miliknya—dan mungkin, juga menguasai semua yang telah dibangun kakaknya.
Dan tampaknya, Ren melihat Indri sebagai duri dalam dagingnya.
Dia ingin membalas dendam atas kematian kakaknya. Dia ingin mengambil alih semua aset. Dan dia ingin menghancurkan siapa saja yang berdiri di jalannya.Pikir Indri, rasa dingin menjalari tulang punggungnya. Ia menyadari bahwa ancaman ini bukan hanya sekadar ancaman bisnis. Ini adalah ancaman pribadi yang lebih dalam, lebih gelap.
Indri merasakan keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia merasa sangat rentan. Ia telah berhasil menjatuhkan Surya, Ardika, dan Hisoka. Ia merasa telah mencapai puncak permainannya, dan kini harus berhadapan dengan pemain baru yang jauh lebih berbahaya. Ren. Pria yang memiliki darah yang sama dengan Hisoka, namun dengan ambisi yang jauh lebih liar.
"Kau pikir kau punya kendali, Indri?" Pesan baru muncul di ponselnya, seolah Ren bisa membaca pikirannya. "Kau salah besar. Permainan baru saja dimulai. Dan kali ini, kau adalah pionnya."
Indri membanting ponselnya ke lantai. Frustrasi memuncak. Ia merasa seperti terjebak dalam jaring laba-laba yang tak terlihat. Ia tidak bisa lagi mempercayai siapa pun. Kalinda, yang tampaknya menjadi sekutu terdekatnya, entah memiliki agenda tersembunyi apa. Ardika telah jatuh, tetapi bayang-bayang keluarganya masih mengintai. Dan sekarang, Ren. Sosok yang misterius, haus kekuasaan, dan tampaknya sangat membencinya.
Malam itu, Indri memutuskan untuk pindah dari apartemen mewahnya di pusat kota. Ia merasa itu terlalu terbuka, terlalu mudah dijangkau. Ia pergi ke apartemen kecil yang ia sewa bertahun-tahun lalu, di pinggiran kota, tempat yang jarang ia kunjungi, tempat yang terasa lebih aman, lebih tersembunyi. Ia ingin merasakan sedikit ketenangan, sedikit jeda dari teror yang terus-menerus ia alami.
Ia duduk di sofa, mencoba menenangkan diri. Lampu kamar mati, hanya menyisakan cahaya remang-remang dari lampu jalan di luar jendela. Udara terasa dingin, seperti malam-malam di Zurich, namun kali ini, dingin itu bukan membawa kedamaian, melainkan rasa waspada yang tajam.
Tiba-tiba, terdengar suara dentuman keras dari arah pintu depan. Indri terlonjak kaget. Jantungnya berdegup kencang. Ia segera bangkit, bergerak tanpa suara menuju ruang aman yang ia siapkan di belakang lemari pakaian. Ia berhasil masuk dan mengunci pintu rapat-rapat, napasnya tersengal.
Suara-suara kasar mulai terdengar dari luar, diiringi suara barang-barang yang diobrak-abrik. Mereka tahu ia ada di sini. Ren dan anak buahnya. Mereka datang untuknya.
Indri merogoh tasnya, mencari senjata yang selalu ia bawa—sebuah pisau kecil yang tersembunyi. Tangannya gemetar saat ia memegangnya. Ia harus bertahan. Ia harus melarikan diri. Ia tidak bisa membiarkan Ren menangkapnya.
Salah satu penyusup berhasil mendobrak pintu ruang aman. Cahaya senter menyapu ruangan, menyorot wajah Indri yang tegang. Dengan gerakan cepat, Indri menyerang. Ia menusuk pria itu di bagian paha, membuatnya berteriak kesakitan. Kesempatan itu ia gunakan untuk berlari keluar dari apartemen, menuruni tangga darurat yang gelap, merasakan udara dingin malam menerpa wajahnya.
Ia berhasil lolos, namun lukanya cukup dalam. Ia tahu ia tidak bisa tinggal di kota. Ia perlu tempat yang lebih aman, seseorang yang bisa ia percaya. Dan hanya satu tempat yang terlintas di benaknya: rumah masa kecilnya. Tempat yang penuh kenangan pahit, namun juga menyimpan rahasia yang mungkin bisa menjadi senjatanya.
Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, melintasi jalanan Jakarta yang sepi di larut malam. Setiap bayangan membuatnya waspada. Setiap suara aneh membuatnya tegang. Ia merasa sendirian, terisolasi, diburu.
Setibanya di rumah masa kecilnya, yang kini tampak terbengkalai dan suram, Indri segera masuk ke dalam. Ia mencari kotak kayu kecil yang pernah ia temukan di bawah lantai kayu, tempat ia menyimpan barang-barang berharga dari orang tuanya. Di dalamnya, ia menemukan sebuah kunci tua, ukiran yang rumit, jelas bukan kunci biasa. Kunci brankas lain. Berbahaya. Kunci yang ia yakini akan membawanya lebih dalam lagi ke dalam misteri yang ditinggalkan ayahnya.
Ia menatap kunci itu, merasakan getaran aneh mengalirinya. Ini bukan akhir. Tapi ini adalah awal dari sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang mungkin akan membawanya pada kebenaran yang sesungguhnya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar di sakunya. Pesan baru. Dari nomor tak dikenal yang sama.
"Aku tidak menginginkan uangmu, Indri," bunyi pesan itu, diikuti jeda yang menegangkan. "Aku menginginkan penderitaanmu."
Saat Indri membaca kata-kata itu, lampu kamarnya tiba-tiba padam, menjerumuskannya ke dalam kegelapan total. Jantung Indri berdegup kencang, menggema di telinganya. Rasa dingin menjalari tulang punggungnya, bukan hanya karena kegelapan yang pekat, tetapi juga karena realisasi bahwa pesan itu, dan kegelapan ini, adalah bagian dari permainan Ren. Dia sudah sampai.
Suara dentuman keras dari pintu depan apartemennya yang kini gelap memecah keheningan. Bukan hanya satu, tetapi beberapa dentuman yang berulang, seolah-olah sekelompok orang sedang berusaha mendobrak masuk secara paksa. Indri menahan napas, tangannya yang gemetar meraba dinding, mencari pegangan. Ia tahu ia tidak bisa tinggal diam. Ia harus bergerak.
Silakan berkomentar untuk memberikan masukan demi meningkatnya mutu karya saya di masa yang akan datang.
Terima kasih.