NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Kaisar Wang Hao

Reinkarnasi Kaisar Wang Hao

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Misteri / Action
Popularitas:26.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Wang Hao, Kaisar Tertinggi Dunia Dou Li, mati secara misterius di puncak kejayaannya. Murid muridnya bersumpah mencari pelaku. Namun jiwa Wang Hao justru bangkit di tubuh pemuda lemah bernama Chen Nan di tempat lain. Kematiannya sendiri adalah misteri terbesar. Siapa yang mampu membunuh sosong sepertinya? Atau ada rahasia lebih kelam di balik kematiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Jejak di Balik Ceruk

Wang Hao menarik tangannya dari dada Yun Changsheng, kemudian melangkah mundur perlahan. Pada saat itu juga, Yun Changsheng berlutut. Lututnya menghantam tanah dengan bunyi berdebam yang membuat semua orang tersentak. Darah segar mengalir keluar dari sudut bibirnya tanpa bisa dibendung, menetes ke jubah ungunya, lalu menggenang kecil di atas tanah hutan.

Melihat pemandangan itu, sesuatu meledak di dalam diri Huan Yue. Aura ungunya menggelegak, berputar-putar seperti badai yang siap menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya.

"Aku akan membunuhmu! Chen Nan!"

Teriakan Huan Yue sangat keras, kemudian dia melangkah maju dengan energi spritual terkumpul di tangan. Siap menyerang Wang Hao kapanpun.

Tiba-tiba...

"Berhenti, Tetua!"

Suara Yun Changsheng menggema di antara pepohonan. Darah masih menetes dari dagunya, tetapi matanya menatap Huan Yue dengan sorot peringatan yang tidak bisa dibantah.

"Anda akan membuat semuanya menjadi rumit!"

Huan Yue berhenti. Tangannya masih terangkat, auranya masih berputar, tetapi tubuhnya membeku di tempat. Giginya gemeretak, tetapi detik berikutnya ia menekan auranya perlahan, memaksanya kembali ke dalam tubuhnya sendiri. Urat-urat di lehernya masih menonjol, tetapi ia tidak bergerak lagi.

Wang Hao, yang melihat semua itu, segera memasukkan pedangnya ke dalam cincin ruang. Kemudian ia membersihkan sedikit debu yang menempel di jubah hijaunya, gerakan yang ringan dan acuh tak acuh, seolah-olah semua yang baru saja terjadi hanyalah gangguan kecil di tengah perjalanannya.

"Jika kalian sudah selesai," katanya dengan suara datar, "saya akan pergi."

Tidak ada yang menjawab.

Semuanya ragu setelah kekalahan Yun Changsheng.

Patriark Gao menunduk, tidak berani menatap langsung ke arah Wang Hao. Patriark Wei menggertakkan giginya, tetapi tangannya yang tadinya memegang gagang pedang kini terkulai lemas di sisi tubuhnya. Bahkan Yun Changsheng hanya diam, masih berlutut di atas tanah dengan darah yang terus menetes dari dagunya.

Wang Hao tidak menunggu. Ia berjalan melewati mereka, lalu melangkah santai tanpa beban. Kedua tangannya kembali ke belakang tubuhnya, dan langkahnya tidak lebih cepat atau lebih lambat dari sebelumnya.

Ketika jaraknya sudah sekitar tiga puluh meter, ia mengangkat tangan kanannya dan melambaikannya pelan tanpa menoleh. Lambaian itu bukan isyarat perpisahan, bukan pula ejekan. Itu hanya isyarat bahwa ia sudah selesai di sini, dan tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.

Setelah sosok Wang Hao benar-benar menghilang di balik pepohonan, Huan Yue akhirnya berbicara. Suaranya masih bergetar oleh kemarahan yang belum sepenuhnya padam.

"Kita tidak mendapatkan apa pun. Sebaliknya, kita mengalami kerugian." Ia menatap ke arah empat mayat yang tergeletak di tanah, lalu ke arah Yun Changsheng yang masih berlutut dengan luka serius di organ dalamnya. "Ini sangat mengecewakan pemimpin."

Yun Changsheng tidak langsung menjawab. Ia menekan dadanya dengan satu tangan, mencoba menghentikan pendarahan internal yang terus menggerogoti tubuhnya. Setelah beberapa saat, ia perlahan berdiri. Gerakannya tersendat-sendat, tetapi ia berhasil menegakkan tubuhnya. Kemudian ia menatap ke arah Wang Hao pergi, ke dalam lebatnya hutan.

"Menurutku ada yang tidak beres dengan bocah itu," katanya dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. "Ini harus diberitahu ke Kerajaan Wuxia. Agar bocah itu mendapatkan balasan yang setimpal."

Patriark Gao mengangguk. "Saya setuju. Dengan begitu, kita sebagai pelapor akan tetap mendapatkan keuntungan, jika bocah itu ditangkap pihak kerajaan."

"Penilaian yang bagus, Patriark Gao." sahut Patriark Wei sambil terkekeh.

Beberapa anggota klan di belakang mereka tertawa dan terkekeh, mencoba menutupi ketakutan mereka dengan suara yang dipaksakan. Huan Yue hanya diam, menatap ke arah yang sama dengan Yun Changsheng, ke dalam hutan tempat Wang Hao menghilang. Matanya masih menyala-nyala, tetapi di balik nyala itu ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak berani ia akui bahkan kepada dirinya sendiri.

Mereka kemudian berbalik dan kembali ke arah kota.

...*****...

Sementara itu, jauh di dalam hutan, Wang Hao masih berjalan santai. Namun langkahnya semakin lama semakin melambat. Darah mulai mengalir dari sudut bibirnya, setetes demi setetes, lalu semakin deras. Wajahnya berubah pucat pasi, seperti kertas yang kehilangan semua warnanya.

Ia berhenti di bawah sebatang pohon besar, menempelkan satu tangannya ke batang pohon, lalu menghela napas panjang.

"Aku terlalu memaksakan diri tadi."

Niat pedang yang ia gunakan dalam serangan tadi sudah melampaui batas yang sanggup ditanggung oleh tubuh Chen Nan saat ini.

Tubuh ini memang memiliki meridian yang murni dan fondasi yang kokoh. Tetapi tetap saja, ia masih berada di Kondensasi Qi lapis ketujuh. Memaksa niat pedang dengan intensitas sebesar itu, berarti mengorbankan sesuatu, dan kali ini, yang dikorbankan adalah kondisi fisiknya sendiri.

Ia mencari tempat yang rata di bawah naungan pohon besar, lalu mengeluarkan kursi rotannya dari cincin ruang. Begitu ia duduk bersandar, matanya langsung terpejam. Energi dari rotan spiritual yang telah menyatu dengan kursinya mulai mengalir perlahan, menenangkan pikirannya, mempertajam konsentrasinya, dan membantu pemulihan energi spiritualnya.

'Tapi dengan memaksakan diri seperti itu,' pikirnya, 'aku jadi tahu sampai dimana batas kekuatan yang kumiliki saat ini.'

Batas itu ternyata lebih tinggi dari perkiraannya. Ia bisa mengalahkan seorang kultivator Pendirian Fondasi tahap akhir tanpa harus mengorbankan nyawanya sendiri. Itu adalah informasi berharga yang akan sangat berguna dalam perjalanannya ke depan.

Wang Hao mengeluarkan kendi arak dari cincin ruangnya, lalu meminumnya dengan mata terpejam. Cairan hangat itu mengalir melalui tenggorokannya, memberikan sedikit kehangatan di tengah hawa dingin hutan. Kultivasinya perlahan pulih, tetes demi tetes, butir demi butir, sementara ia menikmati suasana pagi yang perlahan menjelang siang.

Dua jam kemudian, Wang Hao membuka matanya.

Pemulihannya belum sempurna, beberapa bagian tubuh masih terasa sedikit nyeri, tetapi energi spiritualnya sudah kembali mengalir dengan lancar melalui meridian-meridiannya.

Ia bangkit dari kursinya, menyimpannya ke dalam cincin ruang, lalu menarik napas dalam-dalam. Udara hutan yang segar memenuhi paru-parunya.

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

"Membiarkan serigala kecil lari, akan menarik perhatian kawanan serigala dewasa. Ini tidak buruk, karena aku juga menginginkan batu asah yang mumpuni."

Yun Changsheng dan yang lainnya akan melapor ke Kerajaan Wuxia. Itu adalah konsekuensi yang sudah ia perhitungkan sejak awal. Semakin besar musuh yang datang, semakin tajam pedangnya nanti. Semakin kuat tekanan yang ia hadapi, semakin kokoh fondasinya.

Wang Hao melangkah melanjutkan perjalanannya. Matanya mengamati setiap detail yang dipandanginya, dari lumut yang tumbuh di batang pohon tua, hingga burung roh kecil yang bertengger di ranting, hingga sinar matahari yang menembus celah-celah dedaunan.

Ia menikmati setiap udara yang ia hirup, setiap bunyi alam yang terdengar oleh telinganya. Setiap langkah yang diambilnya menghasilkan pemahaman baru, memperluas Dao-nya, memperdalam akarnya di dunia ini.

Wang Hao dulu hampir tidak pernah melakukan ini karena terburu-buru melangkah ke puncak. Bukan karena dia ceroboh, tetapi karena keadaan yang memaksanya saat itu. Kini di kehidupan keduanya, ia akan menikmati setiap perjalanannya tanpa tergesa-gesa seperti dahulu.

Waktu berlalu dengan damai. Matahari bergerak dari puncak ke barat, cahayanya berubah dari putih terang menjadi jingga keemasan. Hutan perlahan berubah menjadi padang rumput, lalu padang rumput berubah menjadi jalur berbatu yang menurun.

Hingga sore hari, Wang Hao tiba di tepi sungai.

Airnya jernih, mengalir perlahan di antara bebatuan besar yang permukaannya telah dihaluskan oleh arus selama ribuan tahun. Suara gemericik air memenuhi udara, berpadu dengan kicau burung senja yang terdengar dari pepohonan di seberang sungai.

Tanpa ragu, Wang Hao melepaskan seluruh pakaiannya.

Jubah hijau dengan sulaman perak itu ia lipat rapi dan ia letakkan di atas batu datar di tepi sungai. Kemudian ia masuk ke dalam air, membiarkan dinginnya sungai menyelimuti seluruh tubuhnya.

Saat Wang Hao sedang menikmati air, sudut bibirnya sedikit naik.

'Menarik,' pikirnya. 'Di dunia fana ternyata ada juga hantu dengan bentuk tubuh spritual yang sangat murni.'

Wang Hao segera menyelesaikan mandinya. Ia keluar dari air, mengibaskan sisa air dari rambutnya, lalu mengenakan kembali jubah hijaunya.

Kemudian ia menoleh ke kejauhan.

Di balik pepohonan, sekitar lima puluh meter dari sungai, sesosok wanita cantik dengan wujud transparan sedang mengintipnya dari balik sebatang pohon tua. Wajahnya masih bisa terlihat jelas meskipun tubuhnya tidak sepenuhnya padat. Rambutnya panjang tergerai hingga pinggang, dan matanya yang lebar menatap Wang Hao dengan campuran rasa takut dan rasa ingin tahu yang sulit diartikan.

Begitu menyadari bahwa Wang Hao melihat ke arahnya, wanita itu segera menarik tubuhnya ke balik pohon. Suara desir pelan terdengar, lalu ia berbalik dan melesat pergi, gerakannya ringan dan cepat, tubuh transparannya meliuk di antara pepohonan tanpa menyentuh tanah sedikit pun. Dalam beberapa tarikan napas, ia sudah menghilang di balik kerimbunan hutan yang semakin gelap oleh cahaya senja.

Wang Hao tidak terburu-buru. Ia melangkah pelan, mengikuti ke arah hilangnya hantu itu di antara pepohonan. Kedua tangannya tetap di belakang tubuh, dan langkahnya tidak lebih cepat dari biasanya, meskipun matanya terus mengunci jejak energi spiritual yang ditinggalkan oleh hantu itu di udara.

'Hantu ini... jika aku membantunya membuat tubuh, jalan kultivasinya di masa depan akan cerah. Dan kebetulan sekali, aku butuh pelayan.'

Hantu itu memiliki bentuk tubuh spiritual yang sangat murni, pertanda bahwa ia meninggal dengan cara yang tidak wajar, tetapi jiwanya tidak terkontaminasi oleh kebencian atau dendam. Jiwa seperti ini adalah bahan yang sempurna untuk seorang kultivator hantu. Dan jika dibimbing dengan benar, ia bisa mencapai ketinggian yang bahkan tidak bisa dibayangkan oleh kebanyakan manusia.

'Hantu itu terlihat sangat cocok untuk menjadi pelayan. Karena kualitasnya cukup tinggi.'

Jejak energi itu membawanya semakin dalam ke hutan. Pepohonan semakin rapat, dan cahaya senja semakin redup, hanya menyisakan berkas-berkas jingga yang menembus celah dedaunan. Suara binatang malam mulai terdengar dari kejauhan, dan angin berhembus lebih dingin di antara batang-batang pohon yang semakin tua.

Setelah berjalan sekitar setengah jam, Wang Hao tiba di sebuah area terbuka kecil di tengah hutan. Di tengahnya berdiri sebatang pohon beringin tua dengan akar-akar yang menjulur ke tanah seperti tirai kayu. Dan di sana, di balik salah satu akar besar itu, wanita hantu itu bersembunyi.

Tubuhnya yang transparan bergetar pelan. Ia memeluk lututnya sendiri, dan matanya yang lebar menatap Wang Hao dengan ketakutan yang tidak bisa disembunyikan. Ia tidak lagi berlari, mungkin karena kehabisan energi, atau mungkin karena ia sadar bahwa pemuda di hadapannya tidak bisa dihindari.

"Sia-sia kau berlari," kata Wang Hao dengan suara tenang sambil berjalan mendekat. "Aku bisa melihat jejak energi yang kau tinggalkan di udara. Selama kau masih memiliki energi spiritual, kau tidak akan bisa bersembunyi dariku."

Wanita itu masuk semakin dalam ke balik akar pohon, tetapi ia tidak berusaha kabur lagi.

"Kau... kau bisa melihatku?"

"Itu pertanyaan yang bodoh," jawab Wang Hao sambil berhenti sekitar tiga meter di depannya.

1
༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Alur ceritanya sudah bagus tapi MC nya Tingkat Kultivasi masih Tingkat Rendah.
Zerro One: Oalah mbah😪
Mbah gak lupa ya, Wang Hao pernah berdiri di puncak kultivasi? Mbah apa lupa, Wang Hao bisa menerobos secepat mungkin 'jika dia mau'.

Betapa idiots nya Wang Hao, jika ber kultivasi secepat mungkin, yang membuat kesalahan sama terulang lagi. Btw Wang Hao bisa aja dalam setahun sampai Ascendant, dengan metode penyerapan inti bumi. Bisa dilakukan bahkan saat Kondensasi qi.
Tapi masa iya, orang memperluas Dao, disuruh seperti pahlawan klise meridian tersumbat, dantian retak, sampah klan terhina kan. Ya kan gak mungkin mbah.

Apalagi kayak komentar bang agus. Dia bilang kelemahan ceritanya karena Wang Hao sombong dan angkuh.

Lah, jadi maunya pembaca MC dibuat seperti pendekar muda, yang belum paham apa apa tentang kultivasi? yang gak tau, keramahan adalah kemewahan sia sia, terlalu banyak berhubungan dengan seseorang akan memperbanyak ikatan karma sebab akibat yang tidak perlu.

Author padahal berharap, komentar pembaca itu mengeluhkan ceritanya terlalu bertele-tele, atau gaya penulisan yang kurang ngena. Jadi author bisa ubah, sesuai dengan kritik.
Contohnya yang ngasih author bintang satu itu. Karena dia, cerita ini langsung berhenti dipromosikan, padahal sebelumnya, perkembangan cukup bagus. Tapi yaudahlah, author bisa apa, karena mungkin terlalu bertele-tele banget, jadi sangat pantas cerita ini terbenam dan gak layak di sebarluaskan. Author sadar diri kok, karena itu ceritanya kemungkinan besar dipercepat end S1, meskipun gak akan ada S2.
total 1 replies
Nanik S
Mantap Poooool👍💪💪💪
Nanik S
Tidak ada kata takut buat Wang Hao
Zerro One: Betul-betul betul/Determined/
total 1 replies
Nanik S
Lanjut terus
Nanik S
Wang Hao.... datang saja ke lembah batu
Nanik S
Wang Hao selalu jadi rebutan demi kepentingan masingasing
Agus Rose
Novel ini sebenar nya bagus dari penyusunan kata,penjelasan alur cerita.
yang kurang itu si MC terlalu angkuh sombong dengan ingatan masa lalu sedangkan kehidupan sekarang belum kuat tapi selalu bertindak sok kuat yang berlebihan.
Zerro One: Terimakasih banyak, itu artinya author gak gagal.

Tentang sifat Wang Hao...

Bro kurang memperhatikan detail keci, dan yang dilihat sesuatu yang sangat jelas saja. Padahal karakter Wang Hao ini abu abu, tidak hitam, atau putih, tidak sombong ataupun ramah. Author gak mau jelaskan panjang lebar, takut bro tersinggung.

Karena itu... kita anggap saja Wang Hao sombong🙏🙏

Author sepakat 🤝
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai semua pasukan itu jika wang hao sudah kuat cepat bantai raja itu pajang tubuhnya bantai juga semua keluarga raja itu
Nanik S
Apakah mereka akan menjemput Wang Hao
Zerro One: Iya kak 😫
total 1 replies
༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍👍
Lanjut Up Thor..
Zerro One: Oke mbah🙏
total 1 replies
Nanik S
Lanjut Terus Tor🙏🙏
Nanik S
Gadis Pintar dan pasti walau hantu tapi mulai memahami situasi
Nanik S
Ceritanya bagus Tor
Nanik S
Untungnya ada Nashuang... hingga Cengle bisa selamat
Nanik S
👍👍👍👍👍👍
Nanik S
Rou Li dibuatkan pedang juga..... keren amat... hantu cantik berpedang
Nanik S
Hansuo jangan meremehkan Wang Hao...💪💪💪
Fajar Fathur rizky
bikin klan du di hukum berat bikin du lou malu
Fajar Fathur rizky
jika sudah ranah jiwa baru lahir nascent soul bikin wang hao bantai klan du thor
Nanik S
Lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!