NovelToon NovelToon
Asphyxia

Asphyxia

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Misteri / Sci-Fi / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Dunia Masa Depan / Chicklit / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: xrubberbandx

“Baiklah, kita akan mengambil jalan masing-masing. Aku akan melepaskanmu kali ini. Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan membunuhmu.”

“Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan menyelamatkanmu."


genres:
DARK FANTASY • DARK ROMANCE • SCI-FI • ACTION • MYSTERY

tropes:
ENEMIES TO LOVERS • STRONG FEMALE LEAD • SECRET INDENTITY • FORCED PROXIMITY • REVENGE


[ SINOPSIS ]
Rozeale harus kembali ke tanah kelahirannya yang sudah lama ia tinggalkan, yakni Aplistia, sebuah kerajaan masa depan di abad ke-22 yang kental dengan budaya leluhurnya, bangsa Yunani. Selain untuk mengklaim kembali takhtanya, ia menyimpan maksud tersembunyi yang berbahaya. Bangsawan yang tidak becus baginya tak lebih dari sekadar sampah. Dan, daripada mendaur ulang sampah, ia lebih suka "membakarnya". Namun, akankah apinya tetap membara, di saat hatinya dipertaruhkan?

"We get dirty so the world stays clean."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xrubberbandx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Debutante

Dua minggu sudah waktu berlayar. Tahun 2135 Masehi telah tenggelam, dan tahun baru mengapung ke permukaan. Tak ada yang lebih memukau Zeze dibanding perubahan pada orang-orang di sekitarnya. Para gadis—Juni, Rhea, Volta, Luna, dan Froura—telah menjadi sangat dekat. Lebih cepat dari perkiraan. Bahkan mereka berbelanja ke mall hampir setiap hari tanpa sepengetahuan Zeze. Tepatnya, Juni yang melarang mereka untuk mengajaknya.

Kendati Luna masih agak sulit mengubah sikapnya terhadap Zeze, tetapi ada satu kemajuan; gadis itu tak jarang menjadi pihak yang memulai obrolan dengannya, walaupun isinya kebanyakan teguran. Di antaranya menegur sikap dan cara bicara Zeze. Itu lebih baik dari diam.

Rhea dan Driko, entah sejak kapan, siapa yang memulai, apa yang mendasarinya, hingga kedua orang itu menjadi teman diskusi. Obrolan mereka berat dengan topik tentang hukum dan filsafat. Bahkan saat kumpul makan siang, keduanya asyik dengan dunia sendiri seakan orang lain tak lebih dari sekadar pajangan.

Untuk Obi, Zeze tak perlu repot-repot mengkhawatirkan sahabatnya itu. Tidak sulit bagi Obi dalam mengakrabkan diri dengan orang baru. Semua berkat karakternya yang ramah, bersahabat, dan supel. Ia bahkan sering hang out bersama Kion, Airo, Saga, dan Driko.

Seorang keturunan kerajaan berulang tahun malam ini. Undangannya tiba sepuluh hari yang lalu bersama undangan-undangan yang lain. Karena sekarang Zeze dikenal sebagai seorang putri Ankhatia, tidak ada bangsawan yang ingin memulai pesta yang tidak mencantumkan namanya ke daftar calon tamu undangan. Kion membantunya menyortir mana yang perlu diterima dan yang tidak, dan Zeze cukup percaya pada penilainnya. Bagian favoritnya adalah mendengarkan informasi entah itu fakta atau desas-desus seputar reputasi setiap keluarga di setiap surat.

"Ze, cobalah warna ini!" Di ruang rias, pada pukul 9 malam, Juni menyodorkan lipstik berwarna pink tua ke bibir Zeze dan berhasil menggoresnya sedikit. Suara pria dan wanita pembawa acara suatu podcast bercampur dengan sumpah serapah Zeze.

Melompat dari kursi, Zeze mundur menjauhi Juni dengan ekspresi ngeri dan jengkel. "Junigra," desisnya, "aku bersumpah kau tidak akan menyukai apa yang akan kulakukan padamu jika kau tetap bertingkah seperti secuil kotoran."

Juni mengeluarkan benda abu-abu kenyal dari kardigan merahnya dan melemparkannya ke Zeze. Zeze mengumpat lebih keras saat benda itu menabrak lengan bawahnya. Tikus mainan. Juni terbahak-bahak melihat ekspresinya. "Coba saja. Kenapa aku harus takut pada seseorang yang takut tikus."

"Aku tidak takut! Sudah kubilang aku hanya jijik! Dan jangan bertingkah seolah kau tidak akan menjerit-jerit jika kau menemukan satu di lemari pakaianmu!"

"Well, kabar baik untukmu, aku biasa memberi makan kucingku bayi-bayi tikus," Juni menjulurkan lidah.

"Berhenti," Rhea, yang meliput kekejaman Juni lewat cermin meja rias, memberinya peringatan terakhir.

Juni memutar mata, lalu menghela napas, merasa cukup untuk lelucon hari ini. Ia kembali menempati kursi kosong di sebelah kanan Luna yang sedang mengoleskan foundation ke wajahnya. Juni mengernyit saat tidak bisa menemukan lipstik yang tadi digunakannya untuk mengusili Zeze. "Dimana lipstikku? Seseorang melihat lipstikku?" Ia berbalik dan melempar tatapan tajam ke ujung ruangan, "Mengakulah! Kau yang mengambilnya, kan? Itu lipstik mahal, edisi terbatas dari kolaborasi merk terkenal dengan Putri Ingrid. Jangan main-main denganku!"

"Jangan asal menuduh!" Zeze berseru tidak terima. "Jika aku pernah berpikir untuk mencuri darimu, aku akan mengambil organ-organmu untuk kujual di pasar gelap. Untuk apa aku mencuri satu lipstik bila aku bisa membeli satu toko kosmetik dengan uang hasil penjualan itu."

Juni tidak percaya begitu saja. Ia bermaksud mengambil satu lagi tikus mainan di kantungnya ketika tanpa sengaja jari-jarinya bertabrakan dengan tekstur keras logam. "Ah," Juni nyengir setelah mengeluarkannya. Lipstiknya. "Ternyata di sini." Ia membalik badan dan duduk di depan meja rias.

Rhea mendesah pada kelakuan temannya, "Ceroboh."

Setelah kasus penculikan anak, podcast di latar belakang mulai memasuki pembahasan kasus jebolnya penjara. Dua kejahatan berturut-turut terjadi di Kota Saufrity. "Menakutkan sekali," gumam Luna, "Kukira sudah tuntas. Sekarang tambah kasus penculikan."

"Tidak mengherankan, kita sedang membicarakan Saufrity. Pemerintah di sana harus mulai melakukan sesuatu untuk memperbaiki citra tempat yang aslinya mengagumkan itu," kata Rhea yang sedang menyisir.

"Kau benar. Saat aku mengunjungi Saufrity, rasanya aku seperti keluar dari mesin waktu. Estetika di sana membuatku bernostalgia atas zaman yang padahal tidak pernah kulalui."

"Aku bersyukur di Ibu Kota tidak ada penjara," kata Juni yang sedang mengaplikasikan maskara.

"Kau sudah punya selmu sendiri jika suatu saat Ibu Kota memutuskan membangun penjara," celetuk Rhea.

"Benar, dan menjadi terlalu mempesona adalah kejahatanku," balas Juni, mengedip seduktif; Rhea memutar matanya.

Luna tertawa, "Kalian benar-benar menghibur."

Pintu ruang rias terbuka, memuntahkan Volta dan bingkisan camilan di kedua belah tangannya. Volta terkesiap begitu melihat seseorang tengah merapatkan diri ke dinding di samping pintu dengan ekspresi aneh di wajah seolah baru saja melihat hantu.

"Yang Mulia! Kau sedang apa di sana?" Tanyanya. Walaupun gadis itu masih memanggil Zeze dengan gelar honorifik—kemungkinan besar karena buah didikan keluarga Duke Gahernam yang sangat menyanjung para keturunan kerajaan—tapi gaya bicaranya sudah jauh lebih santai dan tidak sekaku sebelumnya.

Lewat lirikan mata, Zeze menginstruksi Volta untuk berjalan memimpin ke deretan meja rias. Volta menuruti kemauannya meski bingung, lalu mendudukkan diri di samping Juni, di kursi yang sebelumnya Zeze tempati. Sementara Zeze kabur ke bangku paling ujung sebelah kanan, menghindari potensi gangguan iblis.

Selesai berdandan, saatnya mereka mengenakan gaun. Gaun Juni memiliki warna yang sejalan dengan warna kesukaannya, hijau juniper. Gaun itu didesain tanpa kerah sehingga pesona lekuk leher dan bahunya terekspos dengan sempurna, dan warna keemasan di kulitnya dapat memancarkan kilau di bawah cahaya. Sedangkan Rhea, karena dia tak pandai memilih warna dan kurang nyaman dengan ide memamerkan kulit, maka pilihannya jatuh kepada gaun putih model mermaid yang bahannya meliputi sekujur badan. Gaun yang dikenakan Volta adalah gaun ungu berkerah U, sementara Luna adalah gaun pink tanpa kerah dengan kalung mutiara yang memeluk erat lehernya.

Di bilik lain, Zeze mengangguk puas pada gaun pilihannya yang terpantul pada sebuah cermin tinggi berornamen rumit. Gaun tersebut berwarna hitam beraksen putih—memancarkan estetika gothic—menyempit di pinggang dan roknya yang longgar dan berenda-renda jatuh sedikit di bawah lutut. Satu-satunya model gaun yang menurutnya nyaman dan memudahkannya bergerak jikalau sewaktu-waktu ia terpaksa bertarung. Lagi pula, sejak kecil ia sudah terbiasa memakai gaun model itu karena ibu kandungnya menyimpan obsesi aneh terhadap estetika gelap. Sebagai pelengkap, agar tidak terlihat membosankan, ia memasang bandana renda berwarna senada dengan gaun di atas kepalanya, sangat kontras dengan warna rambutnya yang cerah.

*Credits to the artist

Bersama dengan gaun itu membuatnya tampak seperti boneka yang diberi ruh oleh penyihir. Tak dapat dipungkiri bahwa tanpa riasan wajah dan pamer lekuk tubuh sekalipun, Zeze sudah sangat atraktif, dan gaun itu membuat aura kebangsawanannya yang unik semakin memancar.

Saatnya untuk memamerkan penampilan terbaik mereka kepada dunia. Mereka pun keluar dari ruang rias menuju ruang santai yang hanya berjarak beberapa pintu.

“Kau akan pergi ke mana?” Juni bertanya saat melihat Froura berbelok ke arah yang berbeda.

“Aku harus mengecek kesiapan keberangkatan. Sampai bertemu di halaman depan.” Froura pun berlalu.

“Apakah dia selalu sesibuk itu setiap kalian hendak berpergian?” tanya Juni kepada Volta.

Volta mengangguk, “Hanya untuk berjaga-jaga. Memeriksa keadaan mobil, memberi arahan kepada bodyguard... semacam itu.”

"Seperti yang diharapkan dari Royal Guard," kata Rhea.

Di ruang santai, Obi dan Kion sedang tanding catur, Saga dan Airo fokus bermain mobile game, dan Driko mewarnai aktivitas mereka dengan petikan gitar akustik. Mereka telah siap dengan tuxedo kebanggaan masing-masing.

Setibanya para gadis di anak tangga terbawah, para laki-laki kompak menghentikan kegiatan mereka—suatu keputusan yang tepat karena akan sangat disayangkan jika para bidadari itu diabaikan begitu saja.

Obi bersiul dan menyeringai selama menggoda sahabat baiknya, “Wow! Benarkah kau ini manusia, Rozeale?" Laki-laki berambut hitam itu berdiri dari sofa setelah menyambar kamera Leica tipis yang ia selipkan di sudut sofa.

Zeze memicing pada pujian sok dramatis itu, "Usaha yang bagus, tapi aku tidak akan termakan muslihatmu."

Seringai Obi semakin lebar, "Ayolah, Ze, sekali saja," bujuknya sambil mengarahkan lensa kamera ke depan matanya. "Kau akan menyesal melewatkan kesempatan menjadi model pertama yang akan mengisi galeri Leica baruku. Edisi terbatas, perlu kau tahu."

Zeze berdecak jengkel, namun pada akhirnya menyetujui. Senyum manis yang ia kerahkan ke kamera menguak senyum puas di wajah Obi. Siapa yang bakal menyangka sesaat sebelum tombol tangkap ditekan, Zeze mengangkat jari tengahnya sehingga tertangkaplah sosoknya yang sedang tersenyum manis sambil mengacungkan jari tengah ke arah kamera.

Obi berdecak, segera menghapus foto itu. "Oh, ayolah." Lagi-lagi dibalas dengan jari tengah.

"Apa yang kaulakukan!?" Luna, yang sedang duduk mengobrol dengan para gadis di seberang para lelaki, memekik. Ia sama sekali tidak mampu mempercayai matanya yang baru saja menyaksikan tindakan tak patut dilakukan oleh seorang keturunan kerajaan.

Zeze melirik Luna, mengulum senyum dan mengucapkan kata “maaf”, yang pastinya tidak sedikit pun mengandung penyesalan, lantas beralih ke Obi untuk menegaskan, “Tidak akan, sampai kau berjanji untuk tidak mengirimkannya kepada Arigel.”

“Ini bisnis, kau paham!” Bantah Obi membela diri.

“Ck, bisnis? Menjual temanmu sendiri kau sebut bisnis? Tidakkah kau sadar perbuatanmu termasuk dalam pelanggaran terhadap privasi? Kau mau kutuntut, hah!?” Omel Zeze. Juni dan Rhea yang tak sengaja mendengarnya langsung tertawa.

Obi menahan seringainya, “Kalau begitu, terimalah pengakuan Ari. Dia sudah mengejarmu hampir tiga tahun lamanya. Katakan padaku apa yang kurang darinya?"

“Apa kau serius mengatakan itu di depan dia?” Zeze menuding Kion, lalu mengacungkan jari manisnya yang telah dilingkari cincin perak. “Kau tidak lihat benda apa ini?”

“Itu adalah agenda masa depan, bukan? Masih ada banyak waktu untuk itu. Untuk sekarang bersenang-senanglah, nikmati masa mudamu, dan tolonglah temanmu ini! Kau tahu 'kan ayahnya Ari adalah seorang pemasok bijih kopi? Bantulah temanmu ini untuk memburu bijih-bijih super langka itu. Aku sudah muak dengan kopi artifisial! Setelah itu kau bebas mencampakkannya. Lagipula Master bahkan tidak mempermasalahkannya, lihat?”

“Tentu saja ini adalah masalah!” Tukas Zeze sambil melirik Kion yang ternyata sedang memejamkan mata di sofa. Ia berdecak sebal melihat itu. Tidak bisakah pangeran-tukang-tidur itu membantunya? Mana kesepakatannya!?

Zeze membalik badan, menuju lift, "Saatnya berangkat. Aku harus naik level bersama Saga malam ini."

"Mengapa aku tidak tahu hal ini? Dan mengapa kalian tidak mengajakku?" Seru Airo dari jauh.

"Gear-mu 'kan rusak?" Celetuk Saga enteng; Airo mendelik kesal kepadanya.

Dalam sisa-sisa humornya, perhatiannya Rhea terpancing ke Driko akibat tatapannya yang terasa begitu intens, menyengat kulitnya dengan sensasi yang sulit dijelaskan. Lelaki berambut hitam itu terkesiap setelah tertangkap basah. Rhea tersenyum, sebagai balasan juga sapaan. Rhea hanya tak mau terburu-buru menyimpulkan. Jakun Driko bergerak, keringat gugup mulai meluncur, tapi ia tak sanggup berpaling dari senyum itu.

\=\=\=\=\=\=\=\=

Rombongan mereka tiba setengah jam kemudian di kediaman salah satu dari sepuluh keluarga terhormat pendiri kerajaan, Keluarga Asteri, di Istana Barat Aplistia. Istana Barat berdiri di puncak bukit tepat di seberang bukit Istana Timur. Bangunannya menyerupai Taj Mahal yang Zeze kunjungi dua tahun lalu di liburannya bersama Chanara dan Leah. Sesuai dugaan, bahkan saat baru turun dari mobil terbang, Kion langsung melingkarkan sebelah lengannya di pinggang Zeze, seakan dia bakal kabur dan membakar orang-orang. Lalu mereka berjalan menuju pintu kembar melengkung berwarna Emas, yang spontan dibukakan oleh pelayan manusia di kanan dan kiri pintu.

Hal serba berkilau dengan nuansa keemasan langsung menyengat mata Zeze hingga membuatnya perih. Bahkan karpet yang diinjaknya pun berwarna emas dan berkilauan. Di tengah langit-langit yang menyudut seperti kubah, tergantung lampu yang Zeze yakini tersusun dari berlian yang saling disambung.

Begitu Zeze dan Kion melangkah masuk, para bangsawan dan konglomerat yang hadir sontak menghentikan obrolan mereka hanya untuk membungkukkan badan, memberi keduanya sambutan.

Di aula, mereka berdua melayani para bangsawan yang silih berganti berdatangan mengajak ngobrol, meskipun Kion yang mendominasi pembicaraan. Sang Pangeran beralasan bahwa sang Putri sedang seriawan, sehingga dia tidak bisa banyak bicara.

Zeze mendengus. Benar-benar alasan yang sangat kreatif, batinnya sarkatis.

"Lama tidak bertemu, Yang Mulia sekalian."

Zeze menegang mendengar suara itu. Di hadapannya telah berdiri Evan Xeveruz bersama istrinya.

"Jendral," Kion mengangguk sambil tersenyum sebagai balasan.

Zeze terdiam sejenak, menata hati, lalu menarik kedua sudut bibirnya. Hanya orang yang peka yang paham bahwa senyum itu adalah jelmaan iblis. “Anda terlihat lebih segar dari terakhir kali kita bertemu, Sir.”

Kion melirik Zeze dengan ekspresi kaget, tidak mengira dia bakal bicara. Dan saat menyadari makna di balik senyumannya, Kion tertegun.

Jendral Evan Xeveruz tersenyum, "Yang Mulia sangat perhatian. Akhir-akhir ini saya memang mengalami hal baik."

Sinar di mata Zeze meredup; biru di matanya menggelap hingga nyaris seperti dasar palung mariana. "Semoga hal baik itu tak akan pernah berakhir."

Selebihnya, Kion yang memimpin obrolan. Setelah sang Jendral dan istrinya pamit undur diri, Zeze kembali ke tabiat aslinya. Mata birunya menyisir ke segala arah dan terperangkap pada sepasang mata hitam.

Entah datang dari mana prasangka bahwa mata itu sudah terkunci padanya bahkan sejak ia memasuki aula, dan mungkin itu menjelaskan mengapa ketika mengedarkan pandangan, ia bisa langsung menangkap pancarannya dengan mudah.

Sepasang mata yang mengurungnya dengan intensi yang sulit dijelaskan. Kepalanya pun ia miringkan ke satu sisi, dengan tujuan menyentak si pemilik mata agar berhenti menatap. Namun, mata itu tetap tertuju padanya. Tak bergeser seinci pun.

Ternyata benar, orang itu sejak tadi mengawasiku.

Tanpa aba-aba, si pemilik mata berjalan mendekatinya. Tubuh rampingnya yang berada dalam rengkuhan Kion menegang, sehingga pangeran yang sedang sibuk bersosialisasi itu terpancing untuk menoleh. Kion memergoki Zeze sedang memandang ke satu titik dengan wajah perpaduan antara syok dan ngeri. Mengikuti arah pandangnya, Kion menemukan sosok Tuan Muda Aiden Laktisma.

Aiden berhenti dua langkah dari mereka. Matanya masih menggelayuti sepasang iris biru yang memancarkan sorot defensif. Bahkan saat membungkuk salam kepada Kion pun, mata Zeze tetap enggan ia lepaskan.

"Yang Mulia, lama tidak bertemu," sapa Aiden dengan nada sedatar wajahnya.

Kion mengangguk, "Selamat malam, Tuan Muda Laktisma." Ditatapnya dua orang yang tengah saling pandang itu bergantian.

“Apakah Tuan Muda memiliki keperluan dengan tunanganku?”

Pertanyaan itu ibarat gunting yang memutus kontak mata mereka.

Aiden memberi Kion tatapan datar, begitu pun sebaliknya.

Zeze yang merasa tidak nyaman karena khawatir adu pandang itu akan memicu gosip, memutuskan berperan sebagai penengah. Sebaiknya kau berterima kasih padaku untuk ini. “Mungkin saja Tuan Muda hanya ingin menyapaku,” ujarnya, melempar senyum kaku kepada dua patung di dekatnya.

Wajah Kion kosong saat dia menoleh, dan Zeze tahu itu pertanda bahwa omong kosongnya kurang meyakinkan.

"Saya hanya ingin mengucapkan selamat. Waktu itu saya tidak sempat menghampiri Yang Mulia di pesta ulang tahun Anda karena terhalang urusan mendadak."

Penjelasan Aiden mengundang tatapan Kion untuk kembali padanya. Sang Pangeran dapat menebak bahwa Tuan Muda kekurangan jam tidur. Rona keunguan yang membentuk sabit di bawah matanya adalah pendukung untuk asumsi itu.

"Selamat ulang tahun dan atas pertunangan Anda, Yang Mulia," ucap Aiden. Dengan perlahan menggeser tatapannya ke Zeze, "Anda sangat beruntung," suaranya menjadi parau di kalimat berikutnya, "mendapat pendamping secantik Tuan Putri."

Entah itu tulus atau dia sedang mencoba mengolok-olok, yang pasti sukses menyuntikan rasa terpana ke dalam benak Zeze, sehingga membuatnya bahkan tak dapat mengalihkan pandangan dari wajah Aiden, yang entah mengapa terlihat berbeda. Raut wajahnya tidak setegas dan sesombong yang dia ingat.

Jika saja lengan Kion tidak mempererat pelukannya, Zeze mungkin tak akan berhenti memandangi wajah Aiden sampai pesta berakhir.

"Benarkah? Terima kasih."

Terlalu singkat, seolah menyuruh Aiden untuk mengakhiri dramanya, dan Aiden pun tidak bodoh. Akhirnya ia berlalu setelah membungkuk pamit kepada keduanya. Sekelebat, Zeze menangkap pergerakan lembut di bibir Aiden yang mirip seperti pengucapan kata "maaf". Namun ia tidak mau percaya pada penafsiran itu karena ketidakmampuannya dalam membaca gerak bibir.

Ada baiknya bagi Zeze untuk tidak terlalu memikirkan orang itu, karena gilirannya untuk menyapa sang pemeran utama dalam pesta debutante yang dihadirinya telah tiba. Zeze menengok ke belakang dan tidak menemukan Obi serta orang-orang yang datang bersamanya. Ia yakin Obi tengah mencicipi berbagai hidangan yang tersedia, dan itu membuatnya iri setengah mati.

Hanya ada Froura dan Saga di belakangnya. Berkat menguping gosip para gadis, Zeze akhirnya tahu bahwa dua orang pendiam itu adalah sepasang kekasih, dan bahkan akan bertunangan dalam waktu dekat. Mereka saling jatuh cinta setelah bersama untuk waktu yang lama sebagai Royal Guard atau pengawal pribadi Pangeran Kion. Bahkan katanya Kion sendiri pun kaget saat mereka meminta restunya. Zeze berpikir reaksi Kion cukup wajar. Mereka tidak terlihat seperti sepasang kekasih. Tidak ada kontak fisik dan sikap mesra.

Zeze dibimbing melewati kerumunan yang akan langsung menyingkir ketika melihat kemunculan dirinya dan lelaki terpandang di sampingnya. Matanya menangkap wujud sang tokoh utama pesta dari kejauhan dan sudah langsung bisa menebak jenis bencana yang sebentar lagi akan dihadapinya.

Kion menoleh heran pada Zeze saat dia tiba-tiba saja berhenti melangkah, "Ada apa?"

"Hidupku tidak akan berjalan tenang setelah ini." Zeze mendesah dengan wajah ditekuk. Ekspresi masamnya memulas senyum di wajah Kion.

"Hidupku juga."

Mereka tiba di hadapan tokoh utama pesta; seorang gadis berambut merah-kecokelatan dengan poni menudungi dahi lebar. Warna matanya persis milik Kion dan sebagian besar keturunan kerajaan, sementara raut wajahnya memudahkan orang-orang untuk menduga bagaimana tabiatnya: angkuh, manja, dan kekanakan. Busananya adalah one-shoulder dress semi transparan berwarna cokelat muda yang memberi keadilan terhadap lekuk tubuhnya.

Ketika melihat Kion, dia langsung menyerbunya ke dalam pelukan tanpa mengindahkan banyak saksi mata dan Zeze yang berdiri di sebelahnya. Serangannya begitu mendadak. Kion sampai harus melepaskan rangkumannya pada pinggang Zeze dan sedikit mendorongnya mundur agar dia tidak tertabrak gadis itu.

Kion terus berusaha melepaskan diri, berhati-hati dalam tindakannya agar tidak melukai gadis itu. Mata hazelnya melirik Zeze yang terlihat enggan menolong. Zeze, dengan muka sedatar aspal, menganggap penderitaannya sebagai tontonan gratis. Itu adalah balas dendamnya karena Kion tidak membelanya di hadapan Obi.

Silakan nikmati karmamu, cela Zeze.

"Silian! Apa yang kaulakukan? Jaga sikapmu!" Putri Agung Eirene Ve Zilevo, ibunda dari Putri Silian, bersedia menolong Kion keluar dari ketidaknyamanan yang membelenggunya.

Silian menjauhkan diri dari Kion dengan bibir cemberut. Padahal sudah cukup lama aku tidak bertemu dengannya karena harus menemani Kakak selama musim gugur di Amerika.

Kion tertawa hambar untuk mencairkan suasana, "Selamat ulang tahun yang ke-16, Lian." Ucapan selamatnya yang tulus mengembalikan senyum riang sang putri muda.

Mereka asyik berbincang hingga Kion bahkan tidak menyadari bahwa Zeze telah hilang dari sisinya. Zeze berjalan mendekati sebuah punggung berlapis jas hitam milik seseorang yang sedang lahap menyantap berbagai hidangan di atas meja.

"Menyenangkan sekali hidupmu," cibirnya.

Orang itu—yang tak lain adalah Obi, si tukang makan—menoleh ke belakang dengan seringai di wajah. "Mengapa kau sendirian? Di mana—"

"Sedang reuni," jawabnya, terkesan masa bodo. Zeze mencomot kue terdekat dan melahapnya.

"Putri Roze!"

Suara Juni yang tiba-tiba terdengar, membawa kepala Zeze menoleh ke kiri. Juni menghampiri Zeze bersama seorang wanita cantik berambut hitam yang sepintas mirip dengannya. Wajah Juni tidak terlihat begitu baik, sebaliknya, wanita di sampingnya justru berbinar-binar waktu melihat Zeze.

Setibanya di hadapan Zeze, Juni dan wanita itu kompak menundukkan kepala kepadanya. Zeze mengerjap kebingungan melihat sikap mereka, ada apa ini?

“Perkenalkan, ini ibuku,” gumam Juni, nyaris terdengar muak.

Senyum di bibir marun wanita itu semakin lebar. “Esmeralda Mavros, Yang Mulia,” sapanya.

Zeze hanya mengangguk kaku karena bingung bersikap di hadapan orang tua dari temannya.

"Ini pertama kalinya saya bertatap muka secara langsung dengan Yang Mulia. Seperti rumor yang beredar, Yang Mulia terlihat sangat mirip dengan Putri Agung Vourtsa, dan saya mungkin akan salah mengenali Anda dengan beliau bila Anda juga memiliki warna mata dan rambut beliau."

Zeze tertawa pelan dan canggung sembari melirik Juni, yang terlihat tidak nyaman seolah ingin cepat-cepat angkat kaki.

"Saya tidak pernah menyangka Junigra bisa berteman dengan Yang Mulia. Semoga kalian berdua bisa terus akrab ke depannya." Senyum tidak pernah meninggalkan wajah Esmeralda. "Junigra... tidak pernah merepotkan Yang Mulia, bukan?" Pertanyaan itu sedikit lebih lirih dari ucapan sebelumnya. Sepertinya tadi dia sengaja memperkeras suaranya untuk membuat iri para nyonya bangsawan yang melihat.

Zeze mengerjap, tersenyum kikuk, "Ah, tidak. Juni sangat baik padaku dan dia—" diliriknya Juni hanya untuk mendapatinya tengah berusaha menahan tawa di atas penderitaan temannya sendiri.

Sialan. Zeze menelan dan melanjutkan ucapannya yang tertunda, "Dia lucu." Seperti anj*ng.

Terpana mendengarnya, Esmeralda meletakkan kedua tangannya di pundak Zeze seolah mereka adalah teman lama, dan adegan tersebut tentu saja tak luput dari mata di sekitar mereka. "Saya senang sekali mendengarnya. Bila ada kesempatan, maukah Yang Mulia berkunjung ke kediaman Earl Mavros? Saya akan menyiapkan hidangan yang sesuai dengan selera Anda. Junigra bilang, Yang Mulia menyukai kombinasi antara pedas dan manis? Saya akan menyiapkannya spesial untuk Anda!" Esmeralda mengucapkannya dengan antusiasme berlebihan.

Zeze hanya membalasnya dengan anggukan, sesekali tertawa kering untuk merespons ocehannya yang seolah tak berujung. Setelah dia pergi, Juni dan Zeze kembali ke sikap normal mereka.

"Apa itu tadi?" Tanya Zeze, masih syok.

"Ibuku, dia sangat girang seperti orang kerasukan saat aku memberitahunya bahwa aku datang bersamamu. Penjilat menjijikan," Bibir Juni mencebik tak suka.

Zeze tak tahu bagaimana harus merespons, namun ia mengerti bagaimana rasanya harus hidup bersama seseorang yang mencintaimu sebagai seorang anak, tapi membencimu sebagai seorang manusia.

Zeze merenungkan masa lalunya kemudian berjengit ketika lengan seseorang merenggut pinggangnya secara tiba-tiba.

"Bukankah tidak sopan meninggalkan tunanganmu bersama perempuan lain?"

\=\=\=\=\=\=\=\=

Sorry aku kelamaan fakum. :(

Lagi gak semangat up.

1
Nu razizah
bener Thor nyari nyari ternyata gk ada lanjutannya
Chronos
lah tamat cuman sampai sini kah? gak ada lanjutannya gitu? gimana keadaan Rhea sama Norofi 😭
Chronos
Imphy?
Chronos
ada Indonesia coy
Chronos
oh jadi piper pied of hamelin itu mereferensikan organisasinya ya (nyulik anak-anak)?
Chronos
ada Indonesia coy
Azera
kapan update lagi kak lin, aku udah kangen banget sama zeze😭 udah berkali-kali aku lupa alur dan baca dari awal tapi belum ada updatenya lagi🥺
jeji hoha
kak kok gaada lanjutan,ini ceritanya masi gantung bgt. pliss lanjut
Nia Indawasih
kak lin ini novel dr tahun kapan si seingetku dr anakku belum ada sampe udah mau 5thn, dr pasang copot app nya 😂😂 gak kelar2
jeji hoha
thor,,,, ga update
di 2025 aku masih nunggin, lanjut update ya aku tunggu kak lin
Amethys: Samaaa, udh lumutan nih aku
total 1 replies
penyuka novel <3 :D
kak knapa g d lanjut bkin karya lain knp dri dlu cuma ada aspyxia ini?!
aku smpe nyari ksna kmari aspyxia krna udh lma g buka noveltoon dan kangn pngen baca kirain udh nmbah krya yang lain ny...syang bangt/Cry//Cry//Cry/
oceanad.
authornya suka bts kah?
Naturelight
kyaknya byk othor yg kcewa dg platform ini y
Nana Bee: betul
total 1 replies
Naturelight
1st love always fail in real life😟
Naturelight
pnsaran, Lin udh baca seri Red Queen blum y
Naturelight: iy, ad 4 buku, othorny Victoria Aveyard
total 4 replies
Alvia Maharani
thor.. uda setahun, ga mau update?
Alvia Maharani: lin, belum mau ada update??
total 3 replies
Naturelight
luv this story so much
brasa bca novel trjemahan
Naturelight
ap motif Glen?🤔
Naturelight
kyakny bkal ska ma ni crita, dh lama nyari² fanfic yg detail. smoga aj gk brenti d tengah jln
kika
bgus bgt thor karyanya...semangat thor...tpi jgn sampe lulus kuliah bru lanjut lagi update nya ya thor... wkwk...
L I N: makasih udah dukung kak 😺💕
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!