Roshan adalah seorang dokter anestesiologi berdarah Nepal, seorang pria dingin yang sulit membuka hati karena ia hanya mencintai satu orang wanita yang selalu ia lamunkan, yang ia kenal dengan baik namun tak berani ia temui. Dalam pikirnya tak ada satupun wanita yang sesempurna dia.
Dia adalah Aila seorang dokter bedah syaraf berprestasi berdarah sunda, wanita cantik berkulit sawo matang, tinggi semampai, berkerudung, dengan mata tajam dan hidung sampingnya, kecerdasannya, kebaikan hatinya membuat kecantikannya kian mengagumkan.
Roshan melihatnya sangat sempurna, segala cara ia lakukan agar ia bisa menjadi dokter di Indonesia.
Namun disanalah ia melihat kenyataan yang sebenarnya, bahwa wanita yang sempurna itu memiliki kisah pilu yang menyedihkan.
Hal ini membuatnya menyesal karena telah membenci dan menuduh hal yang tidak tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fakhrunisa aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Permintaan
Sebuah Permintaan
Lean menetap di Indonesia untuk beberapa pekan, untuk melihat kondisi keponakannya dan juga membicarakan tentang pengobatannya dengan rekan dokternya di Indonesia.
Aro masih menjalani perawatan di rumah sakit, Lean ditemani oleh dokter rendra membahas tentang Ato bersama dengan Leksa dokter yang menangani aro dirumah sakit itu.
"Kamu berapa lama di Indonesia Lean?" tanya rendra.
"Sepertinya untuk beberapa pekan, sampai keadaan agak membaik".
"Oh ya dokter Leksa, sepertinya dua bulan kedepan saya akan coba bawa aro ke singapore, saya harap dokter mau bekerjasama dengan saya" terang Lean.
"Baiklah dokter, asalkan kita tetap ikuti saja siklusnya secara teratur saya tidak ada masalah".
"Baiklah".
Lean kemudian menemui Aila yang tengah menemani aro. "Aila?' panggil Lean sambil memasuki ruangan tempat aro dirawat.
"Bagaimana mas?".
"Keadaannya memang tidak terlalu baik, mas agak khawatir tapi kita berdo'a ya semoga siklus pengobatannya berjalan lancar".
Aila hanya diam termenung, tidak ada kata yang mampu diucapkan aila pada saat itu. "Dua bulan kedepan mas minta kamu bawa aro ke singapore ya, mas udah bicara dengan Leksa untuk siklusnya".
"Tapi mas, kasihan dia kalo harus bepergian sejauh itu" Tolak aila.
"Percaya saja Aila, Tuhan selalu punya cara untuk menunjukan kasih sayangnya pada kita, percayakan semuanya, kita hanya akan berusaha sekeras mungkin". Seakan tak dapat menolak lagi, aila hanya mengangguk lemas dengan air mata yang keluar dari sudut matanya.
"Tuhan sangat menyayangimu aila, sehingga Tuhan terus mengujimu dengan ujian berat, karena ia ingin kamu semakin kuat dan semakin dekat padanya" Lean memeluk hangat adik kesayangannya, aila seketika menitikkan air mata.
"Iya mas" aila menganggu pelan.
****
Hari demi hari, minggu demi minggu mereka lewati. Hari hari yang terasa berat kini mulai terasa lebih ringan, rasa ikhlas telah membuat Aila menjadi lebih tenang.
Lean yang sedari awal datang untuk menemani adiknya, ia menemani aro secara bergantian dengan Aila. Lean bersama bi mirna dan Laras seringkali menggantikan Aila ketika Aila harus tetap pergi ke rumah sakit tempatnya bekerja.
Pagi ini adalah jadwal siklus pengobatan aro, hasil tes darahnya menunjukan penurunan drastis pada sel darah merah dan trombositnya, sehingga terpaksa sebelum kemoterapi aro harus melakukan transfusi.
"Hhhhhh berarti dia harus menginap lebih lama d rumah sakit mas" keluh aila sambil menarik nafas berat.
"Tidak apa apa aila, sabarlah".
"Hari ini kamu bekerja kan? Biar aro mas dan laras yang temani".
"apa tidak masalah mas kalo aila pergi?" tanya aila ragu ragu.
"Tidak apa apa, pergilah aro akan baik baik saja".
Ailapun menurut apa yang kakaknya katakan dan pergi untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai dokter.
Sulit memang posisi Aila saat ini, disamping anaknya yang tengah sakit serius, ada tanggung jawab sebagai dokter dan salah satu pimpinan rumah sakit.
Tanpa rasa lelah aila melakukan keduanya dengan baik. Tanpa mengeluh sama sekali.
Meskipun keadaan aro yang naik turun, aila tetap berusaha yang terbaik untuk kesembuhannya.
Kini setiap 2 bulan aila harus menempuh jarak yang jauh Indonesia - Singapore, karena permintaan kakaknya agar dapat menangani keponakan satu satunya ini dengan lebih baik.
"Kamu pasti kuat aila" ucap Lean.
"Insyaallah mas" balas aila sambil tersenyum dan mata yang sedikit berkaca kaca.
****
Ya Allah aku tidak pernah mengeluh dengan apapun yang aku terima, aku tidak pernah menyesali apapun yang telah terjadi, akupun menerima sakitnya anakku dengan setulus hatiku. Namun Ya Allah jika boleh hamba meminta, hamba ingin melihat malaikat kecil yang Engkau berikan padaku ini sembuh. Angkatlah penyakitnya, jika boleh hamba memohon, hamba memohonkan kekuatan baginya.
Sungguh Engkau sebaik baiknya penolong, sungguh engkau sebaik baiknya pemberi kesembuhan, dan sungguh engkau sebaik baiknya yang mengetahui apa yang baik bagi kami.
Aila bersimpuh dalam do'a nya di sepertiga malam, air matanya membanjiri kulit pipinya yang halus.
Malam itu tiba tiba aro terbangun dari tidurnya dan memanggil manggil ibunya.
"Bubu.... Bubu....".
Aila langsung beranjak mendekati Aro, "apa sayang ibu disini nak". Aila langsung memeluk aro, "aro mau minum susu?".
"Bubu, angis yaaah?" tanya aro polos.
Aila tersenyum manis, "no sayang, bubu gak nangis bubu lagi sholat berdo'a sama Allah".
Aropun berdiri mendekati wajah ibunya dan tiba tiba mengusap kedua pipi aila, berniat menyeka air mata yang masih basah tersisa di kedua pipinya.
"Pasaaahh bubu asaaahhh" sambil melirik kedua tangannya berkali kali. Mungkin maksudnya pipi bubu basah, hanya saja aro belum terlalu fasih bicara.
Aaaaahhh, anak pintar kenapa harus kamu yang Allah hadiahkan ujian ini? Kamu hebat aro, kamu begitu kuat menghadapi semua ini, bahkan lebih kuat dari ibumu ini.
Kini usia aro sudah dua tahun lebih, tanpa terasa siklus pengobatannya sudah berjalan setengah tahun. Hebatnya aro dia terus bertahan bersama dengan begitu banyak obat obatan yang sangat memuakkan.
Dokter Leksa dan juga Lean masih sangat semangat dengan kesembuhan aro.
"Dokter Aila, apakabar?" tanya Leksa sambil menyalami aila.
"Alhamdulillah saya baik dokter".
"Dokter aila, Alhamdulillah aro itu hebat progresnya cukup baik, trombosit nya sudah jarang drop, darahnya jarang drop, anaknya juga tetap aktif ya gak ada perubahan fisik".
"Alhamdulillah dokter, semoga saja siklus nya berjalan dengan baik" Sambut aila dengan perasaan senang.
"Aamiin".
"Kalau begitu saya permisi dokter" pamit aila keluar dari ruangan dokter Leksa.
"Silahkan dokter, jangan lupa minggu depan jadwa aro kemo ya dok".
Aila menganggukan kepalanya sembari tersenyum ramah.
Diparkiran aro sudah menunggu bersama Zain dan Laras. Hari ini adalah harinya aro, zain dan aila sengaja meluangkan waktu kosong untuk berjalan jalan bersama aro.
Mereka pergi menuju taman hiburan, menghibur anak yang mereka sayangi.
Aro memang sudah sangat akrab dengan zain karena nyaris setiap hari zain selalu datang ke rumahnya.
"Aro mau main apa?" tanya zain sambil memangku aro, aro langsung menunjuk salah satu wahana permainan anak.
"Nona saya ajak aro main dulu ya" ijin zain dan ailapun mengangguk pertanda setuju.
Ternyata laki laki sedingin Zain benar benar memiliki sisi sempurna seperti ini, aku pikir dia tidak bisa menjadi seorang ayah karena sifatnya yabg dingin..hahahaha
Laras melihat keakraban zain dan aro, laras sering kali melihat aro yang begitu bahagia jika bersama zain. Dan kali ini laras juga melihat aila begitu terkesima dengan pribadi zain yang tidak pernah ia lihat.."ekheeemm, nona jangan kelamaan dosa loh hehehe" canda laras membuyarkan fokus pandangan aila.
"Astaghfirullah lassssss, kamu ini ngagetin aja".
"Habis nona liatin tuan zain nya gitu banget, nyebut non" kata laras iseng.
"Kamu ini ngawur aja, zain itu udah kayak kakak saya sendiri gak mungkin lah" Aila berusaha memalingkan hatinya dari kebaperan yang sedang menggelitiknya.
"Baru kayak kakak kan nona, kalau memang baik dan tepat mau gimana?" candaan dan kejahilan laras kian menjadi.
Sementara dikejauhan aro masih terus asik bermain bersama zain sambil tertawa.
"Allah yang lebih tahu las, kita berdo'a aja memohon yang terbaik, berusaha juga memantaskan diri, siapa yang Allah pilih kan saya gak tahu".
"Hehehe iya nona, betullll".
Aila kembali dengan pandangan terpukaunya pada dua sosok yang tengah bersenang senang dihadapannya.
"Den aro siniiii".
"Tuan zain siniiiii".
Tiba tiba laras berteriak memanggil aro dan zain, keduanya langsung menoleh pada laras.
"Sini ajak bubu main" lanjut laras sambil cengengesan.
Aila langsung mendelik pada laras, "lassssssssss!!!!!" mata indah aila tiba tiba melebar.
"Hehehe vissssssss" laras mengacungkan 2 jarinya sambil tersenyum dan menjulurkan lidahnya.
Tanpa berlama lama zain dan aro menghampiri aila. "Ayo nona temani kami bermain" ajak zain.
Aila tidak bisa menolak sekalipun sedikit canggung, namun aila tetap hanyut dalam tawanya. Mereka berlarian, silih bergantian bercanda dengan aro. Layaknya sebuah keluarga lengkap, yang sangat diidamkan mata laras dari aila.
Aila begitu lepas tertawa ditengah matahari yang mulai merangkak naik menghangatkan pagi yang beranjak siang.
Kini giliran zain yang terpukau, terpesona dengan pancaran kecantikan, kesholehahan, dan kebaikan hati aila di wajahnya.
Tawa aila yang begitu ringan dan renyah membuat zain terpana, hatinya tiba tiba saja berdebar.
"Astagfirullah ada apa dengan hati ini? Apa jantungku sedang berolah raga" batin zain dengan polosnya, ini pertama kalinya zain berdebar dihadapan seorang perempuan. Sehingga tidak sedikitpun disadari bahwa ia menaruh hati pada nonanya sendiri.
"Aaaaarrrhhh kenapa setiap melihat nona tertawa jantungku berdebar?" pikiran zain menggila, tidak bisa mengartikannya sama sekali.
Laras yang memperhatikan mereka dari kejauhan tertawa sendiri karena geli.
"Ah tuan zain yang bodoh, kenapa kamu polos sekali bahkan lebih polos dari gadis desa!". Laras melihat tingkah gugup zain dihadapan aila dan menyadari bahwa zain tengah menyukai nonanya yang cantik. Zain yang gelagapan dengan wajah memucat dan seringkali mengusap dadanya sampai menarik nafas panjang, membuatnya terlihat konyol.
"aaarrrh kenapa lama sekali dia sadar? sebetulnya dari lama dia menyukai nona aila!" laras mulai kesal dengan kebodohan zain.
keringat dingin mengucur disela sela tatapan kosong zain, sementara aila masih asik dengan permainannya bersama aro membuat aila tidak menyadari tingkah zain sama sekali.
"kenapa aku jadi kesal sendiri begini? rasanya aku ingin menamparnya sekali, memukul kepalanya dua kali, dan berteriak dikupingnya seratus kali!!!!" batin laras gemas.
"Ya Allah seandainya boleh aku memohonkan satu permintaan yang akan langsung engkau kabulkan, aku meminta jodohkan mereka, tuan zain sangat baik dan setia, biarkan dia menjadi pelindung nona Aila, dia sangat baik Ya Allah", do'a polos dari seorang laras yang baik hatinya.
Syukurlah kini sejenak aro bisa kembali tiang tertawa ditengah penyakitnya, aila sejenak bisa kembali tertawa dibalik beban berat yang menimpanya, dan sejenak zain bisa bertingkah seperti seorang ayah dan menghilangkan sikap dingin dan kakunya walaupun kepolosan hatinya yang hampir masuk kategori bodoh tetap tidak bisa disembunyikan.
.
.
.
.
.
haiiii kaksaayyyy... mohon dukungannya selalu ya, jangan lupa komen, like, follow juga ya, itu sudah hal yang luar biasa buat kita yang lagi berusaha menulis..
😘😘😘😘