NovelToon NovelToon
Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Slice of Life / Rumah Tangga
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.

Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...

Benarkah rumah itu membawa kutukan?

Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 - Riak Kecil Dipagi Hari

Sinar matahari pagi mulai masuk melalui celah jendela kamar. Hanifah perlahan membuka matanya. Ia melirik ke samping. Bibi Ratna rupanya masih tertidur pulas di balik selimut tebalnya.

Hanifah bergerak hati-hati agar tidak membangunkan bibinya. Perutnya yang semakin membesar membuat setiap gerakan terasa lebih lambat. Ia mengambil mukena, lalu keluar kamar.

Di ruang tamu, Arkana rupanya sudah bangun lebih dulu. Ia baru selesai melaksanakan salat Subuh.

"Sudah bangun, Dek?" tanyanya sambil tersenyum dengan nada suara yang berbisik lembut, takut mengganggu ketenangan rumah.

​"Iya, Mas, sudah," sahut Hanifah sambil melangkah mendekat. "Bagaimana tidurnya semalam? Mas Arkana bisa tidur nyenyak di luar sini?"

Arkana terkekeh pelan sambil merapikan letak sarungnya, berusaha menyembunyikan rasa tidak nyaman pada fisiknya. "Alhamdulillah, tidurnya cukup nyenyak kok, Dek. Cuma ya... namanya juga tidur di atas lantai beralaskan tikar tipis begini, punggung dan pinggang rasanya jadi sedikit pegal-pegal saat bangun tadi."

Hanifah tersenyum merasa bersalah. "Maaf ya, Mas."

"Loh, kok minta maaf? Kan yang mengalah tidur di luar Mas." Arkana mengusap pelan kepala istrinya. "Cuma sebulan saja, nanti juga selesai."

Hanifah mengangguk pelan, merasa sedikit lebih tenang mendengar jawaban suaminya. "Aku buat teh dulu ya, Mas."

"Ingat pesan Bibi."

Hanifah mengangguk. "Iya."

Hanifah berjalan menuju dapur. Baru saja ia mengambil bawang merah untuk menyiapkan sarapan, rasa mual kembali menyerangnya.

"Huek..."

Ia buru-buru menutup hidung. "Astaghfirullah..."

Aroma bawang yang biasanya biasa saja kini terasa menusuk. Hanifah segera meletakkan kembali bawang itu.

Ia mengambil napas panjang beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan membuat teh terlebih dahulu.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Ratna keluar sambil merapikan kerudungnya.

"Selamat pagi." sapa Bibi Ratna dengan suara datarnya yang khas.

"Pagi, Bi." Hanifah segera menyodorkan secangkir teh hangat. "Ini, Bi."

Ratna menerimanya. "Hm... Suhunya pas."

Arkana ikut menghampiri. "Selamat pagi, Bi. Bagaimana tidurnya semalam? Nyenyak?"

​"Pagi, Arkana. Iya, lumayan nyenyak kok," jawab Bibi Ratna singkat. Beliau kemudian mengambil posisi duduk lesehan di ruang tamu sambil terus menikmati teh hangatnya secara perlahan. Sesekali matanya memperhatikan keadaan rumah.

"Hanifah." panggil Bibi Ratna tiba-tiba setelah meletakkan cangkirnya.

"Iya, Bi?" sahut Hanifah yang sedang merapikan taplak meja.

"Rumah ini memang setiap hari disapu?"

"Iya, Bi."

"Kalau dipel kurang sering ya?"

Hanifah sedikit bingung. "Setiap dua hari sekali, Bi."

Ratna mengangguk pelan. "Pantas."

Hanifah hanya tersenyum. Ia tidak ingin memperpanjang pembicaraan.

Arkana yang mendengar itu langsung berkata, "Nanti saya pel sendiri, Bi."

Ratna menoleh. "Kamu?"

"Iya. Hanifah tidak boleh kecapekan." jelas Arkana dengan nada protektif.

Ratna hanya mengangguk. "Bagus. Laki-laki memang harus membantu istrinya."

Hanifah tersenyum kecil mendengar suaminya dibela.

Tak lama kemudian, Hanifah kembali ke dapur. Ia mencoba memasak nasi dan telur dadar. Namun saat minyak mulai panas, aroma telur bercampur bawang kembali membuat perutnya bergolak.

"Huek..."

Ia buru-buru mematikan kompor. Arkana yang mendengar suara muntah langsung berlari.

"Hanifah!"

​Hanifah tampak bersandar lemas di pinggiran bak cuci piring sambil menggelengkan kepalanya lemah. "Aku tidak apa-apa..."

"Masih mual." Arkana mengusap punggung istrinya.

"Sudah, sudah. biar Mas saja yang masak."

"Tapi Mas mau berangkat kerja, kan? Bisa-bisa telat berangkat nanti," protes Hanifah dengan nada khawatir.

"Tidak apa-apa. Yang paling penting sekarang adalah kamu tidak boleh memaksakan diri lagi," potong Arkana tegas.

Ratna ikut datang ke dapur. Ia melihat Arkana sedang memegang spatula.

"Kamu yang masak?"

"Iya, Bi."

"Hanifah masih tidak kuat mencium bau masakan." jawab Arkana sambil membalikkan telur dadar di wajan.

Ratna memperhatikan Hanifah beberapa saat.

"Kalau begitu, Hanifah duduk saja. Jangan dipaksa."

Hanifah mengangguk. "Baik, Bi."

Beberapa menit kemudian, sarapan pun selesai. Mereka makan bersama di ruang tengah. Ratna mencicipi sayur bening buatan Arkana.

"Hm... Rasanya lumayan."

Arkana tertawa kecil. "Syukurlah."

"Tapi lain kali..." Ratna melanjutkan sambil tersenyum tipis. "...garamnya sedikit ditambah."

"Iya, Bi." Arkana menjawab santai.

Baginya, itu hanyalah saran biasa. Setelah selesai makan, Arkana bersiap berangkat kerja.

Sebelum mengenakan helm, ia kembali mengingatkan Hanifah.

"Jangan angkat barang berat. Kalau ada apa-apa, telepon Mas."

"Iya."

"Lalu..." Arkana menoleh kepada Ratna. "Bi, Hanifah masih sering mual. "Kalau dia terlihat kelelahan, tolong diingatkan untuk istirahat."

Ratna mengangguk. "Kamu tenang saja. Selama Bibi di sini, Hanifah akan Bibi jaga."

Arkana tersenyum lega. Ia menyalami Bibi Ratna. Kemudian Hanifah meraih tangan Arkana dan mencium punggung tangannya. Arkana mengusap pelan perut Hanifah.

"Hati-hati di rumah. Jaga dedek di dalam perut, ya?"

"Iya, Mas."

Motor Arkana perlahan meninggalkan halaman. Hanifah dan Ratna berdiri di teras memperhatikan hingga suara mesin motor menghilang.

Ratna kemudian menoleh kepada Hanifah. "Hanifah."

"Iya, Bi?"

"Setelah istirahat sebentar, bibi minta tolong cuci baju Bibi yang kemarin dan hari ini, ya."

Hanifah tersenyum sopan. "Baik, Bi."

Ia tidak menolak sedikit pun. Baginya, melayani tamu yang lebih tua adalah bentuk penghormatan.

1
Anime aikō-kā
4
Ris Ris.25
wah menantang sekali nih
Mustafa
resmi rumah sendiri
Putri Ayu/PqxxyZ: iya, beli rumah demi Hanifah nih
total 1 replies
Mustafa
Mitos pasti sihn
Putri Ayu/PqxxyZ: betul banget nih kak
total 1 replies
Mustafa
yeaay udah sah
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih... syukur banget🤭
total 1 replies
Ris Ris.25
syukurlah diterima dengan baik😊
Putri Ayu/PqxxyZ: betul sekali😊
total 1 replies
Mustafa
Ayo kamu pasti bisa Arkana
Putri Ayu/PqxxyZ: yuk bisa yuk
total 1 replies
Mustafa
Berani melakukan, berani bertanggungjawab💪
Putri Ayu/PqxxyZ: wajib sih itu
total 1 replies
Ris Ris.25
cerita baru🤭😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: Iya nih.. mampir ya dan dukung kek kemarin lagi ya🙏😊🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!