BY : GULOJOWO NOVEL KE-8 😘
BRAAKK!!
Suara pintu yang di dobrak dengan keras membuat seorang laki-laki yang berprofesi sebagai guru BK itu membelalakkan matanya karena terkejut.
"APA YANG BAPAK LAKUKAN?!" Teriakan seorang kepala sekolah yang menjadi atasannya membuat laki-laki itu kesulitan menelan ludahnya.
"Ti-tidak pak, saya tidak melakukan apapun. Sumpah!" Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya ke atas. Namun sayangnya tidak ada yang percaya dengan omongannya itu saat melihat seorang gadis yang tergeletak tak sadarkan diri dengan kondisi baju seragamnya yang sudah terbuka keseluruhan kancingnya.
Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk ikuti kelanjutannya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GuloJowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 31
Malam sudah semakin larut. Bu Eny nampak tertidur lelap di sofa yang ada di dalam ruang perawatan menantunya. Begitu pula dengan Bentari. Bentari tertidur miring membelakangi suaminya yang duduk di kursi samping brankarnya. Tak masalah bagi Pak Ivan walau hanya bisa melihat punggung sang istri. Hanya saja Pak Ivan takut istrinya itu merasa tidak nyaman dalam tidurnya dengan posisi miring seperti itu. Apalagi tangan kiri yang terpasang infus harus ikut tertarik.
Pak Ivan bangkit dari duduknya kemudian pelan-pelan dirinya menempelkan punggung tangannya di dahi sang istri untuk mengecek suhu tubuh sang istri yang ternyata sudah turun. Hanya terasa hangat saja, tidak sepanas saat dirinya baru saja membawa sang istri ke rumah sakit. Karena dirasa istrinya itu sudah tertidur lelap, Pak Ivan perlahan membenarkan posisi tidur istrinya agar istrinya itu merasa nyaman.
Bentari terlihat menggeliat membuat Pak Ivan menahan nafasnya karena takut istrinya itu terbangun dan nantinya akan marah kepadanya karena sudah mengganggu tidurnya. Namun apa yang dikhawatirkan oleh Pak Ivan itu tidak terjadi karena istrinya kembali terlelap lagi.
Pak Ivan kembali mendudukkan tubuhnya di samping brankar sang istri. Sekarang dirinya bisa memandangi wajah sang istri sepuasnya. Meskipun masih terlihat sedikit pucat, namun istrinya itu tetap terlihat cantik. Wajah imutnya membuat Pak Ivan gemas. Apalagi saat tertidur lelap seperti itu. Ingin rasanya Pak Ivan mencium kedua pipinya dan m31um@t bibirnya. Eh, Pak Ivan segera membuang segala pikiran kotor yang melintas di kepalanya. Tahan, tahan, setelah kejadian ini pasti dirinya tidak akan mendapatkan jatah lagi dari istrinya. Huuuft, entah sampai kapan lagi.
Pak Ivan menyandarkan kepalanya di samping tangan sang istri yang tertancap selang infus. Perlahan matanya mulai terpejam dan tak lama hembusan nafas teratur mulai terdengar. Pak Ivan sudah terlelap dalam tidurnya.
Tengah malam Bentari terbangun karena kantung kemihnya terasa penuh. Saat membuka matanya, Bentari mendapati sang suami tertidur di sebelahnya dalam posisi duduk dengan kepala bersandar di pinggir ranjang. Bentari perlahan mendudukkan tubuhnya. Menoleh melihat kantong infus yang menggantung di penyangga infus. Ingin meraihnya namun tangannya tak sampai. Bentari menyingkap selimut yang membalut tubuhnya kemudian dengan hati-hati ia ingin kembali meraih kantong infus. Namun belum juga tangannya menggapai kantong infus, suaminya itu sudah membuka matanya.
Pak Ivan yang merasakan pergerakan di ranjang yang menjadi tumpuannya langsung membuka matanya karena takut istrinya itu terbangun dan membutuhkan sesuatu. Dan benar saja, istrinya itu terlihat kesulitan menggapai kantung infus.
"Mau apa?" Pak Ivan langsung beranjak dari duduknya.
"Pipis!" Jawab Bentari merengut membuat Pak Ivan mengulum senyumnya.
"Sini aku bantu." Pak Ivan langsung meraih kantung infus yang menggantung di penyangganya. "Ayo!" Pak Ivan ingin menggendong istrinya itu namun Bentari menolaknya.
"Aku bisa sendiri!" Sahut Bentari menadahkan tangannya meminta kantung infus yang dipegang oleh suaminya.
"Badan mu masih lemes, nanti kalau pingsan di kamar mandi bagaimana?"
"Ish," Bentari kembali merengut.
"Ini pegang, biar aku bantu ke kamar mandi." Pak Ivan menyodorkan kantung infus kepada istrinya dan langsung disambar oleh Bentari.
Bukannya marah Pak Ivan malah terkekeh. Pak Ivan langsung menggendong tubuh istrinya itu dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Bu Eny yang menyaksikan itu ikut menahan senyumnya. Ya, Bu Eny terbangun saat mendengar keributan disekitarnya. Namun dirinya memilih memejamkan mata kembali dan mendengarkan segala perdebatan antara anak dan menantunya itu yang menurutnya terdengar lucu.
Pak Ivan mendudukkan tubuh istrinya ke atas kloset, kemudian meraih kantong infus yang berada di tangan sang istri.
"Bapak ngapain masih disana?!" Tanya Bentari saat melihat suaminya itu bukannya keluar dari kamar mandi malah berdiri tegak di dekatnya. "Keluar sana!" Usir Bentari. Sebenarnya Bentari malas berbicara dengan suaminya itu. Bentari masih marah. Bentari benci dengan suaminya itu. Namun sayangnya dirinya masih lemah dan tidak ada yang bisa dimintai tolong selain suaminya.
"No! Aku nggak akan biarin kamu di dalam kamar mandi sendirian!" Sahut Pak Ivan tegas dan lagi-lagi membuat istrinya itu merengut.
"Ish, mana aku bisa pipis kalau bapak ada di dalam kamar mandi!" Bentari tak kalah sewot.
"Pipis aja, aku tidak akan melihatnya."
"Ish, ya sudah sana, hadap sana!"
Pak Ivan langsung membalikkan tubuhnya membelakangi sang istri karena tidak ingin membuat istrinya itu malu. Diam-diam Pak Ivan mengulum senyum. Apa juga yang mau disembunyikan, toh aku juga sudah melihat semuanya. Batin pak Ivan.
"Sssttthh!" Desis Bentari yang merasakan perih di area miliknya saat dilewati oleh air pipisnya.
Mendengar itu tentu saja membuat Pak Ivan khawatir dan langsung membalikkan tubuhnya lalu menghampiri sang istri. "Kenapa? Apa ada yang sakit?"
Mata Bentari langsung membulat karena terkejut. "PAK IVAN!" Teriak Bentari hingga membuat Bu Eny tergopoh-gopoh menghampiri kamar mandi.
Tok.. Tok.. Tok..
"Ada apa? Kenapa teriak-teriak begitu? Apa terjadi sesuatu?" Bu Eny terlihat panik di depan pintu kamar mandi.
"Ti-tidak Bu!" Sahut Pak Ivan dari dalam kamar mandi dengan suara keras. Akhirnya Bu Eny pun memilih kembali lagi ke sofa.
"Ini tengah malam, jangan teriak-teriak begitu." Ujar pak Ivan.
"Habisnya bapak ngeselin!" Mata Bentari terlihat berkaca-kaca. Hampir saja dirinya menangis karena merasa sangat malu. Bagaimana tidak, dirinya masih dalam keadaan menyingkap baju pasiennya ke atas dan belum c3b0k saat suaminya itu menghampirinya. Cepat-cepat Bentari menurunkan baju pasiennya untuk menutupi miliknya.
"Semalam aku sudah melihat semuanya Tari. Jadi apa lagi yang mau kamu sembunyikan dari ku?"
"Hiks.. hiks.." Bentari malah terisak saat suaminya itu mengingatkan tentang kejadian semalam.
Pak Ivan langsung menunduk lalu merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. "Sudah jangan menangis lagi. Aku ini suami mu, jadi aku berhak atas semua yang ada dalam dirimu."
Bentari malah semakin terisak-isak dalam pelukan suaminya. Pak Ivan kemudian mengurai pelukannya. Dihapusnya air mata istrinya dengan tangannya. "Sudah, ayo aku bantu."
"Ak-aku bisa sendiri." Suara Bentari terbata. "Bapak hadap sana saja."
Karena tidak ingin memaksa sang istri, akhirnya Pak Ivan memilih mengalah. Pak Ivan langsung membalik tubuhnya membelakangi sang istri agar istrinya itu bisa segera membersihkan diri. Setelah itu Pak Ivan langsung menggendong istrinya kembali keluar dari kamar mandi dan membawanya menuju ke brankar.
Direbahkannya perlahan tubuh sang istri. Bentari langsung memposisikan dirinya miring membelakangi sang suami lagi. Pak Ivan hanya bisa menghela nafasnya pelan. Biarlah, mungkin dirinya memang harus banyak bersabar dalam menghadapi sikap istrinya itu.
*****
*****
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
ambil aja,biar Bentari nyesal