Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Pagi itu, udara sekolah terasa lebih sejuk saat Alya melangkahkan kakinya melewati gerbang SMA Nusa Bangsa. Di kedua tangannya, ia menjinjing tas belanja kain berisi beberapa kotak mika kue ekstra yang sengaja ia siapkan untuk berjaga-jaga. Langkahnya teratur, dengan pandangan lurus ke depan, berusaha mengabaikan sisa-sisa rasa lelah akibat bangun terlalu dini hari tadi.
Belum juga Alya sempat meletakkan tasnya di atas meja kelas 11 IPA 1, pintu ruangan tiba-tiba digeser dengan kasar. Adel dan Jesica muncul dengan napas yang sedikit memburu, wajah mereka memancarkan binar antusiasme yang begitu meluap-luap. Keduanya langsung berlari kecil menghampiri meja Alya, bahkan sampai membuat beberapa teman sekelas yang sedang mengobrol santai menoleh kaget.
"ALYA! YA AMPUN, LO KOK TEGA BANGET SIH?!" pekik Adel histeris sembari menggebrak meja Alya pelan, namun senyum lebar di wajahnya sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa gemas.
Alya berkedip pelan, menatap sahabatnya dengan raut bingung. "Tega kenapa, Del?"
"Tega karena lo gak pernah bilang kalau lo jago banget bikin kue secantik itu!" Jesica menimpali tak kalah heboh, langsung menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Alya. Layar itu menampilkan unggahan foto Bolu Gulung Cokelat dan Kue Lumpur Kentang milik akun "Dapur Saras" yang diunggah Alya subuh tadi. "Gue sama Adel kaget banget pas lagi *scrolling* media sosial tadi pagi. Ini beneran buatan lo sendiri, Al? Demi apa, estetis banget fotonya, kelihatan kayak kue-kue di kafe mahal tahu gak!"
"Iya, Al! Sumpah, pas liat fotonya aja air liur gue rasanya mau menetes," cerocos Adel lagi, menopang dagunya di atas meja Alya dengan mata berbinar-binar penuh harap. "Kita berdua pokoknya gak mau tahu. Sebagai sahabat paling setia se-dunia, kita berdua harus jadi pelanggan pertama lo hari ini! Gue mau pesen satu paket bolu gulung cokelat yang pakai selai stroberi, terus Jesica mau kue lumpur kentangnya."
Jesica mengangguk cepat bak pajangan mobil. "Betul! Gue mau pesen sepuluh biji buat dibawa pulang ke rumah, nyokap gue suka banget sama kue lumpur yang teksturnya lembut gitu. Berapa semuanya, Al? Sini gue bayar sekarang pakai uang tunai!"
Mendengar desakan bertubi-tubi namun penuh ketulusan dari kedua sahabatnya, dada Alya mendadak berdesir hangat. Rasa haru dan lega menyeruak, meruntuhkan sebagian besar dinding kecemasan yang sempat menyiksanya semalaman. Ia tidak menyangka bahwa langkah kecil yang ia ambil di media sosial subuh tadi akan langsung membuahkan respons secepat ini dari orang-orang terdekatnya.
"Kalian beneran mau beli?" tanya Alya memastikan, suaranya sedikit bergetar karena menahan rasa syukur. "Sebenarnya... aku sengaja bawa beberapa kotak lebih di tas ini buat contoh. Kalau kalian mau, bisa langsung diambil sekarang."
"MAU BANGET LAH!" seru Adel dan Jesica kompak.
Keributan kecil dan kehebohan yang diciptakan oleh Adel dan Jesica di barisan depan kelas rupanya berhasil memancing rasa ingin tahu dari teman-teman sekelas lainnya. Beberapa siswi yang awalnya hanya sibuk mengobrol tentang *study tour* mulai mendekat, tertarik oleh aroma wangi mentega dan pandan yang samar-samar mulai menguar dari dalam tas kain Alya ketika kotak mikanya dibuka.
"Eh, ada apa sih itu di mejanya Alya? Kok heboh banget?" tanya Tiara, salah satu siswi yang duduk di barisan tengah, sambil melongokkan kepalanya.
"Ini lho, Ti! Alya ternyata buka usaha kue rumahan, namanya Dapur Saras! Kuenya asli buatan dia sendiri, higienis, manisnya pas, dan harganya ramah banget di kantong pelajar!" Adel langsung beralih profesi menjadi promotor dadakan, mengangkat salah satu kotak mika berisi Bolu Gulung Cokelat ke udara agar bisa dilihat oleh seisi kelas.
Tiara dan dua temannya berjalan menghampiri meja Alya. Begitu melihat tampilan bolu gulung yang terpotong rapi dengan lelehan selai stroberi yang menggoda, mata mereka langsung berbinar. "Wah... kelihatan enak banget. Al, gue boleh pesen gak? Buat acara kumpul keluarga nanti malam di rumah. Gue mau pesen satu kotak isi lima belas, bisa gak?"
"Gue juga mau pesen, Al! Buat camilan les nanti sore, kue lumpurnya kelihatan empuk banget," timpal murid perempuan lainnya dari arah belakang.
Dalam sekejap, meja Alya yang biasanya hanya dipenuhi oleh tumpukan buku pelajaran dan kamus tebal berubah menjadi pusat pemesanan yang sangat sibuk. Teman-teman sekelasnya bergantian menuliskan nama dan jumlah pesanan mereka di lembar kertas kecil yang disiapkan oleh Jesica. Alya sendiri sibuk melayani pembeli yang ingin langsung mencicipi stok kue yang ia bawa pagi itu. Lembaran-lembaran uang kertas pecahan sepuluh ribu dan dua puluh ribu rupiah mulai memenuhi dompet kecil Alya secara bertahap.
Alya merasakan matanya sedikit menghangat, menahan air mata kebahagiaan yang nyaris mendesak keluar. Di dalam hati kecilnya, ia tak henti-hentinya merapikan rasa syukur yang teramat dalam kepada Tuhan. Ide untuk memposting hasil masakannya di media sosial ternyata sama sekali tidak sia-sia. Langkah berani yang sempat ia ragukan malam tadi kini justru menjadi pembuka jalan yang luar biasa bagi perjuangannya mencari biaya *study tour*.
Melihat antusiasme teman-temannya yang begitu besar, rasa lelah akibat kurang tidur dan jemari yang pegal karena mengocok adonan manual subuh tadi mendadak lenyap tanpa sisa. Digantikan oleh gelombang energi baru dan keyakinan yang makin menebal di dalam dadanya bahwa ia pasti bisa melunasi biaya sekolah tersebut tepat pada waktunya esok hari.
Sementara itu, di ambang pintu kelas 11 IPA 1 yang terbuka sedikit, sesosok laki-laki berpostur tinggi berdiri diam di koridor yang mulai sepi karena bel masuk hampir berbunyi. Devan Narendra, dengan jaket hitam yang tersampir di bahunya, memperhatikan pemandangan riuh di dalam kelas itu dari kejauhan.
Devan melihat bagaimana Alya tersenyum tulus saat menerima uang dari teman-temannya, bagaimana jemari gadis itu dengan cekatan mencatat pesanan, dan bagaimana binar kehidupan yang sempat meredup kemarin kini telah kembali bersinar terang di sepasang matanya. Devan menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman penuh kehangatan yang belum pernah ia perlihatkan pada siapa pun di sekolah ini.
'Gua tahu lo pasti bisa nemuin jalan lo sendiri, Alya,' batin Devan hangat, sebelum akhirnya membalikkan badan dan melangkah santai menuju kelasnya sendiri dengan perasaan yang jauh lebih lega dari kemarin.