Bima Pawitra terlahir dari keluarga kaya, namun takdir telah menentukan dirinya.
Ketika orangtuanya dalam perjalan pulang, ditengah jalan menjadi target pembunuh bayaran. Orangtua Bima berusaha menghindar, namun terpojok ketepi jurang, sehingga Bima yang berada dalam pelukan ibunya terlepas dari tangannya dan terlempar ke jurang karena terpeleset.
Tanpa di ketahui oleh orangtuanya, Bima yang masih bayi menembus dimensi lain dan di selamatkan kakek Alam.
17 tahun dalam perawatan kakek Alam, Bima menjadi sosok pemuda sakti dan kembali kebumi untuk mencari orangtuanya.
Bumi tidak sesederhana yang di lihatnya, Bima juga tidak tahu bahwa dia adalah sang terpilih menjadi penguasa tiga dunia.
Apa yang akan terjadi selanjutnya, berhasilkah menemukan orangtuanya. Dan apa reaksinya setelah mengetahui bahwa menjadi sang terpilih..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arkhan biantara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Sengit
Komplek Villa Golden Rose blok A-11
Yosep mengenakan pakaian resmi dia diam-diam dan bersandar di sofa sambil membuka salinan dokumen. Akhir-akhir ini dia memiliki kehidupan yang nyaman, apalagi sejak dia menemukan tempat yang akan membuatnya lebih kaya lagi, senyumnya semakin mengembang. Selain itu perusahaan barang antiknya berkembang dari hari ke hari, membuatnya lebih bersemangat.
Namun, meskipun begitu dia sedang menunggu anak buah yang di tugaskan untuk menyelesaikan atau membereskan tempat di mana ada harta karunnya, akan tetapi hingga saat ini belum ada laporan maupun yang menelfon, hatinya sedikit gelisah. Tapi dia berusaha menekannya karena dia pikir tidak mungkin akan sesulit itu untuk mendapatkannya.
Apalagi setelah dia selidiki, barang antik yang berada di rumah itu hanyalah rumah penampungan, yang juga pemilik asli rumah itu telah tiada. Juga telah bekerjasama dengan pihak kepala desa jadi akan sangat mudah untuk mendapatkan rumah itu.
"Tuan, orang yang anda tunggu telah tiba." seorang pelayan datang menghampiri Yosep.
"Persilakan dia masuk, dan kamu boleh pergi" Yosep mengibaskan tangannya
"Baik tuan" pelayan mengangguk dan pergi memanggil tamu tuannya untuk di persilakan masuk.
Beberapa saat kemudian orang yang di tunggu Yosep tiba di hadapannya, Yosep mendongak melihat orang di hadapannya, lalu berkata: "Bagaimana tuga yang telah aku berikan telah kamu selesaikan.?"
"Maaf tuan aku telah gagal," Suja menundukan kepala
"Apa kamu bilang. Gagal," Yosep kaget
"Bagaimana mungkin tugas yang begitu mudah saja kamu tidak mampu, apa alasannya kamu bisa gagal" teriak Yosep
"In...ini tuan..." Suja gugup
"Cepat katakan" teriak Yosep dengan marah
"Baik tuan," Suja mulai menceritakan yang awalnya akan berhasil namun di gagalkan oleh Bima, meskipun sudah membawa barang bukti.
"Begitu tuan," Suja mengakhiri perkataan
"Dasar sampah tidak berguna, hanya melawan dua orang saja tidak bisa" Yosep menjadi berang.
Impian dia untuk mendapatkan benda berharga telah gagal.
Suja diam hanya bisa mengutuk di dalam hatinya, karena sudah jelas orang yang di hadapinya adalah seorang ahli beladiri, bagaimana mungkin orang biasa akan mampu menghadapinya.
"Ayo pergi, aku ingin tahu apakah dia sehebat apa yang telah kamu katakan," Yosep bangkit dari duduk lalu pergi. Suja mengikuti dari belakang.
Di depan Villa sudah berdiri sembilan belas orang. yang ternyata adalah rekannya Suja, dengan menundukan kepala tidak ada satupun yang berani menatap tuan Yosep yang berjalan ke arahnya. Apalagi mereka tidak berhasil. menjalankan tugasnya.
Setelah Yosep tiba di depan anak buahnya, dia menatap dengan tatapan sinis. "Hanya di beri tugas kecil saja kalian tidak mampu, hmm.. dasar pecundang." Yosep mencibir
ketika kata-kata itu keluar, mereka seluruhnya lebih menunduk lagi dan tidak ada yang berani bicara.
"Kita kembali, kalian ikut semua," Yosep melangkah masuk ke mobil setelah mengintruksikan ke anak buahnya.
"Aku tidak akan percaya begitu saja, setelah apa yang di beri tahukan oleh pecundang itu," Yosep bergumam setelah ada di dalam mobil.
"Berangkat sekarang tuan." sopir melirik ke arah Yosep.
"Ya, bahkan harus sesegara sampai kesana." Yosep mengangguk.
Akhirnya kelompok tuan Yosep melaju menuju araha kota Mawar. Tepat ke desa Cisaat
...----------------...
Desa Cisaat.
Warga yang berdekatan dengan rumah bu Lasmi telah bubar dan melakukan aktifas seperti semula, setelah kejadian tadi pagi menghebohkan seluruh warga. Di karenakan tuan Marwan yang cukup berpengaruh di kota Mawar kalah dalam perkelahian, bahkan yang lebih mengejutkan bagi warga geng Srigala Hitam tidak melakukan tindakan ataupun gerakan, malah kabur.
Rumah penampungan bu Lasmi, kini yang tinggal hanya tiga orang Bima, Wira dan mang Diman. Kerana memang sengaja jangam pergi dulu atas permintaan dari Bika. Mereka bertiga sedang ngobrol ringan merencanakan tindakan apa untuk kedepannya.
Sedangkan bu Lasmi lagi keluar untuk membeli kebutuhan anak asuhnya. Bu Lasmi mendapatkan uang dari Bima yang cukup besar, bahkan bisa menutupi kebutuhan selama satu minggu ke depan.
Pekarangan rumah bu Lasmi. Tiba-tiba ada beberapa mobil yang datang, salah satu mobil paling depan dan mewah pintu mobilnya terbuka dan ternyata tuan Yosep telah tiba di depan rumah bu Lasmi. Mobil di belakangnya pun sama-sama membuka pintu lalu keluarlah anak buah Yosep.
Suja mendekati tuan Yosep dan tepat berdiri di sampingnya. "Cepat ketuk pintunya." Yosep melirik ke Suja
Suja mengangguk. Lalu melangkah mendekati pintu rumah bu Lasmi, dengan suara
*tok..tok..tok*
Pintu rumah terbuka dan mang Diman yang keluar, kemudian bertanya "Anda siapa pak?"
"Katakan kepada pemilik rumah ini, bahwa pemilik rumah yang asli telah tiba," Suja tersenyum sinis
Bima meliriknya, ketika sudah keluar dari rumah dan melihat ada puluhan orang sudah berkumpul.
Melangkah ke depan, Bima menatap ke Yosep setelah berada tepat di depannya.