Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa yang Mengganggu
Jantung Luna masih berdetak sangat cepat atas apa yang baru saja ia saksikan. Beberapa kali ia memejamkan mata sambil menarik napas dalam, berusaha menenangkan dirinya. Setelah napasnya mulai teratur, Luna melangkah menuju tempat tidur lalu duduk di tepian.
Luna menunduk sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bayangan akan kejadian beberapa saat yang lalu kembali berputar di kepalanya.
Awalnya, ia berpikir Bara mengerang karena kesakitan. Justru sebaliknya. Kenyataan yang dilihatnya justru membuatnya membeku. Ayah mertuanya itu sedang menuntaskan hasratnya sendiri. Rasa malu langsung menyeruak, membuat pipinya memanas.
Luna memejamkan mata, mengingat ayah mertuanya, tubuhnya yang tetap, kulitnya yang eksotis, otot perutnya yang terbentuk sempurna, keringat yang membasahi tubuhnya, dan ekspresi wajahnya yang membuatnya nyaris gila.
"Luna, hentikan!" gumamnya pelan. "Dia ayah mertuamu."
Ia menggeleng berkali-kali, seolah ingin mengusir bayangan itu dari benaknya. Namun semakin ia berusaha melupakan, semakin jelas ingatan itu muncul. Perasannya campur aduk, malu, canggung, sekaligus menyesal karena sengaja memasuki kamar ayah mertuanya.
Luna berdiri dengan gelisah, ia nyaris frustrasi karena kejadian itu. Ia bahkan lupa niatnya untuk mengambil air minum. Sekarang tenggorokan benar-benar mengering. Ingin kembali keluar, ia takut dan canggung jika harus bertemu dengan Bara.
Akhirnya, ia memilih masuk ke kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin beberapa kali agar pikirannya lebih tenang. Setelah itu, ia terpaksa meminum sedikit air keran untuk sekedar membasahi tenggorokannya.
Beberapa saat kemudian, Luna keluar dari kamar mandi. Ia kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Namun Luna tak bisa langsung memejamkan mata. Kegelisahan itu membuat Luna rasanya ingin mengubur dirinya hidup-hidup.
Pada akhirnya matanya mulai lelah. Ia tidur setelah waktu berlalu cukup lama.
*****
Keesokan harinya
TOK …TOK …TOK
Tidur Luna terusik saat mendengar suara ketukan pintu. Ia menggeliat sebelum bangun lalu mengambil posisi duduk. Sesekali ia menguap sambil melihat ke arah pintu.
"Nyonya."
Kening Luna mengerut mendengar suara yang nampak tidak asing.
"Bibi?" gumamnya.
"Nyonya, Anda sudah bangun?"
"Benar itu suara bibi." Luna bergumam lagi.
Setelah yakin jika itu pelayan di rumahnya, Luna menurunkan kakinya ke lantai. Hawa dingin langsung terasa di kakinya. Luna buru-buru memakai alas kaki karena tak tahan dengan hawa dinginnya.
KLEK
Luna membuka pintu. Di hadapannya berdiri pelayan rumahnya. "Bibi di sini."
"Iya, Nyonya. Tuan Bara yang menyuruh saya datang," jawab si pelayan dengan sopan.
Luna mengangguk pelan.
"Anda baik-baik saja, Nyonya?" tanya si pelayan tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan itu membuat kening Luna berkerut heran.
"Aku baik-baik saja," jawab Luna. "Kenapa memangnya, Bi."
"Tuan khawatir pada Anda. Karena Nyonya belum bangun sampai sesiang ini," jawab si pelayan.
Luna terdiam, memberikan jeda sesaat untuk merespon ucapan si pelayan. Pandangannya lantas tertuju pada jam dinding yang tergantung tak jauh dari tempatnya berdiri. Waktu sudah menujukkan pukul 11 siang.
Luna menghela napas. Setelah kejadian semalam, dirinya tak bisa benar-benar tidur. Entah pukul berapa ia baru terlelap.
"Iya, Bi. Semalam aku tidak bisa tidur. Hawa di sini dingin sekali," kilah Luna.
Pelayan itu mengangguk memahami.
"Baiklah, Nyonya. Anda mau sarapan dulu? Nanti saya akan menyiapkannya," tawar si pelayan.
"Nanti saja. Aku mau mandi dulu," jawab Luna.
"Baiklah, Nyonya. Saya permisi dulu," pamit si pelayan.
Pelayan itu baru saja akan pergi, tetapi Luna memanggilnya kembali.
"Tunggu, Bi," cegah Luna.
Sang pelayan spontan menghentikan langkahnya dan kembali menoleh. "Iya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?"
" … itu … papa di mana?" tanya Luna.
"Tuan sedang berkuda tidak jauh dari sini, Nyonya," jawab si pelayan.
Luna mengangguk pelan. "Baiklah, aku mandi dulu."
Pelayan itu membungkuk hormat sebelum pergi.
Sementara Luna kembali masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu dan menguncinya rapat. Ia bersandar pada daun pintu sambil menghela napas berat.
Jantungnya kembali berdetak kencang. Ia merasa malu dan canggung untuk berhadapan dengan Bara setelah melihat kejadian semalam. Sekarang Luna merutuki dirinya sendiri, merasa bodoh kenapa ia harus masuk ke kamar ayah mertuanya itu.
"Aku benar-benar ceroboh."
-
-
-
Satu jam kemudian Luna keluar dari kamarnya. Itu pun setelah berpikir ribuan kali. Tidak mungkin juga selamanya ia akan menghindar dari ayah mertuanya.
Luna melangkah dengan langkah pelan di anak tangga. Pandangannya melihat sekitar. Dinding kaca yang mengelilingi vila membuatnya bisa melihat dengan jauh ke bagian luar vila. Cahaya matahari siang masuk menerangi setiap sudut ruangan, membuat suasana vila terasa hangat meskipun udara di luar tetap dingin.
Langkah Luna terhenti ketika melihat beberapa orang, pria memakai kaos da kemeja hitam. Tubuh mereka tegap dan tatapan tegas. Mereka berlalu lalang di halaman.
Kenapa tiba-tiba tempat itu sangat ramai. Padahal semalam hanya ada dirinya dan Bara. Keningnya pun mengerut penuh tanya.
"Siapa mereka?" batin Luna.
Pada saat yang bersamaan, pelayan sebelumnya melintas, ia langsung memanggilnya.
"Bibi," panggil Luna.
"Iya, Nyonya."
"Mereka siapa, Bi?"
Luna menujuk beberapa orang yang berada di bagian luar vila.
"Mereka anak buah tuan, Nyonya," jawab si pelayan.
"Semuanya?" tanya Luna.
Si pelayan mengangguk pelan.
"Sebanyak itu?"
Si pelayan tersenyum kecil. "Ini belum ada apa-apanya, Nyonya."
Luna terdiam. Dalam hati ia semakin menyadari bahwa Bara ternyata memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada yang selama ini ia bayangkan.
"Nyonya, makan siang sudah siap. Anda mau makan sekarang?"
Pelayan itu kembali bersuara.
Luna menggeleng. "Aku mau lihat papa berkuda. Bisa antarkan aku ke sana?"
"Baik, Nyonya." Si pelayan membungkuk hormat. "Mari, Nyonya."
Pelayan itu segera mempersilahkan Luna untuk berjalan lebih dulu.
Luna berjalan lebih dulu diikut oleh si pelayan. Jujur saja Luna merasa canggung dengan sikap yang penuh yang pelayan itu tunjukkan. Selama ini ia hidup dalam kesederhanaan dan biasa melakukan apa pun sendiri. Namun semenjak kedatangan Bara, ayah mertuanya itu memperlakukannya bak putri raja. Hampir semua keutuhannya selalu di perhatikan.
Setelah berjalan beberapa menit, Luna sampai di sebuah lapangan rumput yang cukup luas. Dari tempatnya berdiri, ia melihat Bara sedang menunggangi kuda berwarna hitam. Pria matang itu terlihat tegap dan berwibawa saat mengendalikan kudanya dengan tenang.
Bara sepertinya menyadari kehadiran Luna. Ia pun mengarahkan kudanya ke tempat Luna berdiri.
Jantung Luna berdetak kencang seiring dengan langkah kaki kuda yang semakin mendekat ke arahnya. Hingga kuda itu berhenti tepat di hadapannya.
Luna nyaris tak sanggup memandang ke arah Bara mengingat apa yang dilihatnya semalam.
"Mau coba?"
Suara itu membuat Luna spontan mendongak ke atas, melihat Bara duduk di atas kuda sambil mengulurkan tangan. Luna memandang ragu uluran tangan itu sebelum mengangguk dan menerima uluran tangan Bara.
Sesaat kemudian, Luna sudah duduk di atas punggung kuda, duduk tepat di hadapan Bara. Luna ingin mengumpat saat jantungnya kembali berdetak kencang setiap kali berada di dekat ayah mertuanya.
Sementara Bara tetap bersikap seperti biasa, seolah tidak ada sesuatu yang terjadi. Sikap tenang itulah yang justru memuat Luna semakin bingung bersikap bagaimana.
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man