Untuk melunasi hutang Ayahnya, Silvi terpaksa menikah dengan Andika. Sejak saat itu hidupnya seperti di neraka. Dia hanya menjadi pemuas Andika yang memang seorang casanova itu. Meski sudah memiliki Silvi tapi dia masih saja sering mengajak wanita lain ke apartemennya.
Silvi merasa tidak sanggup lagi dengan kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan Andika, akhirnya dia kabur. Andika terus mencari dan ingin membawanya kembali. Di saat itulah Andika merasa kehilangan.
Berbagai cara sudah Andika lakukan untuk mendapatkan Silvi lagi. Apakah Silvi mau kembali dengan Andika atau Silvi lebih memilih bersama Dion, sahabat yang selalu setia menemaninya dan juga mencintainya dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Selesai makan, Silvi kini duduk di sofa sambil berbalas pesan dengan teman-temannya.
"Rencana kamu setelah lulus kuliah apa?" tanya Andika sambil duduk di sebelah Silvi.
Seketika Silvi meletakkan ponselnya di atas meja lalu menatap Andika. "Belum tahu sih. Mau jadi guru kesenian atau buka les tari. Tapi les tari juga butuh tempat."
Satu tangan Andika kini merengkuh tubuh Silvi agar Silvi bisa bersandar di dadanya. "Gimana kalau kamu buka sanggar tari sendiri."
"Sanggar tari?" Silvi menegakkan dirinya dan menatap Andika.
"Iya, nanti kamu bisa bekerja sama dengan teman kamu untuk mengelolanya."
Seketika Silvi memeluk tubuh Andika dengan mata yang berkaca-kaca. "Makasih."
"Baru rencana. Nanti setelah kamu lulus kita cari tempat yang strategis. Kita buka sanggar tari itu dengan niat membantu mereka yang ingin belajar menari, tidak usah terlalu memikirkan keuntungannya."
Silvi menganggukkan kepalanya. Dia semakin memeluk erat tubuh Andika.
"Kalau kamu peluk kayak gini nanti yang bawah bereaksi."
Seketika Silvi tersenyum dan melepas pelukannya. Dia kini beralih ke pangkuan Dika. "Kita gunakan waktu tiga hari di hotel dengan sebaik-baiknya."
"Ini beneran Silvi?" Andika tersenyum dan menangkup kedua pipi Silvi. "Kenapa bisa dulu aku kejam sama kamu. Harusnya dulu aku dapatin kamu dengan cara baik-baik."
"Yang penting sekarang Mas Dika sudah memperbaikinya."
Wajah mereka saling mendekat lalu memagut cinta. Semakin lama ciuman mereka semakin menuntut hingga suara decapan itu terdengar memenuhi kamar hotel.
"Sayang." Wajah Andika sudah memerah, ditambah gesekan Silvi yang berada di pangkuannya semakin terasa.
Dua tangan Andika menyingkap rok terusan pendek Silvi ke atas hingga melewati kepalanya. Tubuh yang hanya terbalut underwear sexy itu semakin menambah gairahnya.
Silvi semakin meliuk-liukkan tubuhnya di pangkuan Andika. Dia lepas kaos Andika lalu menyusuri leher Andika.
Sapuan kecil dari bibir Silvi membuat tubuh Andika semakin meremang. Dia hanya memejamkan matanya sambil berdesis. Dia biarkan Silvi melakukan sesukanya. Dia usap punggung mulus Silvi, lalu melepas pengait dan membiarkan kedua buah sintal terekspos bebas. Dia re mas dan dia pi lin puncak yang telah mengeras itu.
Seketika Silvi mendongakkan kepalanya.
Andika mendekatkan wajahnya dan menghisap kedua buah sintal itu secara bergantian.
Wajah mereka sama-sama memerah. Napas mereka kian berat. Beberapa saat kemudian tubuh mereka sudah sama-sama polos. Silvi tetap berada di pangkuan Andika. Dia posisikan dirinya.
"Ahh," Silvi mulai menaik turunkan tubuhnya dia atas pangkuan Andika.
"Ough, sayang, ini sangat nikmat." Bibir Andika kembali mendekat ke leher Silvi. Menyusuri leher itu dengan hisapan-hisapan kecil. Lalu semakin turun ke bawah dan singgah dengan lama di kedua buah sintal Silvi.
Mendapat sensasi dari Andika, Silvi semakin mempercepat gerakannya. Suara de sah semakin keras. Tubuh Silvi juga sudah berkeringat. "Ahh, Mas aku mau keluar."
Seketika Andika memeluk tubuh Silvi dan menambah gerakannya dari bawah. Dia memang sangat pintar memberi sensasi nikmat pada Silvi.
Tubuh Silvi bergetar beberapa kali lalu dia melemas di pelukan Andika.
Andika kini merubah posisi. Dia rebahkan tubuh Silvi di atas sofa. Dia kembali menghujam Silvi. Suara de sah kembali terdengar dengan keras. Peluh telah membanjiri tubuh mereka berdua. Mereka tak akan usai sebelum mencapai puncak bersama.
"I love you..."
"I love you too..."
Kedua wajah itu kembali mendekat dan saling memagut. Hanya beberapa saat, setelah itu dia melepas ciumannya dan menatap lekat wajah merah Silvi. Dia sangat suka mendengar suara nikmat yang keluar dari bibir tipis Silvi.
"Mas, aku..."
"Kita barengan." Andika semakin mempercepat gerak tubuhnya. Suara mereka semakin keras dengan diiringi suara tepukan kulit.
Akhirnya mereka sampai di puncaknya secara bersamaan.
Andika kini melemas di atas tubuh berpeluh Silvi. "Makasih sayang."
"Sama-sama."
"Semoga saja cepat jadi calon buah hati kita. Aku benar-benar ingin menebus kesalahanku di masa lalu."
Silvi menganggukkan kepalanya.
Kemudian Andika turun dari tubuh Silvi lalu dia raih tubuh Silvi dan memindahnya ke atas ranjang. "Once again. Kita nikmati hari-hari indah kita di sini sebelum kembali beaktifitas seperti biasanya."
Mereka saling menatap lekat, beberapa saat kemudian wajah itu saling mendekat dan adegan panas itupun terulang kembali.
.
💕💕💕
.
Masih edisi bukan madu.. 🤭
ditgg karya selanjutnyaaaa