"Lu ngapain tidur di samping gue?"
Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
BAB 17: KEDATANGAN YANG MENGGUNCANG
"Nyonya Anggun datang."
Kalimat itu membuat senyum di wajah Ranu perlahan memudar.
Galuh yang sedang menyuapkan potongan telur ke mangkuk Arkan ikut membeku. Sendok di tangannya berhenti di udara.
"A... apa?"
ART itu mengangguk gugup.
"Ibu sudah masuk ke ruang tamu, Pak."
Belum sempat Ranu menjawab, suara langkah sepatu hak tinggi sudah terdengar mendekat.
Tok.
Tok.
Tok.
Mama Anggun muncul di ambang ruang makan dengan wajah tegang. Tatapannya langsung menyapu seluruh ruangan.
Lalu berhenti.
Di Arkan.
Anak kecil itu sedang duduk manis di kursinya sambil memegang gelas susu.
Kemudian pandangan Anggun bergeser kepada Galuh yang berdiri di samping meja makan.
Alisnya langsung berkerut.
"Ranu."
Nada suaranya begitu dingin.
"Siapa mereka?"
Suasana seketika membeku.
Arkan yang tidak mengerti apa-apa hanya memandang wajah nenek yang belum pernah ia lihat itu.
Ranu bangkit dari kursinya.
"Ma..."
Mama Anggun memotong.
"Aku tanya, siapa mereka?"
Ranu menarik napas panjang.
Ia tidak ingin Arkan mendengar pertengkaran orang dewasa.
"Arkan."
"Iya, Ayah?"
"Salim dulu sama Nenek."
Arkan segera turun dari kursinya. Anak itu berjalan mendekati Anggun dengan wajah polos.
"Assalamualaikum, Nek..."
Tangannya terulur hendak mencium tangan Anggun.
Mama Anggun refleks membiarkannya.
Tatapannya masih dipenuhi kebingungan.
"Waalaikumsalam..."
Setelah itu Ranu memanggil salah satu ART.
"Mbak Siti."
"Iya, Pak."
"Tolong antar Arkan ke sekolah sekarang."
"Iya, Pak."
Arkan mengangguk patuh.
"Dadah, Ayah."
"Dadah, Bunda."
Galuh berusaha tersenyum.
"Hati-hati ya, Sayang."
"Iya."
Anak kecil itu pun pergi bersama Mbak Siti.
Pintu rumah kembali tertutup.
Kini hanya tersisa tiga orang.
Mama Anggun menatap Ranu bergantian dengan Galuh.
"Kamu jelaskan."
Ranu mengangguk pelan.
"Silakan duduk dulu, Ma."
"Aku nggak mau duduk sebelum kamu jawab."
Galuh langsung menundukkan kepala.
Tangannya saling menggenggam erat karena gugup.
Ranu akhirnya berkata pelan.
"Dia Galuh."
"Aku tahu dia sekretarismu."
"Dan..."
Ranu menelan ludah.
"Istri saya."
Ruangan itu mendadak sunyi.
Wajah Mama Anggun berubah pucat.
"Apa?"
"Iya, Ma."
"Kamu bilang apa barusan?"
"Saya sudah menikah."
Mama Anggun seperti kehilangan keseimbangan.
Tubuhnya sedikit bergoyang hingga akhirnya duduk sendiri di sofa terdekat.
Matanya membulat.
"Nikah?"
"Iya."
"Dengan... sekretarismu?"
"Iya."
Mama Anggun menggeleng berkali-kali.
"Nggak mungkin."
"Ini benar."
"Kapan?"
"Beberapa waktu lalu."
"Kenapa Mama nggak tahu?"
Ranu diam.
"Kenapa?"
Suara Anggun mulai meninggi.
"Kamu menikah tanpa restu orang tua?"
Galuh buru-buru melangkah maju.
"Maaf, Bu...."
Mama Anggun langsung menoleh.
"Kamu jangan minta maaf dulu."
Galuh kembali menunduk.
"Saya benar-benar minta maaf."
"Kamu tahu saya sudah menyiapkan pertunangan Ranu dengan Cindy?"
Galuh menggigit bibir.
"Saya tahu."
"Lalu kamu tetap menikah dengannya?"
Ranu langsung berdiri di depan Galuh.
"Jangan salahkan Galuh."
"Kenapa tidak?"
"Karena keputusan menikah ada di saya."
Mama Anggun menatap putranya dengan penuh kecewa.
"Ranu..."
"Saya yang memintanya."
"Kamu sadar apa yang kamu lakukan?"
"Sadar."
"Kamu mempermalukan Mama."
"Saya tidak berniat begitu."
"Lalu ini apa?"
Mama Anggun mulai berkaca-kaca.
"Mama memperkenalkan Cindy ke semua teman Mama."
"Mama bicara soal pertunangan."
"Mama sudah punya rencana."
"Ternyata anak Mama diam-diam sudah punya istri."
Kalimat terakhir itu terdengar begitu lirih.
Galuh semakin merasa bersalah.
"Bu... semua ini salah saya juga."
"Bukan."
Ranu langsung menyela.
"Jangan mengambil kesalahan yang bukan milikmu."
Mama Anggun mengusap pelan sudut matanya.
"Pantas saja..."
Ranu mengangkat wajah.
"Pantas apa?"
"Pantas kamu terus menolak Cindy."
Ia tertawa hambar.
"Kirain karena keras kepala."
"Ternyata karena kamu sudah menikah."
Ranu mengangguk pelan.
"Saya memang nggak mungkin menerima perjodohan itu."
"Kenapa nggak bilang?"
"Saya belum siap."
"Belum siap?"
Mama Anggun berdiri lagi.
"Atau memang sengaja menyembunyikan semuanya?"
Ranu tidak menjawab.
Keheningan itu justru menjadi jawaban.
Mama Anggun memejamkan mata beberapa saat.
"Kamu tahu nggak..."
Suaranya mulai bergetar.
"Yang paling bikin Mama marah bukan karena kamu menikah."
Ranu menatap ibunya.
"Tapi karena Mama jadi orang terakhir yang tahu."
Kalimat itu membuat Ranu terdiam.
Galuh ikut menundukkan kepala semakin dalam.
"Saya minta maaf."
Mama Anggun menggeleng.
"Permintaan maaf nggak bisa menghapus rasa kecewa."
Ia mengambil tasnya.
"Mulai hari ini Mama tahu posisi Mama di hidup kamu."
"Ma..."
"Nggak usah mengantar."
Mama Anggun berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, ia sempat berhenti.
Tanpa menoleh.
"Galuh."
"Iya, Bu."
"Jaga suami kamu."
Galuh tertegun.
"Saya masih marah."
"Tapi sekarang saya mengerti kenapa Ranu menolak Cindy."
Mama Anggun menarik napas panjang.
"Karena ternyata dia sudah memilih."
Sesaat kemudian ia melangkah keluar.
Pintu rumah tertutup pelan.
Suasana menjadi sangat sunyi.
Galuh masih berdiri mematung.
Air matanya kembali jatuh.
"Maaf..."
Ranu mendekat.
"Jangan minta maaf."
"Kalau bukan karena aku..."
"Galuh."
Ranu mengusap bahunya pelan.
"Ini memang harus terjadi."
"Tapi beliau pasti sangat kecewa."
"Memang."
"Aku merasa bersalah."
"Kamu nggak salah."
Galuh menggeleng.
"Harusnya aku yang bicara baik-baik."
"Percuma."
"Mas..."
"Mama lagi marah."
"Kalau sekarang kita kejar..."
"Beliau nggak akan dengar."
Galuh menghela napas panjang.
"Aku tetap nggak enak hati."
Ranu tersenyum tipis.
"Aku juga."
"Lalu sekarang?"
Ranu melirik jam dinding.
"Sekarang kita kerja."
Galuh menatapnya heran.
"Serius?"
"Iya."
"Mas masih bisa mikirin kerja?"
"Kalau aku terus mikirin ini, nanti malah nggak selesai-selesai."
Galuh terdiam.
"Aku rasa sebaiknya nanti malam kita telepon lagi."
Ranu menggeleng.
"Biarkan dulu."
"Kenapa?"
"Kasih Mama waktu."
Galuh akhirnya mengangguk pelan.
"Semoga beliau bisa memaafkan kita."
Ranu menggenggam tangan istrinya sebentar.
"Pasti."
"Meskipun nggak hari ini."
---
Sementara itu...
Mobil Mama Anggun melaju cepat meninggalkan kota tempat tinggal Ranu.
Sepanjang perjalanan, ia tidak sanggup memejamkan mata.
Bayangan Galuh.
Bayangan Arkan.
Dan pengakuan Ranu terus berputar di kepalanya.
Menjelang sore, mobil akhirnya memasuki halaman rumah.
Papa Deni yang baru saja menyiram tanaman langsung mengernyit.
"Lho?"
"Bukannya baru kemarin berangkat?"
Anggun turun dari mobil dengan wajah kusut.
Papa Deni langsung menghampiri.
"Kok sudah pulang?"
"Nggak jadi menginap?"
Anggun menatap suaminya.
"Deni..."
"Ada apa?"
"Ranu..."
Papa Deni langsung waspada.
"Kenapa Ranu?"
"Dia..."
Anggun menarik napas panjang.
"Sudah menikah."
Selang penyiram yang dipegang Papa Deni langsung terlepas.
"Apa?"
"Dia sudah menikah."
"Dengan siapa?"
"Sekretarisnya."
Papa Deni membelalakkan mata.
"Galuh?"
Anggun mengangguk pelan.
"Astaga..."
Beberapa saat pria itu hanya terdiam.
Lalu tiba-tiba berbalik masuk ke dalam rumah.
Anggun mengernyit.
"Mau ke mana?"
Papa Deni sudah mengambil kunci mobil yang lain.
"Kita ke rumah Ranu."
"Apa? Sekarang?" Anggun justru tampak terkejut.
"Iya."
"Mas! Aku baru sampai loh! Udah otw lagi nih!?" protesnya.
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
double up