NovelToon NovelToon
Rudi Adalah Cintaku

Rudi Adalah Cintaku

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Romansa / Romantis / Tamat
Popularitas:87.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Inilah kisah cinta Rudi dan Vina yang berliku. Pasangan kekasih yang sudah lima tahun menjalani jalinan, tiba-tiba dipisahkan oleh sebuah insiden yang menimpa Vina dan menjadi aib bagi keluarga besarnya.

Setelah tiga tahun, Vina kembali ke keluarganya di sebuah kampung nelayan di pesisir selatan Provinsi Lampung. Alangkah terkejutnya dia ketika mendapati Rudi telah sangat berubah, yaitu menjadi pemuda yang alim dan sehari-hari mengajar anak-anak mengaji. Bisa disebut bahwa Rudi telah menjadi seorang ustaz baru.

Perubahan mantan kekasihnya itu membuat cinta lama Vina kepada Rudi kembali tumbuh.

Namun, tidak seperti tiga tahun yang lalu bahwa Rudi adalah miliknya seorang, tetapi kini ada beberapa wanita yang telah dekat dengan Rudi. Misalnya, Kulsum putri Ustaz Barzanzi, Bulan si pengusaha muda nan kaya, dan Alexa janda muda.

Namun, Vina merasa bahwa Rudi adalah miliknya dan dia harus memilikinya kembali.

Temukan intrik-intrik cinta yang seru di novel "Rudi adalah Cintaku".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAC 31: Undangan Suharja

*Rudi adalah Cintaku (RAC)*

 

Meski seorang ustaz, tetapi usia keustazan Rudi Handrak terbilang masih seumur jagung. Terbukti dia belum terlalu lihai untuk mengatur kekusyukannya di dalam salat, ketika dia menghadapi suatu masalah yang terkait dengan hati.

Seperti saat salat zuhur ini, pikirannya tidak fokus kepada bacaan dalam salatnya. Lidah dan bibirnya memang membaca, tetapi pikirannya terbawa oleh Vina. Mantan pacarnya yang batal ikut salat dan justru berlari pulang dengan menangis itu, ternyata mengganggu pikirannya.

Masih untung, saat itu Rudi hanyalah makmum, sehingga lupanya dia terhadap jumlah rakaat masih tertolong karena mengikuti gerakan imam. Itulah salah satu keuntungan salat berjemaah, ada imam sebagai penanggung jawab.

Selesai salam sebagai tanda berakhirnya prosesi salat berjemaah, ternyata Rudi Handrak mendapat pemantauan dari Haji Suharja yang duduk di saf belakang. Sambil mulutnya komat kamit membaca zikir dan doa, pandangan ayahnya Vina itu terus terarah kepada punggung Rudi.

Ketika sebagian besar jemaah sudah pulang, Suharja memilih tetap duduk, ketika Rudi melaksanakan salat sunnah lebih dulu. Padahal biasanya, dia termasuk jemaah yang cepat meninggalkan masjid, karena memang koleksi zikir dan doanya tidak banyak.

Melihat Suharja duduk tanpa komat-kamit lagi, seorang jemaah yang hendak keluar masjid jadi kepo.

“Sedang menunggu apa, Ji?” tanya jemaah yang tidak lain adalah Haji Daeng Marakka.

“Sedang menunggu Rudi, Ndik,” jawab Suharja yang memang memiliki usia lebih tua dari pamannya Rudi tersebut.

“Oooh. Saya duluan, Ji,” kata Daeng Marakka.

“Silakan, Ndik,” kata Suharja seraya tersenyum.

Daeng Marakka pun meninggalkan Suharja.

Ketika Rudi Handrak salam mengakhiri salat sunnahnya, Suharja segera bangkit berdiri.

Baru saja Rudi bangkit dan berbalik, tahu-tahu Suharja sudah menghampirinya dengan gerakan secepat kilat, ala ninja Hatori. Suharja langsung merapatkan diri.

“Eh, Daeng Haji. Assalamu ‘alaikum!” sapa Rudi agak terkejut lalu salam sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

“Wa ‘alaikum salam, Nak,” jawab Suharja seraya tersenyum.

Awalnya Rudi menyangka Suharja sedang marah karena Vina pulang dalam kondisi menangis. Namun, ketika melihat senyum lelaki pekerja keras itu, perasaan Rudi cukup lega setengah porsi.

“Ada apa, Daeng Haji?” tanya Rudi masih menyimpan separuh keketar-ketiran, masih khawatir Suharja menyimpan amarah yang dimanipulasi dengan senyuman karena mereka sedang ada di dalam masjid.

“Saya mengundang Nak Rudi makan siang di rumah,” ujar Suharja.

“Oh!” pekik Rudi seraya tersenyum lebar.

Rudi harus menjawab dengan cepat dan tepat. Sebenarnya dia curiga, sebab Suharja tiba-tiba mengundangnya makan setelah sebelumnya tidak pernah.

“Iya, Ji. Insyaallah. Tapi saya harus beri tahu Daeng supaya tidak menunggu saya,” jawab Rudi cepat.

“Iya. Salam sama daengmu ya,” pesan Suharja begitu friendly.

“Iya, Ji.”

“Kami tunggu di rumah,” kata Suharja.

“Iya, Ji. Insyaallah, saya segera ke rumah,” tandas Rudi.

Suharja lalu meninggalkan Rudi lebih dulu. Rudi jalan belakangan. Ternyata Sandro sedang menunggu Rudi di teras depan masjid.

“Kenapa Haji Suharja, Di?” tanya Sandro bernada curiga.

“Mengundang makan siang,” jawab Rudi santai.

“Pasti ada hubungannya sama Vina yang pulang,” terka Sandro.

“Jangan prasangka buruk dulu. Kalaupun ada hubungannya sama Vina, mungkin perkara bagus. Judulnya saja undangan makan siang, pastilah niatnya baik. Mempererat silaturahmi kan bagus,” kata Rudi.

“Kamu mau kasih tahu rahasia tentang Dendi ke Haji Suharja?” tanya Sandro.

“Ya enggaklah. Apalagi Haji Suharja yakin kalau kiriman Daeng Ambo Upe berhasil. Mana percaya Haji Suharja,” jawab Rudi.

“Pokoknya saya enggak setuju kalau kamu balikan lagi sama Vina, Di. Bayangkan, dia pulang setelah tiga tahun dengan tiba-tiba, dan seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Kalau memang kamu mau balikan sama Vina hanya karena mau menikahi dia, lebih baik kamu lamar saja Kulsum atau Bulan. Mereka pasti sangat bahagia. Saya enggak mau kamu senasib seperti saya. Saya dibohongi di malam pertama,” kata Sandro.

“Iya, tenang saja. Insyaallah saya tidak akan ceroboh lagi. Undangan tidak boleh ditolak kalau memang lapang,” kata Rudi.

“Nanti malam saya sama Aziz ke rumahlah, sambil tadarrusan sebentar,” kata Sandro.

Sandro lalu lebih dulu meninggalkan Rudi, padahal arah kepulangan mereka berdua searah.

Singkat cerita.

Kamsiah agak kecewa karena Vina batal makan siang di rumahnya, tetapi justru Haji Suharja yang mengundang Rudi.

“Assalamu ‘alaikum!” salam Rudi saat tiba di depan teras rumah Vina.

“Wa alaikum salam!” jawab Suharja dan orang rumah lainnya di sebelah dalam.

Suharja bersemangat keluar menyambut tamu khususnya.

“Ayo, Nak. Masuk!” sambut Suharja sangat hangat.

Sebenarnya Rudi dan Suharja memiliki hubungan yang baik-baik saja, apalagi sebagai sesama pemilik lapak yang berhadapan, sudah sewajibnya harus rukun. Akan tetapi, Rudi selaku orang yang jauh lebih muda, tentunya sangat hormat kepada Suharja, tidak seakrab seperti dirinya dengan Sandro dan Aziz.

Namun, undangan kali ini jelas tidak biasa. Mungkin memang terkait dengan kepulangan Vina.

Banyak makanan telah tersaji di atas sebuah karpet tebal di ruang tengah. Meja yang ada telah digeser agar ada lantai lapang di ruangan tersebut.

Apa yang tersaji di atas karpet tebal saat ini adalah hasil kerja Sunirah dan Murni, yang memang sengaja masak-masak banyak sebagai sambutan atas kepulangan Vina.

“Silakan, Nak!” ucap Suharja sambil duduk bersila lebih dulu di sisi sajian yang masih perawan, dalam arti belum ada yang menyendok.

Rudi lalu ikut duduk di salah satu sisi yang berseberangan dengan Suharja.

“Panggil Vina, Rah!” perintah Suharja kepada istrinya yang baru saja membawakan kobokan.

“Iya,” jawab Sunirah.

Murni pun datang membawakan lipatan kain serbet.

“Vina, ayo temani Rudi makan sama bapakmu,” ajak Sunirah dari pintu kamar Vina.

Ternyata gadis itu masih mengenakan mukena lengkap seperti ketika dia pulang dalam kondisi menangis.

“Enggak mau,” jawab Vina dengan wajah sedih.

“Kenapa?” tanya Sunirah lembut sambil melangkah mendekati Vina yang duduk memeluk lutut di atas kasurnya.

“Malu saya, Mak. Malu saya sama Rudi. Rudi sekarang sudah jadi ustaz, saya masih enggak berubah. Pasti semua orang melihat saya seperti orang yang salah. Sekarang Rudi sudah tahu malu, tapi saya masih belum tahu malu. Seharusnya saya enggak pulang ke sini, Mak,” kata Vina meratapi diri.

“Jangan berpikiran seperti itu. Orang lain mana peduli apa yang kamu alami dan mereka enggak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Jangan sampai kamu menduga-duga padahal sebenarnya kebalikan dari dugaan kamu itu. Bapakmu sudah mengundang Rudi khusus demi kamu. Ayo, temani Rudi sama bapakmu,” kata Sunirah.

“Iya,” patuh Vina akhirnya.

Dengan perasaan yang berat hati, Vina beranjak dari kasurnya. Dia berjalan lebih dulu keluar dari kamarnya dan ibunya mengiringi di belakang.

Ketika melihat Vina muncul dengan kecantikannya yang berhias senyuman terbatas yang bikin candu, Rudi pun tersenyum. Vina mengambil duduk bersimpuh miring ala wanita, lebih dekat kepada ayahnya.

Setelah sebelumnya berberat hati, akhirnya hati Vina merasa  bahagia pula melihat senyum dan ketampanan yang selama ini dia rindukan, meski di saat dia memiliki pacar di Jakarta.

“Kenapa pakai mukena?” tanya Suharja.

“Menghormati Pak Ustaz,” jawab Vina mengandung candaan.

“Hahaha!” tawa rendah Rudi.

“Ambilkan nasi buat Rudi,” suruh Sunirah kepada putrinya.

“Eh, enggak usah, biar saya ambil sendiri, Vin,” tolah Rudi cepat sambil dia mengulurkan tangannya lebih dulu ke arah sendok nasi.

Namun, Vina justru nekat mengulurkan tangannya pula, seperti mau berebut sendok nasi.

“Tamu adalah raja,” ucap Vina seraya melirik Rudi dengan lirikan standar Miss Universe.

Daripada tangannya disentuh oleh Vina, Rudi pun terpaksa menarik pulang tangannya, tapi bukan pulang ke rumah. Rudi hanya tersenyum.

Suharja dan Sunirah juga tersenyum melihat hal tersebut. (RH)

1
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Frontier
Aromatheracy
Luar biasa
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
mau kmn lagi tu si Rudi... dia sdh melangkah jauh bersama Vina makanya Vina slalu membayangi Rudi
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
Rudi semoga ngk kacau lagi ya hidupmu krn klu hidupmu kacau bikin pusing banyak orang
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
jadi ini kisah Rudi dan Vina 3 tahun lalu toh
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
ringtone e unik Om, plus ngagetin
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
berbagi gelas atau biar irit Vin
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
waduhh piye ya kalau bener pake gigi ini, gigi satu apa dua om, tanjakan soalnya
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
wkwk orang Unik ini si Rudi, ngapain kerja ya Rud, harta ortu ga habis tujuh turunan lima tanjakan pula kok
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
jangan bilang bir peletok aja
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
merknya diantaranya Gentong, Chantel dan Luwes Pisan ya Om
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
untung tonjolan bukan benjolan
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
wih bagus bgt ini view nya jd pgen kesana ah
delete account
kwkwkwkw kalo baca yang ini bikin emosi juga yap/Facepalm/
delete account
woh hati-hati ini parah loh
delete account
bisa mabuk kalo kebanyakan
delete account
kelihatan sombong in orang /Doubt/
delete account
mobil apa kok bergitu Yap?
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
ngk ada kapoknya si Rudi... itu Barada siapa ya kok jd tanda tanya 😁
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
masih lanjut aja ni si Rudi ngk ada kapok dan sadarnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!