NovelToon NovelToon
Kiana Story

Kiana Story

Status: tamat
Genre:Fantasi / Nikahmuda / Peningkatan diri-Perubahan dan Mengubah Takdir / Fantasi Urban-Percintaan Modern / Tamat
Popularitas:251.7k
Nilai: 5
Nama Author: ana marisa

Seorang gadis membuka mata dengan perlahan dan menatap sekeliling untuk memastikan dirinya berada dimana. Matanya terbelalak kaget saat menyadari dirinya berada di rumah sakit.



"Astaga, apa yang terjadi sebenarnya? Gue belum mati?" tanya gadis itu dengan bingung.





Sangat mengherankan kalau dirinya masih hidup saat nekat menabrakkan diri di sebuah truk yang sedang melintas di jalan. Dan yang lebih mengherankan di tubuhnya tidak mengalami luka gores sedikitpun.





Penasaran dengan kelanjutan ceritanya langsung aja di baca gaes🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ana marisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

"Otaknya di pakai Mbak. Kasian Tuhan udah ciptain otak tapi nggak di gunain dengan benar." ucap Kiana kepada Wulan yang hanya bisa berdiri diam seperti patung. Setelah mengatakan itu Kiana langsung berlalu pergi meninggalkan Wulan di dalam toilet.

Kiana melangkahkan kakinya menuju kelas. Wajahnya terlihat datar, namun seulas senyum sinis terpatri di bibirnya saat mengingat wajah Wulan di toilet tadi. Nyatanya keluarganya itu memang perlu siraman rohani darinya.

Saat melangkah melewati koridor, ia menatap ke arah langit yang mulai gelap. Mungkin akan turun hujan sebentar lagi.

"Alira?" gumam Kiana dengan alis terangkat sebelah saat melihat siluet Alira yang berdiri di ujung koridor, tepat di depan lab IPA. "Dia ngapain nangkring di situ?" karena penasaran, ia langsung menghampiri Alira.

"Al.."

"Ssstt."

Alira menyuruhnya untuk diam, beruntung Kiana langsung paham dan berdiri di sebelah Alira yang ternyata sedang mengintip dua orang remaja yang tengah serius mengobrol.

Alira bersedekap dada dan menyenggol Kiana yang terdiam sejenak karena sedikit terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh kedua orang yang ada di dalam ruangan.

"Wow, ternyata dia terlibat dalam kekacauan ini," ucap Kiana yang diakhiri kekehan sinis. "Pantas aja mereka benci banget sama gue, ternyata ada kompornya toh."

"Perlu gue kasih pelajaran sama dia? Lagian tangan gue masih gatal mau cakar wajah sok polos itu," imbuh Alira menggebu-gebu.

Kiana menggeleng. "No! Untuk membalas titisan Medusa kayak dia, kita perlu sedikit bermain, namun mampu menumbangkan." ucap Kiana menatap Alira yang kini tengah menatapnya juga.

Dua Queen Devil itu tersenyum miring. "Jatuhin mentalnya, buat dia kacau sebelum berakhir mengakhiri hidupnya sendiri, right?'' Alira mengangkat sebelah alisnya.

Kiana mengacungkan kedua jempolnya. "Mari kita sama-sama basmi orang kayak dia." ucap Kiana.

Kedua gadis itu terkekeh sinis sebelum berlalu pergi dari tempat itu, tanpa sepengetahuan dua remaja yang sedang asyik berbicara.

Di pertengahan jalan menuju kelas, Kiana tersentak saat merasakan ada yang menarik ujung rambutnya. Tidak sakit, namun ia cukup terkejut dengan hal itu.

Kiana berhenti tepat di depan kelas XI IPS 2. Ia berdecak dan menatap ke arah pintu, mendapati seorang cowok yang tengah menyandarkan lengan di ambang pintu, sambil meletakkan tangannya di kening. Dengan pura-pura memejamkan matanya seolah tidak melihat kehadiran Kiana.

"Tadi titisan Medusa, sekarang titisan setan, woah dua makhluk yang halal buat di getok," gumam Kiana yang masih dapat di dengar jelas oleh Azam dan Alira. "Cabut kuy Al," ajak Kiana menarik tangan Alira untuk pergi.

"Aira!" teriak Ringga membuat langkah kedua gadis itu terhenti lagi.

Kiana menatap Alira sekilas, sebelum menoleh ke arah Ringga yang berdiri di ambang pintu di samping Azam.

"Nggak usah di ladenin. Cabut aja, gue lagi malas debat plus malas ketemu Ringga." Alira mengangkat bahunya acuh dan menarik tangan Kiana untuk pergi ke kelas.

Azam tiba-tiba terkekeh saat melihat tingkah Kiana dan Alira. Ia menepuk pundak Ringga. "Kita senasib bro! Mereka semakin sulit di gapai." ucap Azam.

"Iya kau memang benar Zam." balas Ringga.

"Balik yok, keburu ada guru datang!''

Azam dan Ringga kembali ke bangku mereka masing-masing sambil menunggu pelajaran selanjutnya dimulai.

Sedangkan Kiana dan Alira baru saja tiba di kelasnya. Beruntung saat itu belum ada guru yang masuk jadi mereka masih aman. Keduanya berjalan menuju meja masing-masing. Di sana sudah ada Loli yang menunggu mereka dengan menatap kesal ke arah Kiana dan Alira.

"Kalian dari mana aja sih!" ucap Loli ketus.

"Kita abis dari jalan-jalan." jawab Kiana dengan asal.

"Ihhh, kalian main ninggalin Loli gitu aja!" ucap Loli dengan mengerucutkan bibirnya.

"Udah, lain kali kita jalan-jalan bertiga." ucap Alira.

"Baiklah,"

****

Kiana menghela napas saat melihat bulir hujan yang turun membasahi bumi. Ia memeluk tubuhnya sendiri sambil berdecak kasar. Keadaan sekolah sekarang sudah mulai sunyi, yang tersisa hanya beberapa siswa yang terjebak hujan termasuk dirinya.

Sebenarnya bel pulang sekolah sudah sepuluh menit yang lalu, dan juga saat itu hujan turun belum selebat ini, namun mungkin beberapa siswa ada sedikit hambatan pulang hingga berakhir harus menunggu hingga hujan reda.

"Sial, kebiasaan banget suka lupa hp di laci," decak Kiana. Awalnya ia sudah mau pulang, namun karena HP ketinggalan di laci kelas, jadi ia harus kembali lagi, padahal ia sudah berada di parkiran.

Alira dan Loli sudah pulang lebih dulu karena dapat kabar dari Papinya bahwa nenek datang berkunjung, jadi mereka berdua harus cepat-cepat pulang. Kiana membiarkan dan juga menolak saat Alira mengatakan ingin menunggu dan akan mengantarnya pulang.

"Pake acara lobet lagi nih hp. Sial banget sih," ucap Kiana semakin kesal. Ia mendongak dan menatap bulir hujan yang turun semakin deras. Ia menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah pukul 15:45 sore ternyata.

Suara deru motor memasuki indra pendengarannya. Ia menatap ke asal suara, walaupun hujan lebat, namun Kiana masih bisa melihat jelas jika pengendara motor itu adalah Azam dan teman-temannya.

Kiana mengangkat sebelah alisnya saat melihat Azam yang tengah menatapnya, namun hanya sekilas karena Azam sudah pergi begitu saja di ikuti inti Tiger yang lain. Mereka nekat menerobos hujan begitu saja.

"Kalau nunggu yang ada gue bisa sampai malam di sini. Mana hujan awet banget lagi." Kiana menggigit bibir bawahnya. "Terobos aja kali ya, sekali-kali mandi hujan," putus Kiana, namun ia tampak sedang menimang-nimang keputusannya.

"Bodo amat terobos aja. Kalau sakit kan ada dokter," pikir Kiana. Menatap sekitar sejenak, Kiana langsung memutuskan untuk menerobos hujan hingga seragam sekolahnya basah kuyup di tambah rambutnya yang sudah lepek.

Kiana berlari menuju halte, decakan kecil lolos begitu saja saat ia menyadari jika jarak halte sedikit jauh dari sekolah.

"Jauh banget astaga," ucap Kiana sedikit lelah sebelum akhirnya ia menghela napas saat sudah sampai di halte.

Ia kembali memeluk tubuhnya lagi, sedikit rasa menyesal menyergap di hatinya saat memilih hujan-hujanan. Wajah Kiana memerah, ia mulai bersin dan juga kepala terasa pening.

"Memang benar, penyesalan itu datangnya di belakang," gumam Kiana yang sudah menggigil kedinginan. mana taksi tak kunjung melintas. Jika begini terus, yang ada ia bisa sakit.

Sebuah mobil hitam berhenti di depannya, namun Kiana tidak terlalu memperhatikan si pengendara, karena ia sibuk menutup wajahnya karena bersin-bersin terus.

Bunyi klakson mobil itu terdengar, namun Kiana tidak kunjung juga menatapnya. Kepalanya sudah mulai pusing, sial baru terkena hujan sedikit saja ia sudah sakit.

Di dalam mobil hitam itu, seorang cowok dengan pakaian yang basah juga berdecak kasar sebelum menyugar rambutnya. Ia turun dari mobil dan menghampiri Kiana dan langsung memeluk bahunya.

Kiana tersentak, ia hendak memberontak, namun sebuah suara bernada tajam sudah lebih dulu terdengar.

"Tahan dulu ngebacotnya. Sekarang kita pulang, lo bisa sakit."

Kiana mengerjapkan matanya melihat Azam yang menuntunnya masuk ke mobil. Kiana hanya bisa pasrah saja, lagipula ia sudah tidak enak badan sekarang.

Setelah memastikan Kiana duduk anteng di kursi penumpang. Azam bergegas mengitari depan mobil dan duduk di kursi kemudi. Ia mulai menjalankan mobilnya dan sesekali melirik ke arah Kiana.

"Loh, ini bukan jalan balik ke rumah. Lo mau bawa gue.."

"Apartemen gue dekat sini. Kalau ke rumah kejauhan," sela Azam membuat Kiana mengernyit. Setahunya jarak pulang ke rumah tidak terlalu jauh.

"Nggak usah banyak mikir, tuh mending lap ingus lo, gak elit banget keluar terus kayak gitu." Azam menarik tisu dan memberinya pada Kiana.

Kiana sangat malu, dan langsung mengambil tisu dan mengelap ingusnya. Ia menyesal telah nerobos hujan hingga berakhir demam dan terbaring lemah di apartemen Azam.

"Di kompres dulu, Kia." Azam muncul dengan membawa mangkok air dan juga handuk kecil. Cowok itu sudah selesai mengganti pakaiannya yang basah tadi, dengan celana jeans hitam selutut dan kaus hitam lengan panjang.

Sedangkan Kiana sendiri harus memakai Hoodie milik Azam untuk mengganti seragamnya yang basah. Tak lupa ia meminjam celana training hitam milik cowok itu. Jika tidak dalam kondisi seperti ini, Kiana ogah memakai pakaian Azam.

Dengan telaten Azam mengompres Kiana sambil duduk di sisi ranjang. Wajah cowok itu sangat tenang tidak seperti biasanya, Kiana memperhatikannya sedari tadi.

"Lo cocok banget jadi babu gue, Zam," ceplos Kiana membuat Azam menatapnya kesal.

"Habis ini minum obat," ucap Azam tidak menghiraukan ucapan Kiana tadi, walaupun dalam hati ia sangat kesal saat dibilang cocok menjadi babu.

"Gue belum makan, yakali langsung minum obat," ucap Kiana terus terang membuat Azam mengangkat sebelah alisnya.

"Terus gimana dong? Nggak ada makanan di sini. Atau lo masih bisa nunggu? Gue mau delivery aja," ucap Azam sambil menaruh mangkuk berisi air di atas nakas.

"Kelamaan, gue udah lapar. Buatin gue bubur aja gih, sekali-kali berguna jadi manusia. Berguna jadi babu gue contohnya," celetuk Kiana membuat Azam berdecak.

"Lo mau apartemen ini kebakaran huh? Nyalain kompor aja gue nggak tau," ucap Azam sambil berdecak.

Masih dengan posisi berbaring, Kiana mengedikkan bahunya. "Nggak mau tau. Udah sana buatin gue bubur, atau masakin mie instan aja. Gunain kecanggihan dunia sekarang Zam, kan ada Tante Youtube sama Om Google, jadi lo belajar aja dari situ," suruh Kiana membuat Azam menghela napas kasar dan berlalu pergi ke dapur.

Ia mengambil handphonenya, membuka aplikasi Whatsapp dan membuka room chat anggota Tiger.

🙃Tiger Geng didikan Bian ganteng🙃

Me: "@Inces Jeje? @Bian?"

Inces Jeje: "Iya, dengan inces Jeje di sini?Ada yang bisa inces bantu? Mau apa, belajar ngejamet atau belajar jadi tante girang?"

Bian: "Dengan Bian ganteng sendiri. Ada what nyari ai?"

Alan: "Tumben banget nongol Bos?"

Azam berdecak pelan saat banyak sekali pesan yang muncul di room chat gengnya. Mengenai Jeje, dia memang menjadi bagian dari Tiger, di bagian memasak. Bisa dibilang inces Jeje ini adalah chef-nya Tiger.

Me: "Tutor buat masak bubur cepat. Istri gue udah kelaparan."

Tanpa ragu Azam mengirim pesan itu dan benar saja, grup chat semakin ramai dengan pesan yang menggoda Azam.

Bian: "Anjay, udah di akuin nih ceritanya?"

Alan: "Udah lurus ini si Bos, baru sadar sekarang kalau udah punya bini."

Jeje:"Suami idaman nih, beuh makin terlope-lope nih neng Angel."

Azam kembali dibuat kesal saat membaca pesan mereka yang sangat banyak. Ia kembali mengirim pesan ancaman hingga akhirnya mereka serius dan memberinya tutor mulai dari menyalakan kompor dan membuat bubur.

1
"Candy75
rakyat aja deh sama kia
raa77
sekolah apa udh nikah?
dhiny
wah kita sama kiana lw lagi banyak masalah dengerin lagunya kim seokjin
Anaya Nabila
lah... kok udah tamat aja.... tu td yg kabur spa... trz jadiannya sma spa si kiana
Dhesy
asli ngakak sekale baru x ini gw baca novel terlucu🤣🤣🤣
Dhesy
gawat ini thor😂😁
Dhesy
nah lo azam.thor jgn sampai kiana cinta sama si azam gw gak rela gak rela gak rela bila perlu buat kiana minta cerai aja.biar si azam kebakaran jenglot eh jenggot 🤣
Dhesy
gw suka karakter cwek tegas dan pemberani gak mudah di tindas
gabisa masuk akun lama
Wah, makasih thor udah semangat lanjutin novel ini sampe selesai. Tapi Thorr, Rayyan gimanaaaaa? gw masih mau tau tentang Rayyan 😭😭🙏🏻
➳️ anna🐣 ༒࿐ 🦣: heheh enggak janji yah kak
total 1 replies
gabisa masuk akun lama
aamiin, mantep Bian, Kiana sama Rayyan aja ye kan🤝🏻
gabisa masuk akun lama
Thorrr, pas Kiana dah pisah dari Azam tolong buat Kiana sama Rayyan yah thorr, plis banget inimah😭😭
Adek Cilla
ini cerita fokus kiana dulu aja jgn yg lain anjing kek bngsat tau gak
•|BL(tata)✨: PP lu aj kyk J A L A N G
total 6 replies
Navisha Mahvin
kasih aja azam sama elsa
dan kiana sama rayyan aja.. cocok🤭😁
Navisha Mahvin
azam punya saingan nih🤭🤭
Navisha Mahvin
kenapa gak minum susu kia aja🤭🤭
sully cungliiee
bagus thor...kutunggu karyamu yg lain
✮R⃟ɪsᴍᴀᵑᵍᵒᵏᵏ⋆
nah gini dong, ai suka keributan, jangan di buat mewek lagi yaa Thor, ai blom beli tisu 🤣🤣
Ayuu 🍊🍊
Yaelah thor, blum juga saya liat kia sama rayyan, malah end, 🥺
Ayuu 🍊🍊
Dah lah gak ketolong goblok si azam
Fransiska Husun
Thor kasi bocap babang Rayyan dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!