Cerita ini hanya karangan author buat menghibur. jangan dianggap serius...
......
Cinta yang di kira membawa kebahagiaan ternyata menghadirkan petaka yang besar didalam hidupnya.
Janji manis seorang pria telah menghancurkan seluruh harapan dan martabat keluarganya sekaligus.
"A..aku hamil!" lirihan bergetar keluar dari bibir mungilnya. ia menatap nanar wajah seorang pria yang telah membuatnya terjebak didalam nuansa cinta ini.
"Kau gila! aku tak merasa menghamilimu."
Bagi petir menyambar di langit sana, Ia sungguh terkejut dengan pandangan lemahnya. Malam itu ia tak tahu apa yang terjadi tapi akhir-akhir ini ia merasakan gejalanya.
Sakit dan rasa malu yang ia tanggung setelah itu tak lagi membuatnya hidup dalam ketenagan. Ia benci benih yang ada didalam kandungannya serta keluarganya tak lagi menerimanya.
"Aku memang menyedihkan. karna bualannya aku sampai mengandung benih menjijikan-ini."
Ia harus menerima di kucilkan disuatu tempat yang jau
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus menikah!
Deru angin dari kibasan baling-baling Helicopter itu terdengar meruak mengibas dedaunan yang berterbangan di sekitar tempat tak terlalu luas itu namun, cukup untuk landasan baginya siang ini.
Para pengawal dari Kediaman terlihat turun dari mobil mereka lalu berbaris menyambut Tuan besar Hatomo yang datang ke tempat ini. Mereka mengawal dengan ketat karna kedatangan kali ini secara tiba-tiba.
"Tuan!" sambut Tetua Herdan yang datang bersama Mentri Kamir dan Guru Bima sebagai penyambutan kecil. Tuan Hatomo tak ingin ada keramaian atas kedatangannya.
"Tetua Herdan! kau mengurus tempat ini dengan sangat baik." ucap Tuan Hatomo melihat bagaimana hijau dan rindangnya alam disini. sangatlah segar dan begitu damai di pandang mata.
"Tidak juga. semua orang bekerja sama menegakkan aturan di daerah ini. anda terlalu memuji, Tuan!"
"Kau bisa saja. tak pernah berubah." jawab Tuan Hatomo berhadapan dengan Tetua Herdan yang terlihat sama-sama berkharisma.
Tatapan Tuan Hatomo bergulir ke setiap anggota yang di bawa Tetua Herdan dan ia yakin mereka kenal dengan Sandra dan sudah tahu maksud dan tujuannya kesini.
Melihat semua itu. Tetua Herdan paham jika Tuan Hatomo mencari putrinya.
"Tuan! ikutlah denganku berkeliling."
"Baiklah!"
Tuan Hatomo berjalan beriringan dengan Tetua Herdan yang tak ingin membuat keributan jika ada yang tahu jika Sandra adalah putri dari seorang Pimpinan Militer Negara besar sana.
Tubuh tegap Tuan Hatomo terlihat membuktikan kepiawaian dan pangkatnya.
"Desa ini sangat asri dan tenang tapi menyimpan banyak lava panas." gumam Tuan Hatomo melihat setiap sudut yang terlintas di lensa matanya.
Beberapa warga disini menatapnya aneh dan sepertinya tak ada yang tahu siapa dirinya karna namanya hanya di kenal tapi tidak dengan wajahnya.
"Jika mereka tahu siapa anda. mungkin mereka akan berkerumun disini. Tuan!"
"Tak apa. ini sudah cukup." jawab Tuan Hatomo mengangguki beberapa sapaan padanya. mereka melangkah menuju Balai Desa yang tak jauh dari sini.
"Bisa langsung ke tempatnya?!"
Tetua Herdan terdiam. ia belum memberi tahu Ketua Rusel tentang tibanya Tuan Hatomo ke sini.
"Kalau begitu baiklah. biar aku yang mengantar Tuan Hatomo berkeliling dan kalian kembalilah ke Asrama!" titah Tetua Herdan yang diangguki yang lainnya.
"Kami pergi, Tuan. Tetua!"
"Hm."
Tetua Herdan mengiring Tuan Hatomo kearah penginapan Sandra sementara yang lain pergi kembali bertugas.
"Apa dia baik-baik saja?"
"Banyak hal yang terjadi!" jawab Tetua Herdan masih melangkah beriringan. exspresi Tuan Hatomo tampak diam terlihat memikirkan Sandra.
"Apa dia membuat ulah disini?"
"Tentu. saat pertama datang dia mengguncang daerah ini dengan sikap beraninya."
"Cih. dia memang tak berubah." gumam Tuan Hatomo sudah yakin Sandra tak akan bisa disiplin bahkan tak akan mau menghormati siapapun yang lebih tua darinya.
"Namun, dia juga membawa perubahan."
"Maksudmu?" tanya Tuan Hatomo menatap Tetua Herdan yang langsung menunjuk para anak gadis yang tengah giat belajar di bawah pohon sana.
"Dulu warga disini begitu berprinsip jika anak-anak remaja yang masih sekolah tak bisa keluar terlalu lama dan hanya boleh belajar dan belajar. tapi.."
"Apa Sandra membuat kekacauan?" tanya Tuan Hatomo benar-benar merasa geram.
"Dia membuat para warga disini mengerti. betapa pentingnya masa muda!"
"Dia itu selalu saja mementingkan diri sendiri. tak pernah bisa bersikap dewasa." Tuan Hatomo terlihat sangat menetapkan opini terhadapan Sandra tapi Tetua Herdan tak mudah terbawa arus.
"Sepertinya anda kurang mengenal putri anda. Tuan!"
"Aku ayahnya dan sangat mengenal bagaimana putriku." tegas Tuan Hatomo yang diangguki Tetua Herdan dengan tenang.
Mereka sudah ada di depan penginapan Sandra yang terdengar ada suara tangisan dari dalam. Siang-siang begini terasa begitu bising mendengar samar-samar isakan itu.
"S..sakit!"
"Lemah!"
"Tapi sakit, rasanya perih. kau tak merasakannya mana tahu."
Suara rengekan yang sangat Tuan Hatomo kenal membawa langkahnya mendekat ke ambang pintu.
"Sakittt hiks, rasanya aku mau mencakarmu!!"
"Sini aku lihat!"
Rusel memegang tangan Sandra memeriksa pergelangan tangan yang di perban itu. tentu saja Sandra selalu membesarkan masalah seperti saat ini. Ia duduk diatas jendela kamar dengan Rusel yang berdiri menemaninya sedari tadi.
"Ini akan sembuh dalam beberapa hari."
"Tapi, sakit! rasanya aku mau pingsan saja." gumam Sandra begitu berlebihan saat bersama Rusel yang mengerti akan sikap manja wanita ini.
"Itu karnanya kalau tak mau sakit maka jangan lakukan lagi. kau hanya akan menyusahkan-ku." geram Rusel menjentik bibir bawah Sandra remang membuat pose manyun rumput liarnya itu.
"Aku tak perduli. yang penting kau selalu menemaniku. aku jadi tak takut sendirian."
"Cih!"
Sandra masa bodoh. ia rengkuh leher Rusel dan menyandarkan kepalanya ke bahu kokoh itu. rasanya ia sangat lelah tapi selalu tenang jika begini.
"Tidur?"
"Tidak. aku mau begini sebentar."
Rusel mengangguk membiarkan Sandra menyandarkan kepalanya. Ia meniup-niup pergelangan tangan yang terluka itu menarik rasa hangat di bibir berisi seksi Sandra.
"Sel!"
"Hm?"
"Kenapa kau begitu perhatian padaku?" tanya Sandra begitu penasaran. apa hanya karna parasnya atau karna hal lain? ia tak pernah bisa menebak itu dari exspresi datar Siluman ini.
Begitu juga Rusel. itu sendiri tak tahu harus mengatakan apa dan belum siap untuk melihatnya sekarang.
"Jawab aku!"
"Karna aku suka wanita keras kepala sepertimu!"
Sandra diam dengan pandangan rumitnya ke wajah tampan itu. Hampir setengah hari Rusel menemaninya sejak semalam dan ia melihat segalanya dengan tulus tak ada rasa paksaan sama sekali.
"Aku serius denganmu!"
"Tapi aku..."
"Tak apa jika kau tak mencintaiku!" potong Rusel membuat Sandra menggeleng ingin bicara lagi.
"Aku hanya tak bisa karna aku.."
"Aku tak perduli! jika kau tak mencintaiku maka tak apa, tujuanku hanya ingin melindungimu."
Sandra diam. ia kecewa mendengar alasan Rusel tapi juga tak mungkin Rusel mencintainya. Pria ini sangat baik dan tentu begitu didambakan banyak wanita.
Rusel tahu siapa yang tengah menyaksikan mereka sekarang. ia sengaja membuat suasana seperti ini bahkan Rusel tak segan mencium kening Sandra yang sudah biasa dengan semua itu.
"Apa kau tak menyesal nantinya?" lirih Sandra mengangkat kepalanya lalu menatap serius Rusel yang tetap saja berwajah datar menyimpan perhatian besar.
"Asal kau tak berbalik arah."
"Maksudmu?" tanya Sandra tak mengerti. Rusel menekan tatapannya dengan serius bahkan manik kehijauan itu benar-benar tak main-main.
"Aku tak pernah suka jika milikku di ganggu. walau tak saling mencintai tapi ingat jika kita masih ada ikatan. paham?"
Kenapa dia selalu saja membuatku malu? aku tak bisa tahan jika begini.
Batin Sandra memerah. Rusel dan Daniel sangatlah berbeda. Daniel selalu banyak bicara dan membual tapi tak ada pembuktian. tapi Rusel... aaaaa rasanya ia ingin sekali menciumnya.
"Kau sangat pandai membual." gumam Sandra menyembunyikan raut gugup dan malunya.
"Aku serius mau menikahimu!"
"Tapi..."
"Aku setuju!"
Degg...
Mata Sandra melebar mendengar suara itu hingga ia benar-benar tak percaya jika sosok ini akan berdiri di belakang sana.
"P...Pa..."
"Kau harus menikah selagi perutmu belum membesar!"
.....
Vote and Like Sayang..
alur ceritanya seakan2 kira ikut di sana
kren habis
dia dapat lelaki sempurna, andai di dunia ini ada lelaki sempurna seperti rusel pasti pasangannya begitu bahagian, karena begitu di ratukan di mata rusel