Sejak kecil Celia selalu dilimpahi cinta dalam keluarganya. Sehingga ia rasakan proteksi yang berlebihan dari ayah serta yang lainnya hingga ia sulit untuk menemukan pasangannya.
Pada akhirnya Celia jatuh cinta pada lelaki yang merupakan teman kecilnya. Karena jarak yang terpisah jauh dan hubungan masa lalu yang kompleks antara orangtuanya dan juga orang tua Collin menjadikan ia harus rela melakukan hubungan cinta itu secara diam-diam.
Apa yang terjadi jika ayahnya menentang hubungan itu dan menyediakan calon lain sebagai suaminya ?
Ini hanya cerita 2 manusia yang memperjuangkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeeGorjes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian Collin
Happy reading ♥️
Rian ternyata tak main-main dengan ucapannya. Dua pria kekar saat ini berjaga di depan pintu unit apartemennya. Untuk kabur dari tempat itu rasanya akan sedikit susah. Dia tak akan bisa melawan dua pria bertubuh kekar yang lebih menyerupai preman itu.
Collin tampak mondar-mandir di dalam kamarnya. Entah berapa kali pria itu berjalan mengitari ruangan itu memikirkan cara untuk bisa lepas dari pengawasan dua orang itu. Hingga akhirnya dia memiliki ide untuk mengelabuhi dua orang itu di bandara.
Mungkin Rian sudah merencanakan segala sesuatunya dengan sempurna. Tapi asisten Fabian itu lupa kalau Collin bisa membuat dua orang dengan penampilan menyeramkan itu kehilangan jejaknya di tempat ramai.
Collin menatap tiket pesawat yang entah sejak kapan teronggok di atas meja. Pria itu tak tahu kapan Rian meletakkan kertas itu di sana. Pria itu tersenyum miring. Dia tak akan membiarkan Rian merebut Celia dari dirinya.
Tak akan pernah!
Collin sudah selesai berkemas. Tak banyak barang yang dibawa oleh pemuda itu. Hanya sebuah koper kecil menemani pria yang wajahnya masih babak belur akibat ulah Aksa.
Pemuda itu mengenakan topi dan juga masker untuk menutupi wajahnya. Dengan santai Collin berjalan keluar dari unit apartemennya, menyeret koper dan membawa paspor dan tiket pesawatnya di tangan. Langkah kakinya membawa pria itu menuju pos sekuriti yang ada di lantai bawah bangunan bertingkat yang beberapa hari ia tempati.
Dia ingin mengembalikan kunci kepada sekuriti yang tadi pagi ikut andil dalam kejadian yang membuat keluarga kekasihnya salah paham.
Collin berharap pria paruh baya itu masih ada di sana. Namun, ternyata orang yang berjaga di pos itu sudah berbeda. Mereka bertukar shift sebelum Collin turun.
“Pak, saya ingin mengembalikan kunci,” ujar Collin menyodorkan kunci apartemen yang dia bawa.
“Bukannya masih ada waktu dua hari lagi masa sewanya ya, Mas?” tanya pria paruh baya dengan logat Jawa.
“Iya, Pak. Tapi saya ada keperluan mendesak,” jawab Collin seraya melirik ke arah belakang.
Pria paruh baya itu seolah paham dengan apa yang terjadi. Tapi dia tak ingin ikut campur karena berurusan dengan orang kaya biasanya bukan perkara yang mudah.
“Kalau begitu, hati-hati di jalan ya, Mas. Oh iya. Ini saya ada roti tumpuk. Barang kali Masnya belum sarapan.” Pria penjaga pos itu menyodorkan sekotak mika kecil berisi roti tumpuk yang baru dia bawa.
“Terima kasih, Pak. Tapi itu buat Bapak saja,” tolak Collin dengan sopan.
“Bawalah.” Pria itu mendekatkan makanan itu ke arah Collin.
Petugas sekuriti itu yakin kalau pemuda yang menyerahkan kunci itu belum sempat sarapan karena sedang diawasi.
“Semoga urusanmu diberi kelancaran,” ujar pria berpakaian seragam itu lagi.
“Terima kasih, Pak.” Collin kemudian berjalan meninggalkan pos sekuriti itu.
Pria itu diberi isyarat oleh dua orang yang mengawalnya itu agar memasuki sebuah mobil hitam yang sudah terparkir di ujung jalan.
“Kita akan mengantarmu dengan mobil itu,” ucap salah seorang pengawal bayaran itu.
“Aku tidak mau. Siapa yang bisa menjamin kalau kalian tak akan menghabisiku di sana?” tolak Collin.
Pria yang mengawal Collin saling berpandangan. Mereka seolah tengah berdiskusi tanpa suara.
“Lalu, apa maumu?”
“Kita akan pergi dengan menggunakan taksi. Kalian tak perlu khawatir. Aku akan membayar ongkosnya.”
“Baiklah!”
Dua pria itu setuju tanpa memberikan penolakan. Lagi pula pria itu tak akan bisa kabur meski menggunakan taksi. Akan beda cerita kalau pria itu mengusulkan untuk menaiki bus. Dua pengawal itu akan menolak keinginan Collin kalau sampai itu terjadi.
Collin memberhentikan sebuah taksi yang kebetulan melintas. Pria itu melonggokkan kepalanya untuk berbicara sebentar dengan sang sopir.
“Pak, kami bertiga akan ke bandara. Apa bapak keberatan? Saya akan bayar untuk tiga orang?”
Sopir taksi itu menatap dua orang bertubuh kekar yang ada di belakang Collin. Ingin rasanya dia menolak, tapi ...
“Apa mereka pengawal Anda?” tanya sopir taksi itu.
Collin pun menganggukkan kepalanya. Dia mengakui kalau dua orang berpenampilan menyeramkan itu merupakan pengawalnya. Hingga akhirnya sang sopir mengiyakan permintaan Collin, mengantar tiga orang itu menuju bandara.
***
Tanpa Collin ketahui, papanya saat ini sedang dalam perjalanan menuju Indonesia. Dia khawatir dengan anak lelakinya yang tak kunjung memberi kabar setelah kepergiannya menemui Celia. Entah mengapa firasatnya sebagai orangtua menuntunnya untuk menyusul sang putra yang saat ini dia rasa sedang dalam bahaya.
“Apa Collin mengganti nomornya?” gumam pria yang masih tampan di usia yang tak lagi muda itu. Pria itu berulang kali mengusap layar ponselnya yang berusaha menghubungi Collin.
Jamie mengingat sepertinya sang anak memiliki akun media sosial yang lain. Pria itu berharap masih bisa terhubung dengan anaknya yang entah bagaimana kabarnya.
“Ke mana anak ini! Anak sekarang susah sekali kalau hanya diminta memberi kabar ke orangtuanya,” gumam pria itu.
“Mungkin dia pulang ke rumah Oma-nya. Lebih baik aku berkunjung ke sana juga,” lanjut Jamie berbicara pada dirinya sendiri.
Pria itu kemudian berjalan menuju lobi bandara yang tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. Jamie berdiri di tepi jalan yang mana kendaraan umum sejenis taksi atau bus bandara biasa lewat jalur itu.
“Hei! Jangan kabur!” sebuah suara teriakan terdengar begitu nyaring lobi luar bandara itu.
Terlihat dua orang pria berpakaian hitam dengan tubuh besar mengejar seorang pria yang mengenakan masker hitam dan juga topi.
Semua orang yang ada di sana perhatiannya tertuju pada tiga orang itu. Begitu pula dengan Jamie. Arah pandang pria itu mengikuti orang-orang yang saling berkejaran itu. Pria itu memikirkan sang anak saat melihat postur pemuda yang dikejar oleh dua orang lainnya menyerupai Collin.
“Mungkin hanya mirip,” gumam Jamie.
Dia percaya kalau sang anak tak mungkin terlibat aksi kejar-kejaran dengan preman seperti itu.
“Semoga pemuda itu bisa lepas dari kejaran preman itu,” gumam Jamie yang kemudian masuk ke dalam taksi yang berhenti tepat di depannya.
Sementara itu, pemuda yang tadi dikejar oleh dua pengawal bertubuh besar itu kini bisa bernapas lega. Pasalnya, dua orang suruhan Rian itu tak bisa menangkapnya dan kehilangan jejak dirinya yang bersembunyi di sebuah warung tenda yang tengah ramai pembeli.
“Mas, mereka sudah pergi,” ujar seorang pria tua yang merupakan pemilik warung tersebut.
“Terima kasih, Pak.”
“Sama-sama.”
Pemuda itu kemudian pamit pergi dari tempat itu dan berjalan ke arah berlawanan dengan dua orang pengawal yang dibayar oleh asisten Fabian itu. Collin awalnya berniat untuk mengunjungi kediaman sang nenek. Namun, ia urungkan. Dia tak ingin membuat Oma Hana khawatir karena melihat dirinya babak belur.
Tapi, harus pergi ke mana lagi Collin saat ini?
Yang jelas bukan pergi ke rumah authornya!!! walaupun sebenarnya collin ingin ke sana 😂😂😂
to be continued ♥️
thanks for reading ♥️