Peringatan!
Cerita ini hanya fiksi, jadi kalau tidak sesuai dengan apa yang terjadi disekitar kita. kembali lagi, ini hanyalah fiksi.
Jadi, tahan jarinya untuk tidak menghujat penulis, kalau tokoh yang di hujat, silahkan!
*******
Sebuah perselingkuhan terjadi bukan karena niat pelaku, tapi karena adanya kesempatan, ingat! Kesempatan, maka waspadalah!
Kehidupan Shakilah dan Jojo, yang belum di karuniai anak, semula berjalan dengan sangat manis.
Sampai akhirnya kedatangan Shopia, adiknya Shakila, mengubah apa yang semula semanis gula jawa, menjadi lebih pahit dari empedu.
Shakila yang kurang menghargai suaminya, membuat Jojo mulai melirik adik iparnya yang jauh lebih penurut seperti kelinci dibandingkan dengan Shakila yang pembangkang.
Dan akhirnya, hubungan terlarang itu terjadi di belakang Shakila.
Shopia hamil, anak siapa? Ikuti kisah rumah tangga Jojo dan Shakila selanjutnya.
Follow Ig rii.ena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31. Beratnya....
Suasana rumah itu hening setelah pintu depan tertutup. Langkah Bang Jojo yang menjauh seakan menyisakan ruang kosong yang tak tergantikan.
Shakila langsung terduduk lemas di lantai, wajahnya basah oleh air mata. “Bu… Yah… aku beneran nggak siap kehilangan dia… aku kira dia cuma marah sementara…” ucap Shakila terbata-bata.
Ayahnya berdiri tegak, wajahnya tetap keras. “Kau harus siap menerima akibat dari ulahmu sendiri, Shakila. Jojo sudah cukup lama sabar. Kalau dia akhirnya memilih pergi, itu karena kau yang mendorongnya ke titik itu.”
“Yah, jangan bilang begitu… aku bisa berubah, aku bisa perbaiki semuanya!” Shakila menjerit, suaranya penuh rasa penyesalan.
Ibunya duduk di sampingnya, berusaha menenangkan, meski air matanya juga jatuh. “Kila, Ibuk sedih melihatmu begini… tapi kau sendiri yang menutup pintu hatinya. Kau kira Jojo masih bisa bersabar, tau kamu main belakang sama Hans? Harga dirinya sebagai seorang suami kau injak-injak. Belum lagi tuduhanmu yang ada apa-apa sama adikmu.” sang ibu hanya bisa menyesali sembari menggelengkan kepalanya.
Shakila terisak, memegangi wajahnya. Dalam hatinya, baru sekarang ia benar-benar sadar: semua tuduhan, semua kalimat kasar yang ia lontarkan, hanya untuk melindungi egonya. Padahal jauh di dalam hati, mungkin ia sudah mencintai bang Jojo.
Sophia yang sejak tadi terbaring lemah karena demam hanya bisa menangis pelan, ikut merasakan hancurnya suasana.
Ayahnya menghela napas berat, lalu berkata dengan tegas, “Sudah cukup. Besok Ayah sendiri yang akan menemui Jojo untuk urusan perceraian. Tidak ada lagi alasan. Ayah tidak ingin rumah tanggamu jadi racun untuk adikmu atau untuk keluarga ini.”
Ucapan sang ayah membuat Shakila semakin terisak dengan penuh penyesalan. Ia mencoba meraih tangan ayahnya, tapi ditepis. Untuk pertama kalinya, Shakila benar-benar merasa ditinggalkan, bukan hanya oleh bang Jojo saja, tapi juga oleh kepercayaan keluarganya.
*
*
Malam itu, suasana rumah Bang Jojo terasa hampa. Lampu ruang tamu menyala temaram, menyorot wajahnya yang letih. Ia duduk beberapa lama di kursi, menatap kosong ke arah meja makan yang biasanya menyisakan dua cangkir gelas. Satu untuk dirinya, satu lagi dulunya selalu untuk Shakila. Dan sekarang meja itu kosong.
Napasnya dalam, berat.
Akhirnya ia bangkit, melangkah ke kamar. Tangannya gemetar saat membuka lemari, menatap deretan pakaian Shakila yang masih rapi tergantung di sana. Wangi parfumnya samar tercium, membuat dadanya terasa sesak.
Dengan pelan, ia mulai menurunkan satu per satu pakaian itu, melipatnya, lalu memasukkannya ke dalam koper besar. Di meja rias, masih ada sisir, beberapa botol skincare, dan lipstik yang sering dipakai Shakila. Bang Jojo menatap benda-benda itu lama, sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam tas kecil.
Sesekali ia berhenti, duduk di tepi ranjang, menundukkan kepala. Ada kenangan yang menempel pada setiap benda, setiap sudut kamar. Malam-malam ketika Shakila bermanja, pagi-pagi ketika mereka kadang berangkat bersama, dan pertengkaran-pertengkaran yang kini berakhir dengan luka.
“Maafkan aku, Kila…” bisiknya pelan, suaranya serak. “Bukan karena aku benci. Justru karena aku sudah terlalu sayang, tapi kamu sendiri yang hancurkan semuanya.”
Matanya memerah, tapi ia tidak membiarkan air mata jatuh. Dengan gerakan tegas, ia kembali melanjutkan. Satu per satu barang Shakila dipisahkan. Pakaian, sepatu, perhiasan kecil, bahkan buku catatan. Semua ia kumpulkan dalam dua koper besar.
Bang Jojo lalu menutup koper itu rapat-rapat, setelahnya mendorongnya ke dekat pintu.
“Besok… atau malam ini juga, aku akan kirimkan ke rumah orang tuanya,” gumam bang Jojo, menatap koper itu dengan sorot mata berat. “Aku tidak ingin dia harus datang lagi ke sini. Tidak ada yang perlu diambil lagi. Tidak ada alasan lagi untuk kembali.”
Setelah itu, bang Jojo mematikan lampu kamar, lalu duduk sendirian di ruang tamu. Hening. Hanya suara detik jam dinding yang menemani.
Di dadanya, ada rasa lega bercampur pilu. Lega karena akhirnya membuat berani keputusan, tapi pilu karena keputusan itu berarti melepaskan seseorang yang sempat ia cintai sepenuh hati.
*
*
Pagi itu udara masih sejuk. Matahari baru naik, menyinari halaman rumah dengan cahaya lembut. Sebuah taksi berhenti perlahan di depan rumah orang tua Shakila. Dari dalam, Bang Jojo turun sambil menghela napas berat. Di bagasi, dua koper besar berisi barang-barang Shakila sudah siap ia antarkan.
Tangannya sempat terhenti di gagang koper. Ada jeda, seakan ia butuh kekuatan untuk benar-benar melangkah. Tapi akhirnya, ia menggiring koper itu satu per satu menuju teras.
Pintu terbuka. Ibunya Shakila muncul dengan wajah lelah, rambutnya masih diikat seadanya. Tatapannya langsung jatuh pada koper-koper besar itu.
“Jo…” suara ibunya Shakila terdengar lirih, campuran kaget dan sedih.
Bang Jojo menunduk dalam, tangannya masih menggenggam erat gagang koper. “Assalamu’alaikum, Bu.”
“Wa’alaikumussalam…” jawab ibu Shakila, berdiri terpaku. Matanya memanas melihat menantunya berdiri dengan tatapan begitu dalam, penuh luka.
“Ini… barang-barangnya Shakila, Bu. Saya sudah kemas semua semalam. Saya titip di sini.” Suara bang Jojo pelan, tapi mantap.
Ibunya Shakila menutup mulut, menahan tangis. Hatinya hancur, meski sejak semalam sudah tahu arah keputusan bang Jojo dan suaminya. Tetap saja masih terasa berat. “Kenapa harus begini, Jo? Tidak bisakah kalian bicara baik-baik?”
Bang Jojo menatap lantai, rahangnya mengeras. “Saya sudah berusaha, Bu. Dari awal saya diam, saya sabar. Tapi kalau terus begini, rumah tangga ini hanya tinggal nama. Saya tidak mau terus hidup dalam kepalsuan.”
Air mata ibunya Shakila akhirnya jatuh juga. Ia menggeleng pelan, lalu berkata dengan suara gemetar, “Shakila itu memang keras kepala… tapi dia anak saya, Jo. Saya takut dia tidak kuat kalau ditinggalkan begini.”
Bang Jojo terdiam lama. Dadanya sesak. Tapi akhirnya ia menatap ibu mertuanya, sorot matanya penuh kesungguhan. “Saya pun tidak kuat, Bu. Tapi lebih tidak kuat lagi kalau harus bertahan dengan kebohongan. Saya mohon… jaga Shakila. Bantu dia bangkit. Saya tidak ingin dia hancur, tapi saya juga tidak bisa terus menahan semua sendiri.”
Suasana hening.
Dari dalam, terdengar suara langkah kaki ringan. Sophia baru saja mau keluar rumah, bersiap ke sekolah. Wajahnya masih pucat, tapi sudah jauh lebih segar dari semalam. Ia berhenti di teras, menatap koper-koper itu dengan mata melebar.
“Bang…” ucapnya pelan, nyaris berbisik.
Bang Jojo tersenyum tipis, berusaha tenang. “Pergi sekolah yang rajin ya, Phia. Jangan pikirin masalah ini. Fokus sama kesehatan kamu.”
Sophia menggigit bibirnya, matanya berkaca-kaca. Tapi ia hanya mengangguk, sebelum buru-buru berlalu dengan langkah kecil, seakan tidak sanggup melihat lebih lama.
Bang Jojo kembali menunduk dalam pada ibu mertuanya. “Saya pamit, Bu. Semoga Allah beri jalan terbaik untuk kita semua.”
Bang Jojo pun berbalik, melangkah menuju taksi yang diminta untuk menunggu sebentar. Suara koper yang diseret di lantai teras masih terngiang, seperti gema perpisahan. Ibunya Shakila hanya bisa berdiri di pintu, memeluk dirinya sendiri, menahan rasa kehilangan yang makin nyata.
---